Ketika Semangatmu Melemah

Dan ketika semangat itu melemah, sebuah undangan elektronik nongol di inbox Facebook-ku. Di sana tertulis: Grasindo Goes to Jogja. Aku langsung melompat-lompat di depan laptop. Benar-benar nggak nyangka bakalan dapat undangan eksklusif itu. Acara itu bertempat di Semesta Coffee, sebuah kafe yang terletak di Jl. Abu Bakar Ali. 
Pukul setengah dua belas siang, aku bersiap ke sana. Tidak ada orang yang kukenal selain Mbak Ari, dan aku enjoy saja. Aku termasuk orang yang gampang beradaptasi dengan lingkungan baru, nggak takut sendirian, malah senang karena pasti dapat teman baru :D
Karena motorku rusak dan aku lagi nggak ada duit buat bawa ke Bengkel, aku menyewa seorang tukang ojek yang baik hati. Namanya Pak Minto. Ketika aku sedang jalan kaki menuju jalan besar buat cari taksi atau ojek, beliau memanggilku dari depan rumahnya.
"Ngojek, Mbak?" tanyanya. Aku langsung mengangguk dengan wajah sumringah. Jadi enggak perlu capek-capek nunggu ojek, kan?
Pak Minto ini ramaaah sekali. Beliau sama sekali tidak mengeluh meskipun aku sudah mengomel panjang lebar gegara aksi pawai partai PDI yang heeellll banget! Dan sumpah demi apa pun aku enggak bakal nyoblos itu partai. Kebut-kebutan di jalan, nerabas lampu merah, maki-maki orang seenak jidat, bikin polusi suara, hiiiih! Lu kate itu keren? Kagak!
Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 10 menit jadi molor sejam. Kurang ajaaaar, aku telat! Pak Minto terpaksa mutar arah karena jalanan macet. Gara-gara PDI kampret itu!
Sesampainya di Semesta Coffee, aku berpesan kepada Pak Minto untuk menjemputku pukul 4 sore. Beliau mengangguk sambil tersenyum ramah. Dan aku cukup terkejut karena tarif ojeknya yang terhitung murah. Benar-benar tukang ojek yang tahu kantong mahasiswa! :D

Di acara #GrasindoGoesToJogja itu, aku bertemu dengan banyak penulis yang memiliki semangat "raaawwwrrr" banget. Masing-masing menceritakan pengalamannya masing-masing. Ada yang baru dimuat cerpennya setelah mengalami 120 kali penolakan, ada yang naskahnya baru diterbitkan setelah 2 tahun menunggu keputusan redaksi, ada yang disuruh ngerevisi naskah sampe lima kali, ada yang pernah patah hati banget dan menjadikannya sebuah novel kece, ah pokoknya amazing banget. Bahkan, teman baru yang duduk di sampingku adalah seorang penulis yang baru saja memenangkan lomba novel bergengsi. Namanya Mbak Vita, mahasiswa S2 UIN. Anaknya ramah dan asyik diajak ngobrol sepanjang acara. Setelah acara selesai, kami pun saling bertukar nomor hape. 
"Pokoknya kalau novelnya udah terbit, kasih tahu aku, ya, Mbak. Nanti aku bakal beli!" kataku.
"Ahahaha. Masih lama kok ..." jawabnya sambil tersenyum.
Yeah, salah satu cara untuk mendukung seorang penulis untuk terus berkarya adalah membeli karyanya, bukan memintanya. Karena aku tahu, betapa menulis itu membutuhkan banyak energi dan mental baja. Bikin otak babak belur. Dan aku jelas enggak akan tega minta gratisan setelah melihat perjuangannya. Membeli karya penulis itu bentuk penghargaan, kan? :)

Hampir semua penulis yang menjadi pembicara di acara itu adalah penulis baru. Aku enggak hapal semua namanya sih, maklum aku paling sulit nginget nama orang, hahaha. Penulis yang bikin atiku meleleh adalah Mas Tafrid Huda, penulis novel Dear Gita. Novel itu sesungguhnya adalah kisah cintanya yang menguras hati *eaaa. Ia bilang, "Ini adalah kegalauan yang bermartabat, hahaha. Ketika aku menulis, semua beban menghilang. Dan ketika novel ini diterbitkan, aku udah enggak peduli apakah dia baca novelku atau tidak."
Meeeeen, seketika aku teringat kisahku sendiri yang menggelikan di masa muda, hahahaha. *ngakak, nggak tahan!* 

Selain Mas Tafrid, ada lagi yang menginspirasiku. Aku lupa namanya, yang jelas dia ini anak kedokteran UGM semester 4. Dia pernah dimaki-maki oleh penerbit tertentu gara-gara naskahnya yang dianggap enggak mutu. Ada juga mas-mas ganteng item manis yang aku juga lupa namanya, dia menulis novel yang menurutku amazing. Tadi sempet nyari di toko buku Togamas, dan sialnya udah abis stoknya -____-"

Acara tadi amaaat menyenangkan. Di acara itu, semua undangan yang jumlahnya 50-an itu dapat goodie bag berisi dua buah novel, lima voucher buat beli buku, kaset VCD kepenulisan, dan entah apa lagi. Untuk ukuran mahasiswa kismin macam saya, tentu saja itu bagaikan nemu harta karun, hahahaha. Aku dapat novelnya Mas Tafrid Huda yang judulnya Dear Gita dan novelnya Yudhi Herwibowo yang judulnya Enigma. Aku mendapat banyak pencerahan di acara itu, termasuk mendapat jawaban atas kegalauan seorang penulis untuk menentukan genre tulisan: serius atau populer?

Selesai acara, aku langsung cus ke toko buku Togamas dengan Pak Minto. Dan lagi-lagi telat gegara kampanye PDI, hash. Tapi syukurlah, pas aku nyampe sana acaranya baru dimulai. Ada bedah buku Maya bersama Ayu Utami. Finally, aku melihat Mbak Ayu secara langsung. Cantik. Dia cantik banget. Mungkin kalo aku cowo, aku langsung jatuh cinta sama dia. Hahahaha. Oya, di sana aku juga bertemu dengan beberapa anak sasindo. Ada Muchtar, Galih, Nining, Yosa, sama dua anak 2013 yang lagi-lagi aku lupa namanya. Kami duduk berjajar menghadap Mbak Ayu. Aku merekam acara bedah buku itu di hape bututku. Kapan-kapan kuaplot di soundcloud ah, biar enggak ilang. Selesai acara, aku langsung nyamperin Mbak Ayu dan minta tanda tangan. Siapa tahu kepintarannya nular :3

Oya, acara bedah buku itu di Djendelo Cafe yang letaknya di atas tobuk Togamas. Aku tahu tempat itu tapi baru tadi menginjakkan kaki di sana, hahaha. Aku lebih seneng berlama-lama di toko bukunya sih. Setelah Mbak Ayu cabut, aku lanjutin ngopi di Djendelo sambil ngobrolin hal-hal nggak penting bareng Rengga, teman SMA-ku. Bocah itu terus mencerocos sementara mataku fokus ke lantai bawah. Surga buku. Tahu kalau aku lagi mupeng sama buku, dia pun menyuruhku turun.

"Wes, koni muduno timbang ngiler!"

Hahaha. Niatnya lihat-lihat doang sih, tapi seperti biasa, ujung-ujungnya aku bawa buku ke kasir. Sureprise banget bisa nemuin novel yang udah lama kucari di segala penjuru toko buku. Novel remaja yang isinya tentang peristiwa 65. Yak, Blues Merbabu dan 65 karya Gitanyali. Aku juga nemu novel karya Haruki Murakami yang sekian lama bikin aku penasaran. Maunya aku juga beli novel Maya. Tapi berhubung aku lagi kere berat, aku harus cukup berpuas diri dengan membeli dua novel Gitanyali.


Senang. Senang. Senang.
Hari ini begitu menyenangkan.


Terima kasih, untuk kalian yang mengembalikan semangat menulisku hari ini. Hari ini aku yang menjadi pembaca karya-karya kalian, tapi besok, kalian yang akan menjadi pembaca karyaku. :D



suasana meet and greet 

with Tafrid Huda

with Yudhi Herwibowo

harta karun dari Grasindo :D

<3

This entry was posted on Sabtu, 22 Maret 2014. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

2 Responses to “Ketika Semangatmu Melemah”

  1. suatu saat nanti juga harus nerbitin buku yak!
    semangat!

    BalasHapus
  2. Aamiin. Terima kasih, Kak Edotz! Salam semangat! :D

    BalasHapus