Bu, Aku Ingin Pulang!

Aku memegang kepalaku yang terasa pening. Pikiranku kacau. Pandangan mataku terasa kosong sejak tiga hari terakhir. Berbagai hal membuatku ingin sekali mengumpat, tapi kutahan-tahan. Dan seakan menjadi bom waktu, semua itu terluapkan di hari ini. Ya, hari ini.
Aku sengaja menghindari pembicaraan dengan orang-orang. Aku takut menyakiti mereka. Aku bukan orang jawa tengah yang pintar memendam perasaan dan tersenyum saat sedang ada masalah. Mukaku ekspresif. Maka jangan heran ketika melihatku meledak-ledak. Tapi hari ini aku memilih diam.
"Kamu kenapa?" tanya seorang teman.
Aku hanya menggeleng. Lalu melenggang pergi.
Pukul 15.00 WIB, aku menuju BLK. Hari ini shift-ku menjaga DAM. Sesampainya di sana, aku langsung menghempaskan diriku di kursi. Sesekali aku mengobrol dengan mbak-mbak yang ada di sana. Setelah itu, aku masuk kamar. Kepalaku kembali pening. Tuhan...
Hampir satu jam lamanya aku berdiam diri di sana. Kamar itu kosong karena peserta sedang mengikuti materi. Aku telentang di kasur sembari memijit-mijit kepala. Detik selanjutnya, aku menutup kepalaku dengan bantal. Air mataku luruh.
"Hai, Indi!" Mbak Rosa dan kawan-kawan masuk ke dalam kamar sambil tersenyum ceria. Mereka baru saja datang. Aku berusaha tersenyum, lalu duduk dan mengamati kegiatan mereka.
"Kau saja yang mengambil gambar," kataku sembari menyodorkan kamera kepada Anggun.
Dia mengangguk, lalu naik ke lantai atas dengan Sarah. Sementara itu, aku kembali tergeletak di kasur. Kepalaku masih pening.
"Mbak, aku pulang ya," kataku kepada Mbak Rosa.
"Di luar hujan lho," jawabnya.
"Aaaargh! Kenapa harus hujaaaan?"
"Hei, jangan begitu. Hujan itu rahmat lho!"
Aku terdiam. Ah, ya, lupa. Tidak ada satu manusia pun yang boleh mencaci-maki hujan. Tanpa sadar aku tertidur hampir 2 jam lamanya. Begitu bangun, aku langsung melihat ke luar. Hujan telah reda. Setelah mengambil kunci motor dan beberapa bungkus nasi yang mubadzir jika tak dimakan, aku langsung meluncur tanpa banyak kata. Aku malas berkata-kata.
Sepanjang jalan, pikiranku melayang ke segala arah. Kunikmati malam yang dingin dengan menyusuri jalanan Jogja. Sengaja aku berputar-putar tak jelas. Sesampainya di lampu merah, mataku menelusuri pinggir jalan. Ke mana mereka? Keningku berkerut-kerut samar. Ketika lampu hijau menyala, aku langsung melajukan motorku sembari mencari sosok yang kucari-cari. Entah kenapa aku begitu ingin bertemu mereka. Aku lalu kembali ke lampu merah tadi, lewat jalan yang berbeda. Begitu berhenti di lampu merah, aku melihat sosok itu. Senyumku langsung mengembang.
"Dik, sini!" panggilku.
Gadis kecil berkerudung putih itu lalu menghampiriku. Kuberikan kresek berisi nasi bungkus yang tadi kuambil untuknya. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Ini adalah senyumku yang pertama hari ini.
Aku lalu melanjutkan perjalanan. Sesampainya di kos, aku tak tahan lagi. Aku langsung menelepon orang rumah.
"Kenapa, Nduk?" suara Bapak terdengar di ujung sana.
Aku tak mengatakan apapun. Hanya isak tangis yang sengaja kutahan-tahan.
"Kau ingin bicara sama Ibu?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk, dan tentu saja Bapak tak melihatnya. Aku lalu mengucapkan, "Ya".
"Ya sudah, tunggu sebentar. Bapak pulang sekarang," ucapnya.
15 menit kemudian, aku kembali menelepon. Bapak sudah sampai rumah rupanya.
"Assalamualaikum," suara Ibu terdengar.
Dan tangisku pun meledak....


Bu, aku ingin pulang ...
Aku ingin pulang ...
Aku ingin pulang ...

Saat-saat seperti ini, yang kuinginkan hanyalah pulang. Meluapkan semuanya pada Ibu. Aku tak tahan lagi.

"Sabar. Kau pasti bisa melewatinya," ucap Ibu.
"Aku ingin pulang."
"Perbanyak doa pada Allah, niscaya jalanmu akan dimudahkan...."
"Aku ingin pulang."
"Namanya musibah, mau gimana lagi. Itu cobaan, Nduk ..."
"Aku ingin pulang."
"Ikhlaskan saja, nanti pasti kau akan mendapatkan yang jauuuh lebih berkah."
"Aku ingin pulang."



Bu, aku ingin pulang!

This entry was posted on Senin, 22 April 2013. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply