Archive for April 2015

Dear, Skripsi.

4 Comments »

Tiga tahun silam, aku nggak sengaja beli novel Skripshit-nya Alit Susanto buat teman perjalanan. Seperti judulnya, novel itu nyeritain tentang perjuangan si Alit ketika menghadapi skripsi. Pendek kata, skripsi yang sudah ditulis mati-matian ilang gegara komputernya njeblug. Jadilah ia terperangkap dalam lingkaran setan. Kerja mati-matian buat bayar kuliah, sementara skripsinya tak juga kelar gegara sibuk kerja. Aku membatin, apa iya nulis skripsi sesulit itu? Apalagi aku juga sering melihat kakak-kakak tingkat yang keluar-masuk perpus dengan muka stress. Alah, palingan nulis skripsi kek nulis makalah UAS. Sebulan kelar lah, ya. Anggep aja nulis novel. Dan ternyata, oh, ternyata ... nggak segampang itu, sodara-sodara.

Perubahan itu mulai kurasakan ketika menginjak semester 7. Pasca KKN, aku jadi jarang melihat teman-teman seangkatan. Sebagian besar sudah menuntaskan tanggungan SKS dan tinggal skripsian, sementara aku masih aja  ngulang kuliah bareng adek-adek dan sialnya nilaiku nggak berubah. Ketika teman-teman lain sudah mulai mengajukan proposal skripsi, aku masih aja bersantai ria sambil ngelarin revisian novel yang ujung-ujungnya disuruh revisi lagi. Nyesel? Kayaknya, sih, gitu. Semester 7 udah ngambil skripsi tapi baru ngajuin proposal pas semester 8. Sebenernya proposal itu sudah kugarap dari semester 5 dan tinggal diajuin aja pasca KKN, tapi gegara kebanyakan mikir malah ditunda-tunda mulu. Geblek emang.

Memasuki semester 8, teman-temanku grudukan seminar dan pendadaran. Tiap minggu adaaa saja yang lulus. Sejauh ini yang kulakukan adalah nungguin mereka di depan pintu ruang sidang sambil bawa bunga, memberi semangat agar pendadarannya lancar sembari masang muka pengen. Aku kapan didadar?Aku kan juga pengen lulus...

Minggu lalu, selepas bimbingan skripsi, aku bertemu teman-teman di bangtem samping jurusan. Merasa senasib dan seperjuangan, masing-masing berebutan mengeluhkan kendala nyekripsi.
"Bisa bayangin nggak, aku udah mo bab 3 trus tau-tau disuruh ngulang dari awal?"
"Aku juga. Udah capek-capek nyari data ke sana ke mari, udah mau bab 2, tahu-tahu disuruh ganti judul!"
"Lha aku, udah masuk analisis data, taunya objek kajianku sama kayak punya kakak tingkat! Aku stress berat, gagal seminar, kudu ngulang semuanta dari awal."
"Aku tho, kemarin udah mau ngumpulin revisi, eh disuruh ganti objek..Lalalaaaaaa..."
Dan seterusnya. Dan seterusnya. Dan seterusnya sampe emboh. Kami pun saling menyemangati. Percayalah, semua akan lulus pada waktunya, hahaha.
Sesampainya di kost, aku membuka folder skripsi dan mulai tercenung seorang diri. Mendengar curhatan teman-teman tadi membuatku rada keder juga. Gimana kalau nanti aku juga disuruh rombak abis-abisan? Apalagi topik skripsiku dulu nyaris ditolak gegara aku mengambil teori psikologi sastra, sebuah teori yang hingga kini masih dijadikan pertentangan di dunia sastra. Selama kuliah pun aku nggak pernah diajarin teori itu. Jadi sejauh ini, aku mati-matian belajar sendiri tentang psikologi sastra. Susah emang, belajar dari nol. Tapi, ya, gimana lagi, semua teori sastra yang pernah diajarkan di bangku kuliah nggak ada yang sreg di hati, dan nggak tahu kenapa psikologi tampak begitu menarik. 

Ketika ketua jurusan menyodorkan tiga nama dosen untuk dijadikan DPS, aku malah memilih dosen perempuan yang terkenal killer dan menyeramkan ketimbang dua dosen lain yang selaaaw sekali. Entahlah. Saat itu aku hanya berpikir skripsiku akan bernasib baik jika dibimbing olehnya. Jika teman-teman lain ngeluh gegara DPS-nya kayak hantu yang ilang-ilangan, DPS-ku justru sebaliknya. Beliau bisa ditemui setiap hari dan bakal ngomel abis-abisan kalau anak bimbingannya menghilang. Dua minggu lalu beliau mengomeliku gegara aku kabur sepanjang bulan Maret, dan sengaja nggak masuk kuliahnya beliau karena takut ditanyain perkembangan bab 2 ku yang masih tertulis dalam angan-angan. Hahaha. Aku masih bersikukuh nggak mau ngumpulin bab 2 kalau tulisanku belum layak baca. Karena, oh, karena, beliau itu amat sangat teliti. Salah penulisan titik koma saja bisa-bisa aku diuni-uni sampai kuping panas.

Dalam proses menulis skripsi, ada banyaaak sekali godaan yang mampir. Godaan ngetrip yang bikin ngiler setengah mati, godaan baca novel ketimbang baca buku teori, godaan buat males-malesan, godaan buat kabur bimbingan, godaan socmed, sampai godaan perasaan. Dan kalau mentok, biasanya skripsi itu akan kutinggalkan begitu saja. Tak tinggal dolan entah ke mana, dan akan kusentuh kalau mood-ku udah balik lagi. Biasanya sih lama baliknya, hahaha. 

Beberapa pekan lalu, kelakuanku seperti orang gila. Duduk diam di depan laptop tapi nggak nulis apa-apa. Terkadang menertawakan hal-hal yang sama sekali nggak lucu. Omongannya mulai nggak nyambung, dan jadi sangat sulit berkonsentrasi. Rambut pun mendadak rontok banyaaaak sekali. Sesekali aku juga berteriak-teriak di depan laptop, dan kalau nggak tahan biasanya suka nangis. Alam bawah sadarku bahkan pernah dengan kurang ajarnya menghadirkan setting GSP dan menunjukkan diriku yang memakai toga. Brengsky bet. Kemudian aku nggak sengaja membuka buku psikologiku entah di halaman berapa. Aku membaca ciri-ciri orang stress yang sama persis dengan kondisiku saat itu. Oh, ternyata aku sedang stress. 
"Please, Ndi. Kamu boleh nganalisis tokohmu yang sakit jiwa, tapi koe ojo melu-melu edan tala!" komentar Anggun yang nggak tega melihat kondisiku. Eh, pas aku sudah mendingan, beberapa hari kemudian aku malah melihatnya menari-nari nggak jelas di depan pintu kamarku. Alah, sama aja!

Di suatu sore yang mendung, datanglah sebuah pesan whatsapp dari orang tua asuhku.
Assalamualaikum, Indi. Bagaimana kabarnya? Kapan wisuda?
Aku sontak terbangun dari tidur ayamku. Mataku ketap-ketip membacanya. Belum hilang keterkejutanku, ponselku berbunyi lagi. Bapak menelepon dan menanyakan hal yang sama. Saat itu rasanya aku cuma pengen menenggelamkan diri di laut. Ada segumpal rasa bersalah yang terbersit di dada.

Dasar nggak tahu diri! Kuliahmu itu dibiayai negara dan orang tua asuhmu, ojo sante-sante koe!

Batinku menjerit. Merasa tidak bertanggung jawab karena banyak membuang-buang waktu untuk hal yang tak perlu. Belum lagi setelah membaca tulisan Pak Edi yang menohok sekali, jadi semakin merasa berdosa. Apa yang kulakukan sementara orang tua di rumah bekerja keras untukku? Apa yang kulakukan sementara di luar sana banyak orang yang tak bisa mengenyam pendidikan sepertiku? Apa yang kulakukan sementara waktu terus berjalan dan tak akan bisa terulang lagi? Kurang baik apa DPS-ku yang selalu menyemangatiku, menasehatiku jika aku ngilang tanpa kabar, sementara banyak teman yang mengeluh karena diabaikan DPS-nya? Memikirkan semua itu membuatku ingin memaki-maki diri sendiri. 

Siang tadi, aku iseng membuka kalender dan terkejut ketika melihat deretan tanggal merah. Baru ingat kalau pertengahan Juni nanti sudah memasuki bulan ramadhan. Artinya, tak lama kemudian kegiatan akademik akan diliburkan. Batas yudisium pas lebaran, nggak yakin kampus mau buka. Aku pun kalang kabut. 
"Gimana dong, Mbaaaak!" aku menjerit-jerit di kamar. 
Mbak Sabila yang saat itu sedang main di kosku cuma tertawa. "Hahaha! Semangat, Ndi. Pasti selesai kok. Aku dulu garap skripsi cuma 2 minggu, sehari tiga kali bimbingan."
"Kok bisa? Itu otak apa dewa? Orang gila!"
"Hahaha. Pacarku ngasih pancingan berupa tiket jalan-jalan, mana orang tuaku juga udah beli tiket buat wisudaanku, jadi mau nggak mau aku kudu ngerjain. Kalau enggak, tiketku hangus dan gagal jalan-jalan!"
"Ih, aku juga mau kali dapat tiket jalan-jalan. Tapi siapa juga yang mau ngasih..."
"Hahahaha!"
Aku manyun. Setelah Mbak Sabila pergi, aku merenung sendirian di kamar. Tetiba keinget cerita si Ihzan yang skripsinya sudah kelar, tinggal nunggu sidang. Bocah Makassar itu garap skripsi kek orang gila, 2 bab dikerjain semalaman. Besoknya ngadep dosen, dicoret-coret, kemudian langsung direvisi hari itu juga. Ngadep dosen lagi, dicoret-coret lagi, direvisi lagi, gituuuuu terus sampai skripsinya kelar. Nggak nyangka, begundal macam dia bisa segila itu garapnya.

"Waktuku tinggal dua bulan, atau tidak sama sekali," bisikku sambil membuka buku Kesehatan  Mental yang tebelnya kayak bantal. Aku pun mulai membaca sembari mendengarkan musik. Tetiba mataku menangkap timeline skripsian yang tertempel di tembok. Harusnya bulan ini bab 3 ku kelar semua. Harusnya sih. Tapi, ah sudahlah ... 

Aku menatap kalender bulan April yang hampir habis. Kemudian teringat percakapan di suatu pagi bersama seonggok manusia yang entah sekarang ada di belahan dunia mana.
"Aku pengen naik gunung lagi e."
"Yuk kutemani!"
"Ah, koe mesti omdo."
"April, deh, April. Gimana?"
"Awas koe nek ngapusi!"

Dia tak tahu kalau ini adalah pendakian terakhirku. Ya, pendakian terakhir sebelum aku berkejaran dengan batas yudisium. :')
Dengan atau tanpanya, aku akan tetap pergi. Berpamitan pada indahnya matahari terbit, lautan awan, dan taburan bintang. Persetan dengan janji yang tak tertepati. :') ah koe iki ngopoooo e malah bahas kenek'an. Jiambret tenan!


Ya sudah. Lekas selesaikan skripsimu. Tahan dulu rindumu pada rumah. Jangan pulang sebelum pendadaran. Waktumu tak banyak. Ada Bali yang menunggu untuk dikunjungi, ada Lombok yang menunggu untuk diseberangi, atau mungkin Toraja yang sedari dulu ingin kau datangi. 


Dan yang paling penting, ada orang tua kandung dan orang tua asuh yang tak sabar ingin melihatmu lulus, memakai toga, dan melihatmu mengarungi luasnya dunia...




Jogja, 27 April 2015
Pukul 01.16 WIB


_Indiana Malia_

PINTU

No Comments »


            Aku menyedot lemon tea setelah puas membiarkan ribuan caci maki keluar dari mulutku—terkadang disertai isakan kecil. Lelaki di hadapanku tidak mengatakan apa pun. Dia tahu, yang kuinginkan saat ini hanyalah didengarkan. Sepuluh menit berlalu dalam hening.
            “Aku ingin menyerah,” ucapku lirih.
            “Kamu sudah berkali-kali mengatakan hal itu,” balasnya sembari tersenyum kecil.
        Aku memberengut. “Tapi ini sudah keterlaluan, Ken! Memangnya dia pikir aku ini apa? Terminal bus yang cuma dijadikan tempat persinggahan sementara?”
              Ken ngakak. “Terminal bus. Hahaha!”
       “Nggak lucu!” aku melempar sedotan ke arahnya. Ken berkelit sembari tertawa. Huh, dia memang selalu seperti itu. Menertawakan hal-hal yang sama sekali tidak patut ditertawakan!
            “Aku sudah lelah, Ken. Aku benar-benar ingin menutup pintu!”
           Ken menghentikan tawanya. Karibku itu sontak menatapku tak setuju. “Jangan terburu-buru menutup pintu. Kalau tiba-tiba ada yang mengetuk dan serius ingin tinggal, apakah akan kamu abaikan begitu saja?”
            “Hahaha! Memangnya siapa yang mau tinggal? Kamu?” aku mencibir.
            “Iya.”
            Mataku melotot seakan mau jatuh ke lantai. Terkejut.
      “Sedari dulu aku ingin mengetuk pintumu, tapi aku tahu kamu sedang menerima tamu. Brengseknya, dia pergi tanpa pamit dan kamu nggak tahu kapan dia kembali.”
            “….”
            “Jika dia hanya sekadar singgah, aku ingin tinggal—jika kamu mengizinkan.”
         Aku menatapnya dalam-dalam, mencari keseriusan. Tak kulihat sedikit pun raut keraguan di wajahnya. Bertahun-tahun berkarib dengannya, belum pernah kulihat dia seperti itu. Dia melemparkan tatapan setajam pedang ke mataku. Mendadak aku merasakan getaran aneh di dadaku.
          “Mmm,” aku bergumam sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. “Aku serasa mendengar halilintar di siang bolong.”
         “Ya, anggap saja begitu. Siapa tahu halilintar itu bisa menyambar pintumu biar bisa kumasuki.”
         “Tapi pintuku sudah rusak.”
          “Aku bisa memperbaikinya, asalkan kamu mengizinkan.”
           Aku kembali menatapnya. “Ucapanmu membuatku takut.”
    “Tak usah dipikirkan terlalu dalam. Aku tahu kamu masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Santai saja, aku akan menunggumu.”
         Kali ini, mulutku benar-benar terkunci rapat. Tiba-tiba saja aku dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan. Menunggu dia yang tak tentu, atau menyambut yang baru? Entah. Hatiku belum mampu mencernanya.


Jogja, 20 April 2015.


Kampus Fiksi#12

Baca selengkapnya » | 1 Comment »


"Jumat besok nganggur nggak? Mendaki Merapi, yuk!"ajak seorang teman di suatu sore.
"Nganggur kayaknya. Ayo budal!" aku berteriak kegirangan. Sedetik kemudian, aku teringat sesuatu. "Sektala, Jumat itu tanggal berapa?"
"Tanggal 27. Nanti kita nginep dua malem bla ... bla ..."
"Aku kayaknya nggak bisa ikut. Ada Kampus Fiksi, hiks!"
"Apaan Kampus Fiksi?"
"Macem pelatihan nulis gitu. Acaranya sampe Minggu. Yaaaaah, gimana doooong?"
"Alah, kayak kamu yang rajin nulis aja!"
Jleb. Jleb. Jleb. Kesindir!
"Terserah sih kalo nggak mau ikut. Nanti kami bakal mengejar sunrise, sunset, bla ... bla ..." dia makin manas-manasin.
"Apa aku nggak usah ikut aja, ya? Paling acaranya gitu-gitu aja," aku mulai teracuni.
Dan sejujurnya emang lagi bosen banget dengan acara pelatihan nulis. Intinya, ya, sama aja. Nggak bakal ngaruh acara begituan kalo diri sendiri nggak disiplin nulis. Paling ntar teori yang dikasih gitu-gitu aja, nggak ada bedanya sama yang diomongin dosen di kelas. Entahlah, sepertinya aku sedang memasuki fase gumoh dengan sastra dan teman-temannya.
"Jadi gimana? Ikut enggak?" dia memastikan.
Ah, galau. Sejujurnya, aku nyaris lupa dengan acara #KampusFiksi. Aku ikut seleksi itu dari zaman semester 5--masa seneng-senengnya nongkrong di kampus--dan baru akan diberangkatkan di semester bangkotan ini! Nunggu acara #KampusFiksi itu udah macem nunggu mantan gebetan yang nggak nembak-nembak. Lama, bikin lelah dan pengen nyerah *tsah. Tapi kalau inget ada berapa banyak naskah yang masuk di #KampusFiksi dan naskahku beruntung terseleksi, aku jadi merasa berdosa. Masa iya aku menyia-nyiakan kesempatan yang belum tentu dimiliki orang lain? Dan pada akhirnya ...