#10DaysKFPart1 Dia yang Membuatku Jatuh Cinta

No Comments »

Ketika ditanya soal tipe kekasih dambaan, pikiran saya langsung tertuju pada perpustakaan kecil saya di rumah. Segala jenis buku ada di sana. Ya, saya suka membaca apa saja. Dan secara otomatis, saya pun mendambakan kekasih yang gila buku. Dengannya, saya tak akan merasa kehabisan topik pembicaraan.
Dan cinta itu datang begitu cepat. Kelas satu SMP, saya sudah menggilai seorang kakak kelas jenius. Hobinya menghabiskan buku-buku di perpustakaan, ikut olympiade di mana-mana, aktif organisasi, saleh pula. Saya menamakannya cinta dalam diam #alah. Lima tahun saya menyimpan namanya dan enggan menerima cinta siapa pun. Hingga pada akhirnya saya harus membuang perasaan itu jauh-jauh karena memilikinya adalah sebuah kemustahilan. Otaknya terlalu jenius, saya mah apa, cuma butiran marimas.


Selain membaca, saya juga suka kluyuran. Naik gunung, keluar-masuk hutan. kemping, apa pun yang berbau alam. Tentu saja, saya pun menginginkan kekasih yang bisa diajak berkelana, mengenal beragam manusia di luaran sana. Saya bahkan berangan-angan bakal dilamar dengan seperangkat alat mendaki dan kelak berbulan madu di Gunung Rinjani. Menjelang akhir masa kuliah, saya kembali jatuh cinta. Kami dipertemukan di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Karena memiliki hobi yang sama, kami langsung nyambung, bahkan melakukan perjalanan bersama. Kami mendaki Gunung Ijen, mengejar blue fire di sana. Saya belum bisa lupa bagaimana ekspresi kami ketika berhasil mendekati blue fire. Kami menyaksikan api biru raksasa menari-nari. Indah sekali. Apalagi saat itu langit bertabur jutaan bintang. Pasca perjalanan itu, kisah kami mendadak kandas. Dia menghilang secara tiba-tiba, dan saya pun disibukkan skripsi kemudian lupa dengan sendirinya.


Lepas dari status mahasiswa, saya menjelajah pedalaman Papua Barat bersama kaum militer dalam rangka Ekspedisi NKRI. Itulah kali pertama saya mengenal dunia mereka. Sebelum berangkat pelatihan sebulan di Pusdikpassus Batujajar, senior saya yang pernah mengikuti Ekspedisi NKRI mewanti-wanti untuk tidak jatuh cinta pada militer, entah itu TNI maupun Polri. Saya pun menegaskan, tujuan saya untuk pengabdian, bukan cinta-cintaan. Tetapi kau bisa bayangkan, kan, seperti apa rasanya bertemu mereka sejak pagi sampai pagi? Toh hati saya jatuh juga. Pada dia, seorang militer yang sangat unik dan tidak neko-neko. Saya secara otomatis meleleh ketika mendengarnya mengaji. Ya, tentu saja saya menginginkan seorang laki-laki yang taat pada-Nya agar kelak bisa membimbing saya dalam berumah tangga. Tetapi, lagi-lagi kisah itu harus kandas karena alasan yang mau tak mau bikin saya mundur perlahan.


Lalu skenario pun berubah. Seseorang datang menawarkan hatinya kepadaku. Sebelumnya, kami sudah dekat. Sangat dekat malah. Saya merasa nyaman berbagi cerita dengannya, apa pun itu. Oh, ya, dia adalah seorang fotografer. Kau tahu, saya suka dengan laki-laki yang berkutat dengan kamera, meskipun saya nggak paham-paham amat dengan foto. Dia juga suka membaca. Saya masih ingat betapa modusnya dia ketika meminjam Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer pada saya. Hahaha. Dan, yah, dia pun menjadi kekasih saya. Kekasih pertama saya, tepatnya, karena yang sebelum-sebelumnya sekadar dekat kemudian menguap begitu saja. Kepadanya, saya pernah menaruh harapan bahwa hubungan ini bisa dibawa ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi harapan itu pun harus dimusnahkan seiring dengan jarak yang terbentang di antara kami. Kami terpisah pulau dan tak tahu kapan bisa bertemu kembali. Dia pun mengakui, perasaannya kian hari kian luntur dan bikin hati saya hancur. Untuk kesekian kalinya, kisah itu berakhir.


Kini saya sendiri. Tidak sedang dekat dengan siapa pun, dan enggan menjalin hubungan lagi. Di usia saya yang menjelang 24 tahun, sudah bukan saatnya lagi untuk main-main dengan perasaan. Konon, kata orang, jodoh kita biasanya tak jauh-jauh dari lingkungan pekerjaan. Bapak saya guru, ndilalah dapat muridnya sendiri. Kawan saya pendaki, jodohnya pendaki juga. Ada pula kawan perwira TNI yang mendapatkan kowad.


Dan saya adalah seorang wartawan. Mungkinkah kelak entah kapan saya terlibat cinta lokasi dengan rekan seprofesi di tempat liputan? Sungguh saya tak bisa membayangkan. Jika dua wartawan menikah, kelak rumahnya akan suwung karena sering ditinggal liputan. Hahahaha.


Apa pun itu, saya yakin, jodoh tak akan pernah tertukar.
Secinta apa pun kau dengan seseorang, kalau garis jodohmu bukan dengannya, sampai kapan pun tak akan bisa bersama. Begitu pula sebaliknya.
Mungkin terdengar klise, tapi setelah melewati perenungan mendalam #halah, saya mempercayai hal itu.



Jalani saja. Jalani saja. Jalani saja.


Hingga waktu yang indah itu tiba.





Jakarta, Rabu, 18 Januari 2017.



Indiana Malia




Tulisan ini diikutsertakan dalam #WritingChallenge #10DaysKampusFiksi. Mau baca tulisan lainnya? Follow Twitter @KampusFiksi, yak!



KEPUTUSAN BESAR

No Comments »


Pagi itu, 4 November 2015, kereta Sri Tanjung membawaku menuju kampung halaman: Jember, Jawa Timur. Sepanjang perjalanan melintasi kota demi kota, hatiku berkecamuk tak keruan. Kepulanganku kali ini bukan saja dalam rangka melepas rindu pada keluarga, tapi juga menyampaikan dua kabar penting. Pertama, aku telah mendapatkan pekerjaan (dan ingin melepaskannya). Kedua, aku memohon izin untuk mengikuti seleksi Ekspedisi NKRI 2016 koridor Papua Barat. Sungguh, menyampaikan dua kabar itu bukanlah hal yang mudah. Sebagai seorang sarjana merangkap pengangguran intelektual, bukankah hal yang lazim dilakukan adalah mencari pekerjaan agar dapat hidup dengan layak? Tapi yang kulakukan malah sebaliknya. Selepas wisuda, satu per satu temanku meninggalkan Jogja dan menjadi manusia yang bekerja. Surat lamaran demi surat lamaran dilayangkan ke segala instansi. Acara career day pun tak luput dari agenda, tapi entah kenapa tak sekali pun aku berminat ke sana. Semua berlomba-lomba mencari pekerjaan yang layak, sementara aku masih luntang-lantung ra cetho di tanah rantau.

Sejak dulu, ada hal yang sangat mengusik pikiranku. Ini mengenai pertanggung jawabanku sebagai mantan mahasiswa penerima beasiswa yang sumbernya dari rakyat. Sungguh, berkesempatan mengenyam bangku kuliah adalah berkah yang tak ternilai harganya. Bayangkan, jika tak ada beasiswa itu, mungkin aku masih keleleran tak jelas. Dan aku makin terusik ketika bertemu dengan orang tua asuhku setahun lalu. Ya, selain menerima beasiswa dari pemerintah, aku juga menerima bantuan dari seorang dermawan. Semua itu tak lepas dari kobaran semangat yang ditularkan Mas Imam Santoso—seorang kakak kelas yang begitu semangat memotivasi adik-adik kelasnya untuk kuliah—dan kedua orang tuaku.

Masih kusimpan baik-baik memori itu. Empat tahun lalu, aku berusaha keras meyakinkan kedua orang tuaku bahwa aku ingin melanjutkan sekolah. Tentu saja hal utama yang menjadi beban pikiran mereka adalah biaya. Bapak adalah seorang guru swasta yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengajar, sementara ibu adalah seseorang yang menghabiskan seluruh waktunya di rumah. Melihat kenyataan itu, persidangan keluarga besar pun tak terelakkan. Intinya, aku adalah seorang perempuan dan tidak perlu kuliah jauh-jauh. Tentu saja aku tak bisa menerima alasan itu. Apa yang salah dengan jenis kelamin perempuan? Maka dengan segala cara, aku kembali meyakinkan mereka. Setelah lulus SMA, tak ada hal lain yang kulakukan selain belajar untuk persiapan SNMPTN. Melihatku belajar seperti orang kesetanan, pada akhirnya orang tuaku mengirimku ke kota untuk belajar di bimbel Technos. Sebulan kemudian, aku mengikuti SNMPTN. Menunggu pengumuman SNMPTN selalu membuat jantungku berdebar-debar. Ketika hari H, Bapak mengantarku ke warnet kecamatan dan ikutan berdebar menanti hasil. Sesampainya di rumah, aku segera memeluk ibu. Ya, aku diterima sebagai mahasiswa Sastra Indonesia UGM. Restu keluarga besar telah kudapatkan. Aku pun meninggalkan kota kecilku menuju Yogyakarta, kota yang membuatku jatuh cinta sejak menjejakkan kaki di sana.

Hidup di kota besar membuatku harus sering memutar otak demi bertahan hidup. Sembari menanti beasiswa yang turun 6 bulan sekali itu, aku melakoni pekerjaan paruh waktu sebagai guru privat. Tahun 2014, aku berkesempatan berkunjung ke Jakarta, menemui orang tua asuhku. Di sana, kami membincang banyak hal. Aku benar-benar tak dapat berkata-kata ketika beliau menceritakan pengalaman hidupnya sembari menitikkan air mata. Masa kecilnya penuh dengan kesusahan. Beliau harus menempuh sekolah berkilo-kilo dengan berjalan kaki. Singkat cerita, beliau berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu siapa pun dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah dengan menjadi orang tua asuhku. Apalah artinya hidup jika tak bermanfaat untuk orang lain, begitu katanya.

Tahun 2015, aku mengikuti acara Kampus Fiksi yang diselenggarakan oleh penerbit Diva Press. Menghabiskan waktu dua hari tiga malam di sana, tak terhitung berapa banyak ilmu yang kudapatkan. Ketika penutupan acara Kampus Fiksi, aku tercenung mendengar penuturan Pak Edi—CEO Diva Press sekaligus Rektor Kampus Fiksi—mengenai pengalaman hidupnya sebelum dan sesudah mendirikan penerbit Diva Press. Apa yang beliau katakan sama persis dengan orang tua asuhku, “Jadilah pribadi yang bermanfaat untuk orang lain”. Aku bahkan merekam kata-katanya dalam kameraku.


Sungguh, mereka berdua sukses membuatku galau. Dan kegalauan itu makin menjadi-jadi ketika aku resmi menyandang gelar Sarjana. Ketika semua temanku berlomba-lomba mencari pekerjaan di instansi bonafit, aku masih saja bertengkar dengan hatiku. Dan itu membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak.

Wahai penerima beasiswa yang berasal dari uang rakyat, apa yang sudah kauberikan untuk negeri ini? Sudahkah kau menebarkan manfaat untuk orang lain?

Gila. Pikiran-pikiran itu kian menghantuiku. Aku pernah dua kali mengirimkan aplikasi lamaran pekerjaan, tetapi sesungguhnya hal itu kulakukan dengan setengah hati. Bagiku, bekerja adalah perihal memenuhi kebutuhan pribadi, dan aku belum ingin terjebak di dalamnya. Aku ingin melakukan sesuatu dengan sukarela tanpa embel-embel gaji di akhir. Dan hatiku pun jatuh pada Ekspedisi NKRI. Sudah sejak lama aku mendengar program itu, tapi aku tak bisa mendaftar karena statusku adalah penerima beasiswa yang tak boleh cuti. Tahun 2016, Ekspedisi NKRI akan dilaksanakan di Papua Barat. Bayangan mengabdi di luar pulau langsung terlintas di kepalaku. Apalagi setelah aku membaca pengalaman seorang senior di sebuah blog, keinginanku semakin memuncak. Aku ingin mengikuti jejak orang tua asuhku dan Pak Edi: menebarkan manfaat untuk sesama, sekecil apa pun itu. Setidaknya, sebelum aku benar-benar bekerja, aku ingin melakukan sesuatu sebagai bentuk pertanggung jawabanku.

Dan semua itu kuawali dari sini. Di sebuah ruang keluarga, berhadapan dengan Bapak dan Ibu yang terbelalak mendengar penuturanku. Bagaimana tidak? Anaknya baru saja mendapat pekerjaan, tapi akan dilepaskan begitu saja demi Ekspedisi NKRI. Ibu berkali-kali menanyakan keseriusanku. Bukankah bekerja sama halnya dengan mengabdi? Begitu tanya beliau. Ya, memang. Semua pekerjaan bisa saja disebut sebagai pengabdian. Namun, aku ingin mendapatkan hal yang belum tentu orang lain mendapatkannya: pengalaman mengabdi di tempat yang jauh dan bersinggungan dengan masyarakat yang budayanya amat berbeda denganku. Aku terlahir sebagai orang Jawa, namun belum pernah sekali pun keluar pulau dalam jangka waktu lama. Aku menginginkan pengalaman-pengalaman itu, harta yang tak akan pernah bisa dibeli dengan apa pun. Apa salahnya memanfaatkan masa muda selagi fisikku masih kuat? Jika tua nanti, belum tentu aku mampu mendaki gunung seperti saat ini, atau jalan kaki di pedalaman berhari-hari.

Setelah melewati tiga hari yang mendebarkan, aku pun mendapat restu dari mereka. Tak hanya restu, mereka mendukungku sepenuh hati setelah aku menceritakan seluk-beluk Ekspedisi NKRI. Keesokan harinya, Bapak mengantarku ke kota untuk membuat surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas narkoba. Setelah semua urusan di kampung halaman selesai, aku pun kembali ke Jogja dan mengirimkan persyaratan ekspedisi via email.

Sembari menunggu pengumuman, aku menghabiskan waktu sebulan di Hartono Mall sebagai penjaga pameran mebel. Bekerja tanpa libur sama sekali, mulai pukul 9 pagi hingga pukul 10 malam. Seorang teman pernah bertanya padaku, masa iya seorang sarjana kerja di mall jaga pameran? Hahaha, aku tertawa mendengarnya. Kukatakan padanya, tak masalah, toh apa yang kulakukan tidak merugikan orang lain. Aku tidak mencuri, jadi mengapa harus malu? Anggap saja ini sebagai pengalaman. Kelak, ketika aku mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih layak, aku bisa sering-sering bersyukur ketimbang mengeluh. Ah, ya, pemilik usaha mebel ini baik sekali. Kami sering bertukar cerita saat stand pameran tak terlalu ramai. Aku masih ingat benar wejangan Pak Lukman ketika mendengar rencanaku untuk ikut seleksi Ekspedisi NKRI. Beliau berkata, “Tidak banyak orang yang berani melepaskan pekerjaan demi jadi relawan, lalu pulang dengan status pengangguran. Kamu masih muda dan enerjik, manfaatkan saja buat cari pengalaman hidup. Percaya sama saya, kelak kalau kamu sudah berada di lingkungan kerja, pengalaman-pengalamanmu itulah yang akan mendewasakanmu.”

Tepat sebulan bekerja di Hartono Mall, pengumuman itu datang. Kubuka website Ekspedisi NKRI dengan hati berdebar. Semalaman aku tak bisa tidur. Ku-scroll layar ponselku dengan hati-hati, dan terpampanglah namaku di sana. Jangan tanya betapa bahagianya aku saat itu. Bayangan Papua Barat sudah melambai-lambai di depan mata. Segera kutelepon orang tuaku untuk mengabarkan pengumuman ini, juga kepada Pak Lukman yang memberiku wejangan dua minggu lalu. Mereka mengucapkan selamat dan berpesan agar diriku selalu menjaga kesehatan.
Berbekal gaji jaga pameran selama sebulan, aku bergegas membeli beberapa perlengkapan ekspedisi yang belum kumiliki. Saat itu malam tahun baru. Aku dan teman baruku sesama peserta ekspedisi, Widya, keleleran seharian mencari perlengkapan ekspedisi. Tak akan kulupakan hari itu, hari di mana aku dan Widya cekakakan di sepanjang Jalan Kaliurang dengan barang bawaan segambreng. Kami ngakak macam dua orang yang sudah kenal bertahun-tahun, padahal baru dua hari kenal. Hahaha.



Dan perjalanan panjang itu pun dimulai…

Tentang Pilihan-Pilihan

No Comments »

Stasiun Jember tampak lengang. Kuseret langkahku setengah meragu ke bagian cetak tiket. Di belakangku, tampak bapak tengah menungguku masuk ke peron. Tadi aku sudah berpamitan. Ia baru bisa tenang kalau kereta yang kutumpangi sudah melaju.
Kuangsurkan selembar tiket dan KTP kepada petugas. Setelah diperiksa, ia mempersilakanku masuk. Aku membalikkan badan. Bapak melambaikan tangan, tampak cahaya harapan terpancar di kedua bola matanya. Harapan yang membuat pundakku terasa semakin berat saja. Diam-diam aku merasa takut. Takut mengecewakan, tepatnya. Ayolah, sulung! Kau tak selemah itu! Aku berusaha mengusir pikiran-pikiran buruk dari kepalaku. 
Pukul 05.00 WIB. Kereta Sritanjung melaju pelan menembus kabut pagi. AC kereta membuat pagiku kian dingin. Kurapatkan jaketku dengan sedikit menggigil. Perlahan-lahan, mataku terkatup rapat, ditemani soundtrack drama Descendants of the Sun yang mendayu-dayu penuh rindu. Pikiranku masih saja berlompatan ke sana ke mari. Sungguh, saat itu tubuhku terasa amat remuk. Sebulan ini aku menghabiskan hidupku di jalanan, berpindah-pindah dari stasiun satu ke stasiun lain. Bahkan aku mulai mengakrabi ibukota dengan segala kemacetannya. Bekasi, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta. Keempat kota itu menjadi tempatku bertarung melawan kejamnya dunia kerja. Setelah mendedikasikan diri sebagai relawan di Papua Barat selama 4 bulan, praktis aku kembali ke kampung halaman dengan status pengangguran. Ini adalah risiko yang mau tak mau harus kutelan setelah menampik sebuah pekerjaan lumayan menjanjikan setengah tahun lalu, demi menuntaskan panggilan hati di Ekspedisi NKRI. Panggilan hati yang bagi sebagian orang terdengar begitu muluk, tapi tak kusesali sama sekali. 
Pukul 12 siang, aku tergelagap bangun. Harusnya aku tak boleh tidur. Harusnya aku belajar sungguh-sungguh. Kuambil buku psikotes yang baru kubeli seminggu lalu, kemudian aku larut dalam barisan angka. Aku berusaha mengakrabkan diri dengan Pauli, Kraepelin, Aljabar, Geometri, dan kawan-kawannya. Otakku memang agak susah mencerna angka, kecuali angka uang.
Kegagalan-kegagalan kemarin sungguh menohok hati. Kenyataan bahwa aku sudah menyandang gelar sarjana sejak setahun lalu diam-diam menjadi beban tersendiri buatku. Lebih tepatnya, aku jengah mendengar omongan orang-orang di kampungku. Kekepoannya amat menjengkelkan. Sebulan, dua bulan, tiga bulan berlalu dengan segala usaha kerasku 'menjual diri' ke mana-mana. Ada kalanya semangat itu turun dan biasanya aku akan menggalau ke beberapa kawan. Dan aku selalu bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mendukungku. 
Pukul 4 sore, Nanda menjemputku di Stasiun Lempuyangan. Suasana Yogyakarta selalu membuatku menostalgiakan segalanya. Tiap sudutnya menyimpan kepingan-kepingan kenangan. Angkringan, musisi jalanan, Taman Budaya Yogyakarta, Togamas, Gramedia, Perpustakaan Kota, Jalan Kaliurang, kampus, dan segala hal yang kuakrabi hampir 5 tahun ini. 
Sesampainya di kos Nanda malam harinya (sebelumnya kami kumpul-kumpul dulu sama beberapa kawan), aku langsung tepar sampai pagi. Benar-benar lelah. Pagi harinya, sekitar pukul setengah 9, Nanda mengantarku ke Stasiun Lempuyangan. 
"Semangat, ya!" ujar Nanda sembari menerima helm dariku.
Aku mengangguk, lantas berlari-lari kecil menuju pintu masuk. Kereta Bogowonto siap mengantarku ke Jakarta (lagi). Percayalah, duduk berjam-jam dengan kondisi tegak akan membuat punggungmu keras seperti papan. Dan aku melakukannya hampir tiap minggu. 
Sembari mendengar lagu, tanganku kembali mengotak-atik buku psikotes. Tapi kali ini konsentrasiku buyar.  Beberapa waktu lalu aku juga melakukan perjalanan ke Jakarta, tetapi dengan suasana yang berbeda. Saat itu kau menemaniku melewati perjalanan-perjalananku, dan sekarang aku berjalan sendirian. Ah, betapa kenangan terkadang suka mengganggu pikiran! Kututup bukuku karena tak bisa berpikir jernih. Aku memilih tidur untuk beberapa jam ke depan.
Sesampainya di Stasiun Jatinegara, aku turun dan melanjutkan perjalananku dengan KRL. Sore itu, hujan turun deras sekali. Di pintu keluar, seorang bocah kecil menawarkan ojek payung kepadaku. Aku tersenyum sambil mengangguk. 
"Ke loket sana, ya, Dik!"
Tanah becek menyambut langkah kakiku. Sepatu dan kaus kaki basah seketika. Setelah membeli tiket jurusan Palmerah, aku duduk di kursi panjang, menikmati hujan sembari menunggu kereta datang. Setengah jam kemudian, KRL yang kunanti pun tiba. Aku amat bersyukur karena banyak kursi kosong. Turun di Stasiun Tanah Abang, aku kembali naik KRL yang berakhir di Palmerah. Kali ini aku harus berdiri berdesak-desakan. Tenang saja, aku sudah mulai terbiasa menghadapi luapan manusia seperti ini. Sejujurnya, tak sekalipun aku bermimpi akan mencari hidup di kota ini. Macet, banjir, polusi, adalah hal-hal menjengkelkan yang tak ingin kutemui. Tapi takdir kembali membawaku ke sini. Kota yang dulu amat kubenci dan sering kusumpahi, dan sekarang harus mulai kucintai.
Kira-kira pukul 8 malam, aku tiba di Stasiun Palmerah dan disambut oleh Ucil, kawan sejurusan merangkap kawan menggalau perkara gawean. Malam itu ia mengajariku naik angkot. Biar nggak tuman pakai ojek, katanya. Sekalian pengiritan. Angkot nomor 09 membawa kami ke daerah Kebayoran Lama. Kami turun di depan kantor Jawa Pos untuk menjemput Vika, tapi ternyata pekerjaannya belum kelar. Kami lantas menunggunya di warung tak jauh dari situ. Aku tak bisa menahan laparku lebih lama lagi. Aku takut meninggal kalau harus menunggu Vika dulu. 
"Sudah siap untuk tes besok?" tanya Ucil.
"Siap nggak siap, Cil. Baru 4 hari lalu aku di Surabaya, dan sekarang aku sudah di sini lagi. Capek, tapi aku kudu setrong! Hahaha!" jawabku.
"Yo, kowe kudu semangat. Pekerjaanmu ini berat, tapi cocok untuk orang yang baru saja kandas sepertimu. Kamu jadi nggak punya waktu buat mikirin hal-hal yang nggak penting, hahaha!"
"Sialan. Tapi benar juga."
Kami ngakak bareng. Sungguh indah menertawakan kesedihan masing-masing. Selesai makan, kami berjalan kaki menuju kos Vika. Vika tampak amat lelah. Kantung matanya kian menggantung saja. Ia menemani kami hanya sejam, lalu kembali ke kantor untuk rapat sampai jam satu dini hari. 
"Jadi wartawan itu capek, Ndi. Penuh tekanan. Serius!" kata Vika.
"Aku harus capek, Vik. Serius!"
"Ya, itu pilihanmu sih. Semoga tes besok lancar, ya!"
"Aamiin."
Setelah Vika pergi, aku membuka-buka koran yang dibawa Ucil. Ucil sendiri sudah bobok manis setengah jam lalu. Benar, ini adalah pilihanku. Jika aku sudah menentukan pilihan, maka yang selanjutnya kulakukan adalah memperjuangkan pilihan itu, bagaimana pun caranya. Tepat pukul 12 malam, aku menyusul Ucil tidur. 
Pagi harinya, aku bersiap-siap. Vika masih goler-goler di kasur ketika aku berpamitan kepadanya. Ia menyemangatiku dengan mata setengah tertutup. Kususuri gang kecil dengan hati campur aduk, lalu berbelok ke arah gedung Jawa Pos. Di sana, aku berdiri menunggu kedatangan ojek online yang kupesan beberapa menit lalu. Kuperhatikan lalu lalang kendaraan di depanku. Macet. Ruwet. Jakarta, oh, Jakarta.
"Mbak Indiana, ya?" sapa seorang mas-mas berjaket hijau khas ojek online.
Aku mengangguk. Ojek pesananku sudah sampai. "Ke Jalan Teuku Cik Di Tiro, ya, Mas?"
"Siap, Neng!"
Sesuai dugaan, pagi itu kami disambut macet di sana-sini. Itulah mengapa aku berangkat 1,5 jam sebelumnya. Biar nggak telat. Setelah diiringi drama kesasar, tibalah kami di daerah Menteng. Aku segera masuk ke gedung tempatku tes bersama seorang seniorku di kampus. Mbak Habsari namanya. Satu per satu peserta datang dan kami saling berkenalan. Nyaliku agak menciut ketika melihat beberapa dari mereka adalah jebolan TV ternama, atau lulusan jurusan Jurnalistik. Tapi, ya sudahlah, lihat saja nanti.
Pukul 11 siang, kami digiring ke sebuah ruangan untuk menjalani tes tulis. Meskipun suasananya amat santai, tetap saja aku gugup. Kujawab soal-soal seputaran dunia jurnalistik semampu yang kubisa. Ada dua soal yang bikin aku kelimpungan, yaitu soal menerjemahkan berita bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Saat itulah aku mengutuk diriku sendiri yang kurang bersungguh-sungguh belajar bahasa Inggris. Dulu sempet jago pas ikut les di Pare, sekarang balik bego lagi karena jarang diasah -_-
Selesai tes, aku dan Mbak Habsari kabur ke warung depan kantor sambil ngroweng perkara soal-soal tes yang di luar prediksi kami. Ya, anggap saja kami sedang dilatih. Kalau sudah resmi bekerja nanti, akan lebih banyak lagi hal-hal tidak terduga yang kami temui.
Pukul setengah 2 siang, sesi interview dimulai setelah sebelumnya ada presentasi mengenai profil perusahaan. Interview dibagi menjadi beberapa kloter. Aku kebagian kloter kedua bersama dua orang temanku, Mery dan Adit. Kami diwawancara oleh 3 orang redaktur yang ketiga-tiganya kocak. Suasana amat santai, dan aku langsung jatuh cinta pada media ini. Kupikir akan sangat menyenangkan bekerja dengan orang-orang segila mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tentu saja berkaitan dengan CV yang kami tulis. Adit menceritakan pengalaman kerjanya sebagai fotografer, profesi yang menurun dari ayahnya. Mery menceritakan pengalaman magang di sebuah stasiun TV ternama. Aku?
"Setelah lulus, saya lebih banyak keluyurannya sih, Pak. Terakhir saya ngebolang di Papua Barat selama 4 bulan. Juni kemarin baliknya," ujarku.
"Ngapain tuh di Papua? Lihat orang pakai koteka?"
Semua tertawa.
"Hehe, jadi relawan, Pak. Asisten Peneliti bidang Sosial dan Budaya gitu lah. Kerjaannya main ke distrik-distrik terpencil buat cari data bla... bla..."
Ya, hanya Ekspedisi NKRI lah senjataku saat itu, sebuah pengalaman yang agak nyambung dikit lah sama bidang pekerjaan yang kulamar. Setelah tanya-tanya tentang pengalaman, kami lebih banyak ngobrol ngalor-ngidul.
"Dit, kamu punya pacar?" tanya Cak Sol bercanda setengah serius.
Adit si fotografer menggeleng. "Baru aja putus, Pak."
Semua tertawa. Aku hanya tersenyum kecut. Sabar, yah, Dit. Jodoh mah nggak ke mana, tapi kalo lu nggak ke mana-mana ya nggak ketemu juga.
"Kenapa putus?"
"Ya gitu deh, Pak, dia bla ... bla... bla ..." si Adit curcol. Buset.
"Kalau Indi, punya pacar nggak?"
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Putus juga kau?"
Aku pura-pura budek.
"Kalau Mery?"
"Nggak punya, Pak."
"Waaaah, jomblo semua berarti ini, ya! Nggak papa, nanti kalian cari sesama wartawan saja, kan asyik. Di sini banyak tuh yang cinta lokasi. Tapi kalau sampai menikah ya risikonya harus keluar salah satu," ujar mas-mas gendut yang aku lupa siapa namanya.
Kami tertawa mendengarnya. Setelah haha-hihi beberapa menit, kami dipersilakan keluar. Aku merebahkan diriku di mushola sembari nunggu Mbak Habsari kelar wawancara. Pikiranku kembali melayang. Menjadi seorang wartawan adalah impianku semasa sekolah. Dulu aku begitu aktif di ekskul Jurnalistik sampai-sampai ingin kuliah di jurusan serupa. Begitu diterima sebagai mahasiswa Sastra Indonesia UGM, impian itu lambat laun pudar seiring dengan banyaknya pilihan. Sempat tergabung dalam pers mahasiswa tingkat fakultas, tapi tak bertahan lama. Aku larut dalam aktivitas menulis fiksi , organisasi jurusan, dan selebihnya nggembel ke sana kemari. Menginjak tahun akhir kuliah, kerjaanku dolan melulu. Begitu lulus dan wisuda, aku mencelat ke Papua Barat.  Ya, begitulah pilihan hidupku saat itu.
Dan kini, aku diajak reunian dengan impian di masa lalu. Menjadi seorang wartawan yang hidupnya keleleran di jalanan. Seru-seru mengasyikkan. Penuh tantangan dan perjuangan, macam orang pedekatean.
Setelah menjalani tes dan interview di hari itu, aku kembali ke Yogyakarta untuk menunggu pengumuman. Aku sudah berjanji tidak akan pulang ke rumah  andaikata aku tidak lolos. Malu sudah mengecewakan orang tua dan menghabiskan banyak harta. Lebih baik aku serabutan dulu di sini sampai menemukan pekerjaan yang layak. H+1 Idul Adha, pengumuman itu datang dan aku tidak lolos. Saat itu aku langsung down. Oh, Tuhan, kuatkan aku. Dengan hati tak keruan aku mengirimkan sebuah sms ke nomor bapak.


Bapak, aku nggak lolos. Maaf sudah mengecewakan dan menghabiskan banyak uang.


Kemudian aku menangis di pojok kamar kos sampai tertidur. Begitu bangun, kudapati mataku bengkak tapi perasaanku sudah agak lebih baik. Karena tak ingin edan sendirian, aku menyambangi kos Mbak Habsari buat sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Oya, dia lolos. Keesokan harinya, ia terbang ke Jakarta untuk teken kontrak, sementara aku sibuk apply lamaran lagi. Kemudian kabar itu datang di siang bolong. 


Ndi, kamu lolos tahu! Emang kamu nggak dapat sms?


Kubaca pesan Line dari Mery setengah tidak percaya. Kucek kembali ponselku yang rada soak ini. Tidak ada sms masuk. Aku lantas menelepon ke kantor untuk memastikan. Oh, ternyata ada trouble. Entah gimana ceritanya sms dari kantor tidak masuk ke ponselku. Alhamdulillah, mereka mau maklum sehingga aku tidak perlu nyap-nyapan ke Jakarta saat itu juga. Setelah mendapat kepastian, aku lantas menelepon bapak dan menyampaikan kabar itu. Akhir bulan ini aku harus kembali ke Jakarta dan mengikuti pelatihan sebelum siap tempur. Rasanya ngeri-ngeri sedap.


Pada akhirnya, inilah pilihan yang harus kujalani. Seperti halnya memilih pasangan, aku harus bertanggung jawab dan memperjuangkan pilihanku apa pun yang terjadi. Diam-diam aku harus berterima kasih pada Ekspedisi NKRI, senjata ampuhku dalam interview kemarin. Ah, bukankah setiap pilihan akan melahirkan segala kemungkinan? Mungkin jika dulu aku lebih memilih pekerjaan ketimbang jadi relawan ekspedisi, aku tidak akan bertemu orang-orang hebat dan pengalaman hidup yang tak bisa dibeli dengan apa pun. Dan tentu saja, aku tak akan jadi wartawan, impian masa sekolah yang sebentar lagi akan terealisasi.



Yogyakarta, 17 September 2016.

Menggapai Puncak Pe-Ha-Pe #5

Baca selengkapnya » | No Comments »

Satu-satunya hal yang ada dalam pikiranku ketika Mas Pencit menghilang adalah ucapan mas-mas gondrong pas ngasih petuah. Biasanya para pendaki suka lupa diri kalau turun dari puncak. Saking senengnya main perosotan sampai ga fokus sama medan, tahu-tahu udah nyasar aja. Dulu pernah ada yang nyasar, pas ngelewatin area Blank 75 dia nggak fokus, dikiranya jalan lurus padahal ngarah ke kanan. Sampai akhirnya dia jatoh di jurang sebelah kanan itu. Dua hari dia bertahan tanpa bekal apa pun. Dan anehnya, pas tim SAR nyari ke sana, dia nggak ada. Kalian tahu dia ke mana? Dia tiba-tiba aja pindah ke sekitaran jurang sebelah kiri. Percaya nggak percaya, ada yang mbopong dia ke sana.
Dan sekarang, aku sedang turun, sendirian! Aku bergidik sendiri. Baru kali ini aku berada di gunung sendirian, tanpa melihat manusia satu ekor pun. Rasanya … hmm, jangan kautanyakan. Pada sebuah turunan, kuhentikan langkahku. Perutku bergolak kian beringas. Kebelet pipis, sudah tak tahan lagi! Duh, pipis, nggak, ya? Mana nggak bawa tisu basah lagi! Bingung melanda seketika. Kutengok ke belakang, jelas nggak ada orang. Kanan-kiriku pun kosong melompong. Tempat ini terlalu terbuka. Gimana kalau ada penunggunya? Gimana kalau penunggunya nggak suka sama aku?
Alamaaaaak! Tapi aku sudah tak tahan lagi. Kalau aku tetap maksain turun dengan beban yang sudah di ‘ujung’, bisa-bisa aku ngompol. Oh, tidak. Baiklah. Aku lantas turun beberapa langkah, mendekati sebuah batu seukuran lemari empat pintu. Sambil komat-kamit “Maaf, ya … aku sudah nggak tahan. Tolong jangan ganggu, aku nggak aneh-aneh kok!”, kuselesaikan ritual mendebarkan tersebut. Setelahnya, aku kembali tolah-toleh. Sedetik kemudian, lariiiii! Ya, aku turun sambil berlari gegara bergidik.

Menggapai Puncak Pe-Ha-Pe #4

Baca selengkapnya » | No Comments »


"Ada macaaaan!"
“Macaaan!”
“Macaaan!”
Kalimati yang semula tenang dan damai mendadak ramai. Di luar tenda, orang-orang berteriak ketakutan. Sontak aku terjaga dan merasakan tubuhku merinding luar biasa. Aku tidak berani keluar tenda meskipun orang-orang menyuruh mengosongkan tenda. Badanku kian panas dingin setelah menyadari bahwa Mas Pencit dan Mas Pleir tidak ada di tempat. Semakin lama, auman macan terdengar semakin nyaring. Kata mas-mas gondrong ketika memberikan briefing, di Kalimati memang ada macan yang suka keliaran, tapi di Sumber Mani, bukan di tempat ini. Aku kian ketakutan. Angin berembus kencang. Seorang kakek tua berbaju serba putih tiba-tiba masuk ke dalam tenda. Matanya tajam menatapku.
“Kamu lolos!”
“Ap… apa?”
“Kamu dapat melanjutkan perjalanan sampai akhir.”
Kemudian ia menghilang. Jantungku berdegup kencang. Apa yang barusan kulihat? Aku mengucek mata berkali-kali. Auman macan itu kini tak terdengar lagi, berganti suara berisik orang-orang.
“Iku arek-arek Jember gak digugahi ta? Tendane sepi banget!”
“Oiiii, Mbak Jember! Mas Jember!”
“Wis-wis, jarne. Mungkin mereka summit-nya masih nanti.”
“Oke, kita berangkat!”
“Semangat! Kalau ada yang capek, ngomong. Ingat, tujuan utama kita bukanlah puncak, tapi pulang dengan selamat!”
“Ya! Semangat!!”
Kemudian teriakan-teriakan itu menghilang bersamaan dengan langkah kaki mereka. Aku mengerutkan kening. Kenapa suasananya jadi beda begini? Aku mengucek mataku sekali lagi. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Mas Pencit dan Mas Pleir tengah molor dengan santainya. What the hell, ternyata suara macan dan kakek tua tadi tadi beneran ada. Beneran ada dalam mimpi, maksudnya.
“Mas! Mas!”
“Hm?”
“Pukul berapa sekarang?”
Mas Pencit bangun dari tidur, menyalakan senter, lantas melihat jam tangannya. “Pukul 22.45 WIB. Ya ampun, ternyata tadi kita nggak pasang alarm.”
“Tadi mas-mas tenda sebelah pada tereak kenceng banget, makanya aku bangun. Untung ada mereka,” ujarku, lantas melanjutkan dalam hati, untung ada suara macan dan kakek tua juga.

Mas Pleir kemudian bangun. Sambil mengucek mata, ia mengambil nesting berisi nasi dan sarden di pojokan tenda. Mas Pencit langsung bikin minuman hangat. Sambil makan, kami mengobrol. Sebenarnya aku sangat malas makan, tapi tetap kupaksakan karena tubuhku butuh energi yang cukup untuk menempuh perjalanan selanjutnya. Apalagi seharian tadi aku hanya mengunyah beberapa butir kentang dan apel. Aku tidak mau pingsan di tengah jalan gegara kurang makan.
“Berangkat pukul berapa kita?” tanyaku lagi.
“Pukul 12, ya. Santai, masih lama.”
Setelah makan, kami memeriksa kembali perlengkapan summit. Headlamp, jaket, air, dan cemilan. Meskipun Mas Pencit sudah membawa air yang lebih dari cukup, tapi aku tetap jaga-jaga dengan membawa sebotol kecil air. Tak lupa pula mengantongi dua batang cokelat silverquuen. Setengah jam kemudian, kami pun keluar tenda.

Menggapai Puncak Pe-Ha-Pe #3

Baca selengkapnya » | No Comments »

Minggu, 18 Oktober 2015

“Ngapain kamu di sini?” aku terkaget-kaget melihat sosok itu tiba-tiba masuk ke tenda.
“Aku nggak mungkin biarin kamu sendirian lah,” jawabnya dengan cuek, tapi berhasil membuat pipiku memanas.
“Gimana bisa kamu ada di sini? Kok kamu bisa tahu kalau aku di Semeru?”
“Rahasia,” lagi-lagi ia menjawab dengan gaya menyebalkan.
Aku memanyunkan bibir. Dongkol sekaligus penasaran, bagaimana mungkin bocah nyentrik itu tahu-tahu ada di sini. Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, ia keluar tenda. Aku buru-buru menyusulnya, tapi …
“Adaaaw!” aku merutuk. Ujung jilbabku tersangkut resleting tas!
“Kenapa, Mbak?”
“Ha?”
“Ada apa, Mbak?”
“Ha?” aku bingung. Semakin bingung setelah mendapati diriku terbungkus sleeping bag dengan posisi ndusel-ndusel Mbak Fai dan Mbak Nisa. Ke mana bocah nyentrik tadi? Aku buru-buru bangun. Di luar sana terdengar suara orang-orang yang meributkan sunrise. Barulah aku sadar apa yang sebenarnya terjadi. Ngebo selama 9 jam ternyata menghasilkan mimpi yang ra cetho tapi membuatku senyum-senyum sendiri. Aku lantas mengusap wajah berkali-kali. What the hell, ada apa denganku. Sebelum pikiranku makin nggak waras, aku lalu menunaikan sholat Subuh. Usai sholat, aku merasakan ada yang mendesak-desak di dalam tubuh. Kebelet pipis.

Menggapai Puncak Pe-Ha-Pe #2

Baca selengkapnya » | No Comments »

Sabtu, 17 Oktober 2015

Udara dingin basecamp Ranupani membangunkan tidur kami pagi itu. Sambil menahan dingin campur kantuk campur lelah perjalanan, kami keluar tenda dengan bermalas-malasan. Satu per satu pendaki yang semalam gluntungan di lantai pun mulai bangun. Tenda-tenda yang berjajar di sebelah kami juga telah menampakkan aktivitasnya. Setelah sholat Subuh, kami segera menyiapkan sarapan. Loket baru akan dibuka pukul 8 nanti. Rencananya kami akan mulai mendaki pukul 9-an biar abis Duhur udah bisa ongkang-ongkang kaki di Ranukumbolo, istirahat sejam dua jam, lalu lanjut jalan ke Kalimati tapi kok kayaknya nggak mungkin.
"Mau bikin apaan?"
"Kopi."
"Energen"
"Nggak usah bikin nasi, ya? Di Ranukumbolo aja bikinnya."
"Iya. Makan mie aja lah."
"Sakarep wes. Aku nggak biasa sarapan juga."
Kami ribut bongkar-bongkar perbekalan. Akhirnya, kami pun bikin mie instan sebagai pengganjal perut pagi itu, ditemani kopi dan energen. Sebenarnya mie instan sangat nggak disarankan buat nggunung, tapi mau gimana lagi, kami terlalu mager buat masak yang agak ribet. Hahaha. Selesai makan, kami segera bongkar tenda dan menata ulang barang-barang yang berserakan di lantai. Dari tempat kami berdiri, tampak bukit-bukit indah berjajar di kejauhan sana. Aku berdecak kagum, setengah tidak percaya bahwa pagi ini berada di sebuah tempat yang kuimpikan sejak dulu: Mahameru. 
"Dari mana, Mbak?" seorang mas-mas bercarrier hitam menyapaku yang tengah bengong menatap kejauhan.
"Eh? Dari sini aja, Mas. Hehe," aku meringis.
"Di sini itu di mana?"
"Jember, Mas. Samean soko ngendi?"
"Ooo... Jember, tho. Saya dari Wonosobo. Sering ndaki, Mbak? Anak Mapala?"
"Hahaha, bukan, Mas, cuma suka jalan-jalan aja."
"O, kirain. Ngomong-ngomong, ndaki pake rok emang nggak ribet?" Mas-mas itu menatap sekilas rok cokelat yang kupakai.
"Enggak, kok, Mas," jawabku sambil meneruskan dalam hati, nggak tahu ribet apa kagak, orang baru pertama kali juga.
"Yowis, ati-ati, Mbak. Aku duluan, ya. Rombonganku udah mau jalan, nih. Sampai ketemu di sana!" Mas-mas itu melambaikan tangan sambil berlalu dari hadapanku.
"Oke, Mas!" aku balas melambaikan tangan. 

Menggapai Puncak Pe-Ha-Pe #1

Baca selengkapnya » | 2 Comments »

Kamis, 15 Oktober 2015


"Nduk, kamu bawa power bank nggak pas di gunung nanti?" Bapak tiba-tiba nongol di ambang pintu kamar.
Aku yang saat itu sedang berkemas-kemas sontak mendongak sembari menaikkan alis. Heran campur geli. "Bawa. Kenapa?"
"Ya buat nge-charge hape. Di sana beneran nggak ada sinyal, ya?" tanyanya lagi.
Aku semakin ingin ngakak. "Palingan di basecamp doang, Pak."
"Nanti kalau sudah mau naik kabarin, ya."
"Hmmm..."
Bapak kemudian berlalu dari hadapanku. Aku tercenung sesaat. Pertanyaan Bapak barusan benar-benar membuatku geli. Bagaimana tidak? Doi udah sering merambah alam liar, bro! Tidak terhitung berapa kali doi *pssst, aku menyebutnya "doi" karena Bapakku gaul sekali* pergi ke alam liar berhari-hari tanpa sinyal. Sebagai seorang pembina ekskul Pecinta Alam yang sering nemenin murid-muridnya ekspedisi ke mana-mana, doi pasti tahu kalau di pedalaman sana nggak ada tower. Hahaha. Yeah, kukira ini adalah bentuk kekhawatiran seorang Bapak kepada anak. Padahal, ini bukan sekali dua kali aku berpamitan untuk naik gunung. Mungkin karena kali ini aku pamitannya di rumah, jadi lebih kerasa gitu (?). Yeah, FYI aku baru dua hari pulkam dan besoknya langsung pamit ke gunung. 
"Nduk, segini cukup, nggak?" Ibu masuk ke kamar sembari membawa dua kresek beras, sekresek apel, sekresek jajanan, dan sekresek kentang. 
Aku melongo. "Maaaaak! Ini kebanyakan!"
Hahaha. Duh, Gusti. Begini, ya, rasanya kalau mau mbolang dari rumah. Nggak usah khawatir logistik karena ibuku sudah pasti akan menjejali carrier-ku dengan beraneka ragam makanan. Beda banget kalau lagi di Jogja, mau beli ini-itu musti dipikir mateng-mateng.
"Lha kalau nanti kamu kelaparan gimana?"
"Haha, ora...ora! Temenku, kan, banyak..." aku lagi-lagi terkikik geli. Setelah ibuku pergi, aku menata ulang barang-barang yang akan kubawa mendaki. Barang yang sekiranya nggak penting buru-buru kusingkirkan. SB, baju ganti, kaos kaki, masker, headlamp, senter, kacamata item, dan logistik kumasukkan satu per satu ke dalam carrier berkapasitas 45L. Fiuh, selesai juga.

WIS-UDAH!

No Comments »


Long time ago….

“Nanti wisudaan bareng, yuk!”
“Gimana caranya? Kamu di Jogja, aku di S***. Wisuda di Klaten gitu? Haha!”
“Ya enggak lah. Terlalu mainstream kalau wisudaan di kampus. Kita wisudaan di gunung aja gimana? Nanti kita bawa toga masing-masing abis wisuda resmi di kampus, terus mendaki bareng!”
“Haha! Ya, ya, ya. Kelarin dulu lah skripsinya!”
“Iya, yuk semangat ngelarin skripsi!”

Dan semua pun berjalan tidak sesuai rencana. Tidak ada saling bertukar kabar perihal pendadaran alias sidang skripsi. Tidak ada wisuda bareng di puncak gunung atau semacamnya. Tegur sapa pun lenyap termakan waktu. Ya, waktu yang membekukan kami. Hingga saat ini…

Lantas, bagaimana dengan persiapan wisuda? Yah, nyaris hancur. Kapan-kapan lah jika ada waktu akan kuceritakan tentang malapetaka yang menimpaku di hari wisuda. Singkat cerita, setelah dinyatakan lulus dengan nilai maksimal, aku segera mengontak temen-temen cowok untuk menemaniku mendaki. Kenapa cowok? Ya, karena aku nggak punya temen cewek yang bisa diajak naik gunung, hahaha! Seminggu sebelum wisuda, tahu-tahu para lelaki itu mundur teratur dengan alasan A sampai Z. Aaaaaargh! Aku hampir menyerah. Mamat yang biasanya selalu nyanggupin lagi KKN, Mas Riyan pun udah gantung carrier alias nggak mendaki lagi. Di tengah kebingungan itu, aku scroll IG dan tetiba nemu postingannya si Mukmin. Makhluk ini! Ya ampun, aku baru ingat makhluk ini doyan naik gunung! Bagaikan nemu air di padang pasir, aku segera mengontaknya.  FYI, aku sudah lamaaaa banget nggak ketemu dia. Ada kali 2 tahunan, hahaha! Dulu kami kenal di acara IMM dan kebetulan kami jadi panitianya gitu. Nggak tahu diri banget dah, sekalinya ngontak langsung ngajak main :v. Untungnya doi mau. Sumpah, you’re my guardian angel, Min! Hoahahaha! XD
Menjelang hari H, temen SMA-ku si Hirma tahu-tahu ngabarin kalau dia bakal ke Jogja bareng si Binawan a.k.a Jemban. Oiiii, akhirnya dia luluh juga dengan rayuanku! Seneng banget bisa mendaki bareng. Malam hari setelah wisuda yang ampun-capek-banget-sumpah, aku menerima kabar duka: Merbabu kebakaran. Innalillahi. Setelah mengontak Mukmin, kami pun sepakat untuk pindah lokasi ke Gunung Merapi. Sejujurnya kondisiku saat itu agak-agak kurang fit. Ada sesuatu mengganjal di tubuhku yang nggak bisa kuceritakan di sini. Tapi melihat Hirma dan Jemban yang udah semangat angkat carrier sampai Jogja, aku pun memotivasi diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Sabtu 22 Agustus 2015, aku, Hirma, Yepi, Jemban, dan Ipo meluncur ke UMY buat jemput si Mukmin. Kenapa tiba-tiba ada tokoh tambahan Yepi dan Ipo? Yeah, Ipo lagi pengen motret Merapi dari dekat gitu katanya, trus ditemenin Yepi. Nyampe UMY kira-kira jam 3 sore setelah diselipi nyasar dan ketiduran di lampu merah. Sumpah nggak enak banget sama si Mukmin telatnya bisa selama itu. Ya gimana, ada hal-hal di luar dugaan terjadi begitu saja. Setengah 4 sore, kami pun meluncur. 3 jam kemudian, sampailah kami di basecamp Merapi. Dinginnya malam menusuk kulit. Setelah melaksanakan kewajiban sholat, kami pun menuju basecamp untuk mendaftar. Hal yang nggak terduga selanjutnya terjadi: Ipo pengen ikut mendaki! Oiiii, sejujurnya aku panik dan membayangkan hal yang tidak-tidak. Anak ini tidak ada persiapan apa pun, fisik maupun mental. Kalau si Yepi mah bodo amat, dia udah biasa nanjak. Tapi entah karena dorongan apa, dia nekat ikut.
“Min, gimana nih? Tenda kan cuma isi 4 orang?” aku melirik Mukmin.
“Rapopo. Ajak wae.”
Baiklah, nambah personil 2. Ipo dan Yepi. Pukul 8 malam, kami memulai pendakian setelah berdoa bersama. Untuk menuju Plang Merapi, kami melewati jalanan beraspal dan jalan setapak yang cukup menanjak. Seperti biasa, aku ngos-ngosan di awal dan berhenti beberapa detik untuk mengatur napas. Ipo berkali-kali minta berhenti, haha! Diam-diam aku bersyukur dia ikut. Lumayan, ada yang dibully sepanjang jalan. :P
Perjalanan dari Plang Merapi menuju Pos 1 memakan waktu yang cukup lama. Kalau dari hitungannya si Mukmin kira-kira 1-2 jam, tapi rupa-rupanya nambah sejam, hehe. Di Pos 1, waktu menunjukkan pukul 11 malam dan kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Gile, dingin banget. Aku berkali-kali menggosokkan telapak tangan, lalu menempelkannya ke muka. Nggak ngaruh, tetep aja dingin. Akhirnya kami pun kembali mendaki. Trek di Merapi didominasi oleh bebatuan terjal dan tanah yang super licin. Jangan mengharapkan bonus di tempat ini. Di tengah perjalanan, aku tiba-tiba teringat ucapannya si Mamat. Dia bilang, “Pokok’e, Mbak, nek samean wes tekan Merapi bakalan ringan neng gunung liyane. Dalane marai ampun-ampunan! Hahaha!”. Yeah, aku sudah membuktikannya. Trek menuju Merapi bisa dibilang trek paling sulit yang pernah kulewati. Jika di Merbabu aku bisa bersantai gegara banyak jalan datar, tidak di gunung ini. Nanjak terus sampek mblenger, hahaha! Aku baru ngeh ketika Mukmin nyuruh aku beli kacamata item dan bodohnya aku malah beli kacamata pantai. Yep, banyak debu beterbangan yang enggak sengaja kumakan akibat treknya yang horror itu. Apalagi aku pake running shoes. Bego sih, tapi gimana lagi, adanya itu. Mau beli sepatu gunung tapi belum ada rezeki, heuheuheu. Nanti lah kalau sudah keluar dari zona pengangguran ini, aku bakal nyicil sembari nunggu pangeran berkuda putih ngasih mahar seperangkat peralatan gunung dan novel Pramoedya Ananta Toer dibayar tunai!
“Mbak, capek! Aku sudah nggak kuat lagi!” Ipo tampak ngos-ngosan.
“Oke, break dulu,” kataku.
Aku lantas mencari tempat untuk menyandarkan punggung. Sementara itu, Hirma dan Yepi melanjutkan perjalanan. Tepatnya nyariin si Jemban sih. Dia ilang entah ke mana. Hirma yang paling khawatir. Meski dia cerewetnya naudzubillah, dia tetep aja panik kalau ada apa-apa dengan partner rusuh bernama Jemban. Aku curiga, jangan-jangan mereka berjodoh di masa depan. HAHAHAHA!
Sembari menyandarkan punggung, aku menatap Gunung Merbabu yang tampak samar-samar di depan sana. Diam-diam aku tersenyum pahit. Teringat sebuah kebodohan yang pernah kulakukan di puncak gunung itu.
“Ayo, lanjut! Kalau diem lama-lama nanti hiphotermia loh!” Mukmin mengingatkan.
Aku menatap Merbabu sekali lagi, lantas kembali mendaki. Entah pergi ke mana rasa lelah itu. Tiba-tiba kaki terasa ringan. Padahal sebelum menuju Pos 1 perutku sempat kumat. Ipo malah sebaliknya. Dia tampak sangat lelah, mukanya pucat pasi. Rencananya kami akan nge-camp di Pasar Bubrah, tapi melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, kami pun mendirikan tenda. Saat itu pukul setengah 2 pagi. Total perjalanan 2 Pos sekitar 6 jam. Buset, lama juga ternyata. Untunglah, tendanya Mukmin bisa muat 6 orang. Sedari awal sebenarnya aku sudah ketar-ketir. Fiuh.
Dini hari itu, aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku merasa dinginnya Merapi 10x lipat dari dinginnya Merbabu. Meski SB sudah kurekatkan, tapi tetap saja aku menggigil. Gigiku bergemeletuk. Antara sadar dan tidak, aku mengigau. Entah teman-teman mendengarnya atau tidak. Aku hanya merasa dingin luar biasa. Jantungku berdegup sangat cepat. Tidurku sama sekali tidak nyenyak. Setelah sholat subuh, aku baru sadar kalau bajuku basah. Satu kata: bodoh. Pantas saja dinginnya luar biasa. Untung aku nggak mati. Begitu keluar dari tenda, aku melihat pemandangan yang luar biasa indah. Golden sunrise! Di depan tenda, tampak lautan awan dan matahari yang menyembul pelan-pelan. Sementara itu, di belakang tenda, tampak lautan awan dan puncak gunung kembar. Setelah mengambil camdig dan toga, aku pun mencari spot terbaik untuk foto, hahaha! Sabodo amat dengan orang-orang yang ngeliatin, pokoknya aku kudu wisuda di gunung! Ini adalah impian sejak lama, sampai-sampai aku nggak tertarik untuk foto gaya lain. Fokusku cuma wisudaan di sini, haha!
Setelah puas menikmati pagi, kami lanjut menuju Pasar Bubrah. Ipo nggak ikut. Terkapar di tenda. Perjalanan dari Pos 2 ke Pasar Bubrah nggak terlalu jauh. Kalau jalan cepet macem Mukmin mungkin setengah jam udah nyampe kali ya. Aku jalan paling belakang. Sengaja. Aku jalan pelan banget. Berkali-kali aku menoleh ke belakang, memandangi Gunung Merbabu yang Masya Allah indah sekali. Rasanya aku ingin sekali duduk lama di bebatuan, lalu menatap keindahan alam sepuasku. Saat itu aku benar-benar nggak peduli dengan puncak yang telah menewaskan Eri Yunanto. Aku hanya ingin duduk dan diam. Tapi melihat teman-teman yang sudah menunggu di atas, aku pun melanjutkan perjalanan.
“Mau naik nggak?” Mukmin menunjuk puncak Merapi.
“Berapa lama?”
“Sejaman. Tapi nek koe paling sejam setengah.”
“Aku takut nggak bisa balik e.”
“Weeee, ya aja ngomong ngunu!”
“Nggak, bukannya gitu. Fisikku lagi nggak baik, takut pas baliknya malah ngerepotin kalian. Apalagi Yepi, aku males diomelin.”
“Hahaha, ya udah deh.”
Setelah foto bareng anak-anak, aku kembali menengok puncak Merapi. Ingatanku lantas menuju percakapan beberapa bulan silam. Seharusnya, sekarang kamu ada di sini. Menemani perjalananku. Kupejamkan mataku rapat-rapat sembari merapalkan sebuah kalimat. Forgive and forget, just for Allah. Aku terdiam. Lama sekali. Aku benar-benar ingin ‘menyelesaikannya’ di sini. Setelah itu, barulah aku turun mengikuti anak-anak. Entahlah, saat itu aku sama sekali tidak berminat untuk mengambil foto seperti biasanya. Camdig-ku kutaruh saku. Aku berjalan pelan sembari menikmati pemandangan. Terkadang aku merasa, nikmatnya perjalanan terasa kurang jika terlalu banyak foto-foto. Entah mereka merasakannya atau tidak. Saat itu, sungguh aku ingin sekali mencari tempat sepi lantas duduk diam menikmati terpaan angin.
Sesampainya di camp, kami istirahat sebentar. Keadaan Ipo sudah membaik dan dia kelaparan. FYI, pas kami tinggal, dia nangis. Pas kutanya kenapa, katanya dia kangen kasur. Huahahaha! Kami lalu memasak di tempat yang cukup teduh. Dengan menu mie goreng campur mie kuah yang rasanya amazing plus sayur sop plus sosis, kami menikmati makan siang. Pukul setengah satu, kami berkemas-kemas dan pulang.
Perjalanan pulangnya amazing sekali, saudara-saudara. Pas turun, jempol kaki rasanya kek mo patah buat nahan diri biar nggak jatoh. Yepi, Hirma, dan Jemban udah duluan. Aku dan Mukmin di belakang nemenin si Ipo yang ngeluh muluk. Antara kasihan campur lucu melihat tampangnya yang tersiksa banget.
“Mbak, masih lama ya? Capek…”
“Mbak, aku udah nggak kuat!”
“Mbak, mana Pos 1? Belum kelihatan!”
Gitu aja terus sampai dia capek ngomong. Di perjalanan menuju basecamp, aku dan Ipo jalan paling belakang. Beberapa kali kami ngglundung dan ngesot-ngesot gegara nggak bisa nahan keseimbangan. Entah di turunan yang mana, kakiku terantuk batu besar dan aku pun jatuh. Ngglundung mengenai mas-mas pendaki yang mau naik.
“Eh, nggak papa, Mbak?”
“Nggak papa, Mas. Hehe hehe.”
Padahal muka udah nyusruk kena tanah. Berasa pake masker! Aku dan Ipo lantas istirahat sebentar.
“Aku kapok naik gunung!”
“Hahahaha! Ojok ngono talah!” aku ngakak. Setelah sholat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Untunglah, jalanan sudah tidak sehoror tadi, walau kami harus tetap hati-hati. Ketika melihat pendaki lain lari-lari melewati kami dengan santainya, rasa-rasanya pengen banget ikutan lari. Tapi embuh lah, ujung-ujungnya kepleset juga. Haha.
Sesampainya di Plang Merapi, kami istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan. Saat itu sudah pukul 5 sore. Lebih lama dari perkiraan, haha. Dengan sisa-sisa tenaga, aku berjalan pelan-pelan sampai bertemu jalan setapak. Lega campur seneng rasanya. Oooooh, aku rindu jalanan mendataaaar! Walaupun jalanannya nggak datar-datar amat, paling nggak aku udah nggak  ketemu pasir yang bikin batuk sepanjang jalan. Pas nyampe basecamp, rasanya lega luar biasa. Sekitar pukul setengah tujuh, kami pun pulang dan nyasar, hahaha. Tapi tidak apa-apa. Perjalanan kali ini sungguh menyenangkan. Nggak nyangka bisa beneran nyampe Merapi setelah hampir menyerah gegara banyak yang ngebatalin. Walaupun setelah dari Merapi aku langsung drop (gegara penyakit X yang kurasain sebelum mendaki) dan lari ke IGD, aku nggak kapok kok, hahaha. Janji deh, habis ini jaga kesehatan biar nggak kumat-kumatan lagi. :v
Untuk itulah, beribu terima kasih kuucapkan untuk Mukmin yang mau-maunya kutodong ke Merapi setelah 2 tahunan nggak ketemu. Terima kasih banyaaaakkk sudah sudi direpotin bocah-bocah Jember cuwawak’an macem aku, Hirma, Yepi, Ipo, dan Jemban. Juga buat Hirma dan Jemban yang ngeluangin waktu buat menemani perjalanan indah ini *tsah. Buat Yepi dan Ipo? Ah, rausah. Hahahaha.
Pokoknya, kalian luar biasa. Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya! :D :D :D


Yogyakarta, 29 Agustus 2015

Pukul 00.41 WIB


Hore-hore!
Selamat pagi, Merapi! :)
Tenda kami! :D
                                                                         
Wisudaaaa!




SEA GATE #1

No Comments »

Oiii oiii oiii!
Sawad dee Khaaa!
Kun sabai dee mai kha? :D *nggak tau ini nulisnya bener apa kagak, hahaha!

Duh, lama nggak nulis jadi kagok begini -___-
Oke, anggap saja ini adalah penebusan dosa gegara absen nulis entah sejak zaman kapan. Hahaha. Di beberapa postingan sebelumnya, aku berencana bikin tulisan perjalanan selama nutorin anak-anak Thailand. Di sana aku menulis kalau aku bakalan sering ngajak murid-murid Thailand apalagi yang ganteng  hahaha buat jalan-jalan. Niatnya sih nulisnya per minggu gitu, tapi apa daya, aku terperangkap dalam skripsi dan sidang dan pendadaran dan yudisium dan seterusnya, jadinya enggak sempet ngeblog. Hiks. Hiks.
Selama 2 bulan menjadi tutor teman-teman Thailand, sungguh ada banyaaaakkk sekali cerita seru! Aku mendapatkan teman-teman baru, pengalaman baru, dan tentu saja pemasukan baru, hahaha! :P
Terima kasih PSSAT sudah menerima saya menjadi bagian dari tutor periode ini. Sungguh saya merasa senang sekali. Jika nanti ada program lagi dan butuh tutor dan saya masih menganggur, bolehlah saya dipanggil kembali, heuheuheu. :v
Jadi, bagaimana rasanya menjadi tutor teman-teman Thailand? Oiii, nano-nao! Aku merasa sangat enjoy. Tiap hari dapat hiburan dari mereka. Entahlah, adaaaa aja kelakuan mereka yang bikin aku ngakak. Nanti akan kuceritakan lebih lanjut. Sekarang, emm, sebagai permulaan, aku akan memperkenalkan nama-nama tutor dan mahasiswa Thailand. FYI, mereka berasal dari Thammasat University. *lupa mau nulis di awal, mo ngedit keburu males* Oke, dimulai dari tutor! 

1. Mbak Nur
Sebenarnya doi nggak masuk jajaran tutor sih, tapi pengajar yang selevel di atas kami, hehe. Awal kenal Mbak Nur itu pas interview. Masih inget banget pertanyaan Mbak Nur dulu, "Kalau kamu punya waktu luang, kamu pengen ngajak anak-anak Thailand ke mana?" dan dengan santainya kujawab, "Ke mana pun motorku melaju, Mbak. Mungkin jam segini kubawa ke A, lalu ke B, lalu ke C, dll." Dan yeah, janjiku terpenuhi. Ada dua anak Thai yang akrab sekali denganku, kemudian kubawa ke mana-mana. Lainnya lebih suka ngemall sih, mo ngajak main panas-panasan jadi nggak enak -___-. Oiiii, ini kenapa malah ngomongin yang lain? Hahahah maap, Mbak Nur. Jadi, intinya Mbak Nur adalah pintu utama (?) yang mempertemukanku dengan teman-teman tutor dan teman-teman Thai. Mbak Nur asik, murah senyum, ceria, tapi entah kenapa ada beberapa anak Thai yang bilang kalau doi jahat menakutkan, hahahahaha!

2. Aditya Indra Nugraha (Adit), Antropologi.
Adit ini semacam sesepuh tutor yang jam terbangnya tinggi. Dialah pusat segala informasi dan keluhan selama proses ngajar. Ibaratnya, dia kek ketua kelas gitu lah. Kerjaannya ya ngoprak-ngoprak tutor, ngasih info, dan nyodorin presensi tiap abis nutor. Kalau ada apa-apa dengan mahasiswa Thai, dia ini yang cepat tanggap. Bravo, Dit! *uopoh* Oi oi, pertama kali berteman dengan dia di FB, hal pertama yang ingin kulakukan adalah unfriend dia gegara dia nongol di beranda dengan apdetan banyaaaakkk sekali foto jalan-jalan sementara saat itu aku lagi muntah gegara skripsi -______-

3. Herlina Endah Atmaja (Mbak Endah), Sastra Inggris.
Beberapa kali ketemu Mbak Endah di PSSAT, saling sapa, senyum, ngobrol, tapi baru ngeh kalau dia tutor setelah sebulan berjalan. Pekok emang, hahaha! Awalnya kukira dia ini pegawai PSSAT, habisnya ga pernah lihat dia ngajar tapi selalu papasan di lingkungan PSSAT. Oh, ya, kalau nggak salah Mbak Endah ini juga jadi pengajar di tempat lain, entah apa namanya aku lupa. heuheuheu, piss, Mbak!

4. Rachmat Aditya Hutama (Adit), Sastra Korea.
Ini Adit versi dua. Berbeda dengan Adit pertama yang selalu 'say hi' dan unjuk gigi di mana-mana, Adit yang ini bisa dibilang cowok kulkas yang selalu jadi perbincangan dua cewek Thai yang konon memperebutkannya, hahaha. Meskipun jarang ngobrol sama dia, tapi aku punya kenangan terindah bersamanya. Pada siang hari yang cerah, dari arah potokopian kampus, aku melihat Adit tengah berjalan bersama dua orang temannya. Kemudian kusapa, "Hei, Dit!" dan dia pun melenggang begitu saja. Entah suaraku yang kurang kenceng atau dia yang terlalu fokus sama jalanan, aku diabaikan dan diketawain temenku yang bilang "Elu sok kenal!"  -____-

5. Wahyudi Bagus Utomo (Yudi), Pariwisata.
Hal yang paling aku tahu dari dia adalah: dia sahabatnya Odeng, temen sejurusanku. Yudi ini anaknya gimana, ya? Jarang ngobrol, sih, tapi tampaknya dia amat dekat dengan Nook and the gang. Dia nutor cuma sebulan doang btw, jadinya belum terlalu tahu hehehe.

6. Budi Wahyono (Budi), Sastra Indonesia.
Skip ajalah. Sudah muak mendeskripsikan seonggok manusia yang sudah kukenal 4 tahun lamanya. :v

7. Ilfat Isro'i Nirwani (Nining), Sastra Indonesia.
Bye, Ning! Anda saya skip!

8. Ronal Sadam (Ronal), Sastra Indonesia.
Skip! Skip! Skip!

9. Herlinda Yuniasti (Linda), Sastra Korea.
Mbak-mbak asal Tubab ini cucok banget. Kalau mau belajar bahasa Korea, bergurulah padanya karena dia sudah pernah menginjak negeri Ginseng. Pertama kali kenal Linda pas jaman jadi panitia PPSMB, hehehe. Sama kek Yudi, dia nutor cuma sebulan karena kudu KKN. Oke, semangat KKN, Lin! Lekaslah cinlok dengan sesama anak-anak KKN atau pemuda desa. Hahaha!

10. Nur Alim (Alim), Antropologi.
Awal kenal Alim pas jalan-jalan di Prambanan. Aku baru nyadar kalau dia tutor pas mo pulang. Awalnya kukira dia anak SMA yang lagi jalan di Prambanan, eh ternyata dia masuk rombongan, hahahaha. Sori, Lim. Daya ingatanku memang rada-rada XD

11. Anis Yulia Kusumawati (Anis), Antropologi.
Pertama kenal si Anis pas lagi ngegosipin si Ronal bareng si Dian. Hahaha. Waktu itu kami lagi makan di restoran entah apa namanya, semeja, kemudian kami mendengar Ronal berkicau tiada henti dan kami pun merasa lelah~

12. Dian Nurlaili (Dian), Hubungan Internasional.
Sama seperti si Anis, awal kenal Dian pas makan semeja dan menggosipkan kelakukan Ronal, hahahaha~

13. Hidayat Samsul Hudaya (Hidayat), Ilmu Hukum.
Lupa-lupa ingat. Kayaknya dia berkacamata. Jarang nongol di PSSAT sih (atau akunya yang kurang berkeliaran? hahaha). 

14. Aldina Yebelanny (Dina), Pariwisata.
Tutor termuda. Selalu jadi korban bully temen-temen kalau lagi ngumpul atau kalau lagi chit-chat di grup. Suka mbribik cowok-cowok Thai, hahahaha. Piye, Din? Sudah ada yang jadi? XD

15. Maria Eva (Maria), Sastra Korea.
Pendiam. Kalem. Ramah. Murah senyum. Di antara semua tutor, tampaknya dia yang paling nggak banyak tingkah. 

16. Luthfi Fadhila (Luthfi), Ilmu Hukum.
Ketika melihat kelakukan Luthfi, entah kenapa aku seperti melihat Rengga (temen SMA) lagi reinkarnasi jadi sosok Luthfi. Hahaha. Anaknya rame, suka ngomong, suka ngontel ke mana-mana, dan konon mengagumi Seena (cowok Thailand) diam-diam. Huahaha, enggak ... enggak ... bercanda! XD



Yep, itulah nama-nama tutor SEA-GATE periode ini! :D
Lanjut besok lagi lah nulisnya. Saya lelah, sodara-sodara. Bye~