Archive for 2013

Saklek!

No Comments »

"Kalau kau tidak bisa menerima perbedaan, ya nggak usah berkumpul sama makhluk bernama manusia. Daripada kau ngotot dan saklek dengan isi otakmu sendiri, pergilah ke hutan dan hidup sendirian. Sana!" (status facebook, 16 jam yang lalu).


Sebagian orang mengartikan status itu sebagai perbedaan pendapat antaragama, sebagian lagi mengira saya sedang sensitif dengan perdebatan perayaan Natal dan semacamnya. Saya baru ingat kalau sekarang tanggal 25 Desember. Hari Natal bagi umat Katolik dan Kristiani. Pantas saja banyak yang mengira saya sensi dengan hal itu. Hadooooh, otak cethek! Kau pikir masalah perbedaan pendapat itu hanya sekadar 'boleh enggak sih ngucapin hari Natal?'. Doh, rempong amat lah, ngepas-ngepasin momen banget. Nggak ... masalah perayaan itu adalah urusan pribadi umat Katolik dan Kristiani. Saya nggak akan turut campur dengan memperkeruh keadaan, semacam memposting seputar kontroversi hari Natal di socmed. Nggak, saya bukan orang kurang kerjaan. Dan rasa-rasanya semua teman saya yang tidak seagama dengan saya akan sangat sakit hati membaca postingan yang terkadang disertai bahasa yang keterlaluan, semacam umpatan mungkin. Ah, tiba-tiba kok saya teringat dengan status facebook Mbak Habsari beberapa hari lalu.

"Persoalannya bukan Bangsa Yahudi yang terlalu cerdas, melainkan penganut Islam yang terlalu selo. Mereka sudah mengembangkan banyak hal, kita masiiiih saja meributkan ucapan Natal. Ngakak lah mereka."

Saya nggak akan menjelaskan, karena saya tahu kamu punya otak untuk berpikir. Coba, baca baik-baik dan pahami kalimat itu. Jika diibaratkan makanan, jangan langsung ditelan. Kunyah dulu.


Sama seperti hal nya status saya 16 jam yang lalu itu. Nek kowe ora gelem ono perbedaan neng ndunyo, yo kono budalo neng alas bareng munyuk lan kanca-kancane. Uripo dewean. Ning agamamu kan wis dipelajari kepiye hubungan menungso siji karo menungso liyane, hla kok ora mbok enggo?


Status yang entah mengapa menimbulkan banyak komentar, mulai dari bercandaan sampai serius. Haha, itu artinya masih ada yang mau berpikir. Baguslah. Beberapa teman malah sempat mengirim inbox, merasa tersindir.


Ndi, kowe nesu karo aku a?


Statusmu ... apa aku punya salah sama kamu? Maaf...


Kamu kenapa?



Dan semacamnya. Hahaha, entahlah kok banyak yang merasa tersindir. Postingan itu memang bukan seperti saya yang biasanya. Ben. Sak-sake lah mau mahamin kek mana. Saya marah? Mungkin. Dan karena itulah, malam ini saya sengaja memposting deretan kalimat ini.


"Jadi, banyak-banyaklah membaca buku. Temui banyak manusia. Agar kau bisa 'melihat' dunia yang tidak sekadar hitam dan putih. Kasihan otakmu kalau kau biarkan terkungkung, seperti katak dalam tempurung. Sekian. Selamat malam!"


Baca dan pahamilah. Dunia ini tidak sekadar hitam dan putih, Bung!

Dibawa Sante Aja!

2 Comments »

Menjelang akhir tahun. Tugas UAS menumpuk di tengah-tengah suasana minggu tenang yang sama sekali nggak tenang. Ada empat tugas UAS take home yang belum kujamah sama sekali. Seminar Sastra, Sastra Sinema, Sastra Peranakan, dan Sosiologi Sastra. Belum lagi UAS tulis dan deadline novel. Kau bisa bayangkan, semua ini harus sudah selesai di akhir tahun. Ya, SEMUANYA. Dan bukannya belajar, beberapa hari ini aku malah main-main, hahaha. Tiga hari berturut-turut. Senin kemarin main ke Sekaten bareng Fithri, Hamdan, dan Nia. Hari Selasa ke Sekaten lagi nemenin Jeng Andi. Kebetulan dia lagi berkunjung ke Jogja. Dia singgah di kosan Kak Fiza. Dan malam ini aku ama Jeng Andi dan Anggun blakrak'an ke Taman Lampion. Gagal masuk Istana Hantu (karena si Anggun mati-matian menolak, kamfretzzz), kami duduk di pinggir danau sembari ngobrol apa saja. Main, main, main. Seolah lupa tugas, padahal enggak sama sekali, hahaha.

in the name of dolan



anak alay





Dan ketika kembali ke kos, semua tugas dan deadline itu kembali melambai-lambai. Aku masih malas menyentuhnya. Bahkan kartu ujian juga belum kuambil sampai sekarang, hahaha. Sudahlah, semuanya dibawa santai saja!
Di tengah-tengah deadline menulis yang menggila ini, bisa saja aku sok-sokan mantengin laptop seharian dan mengabaikan teman-temanku yang asyik bersenang-senang. Tapi aku tahu, aku nggak bakal tenang. Seperti acara Inagurasi FIB kemarin. Semua temanku ngajakin. "Ayoooo, Ndi! Nonton adik-adik Sasindo tampil!". Dan karena aku sudah (sok) serius mau menyelesaikan deadline novel malam itu, aku menolaknya. Ujung-ujungnya, selama menulis aku kepikiran teman-teman. Penasaran setengah mati dengan penampilan adik-adik angkatan 2013. Dan pada akhirnya aku nggak nulis apapun -_____- aku tidak menonton juga tidak menulis. Dua-duanya merugikan.
Aku baru sadar kalau aku adalah orang yang paling tidak tahan membiarkan teman-temanku seneng-seneng sementara aku ribet sama tugas. Seperti acara kondangan anak IMM minggu lalu. Kami tour Jawa Tengah. Awalnya aku memutuskan untuk tidak ikut, tapi melihat anak-anak yang begitu antusias, ditambah rayuan Anggun yang kamfret syekale, aku pun ikut. Masa bodoh dengan deadline nulis. Akhirnya? Aku bersenang-senang! :D
Ya, sama seperti minggu ini. UAS semakin dekat dan aku memutuskan untuk bersantai. Bukan berarti aku tidak memikirkannya sama sekali. Setelah jalan-jalan ke mana lah, aku akan menyalakan laptop dan mulai mengerjakan deadline novel. Hasilnya? Aku berhasil menghasilkan 2000 kata dengan perasaan senang. Kalau aku bosan, aku akan membaca novel. Begitulah. Jalani saja semuanya dengan santai. Aku percaya, semua tugas ini akan selesai. Daripada aku stress mikirin dan ujung-ujungnya nggak ngapa-ngapain, mending aku main dan pulang dalam keadaan fresh, bisa mulai nulis.
Dan apa kabar UAS? Hoho... sudah kujadwal, tenang saja. Tanggal 27-29 aku akan menyelesaikannya. Sudahlah, dibawa sante aja! Semua pasti selesai :)))

KITA #Part 1

Baca selengkapnya » | 2 Comments »


          Sore hari. Lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) tampak ramai. Puluhan manusia tengah asyik jogging sembari bercakap-cakap. Beberapa lebih memilih duduk di tangga GSP sambil memandang kegiatan di bawah sana. Seperti yang dilakukan mereka berempat sore ini. Indi, Fithri, Rozi, dan Budi. Empat sekawan yang entah sejak kapan memutuskan untuk menghabiskan waktu selo mereka di tempat ini. Menikmati senja di GSP. Senja yang indah. Seindah persahabatan mereka. Sudah 30 menit mereka lalui dalam diam. Tangis yang meledak itu perlahan mulai surut menjadi isakan-isakan kecil.
          “Udahlah, Fit. Nggak usah sedih gitu. Nanti kalo jodoh pasti kalian bakal bersatu, kok,” Indi memecah keheningan. Tidak tega melihat Fithri yang tak bisa berhenti menangis.
          “Iya, jangan nangis mulu dong. Malu kali diliatin orang-orang,” Budi yang ceplas-ceplos langsung menimpali, tapi langsung dipelototi oleh Indi. Dia bercanda pada saat yang tidak tepat!
       “Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku, Bud. Sakit.” Ucap Fithri dengan pandangan kosong.
            “Ya, bukan gitu maksudku, Fit … Aku tuh cuman …”
        “Udah, deh, daripada nambah galau mending abis ini kita jagungan aja! Gimana?” Rozi yang sedari tadi diam menawarkan solusi.
        “Ayok! Kebetulan aku juga laper. Ntar ceritanya dilanjut di sana, sambil jagungan. Biar pikiranmu juga rada tenang, Fit.” Kata Indi.
        Fithri mengangguk tanda setuju. Selepas shalat maghrib di mushola Fakultas Ilmu Budaya, mereka langsung berjalan kaki menuju tenda jagung bakar langganan mereka. Tenda jagung bakar itu terletak di depan MM UGM, bersebelahan dengan tenda yang menjual berbagai macam gorengan.
          Malam itu mereka menjadi pengunjung pertama di tenda jagung bakar tersebut. Sambil menunggu pesanan datang, Fithri melanjutkan kegalauannya yang tadi terputus di GSP.
          “Jadi, aku harus gimana, dong? Nggak bisa lupain dia, aaaaaaa!” Fithri bersiap-siap menumpahkan air matanya lagi.
       “Ngapain sih kamu mikirin orang yang nggak serius mikirin kamu? Seenaknya aja main putus trus ngajak balik lagi, kayak main layangan. Udah berapa kali kamu diginiin? Kalo aku jadi kamu, udah kubuang ke laut kali!” Budi mulai jengkel. Ya, jengkel dengan sikap Fithri yang tidak berubah sejak dulu. Tidak bisa bersikap tegas menghadapi kekasihnya.
           Entah sudah yang keberapa kalinya gadis itu diputus secara sepihak hanya gara-gara masalah yang terkadang menurut mereka sepele. Long distance relationship memang sering kali menimbulkan pertengkaran-pertengkaran maupun kesalahpahaman. Entah sudah berapa kali Fithri dan kekasihnya putus-nyambung. Sampai semua sahabatnya jengah. Jengah melihat perlakukan kekasihnya yang dinilai terlalu protektif. Padahal mereka tahu, Fithri sangat mencintai kekasihnya.
            “Kok kamu sewot sih, Bud? Aku ke sini mau curhat, bukan buat dibentak-bentak!” Fithri mendadak sakit hati mendengar suara Budi yang melengking saking emosinya.
         Rozi segera melerai. “Maksud Budi bukan gitu, Fit. Dia cuman pengen kamu buka mata lebar-lebar …”
              “Jadi maksudmu mataku buta? Gitu?” Fithri bertambah emosi.
          “Eh … eh, kok jadi begini, sih? Kita kan ke sini buat ngademin kepala, bukan buat gontok-gontokan. Jangan emosi gitu dong, Fit. Kita semua di sini berusaha ngasih solusi terbaik …”
           “Solusi apa? Aku tahu kalian emang nggak suka sama dia, makanya kalian selalu nyinyir kalo aku cerita tentang dia. Kalian bosen kan aku ocehin tentang dia mulu tiap hari? Oke fine, mulai sekarang aku nggak akan pernah ngeluh ke kalian lagi!” Fithri menarik tasnya yang tergeletak di meja, lantas meninggalkan tempat itu dengan air mata berlinang. Dia benar-benar kecewa.
           “Tuh, kan … Fithri jadi ngambek, kan? Kamu sih, Bud, ngomongnya nggak bisa alus gitu,” Rozi ngedumel.
        “Kok jadi nyalahin aku, sih? Kan aku cuman pengin ngingetin dia biar nggak terlalu cinta sama cowok!” Budi naik darah.
          “Iya aku tahu maksudmu emang baek, Bud. Tapi kamu tadi emang rada sengak ngomongnya. Situasi hati-nya Fithri kan lagi sensitif begitu.” Rozi berusaha tetap kalem.
            “Heh, kenapa malah kalian yang berantem, sih? Malu tahu diliatin banyak orang!” Indi lama-lama kesal melihat kedua sahabatnya adu mulut.
         “Terserah! Aku mau pulang!” Budi mengambil tas selempangnya, lalu berlalu dengan wajah merah padam.
          “Tadi Fithri yang ngambek, sekarang gantian Budi. Dasar kayak anak kecil semuanya!” kata Rozi.
          “Emang kamu nggak kayak anak kecil juga? Udah tahu sifat Budi kayak gitu, malah disalah-salahin pas lagi emosi!”
             “Aku cuman pengen ngingetin dia aja, Ndi!”
          “Tapi kamu nggak tahu tempat dan waktu yang tepat buat nasehatin orang!” teriak Indi penuh kekesalan. Dia pun meninggalkan Rozi yang masih mematung.

Jalan yang Tidak Kutempuh (The Road not Taken) by Robert Frost

No Comments »

Dua jalan bercabang dalam kabut hitam kehidupan
Dan sayang, aku tak sanggup menempuh keduanya
Sebagai petualang, aku mematung
Ke mana arahnya menghilang di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang satunya, sama indahnya
Dan mungkin jauh lebih indah
Karena jalan itu segar dan menawan
Meskipun jejak-jejak kaki yang melewati
Tak melumpuhkan rerumputannya

Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang
Di bawah hamparan daun-daun gugur yang belum terjamah
Oh, kusimpan jalan pertama untuk lain hari!
Kendati kutahu semua jalan berkaitan
Aku tak yakin akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad-abad di masa depan-
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku-
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui orang
Dan itu membuatku berbeda...


(The Road not Taken)

The roads diverged in a yellow wood
And sorry i could not travel both
And be one traveler, long i stood
And looked down one as far as i could
To where it bent in the undergrowth

Then took the other, as just as fair
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear
Tought as for that the passing there
Hard worn them really about the same

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black
Oh, i marked the first for another day!
Yet knowing how was leads on to way
I doubted if i should ever come back

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence
Two roads diverged in a wood, and i
I took the one less traveled by
And that has made all the difference




Puisi itu kau sodorkan begitu saja, tatkala kita membincang pilihan yang sering kali kita sesali di kemudian hari. Tentang kau yang grasa-grusu  memilih menulis sebuah roman dalam hitungan hari--dengan deadline yang teramat dekat--ketimbang cerpen. Akibatnya, tulisanmu tak maksimal dan kesempatan menang beralih ke orang lain. Pun aku yang salah memasukkan tema--tidak sesuai dengan syarat lomba--membuat naskahku terbuang sebelum juri tertarik membacanya. Seseorang berkata padaku, "Kau kalah bukan karena karyamu yang tak bagus, tapi karena kau terlalu memaksakan tema di dalam ceritamu. Kau harus mengurangi porsi A atau B. Tidak boleh menonjolkan kedua-duanya, agar pembaca tidak bosan."

Ah, iya. Roman picisan itu--setelah kubaca kembali--memang terkesan memaksa. Dan setelah melalui diskusi panjang, aku memilih untuk 'menulis dengan hati'. Aku sadar sepenuhnya, kemarin aku hanya menulis berdasarkan 'pesanan'. Kini, aku akan merevisinya lagi. Dengan konflik yang semakin rumit dan semoga saja tidak membosankan (aku selalu cemas dan takut kalau pembacaku bosan dengan kalimat awal tulisanku).

Dan pagi ini, aku kembali membaca puisi yang kau sodorkan kemarin malam. Ya, kau benar. Hidup adalah pilihan--ini agak klise memang--dan kita harus cermat dalam menentukan pilihan-pilihan yang ada di depan mata, apa pun itu. Secara kebetulan kau menyodorkan puisi itu di saat aku tengah gamang dengan jalan bercabang (yang membuatku tidak produktif sebulan ini). Dan, aku pun terkesima dengan bait terakhir yang ditulis oleh Robert Frost...


Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad-abad di masa depan-
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku-
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui orang
Dan itu membuatku berbeda...





Sedih

6 Comments »

Air mataku merebak. Tak tertahankan. Dadaku naik turun, menahan sesak.
"Ini sangat menyakitkan..."
Kau lantas memelukku. Membiarkan dadamu banjir air mata. "Menangislah, sayang. Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega ..."
Tangisku semakin kencang. Tiga puluh menit berlalu dalam diam. Biarlah, aku ingin tenggelam dalam kesedihan. Malam ini saja.

 

Jane Lek Kowe Serius, Kowe Iso!

No Comments »

Aku menatap dua angka yang tercetak manis di sampul proposal seminar sastraku. Senang bercampur sedih. Senang karena aku mendapatkan nilai yang cukup memuaskan, sedih karena aku tidak berusaha dengan maksimal.
"Gila kamu, Ndi. Anak-anak yang ngerjain jauh-jauh hari saja banyak yang dapat tiga, empat, lima, dan coretannya Bu Tuti dengan Pak Rudi edan tenan. Lha kamu, baru ngerjain 3 jam sebelum deadline, tapi dapat nilai bagus begitu." komentar Ronal, ketua angkatanku, sembari menyerahkan proposal seminar sastra ke tanganku.
Aku hanya nyengir. "Aku kemarin emang kayak orang nggak niat, Nal. Nggak mood ditambah kesel gara-gara nggak nemu referensi yang kuinginkan."
Selesai berkata begitu, aku lantas memerhatikan dengan cermat di mana letak kesalahan pada proposalku. Dan, ini yang paling membuatku menyesal sedalam-dalamnya. Bu Tuti hanya mencoret-coret bagian tertentu yang menurutku remeh tapi luput dari perhatianku. Daftar pustaka yang berantakan alias lupa tidak dibenahi tata letaknya, lupa memberi sumber kutipan sehingga dianggap plagiasi, tidak mengecek ulang tata bahasa yang sesuai dengan teknik penulisan ilmiah, dan hal-hal sepele lainnya. Alhasil, aku hanya memperoleh nilai 75 saja. Nilai yang bagi teman-teman bagus, tapi sangat menyesakkan buatku.
Ini bukan masalah nilai, dear. Aku menyesali sikapku kemarin yang setengah hati, padahal sejujurnya aku bisa mengerjakan dengan maksimal. Apa susahnya sih mencari referensi di perpustakaan barang sehari dua hari? Saking santainya, aku baru mengerjakan semua itu tiga jam sebelum batas pengumpulan tugas UTS. Yeah, teman-teman selalu menyebutku Miss Deadliner. Tukang kebut semalam.
Coba aku mengerjakannya jauh-jauh hari, melakukan riset mendalam, mencermati tata bahasa sampai Bu Tuti tidak bisa menemukan kesalahan dalam proposalku, dan menghadirkan teori yang tidak asal tempel. Aku benar-benar berminat dengan novel Semusim, dan Semusim Lagi. Akhir-akhir ini aku tertarik dengan psikologi sastra. Dan novel itu bisa kuteliti dengan pendekatan teori tersebut. Ditambah lagi, kajian psikologi sastra sangat minim (untuk bilang tidak ada) di jurusanku. Dari sekian banyak skripsi, aku hanya menemukan tiga skripsi yang menggunakan teori psikologi sastra.
Dan semuanya semakin terasa menyesakkan ketika Andina Dwifatma, penulis novel Semusim, dan Semusim Lagi, dengan santainya meminta tulisan itu.
"Aku mau baca dong!"
Mati lah. Mana mungkin aku memberikan tulisan acakadul itu kepada penulis yang novelnya tengah kuteliti? T.T
Malu. Malu. Malu. Apalagi aku anak sastra Indonesia. Masa iya tulisannya acak-acakan nggak jelas begitu? Pokoknya, sebelum tulisan itu sampai di tangan Andina, aku harus memperbaikinya habis-habisan. Harus maksimal. Peduli setan jadwal presentasiku masih lama, yang penting aku harus merevisi proposal ini secepatnya, lantas menyerahkannya pada Bu Tuti. Aku selalu cocok berkonsultasi masalah akademik dengan beliau. Meskipun kritikan beliau sepedas maicih level 10, tapi semua itu sangat berguna untuk perkembangan tulisanku.
Duh, rasanya masih nyesek melihat proposal tadi. Hah, yo wis lah. Mau gimana lagi?

Menyingkir

5 Comments »

"Aku harus pergi," kataku.
"Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanyamu dengan penuh selidik.
"Kau menakutkan." Aku menunduk.
"Menakutkan bagaimana?"
"Pokoknya kau menakutkan!" kataku sembari beranjak dari hadapanmu. Tapi tanganmu mencengkeram tanganku erat. Tidak terima kutinggalkan begitu saja.
"Aku salah apa?" kau setengah membentak setengah bingung setengah merasa bersalah dengan nada suaramu.
"Ini mulai tidak benar. Semuanya tak lagi sama. Aku merasa ... ada yang berbeda. Aku harus sesegera mungkin mengenyahkan hal yang terasa ganjil ini."
Kau menatapku sambil memicingkan mata. "Apanya yang ganjil?"
Aku menghela napas berat, lalu jari telunjukku menunjuk dada. "Ini. Ada yang ganjil di sini."
"Kau sakit?" wajahmu mendadak khawatir.
Aku menggeleng, mengangguk, kemudian menggeleng. "Mungkin saja aku sakit. Sakit jiwa tepatnya."
Kau terdiam. Lebih tepatnya, kau tampak bingung dan kesulitan mencerna kata-kataku.
"Sudahlah. Sebelum keganjilan itu semakin bertambah dan berubah menjadi sesuatu seperti yang sudah-sudah, lebih baik aku pergi. Menyingkir sejenak dari hidupmu."
"Sampai kapan?" tanyamu kelu, penuh rasa ingin tahu.
"Sampai semuanya kembali normal. Dan tidak ada keganjilan-keganjilan lagi di sini," telunjukku kembali menunjuk dada.
Detik berikutnya, aku melangkah pergi. Membiarkanmu berdiri mematung. Biar. Biar sudah. Aku akan pergi. Menghilang. Entah sampai kapan.


Jogja, Rabu 27 November 2013.
Pukul 01.10 WIB
-Ketika keganjilan-keganjilan itu terasa semakin nyata-

Rambu Solo

No Comments »

Seharian ini aku mager di kosan. Hidupku hanya berkisar antara nyuci baju seabrek-abrek, memasak, membersihkan kamar yang penuh dengan buku berserakan di lantai, gulung-gulung di kasur akibat nyeri PMS (sumpah, menderitaaa!), dan tentu saja online. Hahaha. Dan di siang bolong, selepas mencuci baju, aku online di facebook sambil nge-youtube. Sebuah pesan masuk ke inbox, yang intinya begini, "Emangnya Indiana udah baca?". Aku menepuk jidat. Hampir lupa, novelnya Kak Fiza! Yep, ceritanya dia baru saja bikin novel dan seminggu yang lalu ngirim soft file novel ke inbox FB buat kubaca. Judulnya Rambu Solo. Men, dia nulis novel itu dalam 7 hari! 101 halaman satu spasi, itu gila! Kalau aku jadi dia, mungkin aku udah kayak zombie, hahaha. Novel itu dia tulis buat diikutin lomba nulis nusantara. Dan baru hari ini aku sempet baca, setelah beberapa kali dia nanya, "Udah kelar dibaca?". Hahaha, gomen. Seminggu kemarin lagi rempong nyiapin ujian bahasa Jepang dan kena remidi.
Seharian ini aku mantengin Rambu Solo, di sela-sela kegiatan lain. Dan yeah, novel itu baru saja kuselesaikan beberapa menit yang lalu. Entah apa yang harus kukatakan. Yang jelas, novel ini benar-benar keren. Dan tentu saja, membuatku semakin kaya akan pengetahuan tentang budaya Indonesia.

Apa sih Rambu Solo itu?
Rambu Solo adalah upacara adat Tana Toraja untuk pemakaman jenazah. Ada beberapa persyaratan sebelum melakukan Rambu Solo, salah satunya adalah memberikan persembahan berupa kerbau dan babi. Jumlah hewan disesuaikan dengan kasta. Jika keluarga yang ditinggalkan berasal dari golongan bangsawan, hewan yang dikurbankan harus lebih banyak dan tentu saja meriah.
Membaca novel ini membuatku seakan-akan berpindah tempat dari kamar kost ke Tana Toraja. Aku bisa 'melihat' bagaimana upacara adat tersebut dilaksanakan, kerajinan tangan Tana Toraja yang begitu memukau, tari-tarian, yah ... semua suasana dalam novel itu. Aku seolah dibawa ke lorong waktu.
Ada tiga hal yang membuatku terpukau dengan novel ini. Pertama, bagian pembuka novel yang menyajikan Q.S Al-Maidah: 32.



Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.


Ayat tersebut lah yang menjadi jawaban ketika To Minaa (pendeta Aluk) bertanya kepada Chen, seorang muslim yang menyukai dunia pengobatan herbal, "Mengapa So' Chen bisa memberi pertolongan tanpa imbalan? Sudah langka sekali zaman sekarang. Di mana-mana pengobatan selalu minta bayaran."
“Itu yang diajakan agama saya, Pak!” jawab Chen tegas dan lembut.
“Bukankah kita berbeda agama?” tanya To Minaa kembali di hadapan keluarga warga yang mengalami patah tulang tersebut. “Dan, saya dengar, orang-orang yang tidak beragama Islam disebut kafir dan halal untuk dibunuh.”
Chen lantas membacakan ayat tersebut. “Maksud sederhananya,” jelas Chen, “Bila kita membantu atau berbuat baik pada seseorang, kita berarti membantu atau berbuat kebaikan pada semesta alam. Dan bila sebaliknya dan tanpa alasan yang adil, kita berarti merusak semesta alam. Saya sendiri ingin mencari nafkah sebagai pedagang, bukan sebagai tabib. Mengobati bagi saya hanya untuk amal semata. Dan, alhamdulillah, di Makale saya sudah punya perusahaan sendiri—meski baru kecil-kecilan. Usaha kedua paman saya pun lancar, berkembang pesat, dan penuh berkat. Tahun depan kedua paman saya akan naik haji bersama keluarga mereka. Kita lihat pula di tondok ini. Oh, tampaknya saya tidak perlu menjelaskan lebih banyak. Dalam dua tahun, banyak berkat yang kita nikmati bersama. Inilah anugerah Tuhan yang saya yakini—Tuhan Semesta Alam.”

Ya, betapa agama bukanlah alasan untuk tidak menolong orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Agamamu, ya, agamamu. Agamaku, ya, agamaku. Mari berbuat kebaikan. Sesederhana itu :)))


Kedua, aku suka dengan pemikiran tokoh Chen, Bua', Duma', dan Rante mengenai pendidikan. Mereka mendirikan Sekolah Rakyat dan mengajari penduduk tondok(kampung) mengenai banyak hal. Duma' menjadi guru tari. Chen mengajar tentang pengobatan herbal. Rante mengajar matematika. Dan Bua' mengajar tenun. Ya, ilmu memang bisa didapatkan di mana saja. Tak harus di sekolah formal yang kebanyakan menjadikan siswanya sebagai robot. Siswa hanya dijejali beragam mata pelajaran sama rata, tanpa melihat bakat atau kemampuan khusus yang ada pada diri siswa. 

Ketiga, aku menyukai kalimat Mahatma Ghandi yang diselipkan di novel ini: hanya orang kuat yang mampu memaafkan. God, menangislah aku membaca ini. Fix, endingnya sukses bikin aku mewek. Walaupun ritme ending dalam novel ini terlalu cepat menurutku, tapi aku tetap saja terkejut ketika mengetahui siapa Rante sebenarnya. 


Sumpah, sampai sekarang aku heran. Itu Kak Sulfiza bikin novel sekeren ini, dalam waktu seminggu, gimana caranyaaaa? Novelnya dalam, karakternya kuat, penjelasan setting-nya pun bagus. Heran. Untuk ukuran novel serius, ini amazing! Aku yakin, novel ini bakal tambah keren kalau dia sunting lagi. Karena aku beberapa kali nemu tanda baca salah dan nama tokoh yang ketuker-tuker, hehehe. Maklum sih, dikejar deadline -____-''

Duh, sebenernya pengen ngasih bocoran tentang isi novel ini. Tapi, enggak dulu, deh. Ini kan lagi diikutin lomba, takut ntar dia kena diskualifikasi gegara aku, hahahaha. Bagi kamu yang penasaran, cabal ea. :P

Oke, Kak Fiza. Kutunggu karyamu terbit (dan ini memang layak terbit)!

Terpesona

2 Comments »

Oh dear, tampaknya aku jatuh cinta dengan tulisan-tulisanmu. Selalu berhasil membuatku tersentuh, hingga hatiku gaduh. Haaaa kowe tak rabi ae piye! #PLAK :P

Surat Panjang

2 Comments »

Setumpuk kertas kusam kutemukan teronggok di laci meja belajar. Kubuka dengan penasaran. Detik selanjutnya, air mukaku berubah. Ada yang mencelos di hati. Retak, kemudian pecah. Berserakan di lantai, di sudut kamar, di tumpukan pakaian kotor, di dalam lemari, lalu berakhir di kedua bola mataku. Hanya dalam satu kedipan saja, kristal bening itu tumpah. Basah.
Telah bertahun-tahun aku tak menyentuh surat panjang ini. Surat yang teramat panjang untuk menampung semua ceritamu. Juga ceritaku. Kusentuh kertas kusam itu perlahan. Warnanya telah menguning, termakan waktu. Ya, waktu yang telah membentangkan jarak antara kau dan aku. Jarak yang jauhnya jutaan tahun cahaya. Tak tersentuh. Seperti yang tertulis dalam novel Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya. Tak perlu lah aku menjelaskan isi novel itu dengan panjang lebar, karena aku tahu kau telah membacanya sejak novel itu terbit. Kau pecinta buku, aku tahu itu.
Hei, pernahkah kau merasa bahwa kau dan aku pernah menjadi alien yang tersesat ke bumi? Seperti tokoh dalam novel itu. Dulu ... ya, dulu. Kita pernah menjadi sepasang alien yang selalu menyendiri dari keramaian para manusia. Semua yang kita lakukan, hanya kita yang mengerti. Sementara orang-orang mengernyitkan dahi, merasa bahwa kita adalah makhluk aneh. Alien.
Dulu ..., kau dan aku bagaikan magnet. Rekat. Kau tidak pernah membiarkanku sendirian. Kau adalah orang pertama yang memberikan perlindungan ketika diriku merasa terancam.Tidak ada yang boleh mendekatiku, siapapun itu. Kaubilang, hanya kita yang dapat menjadi alien. Tidak boleh ada orang lain.
Tapi, lambat laun aku sadar bahwa kau berubah. Sedikit demi sedikit. Ketika aku mulai menginjak dunia kuliah, surat panjang yang dulu rutin kita tukar seminggu sekali tiba-tiba terhenti. Kau tidak menulis lagi. Begitu pula aku. Duniamu dan duniaku telah membentangkan jarak. Aku hidup di lingkungan pecinta seni dan budaya, sementara kau menggeluti matematika. Aku menyukai pekerjaan yang tidak terikat peraturan formal semacam wajib berseragam dan bersepatu, dan kau sebaliknya. Kau berangkat dengan seragam rapi, berdasi, dan bersepatu mengkilat. Pekerjaanmu teratur, berangkat pagi dan pulang sore. Awal bulan tinggal menerima gaji. Sementara aku tanpa jadwal pasti. Pulang dan pergi sesuka hati, dengan gaji yang tak pasti.
Iya, semakin lama jarak itu semakin jauh. Jauh ... sekali.
Tidak ada lagi diskusi-diskusi seru yang dulu sering kita lakukan di bawah rindangnya pepohonan. Tidak ada lagi acara bertukar surat berlembar-lembar, atau bertukar buku diary. Perlahan-lahan kau dan aku mulai saling melupakan. Seolah-olah kita tak pernah menjadi sepasang alien di tengah keramaian.
Hingga suatu ketika, datanglah surat itu. Bukan surat panjang, karena di dalamnya hanya tertulis satu kalimat: datanglah, gadis kecilku. Ya, hanya itu. Dan aku benar-benar datang. Menemuimu dan menemuinya, orang yang akan menemanimu menghabiskan waktu. Kusunggingkan senyum lebar, meski kutahu ada yang berbeda dengan sinar matamu. Sinar yang meredup, entah kenapa. Mungkin kau merasa bersalah karena telah melanggar janji yang kau ucapkan dulu, bahwa hanya kau dan aku yang dapat menjadi alien di bumi.
Dan kini, surat panjang itu ada di tanganku. Surat yang kita tulis berwaktu-waktu yang lalu. Aku terlempar ke lorong waktu. Ada banyak kisah yang tertulis di sana, ketika kita masih sama-sama menjadi alien. Tawaku meledak ketika membaca bagian paling menggelikan dalam surat itu, lalu di menit berikutnya aku menangis. Ya, surat terakhirmu membuat air mataku tidak bisa berhenti mengucur. Bodoh. Dulu aku sama sekali tidak menyadari bahwa surat itu merupakan sebuah pertanda. Jika kau menjadi sisianku, kupikir kita adalah alien yang sempurna. Begitu katamu. Dan aku baru menyadarinya beberapa tahun kemudian, ketika kau memutuskan untuk membentangkan jarak denganku. Mungkin kau lelah menunggu jawaban atas kalimat itu, sementara aku sama sekali tidak merasa sedang ditunggu. Lalu kau pun menghilang. Tanpa jejak. Dan kau kembali dengan membawa surat perintah agar aku datang. Menyakitkan.





Untukmu,
yang tak bisa kusebut dengan cara biasa.

Ngigo

No Comments »

TEPAR!!!
Yak, setelah nguat-nguatin diri selama beberapa minggu, akhirnya aku tepar juga. Awalnya cuma flu biasa, abis itu menjalar ke demam, batuk, dll. Alhasil tiga hari ini enggak kuliah. Sedih, mana kemaren ada kuis penyuntingan lagi -_____- moga aja aku masih boleh ikut kuis susulan minggu depan.
Duh, semester ini emang super. Super cape maksudnya. Apalagi bulan ini aku juga ngurus beberapa acara gede. Agenda terdekat ada Bulan Bahasa 2013. Nah, semalem tuh ceritanya aku lagi 'berantem' sama sesama panitia masalah acara. Ada semacem miskom gitu deh. Kamu bayangin aja lah, jam 12 malem pas kepala lagi nyut-nyutan, badan panas, trus tiba-tiba dapet kabar yang bikin shock. Kacau lah. Jadinya aku panik, bingung, mana nggak bisa stay di kampus gegara sakit lagi! Haaah, rasanya kayak pengen nyakar-nyakar tembok.
Emang, dalam suatu kepanitiaan, pasti adaaaaa aja masalahnya. Nggak gampang nyatuin satu ide dari 80 kepala. Pusing. Apalagi mendekati hari H gini. Emosi suka turun naik. Akhir-akhir ini malah banyak yang berjatuhan alias sakit. Ketua panitia-nya aja juga sempet drop kok. Malah ada yang sampe masuk rumah sakit segala. Terakhir tadi siang si Budi laporan lagi sakit juga. Ya Allah, kuatkan kami ...
Semalem, pas demam lagi tinggi-tingginya, aku ngerasa lagi teriak-teriak gitu. Antara sadar dan nggak sadar, aku berasa lihat Nanda lagi ngomel-ngomel, trus aku bentak dia. Di situ juga ada muka si Odeng dan beberapa panitia. Intinya suasana lagi panas. Hahahaha emang sih, terakhir kali sebelum sakit aku emang nemenin Nanda jaga stand pendaftaran di SEKBER, dan sempet liat dia ngedumel masalah layout apalah. Tapi aku gak bentak-bentak dia. Eh semalem tiba-tiba aja ngimpi kaya gitu. Marah-marahan. Seriusan deh, sekitar jam 3-an aku kebangun sambil ngos-ngosan. Dan baru sadar kalo aku ngigo. Emang sih, pas lagi demam orang suka ngigo nggak jelas gitu, dan aku ngigoin acara BB. Jiakakaka, kebawa-bawa -___-
Yah, doaku malam ini nggak neko-neko kok. Aku harap rangkaian acara BB tahun ini sukses dan TUMPEH-TUMPEH!!!

Wajib Beli! :D

No Comments »







Judul               : Menunggu Pagi
Penulis            : Ardila, dkk
Penerbit          : Javakarsa Media

ISBN              : 9-78602-18294-4-8
Tahun Terbit    : Oktober 2013 
Tebal               : 88 halaman
Harga              : Rp 38.000



Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh perjalanan yang sangaaaaattt panjang dan melelahkan, buku ini terbit jugaaaaa! :D
Seneng banget, meeeen! 
Ini adalah antologi anak-anak KMSI yang akan dilaunching di acara Bulan Bahasa tanggal 16 Oktober nanti. Antologi ini bakal dibedah oleh Pak Puji (Dosen Sastra Indonesia FIB) dan Kak Sulfiza Ariska (Penulis, Pemenang unggulan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta) yang kece badai! 
Penasaran? Yuhu, dateng aja ke Auditorium FIB, 16 Oktober 2013 Pukul 11.00 WIB. FREE! Dijamin bakal PECAAAAAAHHH MEEEEENNN!!! *teriak ala Jebraw*
Dan yang lebih pecah lagi, kusus di Bulan Bahasa (16-26 Oktober), harga antologi bakal lebih muraaaah meriah dan sesuai dengan kantong mahasiswa. Cuma 25 ribu saja, kamu udah bisa bawa pulang antologi ini! Ayo, buruan diborong sebelum kabisan! 
Di dalem sini juga ada tulisan saya loh *macak narsis, hahahaha*. Pokoknya acara bedah buku nanti dijamin pecah banget!!! 
Kami tunggu kehadiran Anda! :D :D :D

Membincang Mimpi

No Comments »



Lelah. Hanya kata itu yang menemani saya dua minggu terakhir ini. Lelah melakukan rutinitas yang tak jarang berujung pada stress. Capek, pengin istirahat, pengin pulang!
Sekarang saya sudah menjadi mahasiswa tingkat tiga, dan sangat menyedihkan ketika menyadari bahwa ilmu saya masih segitu-gitu saja. Ngakunya anak Sastra Indonesia, tapi ilmu masih cethek. Belum berkembang. Masih bingung ketika ditanya ini-itu. Belum banyak membaca buku yang seharusnya saya baca. Parahnya, saya juga belum menorehkan karya yang sesuai dengan apa yang ada di kepala saya. Ah, pokoknya saya belum ngapa-ngapain! 
Dan sekarang, saya dihantui oleh waktu. Ya, waktu. Hampir sebulan perkuliahan berjalan, tapi saya masih belum bisa memanfaatkan waktu dengan benar. Masih suka bangun kesiangan dan ujung-ujungnya nggak bisa kuliah pagi, insomnia belum sembuh, hell yeah. 
Semester ini bisa dibilang sebagai masa-masa yang paling menentukan impian saya. Duh, rasanya pengin nangis aja kalau lihat dinding kamar. Di sana ada banyak tulisan yang bikin hati nyeri, apa lagi kalo baca "2015 berangkat!"
Saya bukannya lupa, kesempatan saya hanya ada di tahun depan. Tepatnya, bulan April 2014. Minimal, saya harus mendapatkan sertifikat JLPT setingkat N2 atau TOEFL dengan score minimal 550. Sekarang sudah memasuki bulan Oktober, dan saya belum bisa mencapai target! *air mata mulai keluar*
Padahal ... padahal ... padahal ... saya sudah merancang semuanya serapi mungkin. Bulan Juli lalu saya berangkat ke Pare dalam rangka memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya yang NOL putul, dan sampai sekarang rasanya belum begitu berkembang. Gimana mo TOEFL-an? TT^TT
Ketika saya kembali ke Jogja, bisa dibilang saya megap-megap. Ada tanggung jawab buat ngurus 2 acara besar dan cukup menyita waktu, ditambah dengan kuliah yang menggalaukan. Kaget, barangkali. Semester 5 sudah dihantam dengan proposal skripsi. Bagaimanapun, di mata kuliah yang satu itu saya nggak mau main-main alias sekadar mencari nilai. Saya pengen serius nanganin proposal, biar semester 6 bisa langsung nyusun (kalau lancar). Soalnya ... soalnya ... ini berkaitan dengan faktor X.
Ehm, sekarang bulan Oktober dan saya belum hapal Katakana, Hiragana, apa lagi Kanji. Belajar Bahasa Jepang rasanya kesendat-sendat mulu. Jarang ngulang pelajaran, nyampe kost bawaannya capek. Ditambah lagi dengan Les A dan Les B. Alamaaaaaaaak, seminggu penuh aku makan les-lesan! Hahaha. Gila? Iya, saya memang selalu gila kalau sudah punya niatan tertentu. FIGHTING! FIGHTING! FIGHTING! GANBATTE NE ...!!!!!
Seharian ini saya merenung di dalam kamar, memikirkan plan A sampai C. Intinya, kemungkinan besar liburan semester ini saya nggak akan pulang dan tetap nangkring di Pusat Studi Jepang UGM. Saya tahu, sih, saya nggak bakal bisa ikut tes JLPT tingkat N2, palingan kalau nggak N5 ya N4. Minimal hapal 200 kanji lah kalau pengen mudeng sama soal JLPT, itu di luar Hiragana sama Katakana loh. Ikut JLPT N5 atau N4 artinya saya harus menahan diri sejenak untuk mewujudkan impian "Berangkat Tahun 2015". Yah, anggap saja JLPT N5 atau N4 sebagai ajang melatih kemampuan :)
Ah, membincang mimpi memang tiada habisnya. Iya, saya memang harus berusaha keras untuk mewujudkannya. Berusaha sekeras-kerasnya, berdoa semaksimal mungkin, dan merelakan waktu bermain. Kalau semester lalu saya masih bisa bebas ke mana saja, semester ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kursus, di kampus, dan di depan laptop.
Permasalahan utama saya saat ini adalah waktu. Memang tidak mudah mengatur waktu untuk les, kuliah, hobi, organisasi, dan pekerjaan. Kalau dipikir bersamaan memang bikin strees, sungguh. 
"Aduh, gimana tugas kuliah?"
"Apa kabar proposal? Kapan nih mo ke perpus? Kenapa susah amat nyari referensinyaaaaa?"
"Acara yang ini belum fix, argh!"
"Ho iya, besok Minggu ada acara A!"
"Habis rapat ini langsung rapat itu. Rek, urip kok mung nggawe rapat! Hahaha!"
"Duh, Sensei ... ini kenapa otak jadi lemot banget nangkep pelajaran?"
"Hah, tugas les A belum kukerjain!"
"Deadline lomba ini kapan? Aaaargh! Udah nggak keburu!"
"Kerjaan ... kerjaan ... cepat kelarin dong!"
Hahahaha. Kira-kira seperti itulah kondisi saya dua minggu terakhir. Pengin nangis? Iya! Capek? Banget! Pengin pulang? Iyaaaaa! Tapi nggak bakal bisa pulang -____-
Mari menghembuskan napas sejenak. Hhhh ...
Capek memang menjalani semua ini. Capek. Capek. Capek.


"Bapak dan Ibu meridhoi apa pun impianmu, Nduk. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kami hanya bisa mendoakanmu dari sini. Kami yakin, sifatmu yang tak kenal menyerah dalam mewujudkan sesuatu pasti akan menuai hasil yang sepadan dengan jerih payahmu.
JLAP!!!
Kalimat itu seketika mengguncang kesadaran. Telepon dari Bapak dan Ibu benar-benar menohok. Hei, ingatlah dengan yang jauh di sana. Orang tuamu!


Jadi, tak ada alasan untuk menyerah, kan? 



Yogyakarta, Jumat 4 Oktober 2013.
Pukul 00.18 WIB

Ngobrol

2 Comments »

Sambil menunggu sate matang, kami duduk di pinggir jalan. Menatap ratusan mobil dan motor yang berseliweran.

MR: Pacarmu sekarang anak mana, Ndi?
I     : Nggak ada, Mas. Kosongan aja. Aku males karo lanangan je, hahaha.
MR: Mending nggak usah deh, Ndi ...
I     : Kenapa emang, Mas?
MR: Nanti kamu makan hati. Nguras pikiran, nguras segalanya deh.
I     : Kowe curhat, Mas? Hahaha!
MR: Hahahasem!

Lalu mengalirlah cerita itu. Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengembuskan napas. "Sing sabar yo, Mas ..."


Cinta.


Ah, cinta.


Cinta yang kadang-kadang jadi taik sekali. Cinta ... cinta ... cintaaaaaaik. Tuh, kan, akhirannya taik. Hahahahah!


Pacaran?

Setiap kali mendengar kata itu, yang ada di pikiranku adalah: emang kalo pacaran ngapain aja si? Paling keluar bareng, teleponan, makan bareng, jalan-jalan.

Dan aku bisa melakukan semua itu bersama teman-temanku.
Lalu bagaimana dengan someone special?




Someone special?
Hah, sejujurnya aku malas sekali memikirkannya. Ha njuk ngopo dipikir jeru-jeru? -_-


"Kowe ra doyan cowok a, Ndi?"
"Doyan lah. Aku normal."
"Hla kok aku ga pernah lihat kamu deket sama orang? Atau pacaran gitu?"
"Males, hahahaha."
"Mosok kamu ga pernah kepikiran punya pacar gitu, Ndi?"
"Pernah lah, tapi njuk meh ngopo ngono loh?"
"Yo kan lumayan ntar ada yang bisa nganter-nganter kamu ke mana lah ..."
"Aku gak nyari tukang ojek! Hahahahah!"



Menjalin hubungan lebih dengan laki-laki?
Hah.  Isih rak kepikiran.



Memangnya kaupikir menghapus borok di hati itu pekerjaan yang mudah?
Oh, dear, jangan ajak aku bicara tentang cinta yang bisa berakhir dengan taik itu. Aku tak ingin membahasnya.