Archive for Desember 2015

Menggapai Puncak Pe-Ha-Pe #5

Baca selengkapnya » | No Comments »

Satu-satunya hal yang ada dalam pikiranku ketika Mas Pencit menghilang adalah ucapan mas-mas gondrong pas ngasih petuah. Biasanya para pendaki suka lupa diri kalau turun dari puncak. Saking senengnya main perosotan sampai ga fokus sama medan, tahu-tahu udah nyasar aja. Dulu pernah ada yang nyasar, pas ngelewatin area Blank 75 dia nggak fokus, dikiranya jalan lurus padahal ngarah ke kanan. Sampai akhirnya dia jatoh di jurang sebelah kanan itu. Dua hari dia bertahan tanpa bekal apa pun. Dan anehnya, pas tim SAR nyari ke sana, dia nggak ada. Kalian tahu dia ke mana? Dia tiba-tiba aja pindah ke sekitaran jurang sebelah kiri. Percaya nggak percaya, ada yang mbopong dia ke sana.
Dan sekarang, aku sedang turun, sendirian! Aku bergidik sendiri. Baru kali ini aku berada di gunung sendirian, tanpa melihat manusia satu ekor pun. Rasanya … hmm, jangan kautanyakan. Pada sebuah turunan, kuhentikan langkahku. Perutku bergolak kian beringas. Kebelet pipis, sudah tak tahan lagi! Duh, pipis, nggak, ya? Mana nggak bawa tisu basah lagi! Bingung melanda seketika. Kutengok ke belakang, jelas nggak ada orang. Kanan-kiriku pun kosong melompong. Tempat ini terlalu terbuka. Gimana kalau ada penunggunya? Gimana kalau penunggunya nggak suka sama aku?
Alamaaaaak! Tapi aku sudah tak tahan lagi. Kalau aku tetap maksain turun dengan beban yang sudah di ‘ujung’, bisa-bisa aku ngompol. Oh, tidak. Baiklah. Aku lantas turun beberapa langkah, mendekati sebuah batu seukuran lemari empat pintu. Sambil komat-kamit “Maaf, ya … aku sudah nggak tahan. Tolong jangan ganggu, aku nggak aneh-aneh kok!”, kuselesaikan ritual mendebarkan tersebut. Setelahnya, aku kembali tolah-toleh. Sedetik kemudian, lariiiii! Ya, aku turun sambil berlari gegara bergidik.

Menggapai Puncak Pe-Ha-Pe #4

Baca selengkapnya » | No Comments »


"Ada macaaaan!"
“Macaaan!”
“Macaaan!”
Kalimati yang semula tenang dan damai mendadak ramai. Di luar tenda, orang-orang berteriak ketakutan. Sontak aku terjaga dan merasakan tubuhku merinding luar biasa. Aku tidak berani keluar tenda meskipun orang-orang menyuruh mengosongkan tenda. Badanku kian panas dingin setelah menyadari bahwa Mas Pencit dan Mas Pleir tidak ada di tempat. Semakin lama, auman macan terdengar semakin nyaring. Kata mas-mas gondrong ketika memberikan briefing, di Kalimati memang ada macan yang suka keliaran, tapi di Sumber Mani, bukan di tempat ini. Aku kian ketakutan. Angin berembus kencang. Seorang kakek tua berbaju serba putih tiba-tiba masuk ke dalam tenda. Matanya tajam menatapku.
“Kamu lolos!”
“Ap… apa?”
“Kamu dapat melanjutkan perjalanan sampai akhir.”
Kemudian ia menghilang. Jantungku berdegup kencang. Apa yang barusan kulihat? Aku mengucek mata berkali-kali. Auman macan itu kini tak terdengar lagi, berganti suara berisik orang-orang.
“Iku arek-arek Jember gak digugahi ta? Tendane sepi banget!”
“Oiiii, Mbak Jember! Mas Jember!”
“Wis-wis, jarne. Mungkin mereka summit-nya masih nanti.”
“Oke, kita berangkat!”
“Semangat! Kalau ada yang capek, ngomong. Ingat, tujuan utama kita bukanlah puncak, tapi pulang dengan selamat!”
“Ya! Semangat!!”
Kemudian teriakan-teriakan itu menghilang bersamaan dengan langkah kaki mereka. Aku mengerutkan kening. Kenapa suasananya jadi beda begini? Aku mengucek mataku sekali lagi. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Mas Pencit dan Mas Pleir tengah molor dengan santainya. What the hell, ternyata suara macan dan kakek tua tadi tadi beneran ada. Beneran ada dalam mimpi, maksudnya.
“Mas! Mas!”
“Hm?”
“Pukul berapa sekarang?”
Mas Pencit bangun dari tidur, menyalakan senter, lantas melihat jam tangannya. “Pukul 22.45 WIB. Ya ampun, ternyata tadi kita nggak pasang alarm.”
“Tadi mas-mas tenda sebelah pada tereak kenceng banget, makanya aku bangun. Untung ada mereka,” ujarku, lantas melanjutkan dalam hati, untung ada suara macan dan kakek tua juga.

Mas Pleir kemudian bangun. Sambil mengucek mata, ia mengambil nesting berisi nasi dan sarden di pojokan tenda. Mas Pencit langsung bikin minuman hangat. Sambil makan, kami mengobrol. Sebenarnya aku sangat malas makan, tapi tetap kupaksakan karena tubuhku butuh energi yang cukup untuk menempuh perjalanan selanjutnya. Apalagi seharian tadi aku hanya mengunyah beberapa butir kentang dan apel. Aku tidak mau pingsan di tengah jalan gegara kurang makan.
“Berangkat pukul berapa kita?” tanyaku lagi.
“Pukul 12, ya. Santai, masih lama.”
Setelah makan, kami memeriksa kembali perlengkapan summit. Headlamp, jaket, air, dan cemilan. Meskipun Mas Pencit sudah membawa air yang lebih dari cukup, tapi aku tetap jaga-jaga dengan membawa sebotol kecil air. Tak lupa pula mengantongi dua batang cokelat silverquuen. Setengah jam kemudian, kami pun keluar tenda.