Archive for 2012

Darul Arqam Dasar

No Comments »


 
            Jumat, 28 Desember 2012, IMM komisariat Ibnu Khaldun UGM mengadakan Darul Arqam Dasar (DAD) yang ditujukan untuk para calon kader baru IMM. Inilah tahapan pengkaderan dasar yang wajib diikuti oleh seluruh anggota baru Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan lebih jauh ideologi gerakan IMM.
Pembukaan DAD dilaksanakan di gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pada pukul 17.00 WIB. Acara ini diikuti oleh 11 peserta yang berasal dari komisarat Ibnu Khaldun UGM, Al-Khawarizmi UGM, dan komisariat UAD (Universitas Ahmad Dahlan). 
Darul Arqam Dasar diawali dengan diadakannya studium general yang diisi oleh Saudara Bachtiar Dwi Kurniawan (aktivis pemberdayaan masyarakat). Beliau memaparkan berbagai macam gerakan islam yang ada di kampus, model perjuangannya dalam mencapai visi dan misi masing-masing,  dan hal-hal mendasar yang membedakan antara IMM dengan gerakan islam lainnya. Dengan demikian, diharapkan para calon kader dapat memahami dengan baik posisi IMM di lingkungan kampus.
Seperti biasa, acara dilanjutkan dengan screening peserta yang dilaksanakan di SMP 1 Muhammadiyah Sleman tepat pada pukul 22.00 WIB. Dalam screening tersebut, setiap peserta dihadapkan pada satu orang instrukur. Screening diawali dengan tes baca Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai latar belakang peserta, tujuan mengikuti DAD, alasan memilih IMM, dan tes kemampuan pengetahuan seputar kemuhammadiyahan. Hal itu bertujuan untuk mengetahui karakter peserta dan sejauh mana kemampuannya dalam menangkap materi. Screening tersebut berakhir pada pukul 01.30 WIB.
Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan pembekalan berbagai macam materi, antara lain filsafat ilmu, ketauhidan, kemuhammadiyahan, ke-IMM-an, sharing dengan alumni, dan simulasi persidangan. Di antara sekian banyak materi tersebut, sesi yang paling menguras tenaga dan pikiran adalah simulasi persidangan. Menurut Kukuh, salah satu peserta DAD, simulasi sidang merupakan acara yang paling membuatnya kesal setengah mati. Kukuh yang berperan sebagai peresidium sidang mengaku kalang kabut menghadapi suasana persidangan yang mendadak tidak kondusif karena keterlibatan panitia dan alumni.
“Paling kesal ya sama Mas Anggun, soalnya sepanjang sidang bikin rusuh terus, hehehe. Mana anak-anak sudah pada ngantuk semua,” ungkap Kukuh.
Namun, kekesalannya menguap begitu tahu bahwa kerusuhan tersebut tidak seserius yang dia bayangkan. Para peserta memang sengaja ‘diserang’ habis-habisan untuk menguji sejauh mana kemampuan mereka dalam menangani persidangan. Menurutnya, simulasi tersebut adalah pelatihan yang sangat bermanfaat.
“Konklusinya, saya jadi tahu bahwa dalam persidangan dibutuhkan kesabaran, intelektualitas, pengendalian diri, dan ketegasan,” ungkapnya lagi.
Acara simulasi selesai pukul 00.15 WIB. Selanjutnya, peserta dipersilakan untuk beristirahat. Pada pukul 02.30 WIB, peserta dibangunkan kembali. Setiap peserta lalu dibawa satu per satu oleh para instruktur, kemudian di-tes ulang tentang semua materi DAD yang telah diberikan. Hal yang paling utama untuk ditanyakan adalah mengenai komitmennya terhadap IMM.
Selanjutnya, immawan Yusro selaku MOT (Master Of Training) mengomando seluruh peserta untuk mengikuti ikrar yang beliau bacakan. Ikrar diucapkan di hadapan bendera IMM. Begitu ikrar selesai diucapkan, para panitia dan instruktur pun saling mengucapkan selamat atas pelantikan tersebut. Kini, mereka telah resmi menjadi anggota IMM.
Pagi harinya, acara dilanjutkan dengan pembekalan materi terakhir DAD, yaitu analisis sosial. Pukul 11.30 WIB, rangkaian acara DAD pun ditutup. Usai sudah DAD yang dilaksanakan mulai tanggal 28-30 Desember 2012 tersebut.
“Acara DAD ini sangat bermanfaat bagi kader baru. Selain memperoleh pengetahuan baru yang belum kami dapatkan sebelumnya, kami juga bisa mengenal lebih dekat IMM,” ucap Khoiril Maqin, peserta DAD dari komisariat Ibnu Khaldun.
Hal yang senada juga diucapkan oleh Kukuh. “Acaranya mantap! Saya merasa kalau ghirah untuk berjuang melalui muhammadiyah kembali bangkit. Apalagi saya juga sudah lumayan mengenal IMM sebelumnya.”
Diharapkan dengan adanya DAD ini, para kader baru IMM dapat menjadi generasi penerus bangsa yang senantiasa bersemangat memperjuangkan islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah. Semangat fastabiqul khairat! (Indiana).

Sudah Lima Tahun (Edisi Pra-MOS)

Baca selengkapnya » | 2 Comments »



            2008.
            -Perdebatan Sengit-

            “Pokoknya nggak mau!!” aku berteriak kencang sambil membanting pintu kamar.
         “Lha memangnya kenapa? Kamu kan SMP-nya sudah di SMP Islam, jadi SMA-nya ya yang basisnya islam sekalian. Biar ilmunya nggak hanya ilmu umum,” Ayah terheran-heran.
            “Nggak! Pokoknya aku mau sekolah di SMA Chandradimuka!” teriakku lagi.
            “Ya wis tho ya, nggak usah marah-marah. Ayah dan Ibu kan cuma menyarankan saja. Nduk, SMA Chandradimuka itu bukan SMA ecek-ecek lho. Susah masuk sana, banyak saingannya …bla … bla …,” Ayah masih mencerocos panjang lebar.
            Aku tahu maksud pembicaraan itu. Mereka meragukan kemampuan otakku -_-
            “Ayah nggak percaya?”
           “Gimana mau percaya kalo nilai UAN kamu jeblok? Sudah, pokoknya mulai besok HP kamu disita!”
            Aku manyun. Nah kan, malah dihukum! -_-
            “Ayo taruhan, Yah!” Aku keluar dari kamar sambil meleletkan lidah ke Ayahku.
            “Ha?”
            “Aku mau sekolah di SMA-nya Ayah kalo aku nggak lolos tes masuk SMA Chandradimuka. Tapi kalo aku lolos …,” aku memicingkan mata, “Aku harus disekolahin di situ! Nggak bisa nggak!”
            “Oke, buktikan saja kalau bisa!” kata Ayah.
            Aku lalu masuk ke dalam kamar sambil manyun. Umumnya orang tua akan mendukung anaknya, tapi tidak dengan orang tuaku. Mereka meragukan kemampuanku untuk menaklukkan SMA Chandradimuka, dan menyuruhku untuk sekolah di SMA tempat Ayah mengajar yang basisnya sama dengan SMP-ku dulu, SMP Muhammadiyah 06.
            SMA Chandradimuka adalah salah satu sekolah yang paling bergengsi di kotaku. Isinya anak-anak pinter semua. Tidak mudah untuk menembus sekolah elit itu. Dan Ayah benar-benar meragukan kemampuanku. Apakah aku terlalu bodoh? -_-
            Sebagian besar teman-temanku terobsesi dengan SMA itu karena gengsinya yang tinggi, tapi tidak denganku. Aku terobsesi masuk sekolah itu karena … yah, karena wajah itu. Wajah yang tiga tahun terakhir ini tidak bisa pergi dari hidupku. Jesta Darmawan. Anak pintar itu berhasil masuk SMA Chandradimuka karena kemampuan otaknya yang diatas rata-rata.
            Aku rindu dengan wajah teduh itu. Aku ingin melihatnya lagi. Melihat aktivitasnya sehari-hari. Melihatnya lebih lama ….
            “Aku harus bisa!!!” teriakku sembari membuka buku-buku pelajaran. Apa pun yang terjadi, aku harus lolos!

Sudah Lima Tahun (Edisi SMP)

Baca selengkapnya » | No Comments »




            2006.

            MOS sudah lama berlalu. Tapi kejadian Mabit itu masih belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Hatinya seringkali terasa nyeri ketika mengingat raut wajah penuh duka itu. Aih, ada apa dengannya? Dia sudah berusaha mengenyahkan pikiran konyol itu, tapi nyatanya semakin melekat di kepala. Sial!
            “Ya, ayo masuk! Pak Yuda sudah di dalam tuh!” Rara mencolek bahu Alya sambil tersenyum.
            “Iya, kamu duluan aja,” kata Alya.
            Alya melepas pandangannya ke arah kelas 2 B sekali lagi. Dia memang suka menatap kelas itu akhir-akhir ini. Lima detik kemudian, wajah Jesta keluar dari kelas 2 B. Oh, astaga! Alya buru-buru masuk kelas dengan pipi memerah.

5 Tahun Per Second

Baca selengkapnya » | No Comments »



            Judul ini terinspirasi dari anime ‘5 cm per second’ dan berdasarkan usulan teman. Rada nggak nyambung sih, hahaha :D

           
            Juni 2006.

            Ini adalah hari pertamanya melepas seragam merah putih, lalu menggantinya dengan seragam biru putih. Ya, dia sudah resmi menjadi anak SMP.
            “Ayo masuk! Kau sudah terlambat!” ajak Kak Ayumi setelah kami turun dari motor.
            Alya mengangguk. Kak Ayumi adalah sepupunya. Dia sekarang duduk di kelas 2 SMP. Sambil berjalan pelan, Alya mengamati bangunan SMP Muhammadiyah 06 yang tampak sederhana namun terawat. Sesekali tangannya menggaruk-garuk kerudung, kegerahan karena dia tidak terbiasa berkerudung. Dia tak pernah bermimpi untuk masuk sekolah berbabis agama, tapi karena keluarga besarnya yang religius ‘memaksa’ semua keturunannya untuk mengenyam sekolah berbasis agama, dia tak bisa mengelak. Impiannya untuk masuk ke SMP Negeri pun pupus di tengah jalan.
            “Kak, apakah nanti aku bisa betah bersekolah di sini? Katanya aturannya ketat banget!” tanya Alya.
            “Lama-lama nanti juga terbiasa,” kata Kak Ayumi sambil tersenyum.
            Dia lalu menggandeng tangan Alya ke ruang sekretariat. Di ruangan itu, ada banyak anak-anak OSIS yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Alya menangkap sesosok laki-laki tengah menghadap komputer dengan wajah serius. Dia terus mengamatinya sampai Kak Ayumi berteriak kencang.

Stuck!

No Comments »

YEAH, I'M STUCK!!!!!

Pergilah ...!

No Comments »


Dan ketika aku merasa bahwa semua ini akan berujung sia-sia, aku membiarkan sakuraku tumbuh begitu saja. Otakku sepenuhnya sadar bahwa sakura itu tak akan pernah bisa kusentuh dengan cara apapun meski bunga itu terus saja bermekaran. Ketika semuanya telah mencapai puncak dari segalanya, sakura itu luruh satu per satu. Kemudian layu, mengering, lalu berserakan tanpa guna. Dan seketika itu pula aku sadar, bahwa dunia kita sangat berbeda. Di matamu, selamanya aku hanyalah anak-anak, tak lebih. Jadi, sebelum lubang di hati itu melebar karena kau gerogoti setiap saat, maka pergilah!
Ya, pergilah sampai aku benar-benar tak bisa melihatmu sesuka hati.
Pergilah sampai aku tak mengingat dirimu lagi.
Pergilah sampai aku bisa melupakanmu.
Pergilah sampai aku bisa melupakan sakura yang pernah kutanam dengan sepenuh hati ...

Aku tahu, cepat atau lambat kau tak lagi ada di sini. Aku tahu, cepat atau lambat kau akan menyingkir perlahan-lahan dari hidupku. Aku tahu, sakura itu tidak akan pernah tumbuh di hatimu, sekuat apa pun aku mencoba menanamkannya. Aku tahu, lambat laun kuncup-kuncup yang telah mekar di jiwaku ini akan semakin layu karena tak kau sirami. Dan aku pun tahu, semua ini akan berakhir sia-sia …

Jadi, bisakah kau pergi?
Benar. Aku ingin kau pergi jauh-jauh dariku, meski aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku selanjutnya. Iya, aku merasakan ada yang patah di sini ketika menyadari sebuah kenyataan yang sama. Kenyataan seperti yang telah kuhadapi di hari-hari yang telah lalu. Hatiku, Kazu. Hatiku patah dan mungkin akan semakin berserakan jika kau masih tetap hinggap di kepalaku.

                                                                                                         ****

"Kau serius?" Raisa menatap mataku lekat-lekat.
AKu mengangguk pasti. "Untuk apa aku berbohong padamu?"
"Ya, Tuhan! Jangan bilang dia tidak menyadarinya sampai saat ini!"
"Menyadari apa?"
"Jangan pura-pura bodoh, Alia. Aku tahu kau diam-diam telah menyirami bunga sakura itu setiap hari. Dan apa kabarnya sekarang?"
"Bunga itu telah layu. Aku tak akan pernah menyiraminya lagi."
"Alia! Jangan bertindak bodoh!"
"Ku rasa, ini adalah hal paling benar yang harus kulakukan kalau tak ingin remuk redam."
Raisa terdiam.
"Sudahlah, Raisa. Duniaku dan dunianya begitu berbeda. Dia adalah langit biru, sedangkan aku hanyalah debu yang beterbangan."
"Astaga! Kau terlalu merendah!"
Aku menggeleng cepat. "Tidak, Raisa. Itu memang benar. Memangnya apa yang bisa dia lihat dariku? Sampai kapan pun, aku hanya akan terlihat sebagai anak kecil di matanya, tak lebih."
"Kau tidak percaya diri hanya karena dia 'terlalu dewasa' di matamu?" Raisa tampak gemas.
Aku menunduk.
"Alia, apakah kau akan menyerah begitu saja?"
aku mengangguk. "Mau tak mau, ini harus kuakhiri. Aku tahu, ini adalah hal yang sia-sia."
"Mengapa?"
"Karena dia akan pergi, dan memang lebih baik kalau dia pergi. Dengan begitu, aku bisa cepat melupakannya."
"Bukankah impianmu nyaris sama dengan dirinya?"
"Apa?"
"Negeri Sakura."
Aku terdiam. Ya, Raisa benar ...
"Sudahlah, Raisa ... jangan ingatkan hal itu kepadaku."
"Kau tak ingin dia tahu?" tanya Raisa dengan wajah serius.
"Tahu apa?"
"Ya ... tahu bahwa kau telah menyirami sakura itu setiap hari."
Aku menggeleng. "Tidak. Aku tak ingin mengulangi kebodohan itu untuk yang kesekian kalinya. Apa gunanya kalau dia tahu? Mungkin itu akan melegakanku, tapi sama sekali tidak bisa mengubah kenyataan."
"Alia ..."
"Aku akan melepasnya, Raisa. Mulai detik ini, aku akan menghapus namanya dari otakku!"


                                                                                              ****

Kazu ... apakah kau tahu apa arti keikhlasan?
Yah, mungkin seperti yang aku rasakan saat ini. Aku akan meng-install kembali otakku agar semuanya kembali normal. Agar aku tak ingat bahwa aku pernah menanam sakura di dalam hatiku.
Ikhlas. Satu kata yang akan menguatkanku selama beberapa waktu ke depan. Pergilah, Kazu! Aku tak akan memberatkan langkahmu dengan tindakan bodoh yang pernah kulakukan di masa lalu. Tidak, kurasa ini cukup. Dan setelah kau pergi, kuharap sakura itu bisa ikut menghilang dalam sekejap mata ...

                                                                                                       ****

"Dia sudah pergi," kataku sembari memeluk Raisa. Beberapa detik yang lalu, pesawat itu terbang jauh ... jauh ke negeri Sakura.
"Bukankah kau sudah tahu arti sebuah keikhlasan?"
AKu mengangguk.
"Biarkan dia pergi. Lepas sejauh mungkin. Kita tak pernah tahu bagaimana rencana Tuhan terhadap manusia. Bisa jadi dia kembali dan memang ditakdirkan untukmu. Tapi kalau pun tidak, aku yakin kau akan bertemu dengan Kazuto yang lain." Raisa berusaha menghibur.
"Kazuto yang lain?"
"Iya, kau akan menemukan bunga sakura yang jauh lebih indah ..."
Aku mengangguk kecil. "Semoga saja."




Jogja, Selasa 30 Oktober 2012
Dalam heningnya pagi
Pukul 02.23 WIB

Email kaget :D

No Comments »

Gue masih sibuk ngitung duit yang berceceran di lantai kamar ketika laptop gue tiba-tiba bunyi 'cling ... cling!' tanda ada email masuk. Awalnya gue cuekin soalnya gue lagi pusing setengah mampus ngitungin duit. Iya, gue jadi bendahara Studi Karya dan sekarang lagi ribet-ribetnya bikin LPJ -______________-"
'cling ... cling ...!'
Yaelah, ini siapa sih yang gangguin gue? Dengan gondok gue lalu ngelirik FB. Temen gue bawel nanyain ini-itu. Setelah gue jawab seperlunya, mata gue gak sengaja nangkep email. Gue lalu ngebuka perlahan-lahan. Gue langsung nangis pas baca isinya.


Salam,

Saudari Indiana yang baik.

Kami telah menerima naskah dari Anda dan kami nilai layak diterbitkan. Namun perlu kami jelaskan bahwa FAM Publishing adalah penerbit Self Publishing, artinya biaya penerbitan ditanggung sepenuhnya oleh penulis. Silakan pelajari paket penerbitan kami (terlampir), bila cocok jangan sungkan menghubungi kami.

Salam,
FAM Publishing


Woaaaaaaaaah, naskah pemenang AS diterimaaaaaaaaaaaaa! *sujud syukur*
Alhamdulillah ... alhamdulillah ...
Semoga segera diterbitkan. Paling enggak, beban gue berkurang satu. Tinggal nyiapin LPJ Studi Karya doank. Yeaay ...!




Jangan Percaya

1 Comment »

Manusia itu menulis untuk dirinya sendiri


Jangan percaya pada media
Jangan percaya pada sejarah
Jangan percaya pada ustadz yang mengatasnamakan agama
Jangan percaya ...
Jangan percaya ...


Kata-kata yang saya dapatkan saat seminar kemarin. Dosen saya 'membantai' salah satu peserta seminar yang bersikeras mengatakan ," Saya tidak setuju kalau orang menulis untuk dirinya sendiri! Bla bla bla bleh!"
Lalu, beliau pun menjawabnya dengan panjang lebar (saya malas mempostingnya di sini), dan diakhiri dengan kata-kata di atas.

Jangan percaya!


Kata-katanya yang filosofis membuat puluhan jidat berkerut, termasuk saya. Untunglah, kakak tingkat yang duduk di sebelahku berkenan menjelaskan tanpa kuminta.
Ah, benar. Pahami dulu maksud kalimat itu, baru protes. Jangan biarkan budaya instan menggerogoti otakmu.

Aku pun mengangguk-angguk mengerti.

Yah ..
Jangan percaya!!!

Siapa Zakia Salsabila?

No Comments »

"Siapa sih Zakia Salsabila?"

Satu pertanyaan yang kerap dilontarkan teman-temanku. Baiklah, akan kujelaskan :)


____Dua tahun yang lalu_____

"Zakia Salsabila. Bagaimana?" tanya dia setelah sekian lama kami terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Hm?" keningku berkerut.
"Zakia Salsabila. Nama yang cantik, bukan?"
"Memang apa artinya?"
"Perempuan cerdas seindah dan seanggun telaga Salsabila." jawab dia mantap.
Aku tersenyum cerah. "Nama yang indah."
"Ya, dan aku harap kau bisa seperti nama itu."
"Semoga saja. Ah, aku suka nama itu. Nama yang indah ..." aku berdecak kagum.
Dia hanya tersenyum.
"Terima kasih, ya. Kalau kau ingin memakai nama apa?" aku balik bertanya.
"Rahasia," jawabnya.
Aku melengos. Sebal.
"Nanti akan kubawakan majalahnya. Bukalah rubrik cerpen, maka kau akan menemukan namaku di sana."
"Benarkah?" mataku membulat besar.
Dia mengangguk mantap.

Dan sejak saat itu lah, aku selalu memakai nama itu sebagai nama penaku di setiap tulisan yang kubuat. Aku senang memakainya. Kedengarannya sangat indah. Ya, aku sangat menyukai nama itu.
Aku bertekad untuk menggunakannya sebagai nama pena jika suatu saat nanti karyaku telah terbit.


Namun, semua itu tak bertahan lama.
Aku menanggalkan nama itu begitu saja. Aku memutuskan untuk menggunakan nama "Indiana" dalam tulisanku. Cukup Indiana saja, tak perlu kupanjangkan menjadi Indiana Malia.

"Kau tidak suka menggunakan nama Zakia Salsabila?" seorang teman bertanya.
Aku menggeleng. Aku masih sangat menyukainya. Nama itu masih indah seperti dulu.
"Lalu mengapa kau tidak menggunakannya lagi?"
Ah, siapa bilang? Aku masih menggunakannya kok. Nama itu telah kuabadikan di dalam blogku. Ya, sebagai nama blog. Mungkin aku tak akan mengubahnya. Yah, ku rasa nama itu sudah menjadi sebuah kenangan yang paling indah ...


Sekarang, kau sudah paham kan? Jadi, jangan tanyakan perihal nama itu lagi padaku.

Sengatan Listrik

No Comments »



            “Setidaknya, hari ini senyumku bisa terbit … ,”
            “Apa kau bilang?”
            “Dia mengembalikan senyumku.”
            “Kkk … kau … kau melihatnya?”
            Aku tak lagi menjawab. Tapi senyumku masih terus mengembang. Rere hanya memandangku dengan penuh keheranan sekaligus penasaran.

***
            Mataku sudah mencapai 5 watt. Entah sudah berapa kali aku menguap siang ini. Setiap lima menit sekali aku selalu melirik jam dinding yang terpajang di depan kelas. Pukul 14.00 WIB. Sial, kuliah baru akan berakhir dua jam lagi. Aku tak tahan lagi.
            Di depan kelas, Bu Nora tengah asyik menjelaskan materi Novel Pop. Aku memandangnya dengan mata setengah tertutup. Kepalaku juga mengangguk-angguk beberapa kali. Bukan karena paham, tapi karena mengantuk.
            “Heh, bangun! Kalo ketahuan tidur ntar digaplok kamu!” Vita yang duduk tepat di sampingku buru-buru mencubit lenganku, menyuruhku bangun.
            “Hmm …,” aku hanya menggumam pelan. Angin semilir yang perlahan masuk melalui jendela semakin membuatku terlena. Siang ini aku memang duduk di barisan paling pinggir, tepat di samping jendela.
            “Yaelah nih bocah!” Vita geleng-geleng.
            Aku tidak menggubrisnya sama sekali. Aku benar-benar lelah. Dua minggu terakhir tenagaku diforsir. Aku hanya tidur dua jam sehari. Semester ini sepertinya aku pantas mendapatkan gelar sebagai manusia kura-kura alias kuliah-rapat kuliah-rapat. Tiada hari tanpa rapat. Beginilah akibatnya kalau aku terlalu kemrungsung mengikuti berbagai organisasi. Capek. Rapat yang bikin repot. Tapi biar bagaimana pun harus tetap kujalani. Sudah menjadi tanggung jawabku.
            Aku juga terbiasa disebut sebagai wanita malam. Eits, jangan berpikiran negatif dulu. Wanita malam yang ku maksud adalah wanita yang selalu terjaga di malam hari. Jika pagi sampai sore hidupku kuhabiskan di kampus, maka pada malam harinya akan kuhabiskan di depan laptop. Mengerjakan tugas kampus kalau lagi rajin, tapi seringnya sih mainan FB, hahaha. Aku bisa tahan melek sampai pukul 4 pagi. Setelah itu, aku baru bisa menutup mataku rapat-rapat. Dan seperti biasa, aku akan terlambat masuk kelas jika ada kuliah pagi. Itulah sebabnya kenapa aku selalu bersorak ketika ada jadwal kelas siang.
            “Yak, Tara, bisa bantu Ibu menjelaskan tentang perbedaan sastra serius dan sastra populer?” suara Bu Nora bagaikan guntur di siang bolong. Membuatku kaget setengah pingsan.
            “Nggg … ,” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
            “Pssst!” Vita menyorongkan catatan kecil di tanganku. Aha! Ini pasti catatannya. Aku bernapas lega.
            “Cerita dalam sastra populer cenderung stereotipe, bisa langsung dipahami hanya dengan sekali baca. Hal ini berbeda dengan sastra serius yang harus dibaca berulang kali agar bisa memahaminya.” Aku menjawabnya dengan lancar. Lagakku macam orang pintar saja.
            “Bagus! Jadi teman-teman, sastra itu …,” Bu Nora kembali menjelaskan materi.
            Dan aku kembali mengantuk. Vita yang sudah lelah mencubit lenganku hanya geleng-geleng kepala. Aku lalu melemparkan pandangan ke luar jendela, menikmati angin semilir yang lewat di depan mukaku. Kuamati orang-orang yang berkumpul di bawah pepohonan rindang, juga orang-orang yang hilir mudik. Di Panggung Terbuka, tampak puluhan anak yang tengah duduk melingkar. Kalau dilihat dari wajahnya sih, sepertinya mereka anak-anak Antropologi. Entah apa yang mereka lakukan di sana. Aku lalu mengalihkan pandanganku ke depan arah lain, dan dalam hitungan detik mataku langsung terbuka lebar-lebar. Hampir copot rasanya!
            Aku mengelus dadaku yang mendadak berdetak tak beraturan. Seperti ada aliran listrik yang menjalari tubuhku. Terlampau bahagia. Ya Tuhan, benarkah itu dia? Aku mengucek mataku beberapa kali.
            Kudekatkan wajahku ke kaca jendela, meyakinkan diri. Siapa tahu ternyata aku hanya bermimpi. Tapi … tidak, aku sama sekali tidak bermimpi! Aku benar-benar melihatnya. Sosok berbaju putih yang tengah duduk di bawah pohon sembari menenteng sebuah samurai. Juga tas ransel hitam yang terpasang di punggungnya. Aku melihatnya tertawa lepas bersama teman-temannya. Duhai, tawa Sakura itu …
            Aku sudah tidak mendengar suara Bu Nora lagi. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah dia. Hanya dia. Aku terus mengamatinya tanpa mempedulikan sekitarku. Kenapa dia bisa ada di sini? Batinku bertanya tak karuan.
            Berapa lama aku tak melihatnya? Ah, ku rasa hampir tiga bulan. Dan sekarang, dia ada di sini!
            “Tara, kamu dipanggil tuh!” Vita menyikut lenganku.
            “Ha?”
            “Kamu dipanggil Bu Nora! Beliau sedang mengecek presensi kelas,” jelas Vita.
            “Tara Afidha?” Bu Nora tampak tak sabar.
            “Hadir, Bu!” aku buru-buru mengacungkan tangan.
            Bu Nora menatapku dengan sebal, lalu kembali menatap presensi yang dipegangnya. Aku lalu melemparkan pandanganku ke luar jendela lagi. Tapi … dia tak ada! Ke mana dia? Kuedarkan pandanganku ke segala arah, tapi sosoknya tak juga muncul. Aku menelan ludah. Kecewa.
***
            “Ooo … jadi itu yang membuatmu bahagia hari ini?” Rere tersenyum.
            Aku mengangguk. “Benar-benar tidak ku sangka.”
            “Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Rere.
            “Maksudmu?”
            “Hhh … maksudmu, sampai kapan kau akan terus begini?”
            “Entahlah.” Aku menggeleng.
            “Aku tahu bagaimana perasaanmu. Pasti kau bingung sekali. Memangnya kau tidak ingin dia tahu?”
            Lagi-lagi aku menggeleng. “Tidak. Lagi pula, untuk apa?”
            “Lah, siapa tahu gayung itu bersambut.”
            “Hahaha, kau ini ada-ada saja. Sudahlah, biarkan aku aku sendiri yang merasakannya. Kau tahu? Cinta sejati adalah melepaskan. Ya, melepaskan sejauh mungkin, bukan memborgolnya dengan perasaan yang kita miliki. Lepaskanlah … sejauh-jauhnya … karena Tuhan pasti telah merancang semua alur itu. Biarkan saja dia pergi. Jika Tuhan memang berkehendak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka dia akan kembali dengan sendirinya …”
            “Halah, kau sok puitis!”
            Aku hanya tertawa.

*bersambung dulu deh*

Jogja, Rabu 26 September 2012.
Pukul 20.18 WIB

.

No Comments »



Tuhan, aku lelah.
Aku ingin sendiri, kali ini saja.
Berdiam diri di dalam kamar, menikmati sepi ini seorang diri.
Tuhan, aku tidak mau ke mana-mana.
Tidak ke kampus atau ke mana pun.
Hanya ingin menghilang sejenak.
Boleh, kan?