Archive for Februari 2014

Drama Queen

2 Comments »


      Jam menunjukkan pukul 23.30 WIB ketika ponsel Indi berdering nyaring. Melihat nama yang terpampang di layar, ia mengerutkan kening. Fithri? Tumben sekali belum tidur jam segini.
            “Haiii! Tumben masih melek?” sapa Indi dengan penuh keceriaan.
            “Hiks ... hiks ...”
            Indi menempelkan ponsel lebih dekat ke telinganya. Seperti suara orang menangis. “Fit?”
            “Hiks ... hiks ...” tangisnya makin keras terdengar.
         Indi lantas membiarkannya. Sepertinya Fithri sedang ada masalah. Tiga menit berlalu tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Bingung. Ia memang tidak pandai menghadapi orang yang menangis.
            “Kita ...,” kata Fithri dengan suara terputus-putus, “sebenernya ... kita sahabat bukan, sih?”
            Indi melotot.
            “Kita sahabat bukan, sih? Huhu ...” ulang Fithri di sela-sela isaknya yang kian kencang.
            “Kamu kenapa nanya kayak gitu?” Indi balik bertanya.
           “Selama ini, aku ... aku selalu menyusahkan kalian, ya? Kalian pasti bete kan tiap hari dengerin aku?”
        “Fithri, kamu kenapa sih sebenernya?” Indi jumpalitan di tempat. Ia tidak terbiasa berada dalam suasana melankolis nan menyedihkan seperti ini.
            “Aku tahu, kalian bosan mendengar ocehanku. Rozi bilang, dia nggak mau berteman denganku gara-gara status facebook-ku yang alay setiap hari.”
            “Astaga!” Indi menepuk jidat. “Dia becanda kaliii. Kamu kayak nggak tahu dia aja!”
            “Kemarin ... pas lagi di Bangcok, Budi dan Rozi ngata-ngatain aku. Aku ... sakit hati dengernya.”
         “Mereka ngatain kayak gimana?” darah Indi memuncak sampai ubun-ubun. Oh, ternyata dua begundal itu yang bikin Fithri mewek!
            “Iza ...,” Fithri mengabaikan pertanyaanku, “aku udah jarang ngomong sama Iza. Kayaknya dia marah gara-gara masalah presentasi kemarin. Aku ... aku emang sering nyusahin kalian, kan?”
            Duh! Indi menepuk jidatnya lagi. Ia malah tak tahu apa-apa soal presentasi. Semester ini mereka memang sering bersilangan mata kuliah.
           “Iya, aku memang sering nyusahin kalian. Budi benar, aku itu manja, cengeng, dan kekanak-kanakan. Dia juga bilang ...” Fithri lalu menumpahkan semua isi hatinya.
            Indi mendengarkan dengan cermat. Dan sepanjang curhatan malam itu, ia sangat sering mendengar nama Budi disebut-sebut. Budi begini, Budi begitu.
            “POKOKNYA, AKU NGGAK MAU KETEMU BUDI! DIA JAHAT!”
Indi menghembuskan napas berat. Ia sudah menduganya sejak awal. Satu-satunya orang yang sering bikin Fithri menangis memang hanya dia, begundal Boyolali bernama Budi Wahyono. Hah!
***
            Kuliah Sastra Anak baru saja usai. Budi keluar dari kelas dengan wajah lega. Ini adalah kuliah terakhir dan ia ingin cepat-cepat pulang. Tapi wajahnya langsung berubah ketika menuruni tangga gedung A. Di bawah sana, tampak Indi sedang menunggunya sambil melipat tangan di dada. Wajahnya garang. Perasaannya jadi tak enak.
            “Hei, Ndi! Belum pulang?” sapa Budi sok cool, padahal hatinya kebat-kebit.
            Tanpa mengatakan apa pun, Indi langsung menyeret Budi ke salah satu bangku item yang kosong. Budi duduk sambil meletakkan tasnya di meja. Lihatlah, wajah Indi seperti tukang jagal. Tapi Budi tetap bersikap sok santai.
            “Fithri abis kamu apain?” tanya Indi tanpa basa-basi.
            “Hah?” Budi langsung bengong.
            “Please, Bud, jangan masang muka dongo gitu deh. Itu si Fithri abis kamu apain?” Indi melotot.
            Budi menggaruk kepalanya. “Duh, Ndi ... kamu kenapa sih? Dateng-dateng nanya nggak jelas kayak gitu. Orang si Fithri baik-baik aja kok.”
            “Baik-baik apaan? Dia semalem telepon aku sambil nangis-nangis tahu! Sadar nggak sih apa yang kamu lakuin ke dia selama ini tuh nyakitin hatinya?”
            “Emang dia bilang apaan?”
            Indi pun menceritakan semuanya. Termasuk masalah bullying yang dilakukan oleh Budi dan Rozi di Bangcok.
            “Yaelah, lebay banget,” Budi memasang wajah innocent.
          “Nah kaaaan, ngatain dia lebay lagi!” Indi menjitak kepala Budi dengan kesal. “Sadar nggak sih, Bud? Dia tuh sering bete gegara kamu suka banget ngatain dia seenak udel—walopun kamu niatnya becanda, tapi liat-liat situasi dong. Kamu juga sering kan ngebentak-bentak dia?”
            “Wuahahahaha! Ampun, deh, Ndi. Jadi dia nangis gara-gara itu? Kan aku enggak sengaja. Yaelah, dramatis amat si Pitri. Gimana entar kalo jadi istriku coba? Musti sabaaarrr, Ya Allah ....”
            Plak! Indi memukul kepala Budi dengan gemas. Kenapa dia malah ngakak? Heran! Dan ... apa katanya tadi? Istri? OMG, sempat-sempatnya becanda gituan.
            “Nggak sengaja tapi kenapa keseringan, ha? Lagian, ya ampuuun, Budi! Kamu kan tahu Fithri itu orangnya kayak gimana? Hatinya itu sehalus debu beterbangan. Rapuh dan gampang hancur kalau diterpa badai.”
            “Buahahahaha!” Budi ngakak makin kenceng. “Gembel, sok puitis lu!”
            Indi ikut-ikutan ngakak, tapi cuma beberapa detik saja. Ia kembali memasang wajah serius. “Dan kamu tahu nggak, apa yang sering banget bikin Fithri sakit hati sama kamu?”
            “Apaan emang?”
            “Aduh, Budi! Mukamu lempeng banget sih jadi orang! Serius dikit napa?”
            “Ini aku serius, oncom!” Budi melotot. “Emang mukaku kayak gini sejak lahir, jadi harap maklum.”
            Indi menghembuskan napas sejenak, lalu menatap Budi dengan wajah serius. “Fithri itu nggak suka dibanding-bandingin.”
            “Dibanding-bandingin?” Budi masih nggak ngeh.
            “Iya, kamu sering banget ngebanding-bandingin dia dengan orang lain, dan Fithri nggak suka itu.”
            Budi terdiam.
            “Kamu sering banget kan bilang ‘Pit, lihat tuh si Iza. Udah pinter, kalem, shalihah lagi. Kamu tuh mustinya nyontoh dia, jangan suka cekakak’an nggak jelas’. Meskipun dia sadar, ya, Bud, kalo perkataanmu ada benernya, tapi dia tetep aja nggak suka dibanding-bandingin. Apalagi dibandingin sama orang yang deket sama kita, itu nyakitin banget.”
            Budi masih terdiam. Kali ini ia tidak tertawa. Raut wajahnya tampak sedikit pias. 
        “Besok-besok, kalau ngomong sama Fihtri mbok ya dipikir dulu. Jangan asal nyablak. Dia itu orangnya perasa—yang selalu kamu artikan sebagai lebay—dan sensitif banget. Kamu jadi orang peka dikit dong, Bud. Fithri tuh dari kemarin-kemarin ngerasa kamu jauhin tahu!”
            “Ha? Siapa yang ngejauhin dia? Perasaan kami biasa aja deh,” Budi mengerutkan kening.
            “Nah, kan, nggak peka! Sumpah, ini anak emang pekok banget!” Indi gemas sendiri. “Udah, ah, aku balik dulu, ya! Tolong kata-kataku tadi disimpen di hati, jangan masuk telinga kanan trus keluar telinga kiri. Pikirin baik-baik. Aku cuma pengen persahabatan kita baik-baik aja, nggak ada yang saling menyakiti.”
            Indi pun berlalu. Meninggalkan Budi yang masih tercenung di tempat.
***
            Keesokan harinya. Teras MEC, pukul tiga sore.
            Iza, Rozi, dan Indi tampak duduk lesehan di teras MEC. Hari ini mereka akan mengadakan rapat bulanan KMSI. Sambil menunggu anak-anak lain datang, mereka berembuk mencari jalan keluar atas badai perasaan yang menimpa Fithri. Yeah, apalagi kalau bukan gara-gara Budi pekok itu!
            “Emang sih, Budi kadang suka keterlaluan kalau ngomong. Tapi teh Fithri juga gitu, udah tahu Budi pekoknya kayak gimana, tapi semua omongannya dimasukin ati banget,” kata Iza.
            “She is drama queen, right?” timpal Rozi.
            Indi langsung menimpuk kepala Rozi dengan buku. “Kamu juga! Ngapain pake bilang ogah temenan ama Fithri segala? Sedih kan dia jadinya?”
            “Hellooyeeeeee, aku kan cuma becanda doang. Masa iya aku beneran nggak mau temenan cuman gara-gara status FB, please ...” Rozi memasang tampang nggak berdosa.
            “Oya, emang pas presentasi kemarin ada apaan, sih, Za? Kok Fithri bilang, dia ngerasa bersalah gitu sama kamu?” Indi penasaran.
            Iza mengerutkan kening. “Presentasi apaan?”
            “Itu ... linguistik austronesia kalau nggak salah. Kan aku nggak ikutan makul itu. Emang pas kalian presentasi, ada masalah apa kok sampe-sampe dia ngerasa bersalah banget?” jelas Indi panjang lebar.
            Iza bertambah bingung. “Iya po, dia merasa bersalah? Tapi gara-gara apa? Perasaan nggak ada masalah apa-apa deh ....”
            “Hzzz ... ya udah, nggak usah diterusin, kamunya malah nggak sadar gitu,” Indi geleng-geleng.
            Tak lama kemudian, anak-anak pun datang. Rozi yang bertindak sebagai ketua KMSI langsung memulai rapat. Satu jam berlalu, tapi batang hidung Budi dan Fithri belum tampak juga. Padahal mereka juga pengurus KMSI. Ada apa dengan mereka? Marahan?
            “Ok, mungkin ada saran dari teman-teman terkait persiapan Bulan Bahasa nanti?” Rozi melempar pertanyaan ke forum.
            Beberapa anak tampak mengacungkan tangan. Rozi lalu mempersilakan mereka mengajukan pendapat masing-masing. Setengah jam kemudian, Iza sebagai sekretaris membacakan hasil rapat sore itu. Setelah itu, Rozi menutup rapat sembari mengingatkan agenda minggu depan.
            “Rapatnya udah selesai, ya?” sebuah suara muncul di sela-sela suara berisik anak-anak. Tampak Budi dan Fithri yang berjalan dengan napas ngos-ngosan.
            “Yaelah, udah kelar! Sana balik!” Odeng geleng-geleng melihat mereka berdua, lalu berlari menyusul anak-anak lain ke parkiran.
            Budi dan Fithri cengengesan. Sama sekali tidak tampak seperti habis kena masalah. Indi, Rozi, dan Iza memandang mereka dengan heran.
            “Kalian dari mana aja?” tanya Iza.
            “Ini, abis nganterin si kunyuk satu ini ngisi ulang galon di kosnya. Mana jalanan macet, telat deh!”
            “Kamu, sih, Bud, pake sok-sokan nyari jalan tikus, malah nyasar jadinya!”
            “Berisik, ah! Masih untung aku mau nganter!”
            “Yeee, kan kamu sendiri yang bilang bakalan ngisi galonku kalo abis!”
            Indi, Iza, dan Rozi saling berpandangan, lalu mengangguk bersamaan. Dua anak manusia di hadapan mereka itu memang aneh. Tidak terhitung berapa kali mereka bertengkar, tapi ujung-ujungnya baikan juga. Hari ini menyumpah-nyumpah nggak bakalan menghubungi lah, nggak mau temenan lah, tapi keesokan harinya tertawa-tawa seolah tidak ada masalah apa pun. Ketika berkumpul, mereka sering memperkarakan hal-hal remeh dan berujung pada pertengkaran. Tapi jika salah satu di antara mereka menghilang, maka yang satunya akan bingung mencari-cari. Ya, memang begitulah mereka. Drama Queen.
TAMAT
            Cerpen ini saya persembahkan untuk sahabat saya yang pekok sekali: Budi Wahyono. Selamat ulang tahun yang ke-20, dear. Anggap saja ini kado dariku. Walaupun ceritanya enggak bagus-bagus amat—bahkan cenderung flat, semoga engkau menyukainya :)

*ini pas diposting di blog kok berantakan banget, maap yak .__.

Tentang #BerbagiNasi

No Comments »


Semua ini berangkat dari kekesalan saya melihat sisa nasi yang tercecer setiap harinya. Entah itu di rumah, di warung makan langganan saya, di kantin kampus, di mana pun lah. Coba saja kamu bayangkan, jika semua sisa nasi yang ada di dunia ini dikumpulkan jadi satu, ada berapa banyak orang kelaparan yang terselamatkan? Sering kali kita luput dari masalah yang dianggap remeh tersebut. Pun saya, terkadang dengan sombongnya menyisakan makanan dengan alasan ‘sudah kenyang’ atau ‘lagi nggak napsu makan’. Dan sampai sekarang pun saya masih berusaha untuk tidak menyisakan makanan ketika makan. Wah, kok tulisan ini jadi terkesan bacot banget, ya. Tapi ya sudahlah, saya hanya ingin menyampaikan apa yang ada di kepala saya.
Di suku saya—suku Jawa, ada suatu budaya yang (sejauh pengamatan saya) sampai sekarang masih dipertahankan, yaitu menyisakan sedikit makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah atau pemilik hajatan. Filosofinya, menyisakan sedikit makanan menunjukkan bahwa kita bukan orang yang rakus—selain untuk menjaga imej sepertinya. Kurang lebih sebulan yang lalu, saya dan teman-teman organisasi menerima undangan walimahan. Ada dua alumni yang akan melangsungkan akad pernikahan di Solo. Ketika tuan rumah menghidangkan makanan, saya dan dua orang kakak—sebut saja Mbak Kitty dan Mbak Hening—mulai ngedumel melihat tingkah para tamu. Sebal melihat mereka menyisakan makanan banyak sekali. Hampir separuhnya! Sementara kami menghabiskan makanan kami tanpa sisa. Selain karena memang kelaparan sejak pagi, itu juga merupakan bentuk penghormatan kami kepada tuan rumah. Mereka mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mengolah makanan itu. Kalau tidak dihabiskan, sama saja kami tidak menghargainya. Jadilah sepanjang sesi makan-makan itu kami menggosip tentang makanan yang disisakan. Hah.
Berbicara mengenai makanan sisa, saya ingin bercerita sedikit tentang sebuah komunitas yang saya ikuti (dan saya bersyukur bisa tergabung dalam komunitas tersebut). Kira-kira dua minggu sebelum liburan semester, saya yang sedang asyik twitteran terhenyak melihat sebuah tweet yang di-retweet oleh Kak Erni Aladjai. Tweet tersebut berisi foto #BerbagiNasiJogja. Foto seorang nenek tua yang tertidur di pinggir jalan. Saya pun menelusurinya, juga di FB. Beruntunglah, Mbak Habsari—kakak angkatan saya—saat itu kebetulan memposting informasi tentang komunitas tersebut. Saya langsung bertanya terkait pendaftaran sebagai volunteer dan semacamnya. Dan ternyata dia juga baru akan bergabung dengan komunitas #BerbagiNasiJogja. Yeay, saya ada teman. Saya lalu mengajaknya berangkat bersama, mengingat diri saya yang masih buta jalan. Ya, saya memang memiliki dua sifat buruk yang belum hilang sampai saat ini: susah menghapal jalan dan menghapal nama orang.
Jadi, apa itu komunitas #BerbagiNasi?
Komunitas #BerbagiNasi adalah salah satu komunitas yang bergerak di bidang sosial. Komunitas ini pertama kali didirikan di Bandung, kemudian menyusul kota-kota lainnya, salah satunya Jogja. Kegiatan utama komunitas ini adalah menabung (membagikan nasi bungkus) kepada orang-orang yang tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit. Nasi dibagikan setiap hari Jumat malam di tempat yang telah disepakati. Untuk komunitas #BerbagiNasiJogja, markasnya ada di depan Hi-Lab Kridosono, belakang stasiun Lempuyangan. Kami berkeliling Jogja untuk membagikan nasi kepada orang yang berhak menerimanya. Siapakah mereka? Mereka adalah saudara kita yang masih kesulitan untuk mendapatkan makanan bergizi dan teratur, seperti pemulung, pengemis, juga orang-orang yang masih bercapek-capek ria bekerja di malam hari.
Bagaimana cara bergabung dengan komunitas #BerbagiNasi?
Mudah sekali, teman-teman. Cukup berkumpul di markas yang telah disepakati. Kalau kamu tak punya waktu, kamu bisa membantunya dengan menyumbangkan nasi, titip kepada teman yang akan berangkat. Bawalah nasi bungkus sesuai kesanggupan, menu makanan minimal sama dengan yang kamu makan sehari-hari. Kalau tidak mampu membawa nasi, cukup membawa badan dan mari turut membagikan nasi bungkus kepada orang yang berhak. Ya, itulah gambaran sekilas mengenai komunitas #BerbagiNasi. Tertarik untuk ikut? Mari bergabung bersama kami! :D
Saya sungguh senang bisa bergabung dengan komunitas tersebut (dan agak menyesal kenapa tidak bergabung dari dulu saja). Saya baru tahu kalau #BerbagiNasiJogja akan menginjak usia satu tahun. Duh, selama ini saya ke mana saja? Hiks. Sebenarnya sudah sejak dulu saya ingin menjadi volunteer dalam kegiatan-kegiatan sosial, tapi tidak tahu bagaimana caranya.  Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan komunitas ini melalui akun twitter. Alhamdulillah.
Saya masih ingat hari pertama saya bergabung dengan komunitas itu, empat hari sebelum pulang kampung. Hari itu memberikan kesan tersendiri buat saya. Setelah mengatur waktu sedemikian rupa (saat itu saya kebetulan ada acara di organisasi lain), akhirnya saya bisa bergabung dengan #BerbagiNasiJogja. Saya berangkat ke Hi-Lab Kridosono bersama Mbak Habsari. Dia yang menjadi penunjuk jalan. Ternyata tempatnya dekat sekali, hehehe. Malam itu, pejuang nasi yang terkumpul sekitar 30 orang dengan jumlah nasi 202 (kalau tidak salah). Kami terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok ke arah utara dan satu kelompok ke arah selatan. Saya dan Mbak Habsari kebagian kelompok utara, di daerah sekitar Tugu Jogja. Dengan dipandu  Kak X (lupa namanya) yang menjadi kapten kelompok, kami mulai berkeliling membagikan nasi. Ada yang bergemuruh di dada saya ketika melihat pemandangan itu. Orang-orang yang tidur di emperan pertokoan tanpa selimut, senyum tulus mereka ketika menerima nasi, seorang ibu-ibu yang menangis sambil mengucap syukur, juga orang gila yang tertawa-tawa sambil memegang nasi yang kami berikan.
Melihat mereka, saya tiba-tiba teringat dengan para tetangga saya yang istilahnya bernasib kurang beruntung.  Tentang Mbah Y yang gantung diri karena masalah ekonomi. Tentang sepasang suami-istri yang berada di bawah garis kemiskinan tapi semangat untuk bekerja. Tentang si Z yang menjadi gila karena terlilit hutang (dan pada akhirnya dipasung di dalam bilik yang tampak mengenaskan). Juga tentang Mbah T yang hidup sengsara, sementara anak-anaknya menjadi orang sukses dan hidup mewah. Saya masih ingat ketika salah satu dari mereka mendatangi Ibu dan berkata, “Ka, boleh saya meminta sedikit nasi? Sebentar lagi suami saya pulang dari mencari kayu di hutan. Kami belum makan sejak kemarin. Saya nggak papa nggak usah makan, yang penting suami saya bisa makan. Saya nggak tega melihatnya pulang dan tidak menemukan apa pun di dapur”. Tanpa banyak bicara, Ibu langsung mengambil nasi dan lauk di dapur. Bagaimanalah kami sanggup menelan makanan sementara tetangga kelaparan? Ora mentolo!
Dan komunitas #BerbagiNasiJogja sungguh mengajari saya banyak hal. Malam itu, saya melihat dunia dengan lebih dekat. Bahwa saya harus senantiasa bersyukur karena di luar sana masih banyak orang yang lebih tidak mampu dibanding saya.