Tentang Sepotong Hati dan Surat-Surat yang Tak Mungkin Kembali

No Comments »

Seharian itu, ia menghambur-hamburkan waktunya hanya untuk meringkuk sembari memeluk erat-erat boneka panda yang baru tiga hari menghuni kamarnya. Boneka itu basah. Ada butir-butir kristal bening yang tidak bisa berhenti mengalir. Juga rasa sesak yang tertahan. Ia bahkan tak bisa mengatur napasnya dengan benar. Rasa-rasanya ia ingin berteriak sekeras mungkin, tetapi ruangan sebesar 3x4 itu tampaknya tak cukup kuat untuk menampung gelombang suaranya. Maka yang ia lakukan adalah membenamkan muka pada boneka panda, lantas membiarkan matanya memproduksi berliter-liter air.


Bukankah sejak dulu alarm itu sudah memperingatkanmu? Mengapa kau abaikan?


Ia menutup telinga. Berusaha keras untuk tidak mendengarkan suara hatinya yang memaki-maki akibat kecerobohannya sendiri.


Berapa kali kau bilang lelah dan ingin menyerah, tapi bersamaan dengan itu kau juga membiarkan hatimu semakin jatuh?


Lagi-lagi ia menggeleng. Air matanya semakin tumpah. Bangsat, ia benci menjadi lemah seperti ini. Ia ingin menghentikan aliran air itu, tetapi apa daya, bahkan untuk mengusapnya dengan kedua tangan pun ia tak sanggup. Brengsek. Ia benci menjadi cengeng.

"Al! Kau kenapa?" Intan, karibnya, muncul di ambang pintu dengan raut muka bingung.
Alia mengangkat wajahnya beberapa detik, lantas kembali menunduk. Ia ingin sekali berbicara, tetapi mulutnya terus saja mengatup. Tanpa mengatakan apa pun, ia menunjukkan sesuatu melalui ponselnya.
Intan melotot, seolah tak percaya dengan penglihatannya. "Brengsek!"
Alia tersenyum masam. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau masih ingat kata-kataku dulu, kan? Jangan pertahankan! Jangan pertahankan! Jangan pertahankan!" ucap Intan berapi-api.
Alia tak menanggapi.
"Sudahlah, Al. Ini yang terakhir, Setelah ini, jangan lagi. Tinggalkan! Buang! Sudah cukup kau terjebak dalam absurditas yang makin nggak jelas gini. Sekarang kau lihat sendiri, kan? Apa yang kuucapkan dulu terbukti, kan?"
Alia mengangguk pelan. "Ya. Aku memang bodoh."
Intan menatapku. "Coba kau berkaca. Mukamu pucat begitu macam orang mau mati saja. Mau sampai kapan kau begini?"
Alia tidak menjawab. Tangannya meraih sebuah kotak, lantas mengambil tumpukan kertas di dalamnya.
"Apa itu?"
"Surat."
"Hm?"
"Ya. Surat yang kutulis untuknya sejak dulu. Kurasa aku harus membakarnya saat ini juga," ucap Alia sembari menyalakan korek api di luar kamar. Matanya tampak bengkak oleh air mata. Bersamaan dengan api yang melalap kertas-kertas itu, ia melihat bayangan-bayangan itu berkelebatan di kepalanya. Betapa yang ia inginkan saat ini adalah menjadi orang amnesia. Ia ingin lupa bahwa ia pernah mengenal makhluk itu. Ia ingin lupa bahwa mereka pernah saling mengucap kata. Ia ingin lupa bahwa semua yang ia rasakan dijadikan permainan belaka. Ia ingin melupakan semuanya. Sejak detik ini.


Dan air mata itu kembali jatuh....

Antara SEA-GATE dan Jalan-Jalan

No Comments »

Sore itu kami keliling perpustakaan FISIPOL sampe bego. Tulisannya sih kedisplay, tapi pas dicari kagak ada. Mana petugasnya jutek banget minta dilempar sendal. Nining yang membantuku nyari buku incaran nggak bisa ngelakuin apa pun selain "Sabar, ya". Kami lantas keluar perpustakaan dengan tampang bete. Aku bingung campur panik. Aku butuh buku itu untuk menguatkan teori dalam skripsiku. Hah, semoga ada keajaiban. Dengan langkah gontai, kami duduk di bangku bundar.
"Mak, kita loloooos!" Nining heboh.
"Apaan dah?"
"Buka grup WA!"
"Nggak ada paketan. Lagi miskin gue."
Dia kemudian menyerahkan ponselnya. Sontak mataku melotot saking kagetnya. Kyaaa! Tanpa sadar kami berpelukan dan teriak-teriak nggak jelas. Hahaha. 
"Kita lolos, Maaaak!"
"Iyaaaa!"
"Lombok depan mataaa!"
"Iyaaaa!"
Kami terus berjalan ke fakultas dan sejenak lupa dengan petugas menyebalkan di perpus FISIPOL sembari berkicau tentang program SEA-GATE. Jadi, minggu lalu kami dan beberapa teman sasindo ngelamar kerja di Pusat Studi Asia Tenggara. Mereka lagi buka lowongan buat jadi pengajar bahasa Indonesia buat mahasiswa Thai. Iseng nggak ada kerjaan, aku ikutan ngelamar. Bodo amat IPK jelek gegara nilai C bertebaran a.k.a males ngulang, namanya aja trial and error. Pas wawancara, temen-temen pada belajar tentang seluk-beluk Asia Tenggara. Aku? Panik. Hahaha. Nggak ada persiapan blas. Akhirnya aku tetringan pake hape Nanda dan ikutan googling tentang apa pun yang berhubungan dengan Asia Tenggara. Ketololan kedua adalah, aku datang cuma make kaos oblong dan sepasang sendal. Nggak kepikiran buat berpakaian rapi. Abis kuliah aku langsung dateng ke TKP tanpa babibu. Bego emang, tapi sabodo amat. Males pula balik kosan.
"Siapa dulu nih yang masuk?" 
"Indi!"
"Gembel, belum siap!"
"Nih presensinya elo duluan coooy!"
Tahu-tahu pintu kebuka dan keluarlah seorang pelamar. Anak-anak memandang ke arahku dengan tampang menyebalkan. Sambil mengumpat, aku masuk ke ruangan. Bisa dibilang, ini adalah interview pertamaku. Keseringan kerja freelance, pas disodorin yang resmi gini jadi deg-degan hahahaha. Pas wawancara, ternyata nggak resmi-resmi amat. Kami ngobrol-ngobrol ringan. Sesekali mereka ngeliat CV-ku. Entah gimana ceritanya, kami larut dalam obrolan seputar jalan-jalan dan budaya Indonesia-Thai. Untungnya aku sempat ikut makul Bahasa Thai, jadi pas dites ngomong Bahasa Thai bisa lah dikit-dikit. Rupanya mereka juga tertarik dengan kebiasaanku berpindah-pindah tempat alias dolan, yah walaupun nggak jauh-jauh amat. Hahahaha. Siapa sangka kalau ternyata hobi itu justru yang menjadi nilai plus? Alhamdulillah!

Lalu, apa hubungannya program SEA-GATE dengan jalan-jalan? Jadi, begini sodara-sodara. Sebagai mahasiswa kere tapi selalu ingin ke mana-mana, aku selalu melakukan apa pun untuk ngumpulin duit, salah satunya dengan jadi freelancer. Entah itu dengan cara ngedit naskah, nulis, ngelesin, apa pun lah. Dari penghasilan yang nggak seberapa itu, duitnya kutabung. Sebagian buat dolan, sebagian buat makan. FYI, sebenernya kadang suka sebel juga ketika ada orang yang nyeletuk "Jalan-jalan mulu deh, lu! Kebanyakan duit!". Padahal, ya, padahal, aku juga sama aja kayak kalian. Sama-sama sering bokek, sama-sama sering bingung mo makan tapi nggak ada duit. Lalu, kenapa bisa jalan ke mana-mana? Ya, itu tadi. Nabung dan komitmen nggak ngapa-ngapain duit itu. Susah emang, tapi kalau nggak dipaksa ya nggak bakalan bisa ke mana-mana. Mati aja lah ngedekem di kosan.

Oke, back to topic. Jadi, sudah sejak lama aku ingin menginjakkan kaki di Lombok dan Tana Toraja. Nah, si Nining ini kebetulan orang Lombok, jadi kan sayang banget kalau nggak dimanfaatin. Daripada nyari penginapan di sana, bukankah lebih baik bertamu di rumahnya? Bisa makan dan tidur gratis, HAHAHAH! Pun dengan Toraja. Aku punya dua sahabat baik di sana. Ihzan dan Panji. Duo Makassar yang kutemukan di Pare 2 tahun lalu. Mereka janji bakalan nemenin aku ke Toraja atau ke mana pun aku mau. Mereka udah pernah nyambangin aku ke Jogja, saatnya gantian. :3

Nah, rencananya aku mau ke Lombok dulu, baru ke Makassar kalau duit masih ada, hahaha. Kenapa Lombok dulu? Karena kemungkinan yang paling realistis ya di sana. Lebih murah coy. Tinggal naik kereta nyampe Banyuwangi, nyebrang Bali, lanjut Lombok. Ada sih tiket promo ke Makassar, duitnya yang belon ada, hahaha. Jadi, wahai Ihzan dan Panji, sabar dulu ya nak. Emak mau banting tulang dulu sebelum mengunjungi kalian. 
Dan, setiap kali menginginkan sesuatu, bukankah kita juga harus merelakan sesuatu yang lain? *akuomongopo*. Ya, demi keinginan jalan-jalan itu, aku harus menahan diri untuk nggak pulang ke rumah. Menghabiskan bulan ramadhan di Jogja buat ngajar mahasiswa Thai. Gajinya ditabung buat ke Lombok. Maka, untuk melancarkan program jalan-jalan itu, aku dan Nining sepakat untuk lulus di bulan Juni. Kami mati-matian garap skripsi kayak orang gila. Revisi sampe mabok, stres, tapi tetep dijalani. 

Aku pun harus sekuat tenaga menolak semua ajakan jalan-jalan dari temen-temen. Pekan lalu si Mamat ngajak ke Sindoro, tapi apa daya skripsi belum kelar. Nggak. Aku nggak mau ke mana-mana dulu sebelum tanggung jawab ini selesai. Mboh piye carane, pokoknya kudu komitmen. Semangat!!

Selain demi jalan-jalan, sebenarnya aku juga ada tujuan lain dalam program SEA-GATE itu. Kedengarannya agak konyol, tapi emang gitu kenyataannya (?). Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia yang hampir lulus, kadang suka ngerasa bego kalau berhadapan dengan Bahasa Indonesia. Asli lah benci banget sama hal-hal berbau lingistik. Tapi rasa-rasanya aku mau nggak mau harus bertanggung jawab terhadap gelar yang kusandang nanti *alah. Jadi, yah, anggap saja kegiatan ngajar ini sebagai bentuk latihan mengasah kepekaan terhadap bahasa. 

Rencananya, program SEA-GATE ini mau kumasukkan dalam cerita perjalanan. Kok bisa? Ya, bisa. Muridku nanti semoga cowok dan ganteng ya Allah  bakal kuajak jalan, entah cuma nongkrong sambil belajar atau pergi ke mana lah. Eh tapi kata si Budi muridnya bakal ganti-ganti tiap minggu, jadi ya entah rencana yang ini bakal jalan atau enggak. Yang jelas, aku mau menulis pengalaman ngajar di program SEA-GATE ini. Siapa tahu bisa dikembangin jadi novel macem Cinta Periode di Kampung Inggris, hahaha!


Apa pun itu, hal yang paling penting saat ini adalah: CEPATLAH LULUS! BIAR LEKAS JALAN-JALAN LAGI!

Ealah, Mblo!

No Comments »

Seharian ini kuhabiskan waktuku untuk bermalas-malasan di kasur. Beberapa hari terakhir hidupku nyaris seperti zombie. Tiap malam berdarah-darah di depan laptop dengan buku-buku berserakan di kasur dan di lantai. Tidak ada hal lain yang kulakukan selain membaca buku teori dan menulis. Kedengarannya amat heroik, ya, tapi sesungguhnya aku malah kayak orang edan. Penampilan jadi awut-awutan (emang sejak kapan aku rapi? hahaha!) dan satu per satu jerawat mulai muncul akibat keseringan begadang ditambah makan pedas disertai gorengan  tiap hari. Demi apa? Ya, demi skripsi. Demi mengejar seminar bulan ini. Demi mengejar pendadaran bulan depan.
Pagi ini, aku baru bisa menutup mata pada pukul setengah 7 dan terbangun pukul 11 siang. Maunya langsung balik ke laptop, tapi entah kenapa kasurnya menggoda sekali untuk ditidurin. Sambil meluk guling, aku membaca buku yang baru kubeli semalam di pameran buku Jogja. Isinya tentang kisah perjalanan para traveler yang dengan singkat membuat kakiku pengen jalan-jalan lagi. Ah, tapi sayangnya aku belum bisa ke mana-mana. Tengah hari, aku mulai merasa lapar, tapi tubuhku masih belum mau beranjak. Aku baru bangun ketika mendengar adzan duhur. Beranjak ke pancuran, wudhu, sholat, lalu bengong. Aku memutuskan untuk menghabiskan buku yang kubaca, kemudian ketiduran sampai pukul 3. Sumpah, uripku nggak mbois blas. Selepas shalat ashar, aku menyambar jaket dan kerudung, lantas beranjak menuju warung "Mak'e" yang terketak di samping kosan. Sudah sebulan ini aku malas memasak dan membiarkan perutku diisi makanan-makanan warung. Aku menyendokkan nasi, sayur, dan lauk ke piring, kemudian masuk ke warung dan mataku seketika menangkap dua sosok cowok sedang makan sambil ngobrol. Dengan muka tak peduli, aku mengambil tempat duduk dan mulai menghabiskan makananku.
"Serius lu pengen putus?" sebuah suara memasuki gendang telingaku. Suara salah satu dari cowok itu. Bodo amat. Aku melanjutkan aktivitas mengunyah.
"Iya! Abisnya gue nggak tahan lihat dia sama temen-temen cowoknya!" sahut cowok satunya.
"Lah, bukannya lu dari dulu udah tahu kalau temen cowoknya emang banyak?"
"Iya, sih, tapi tetep aja gue nggak suka. Cemburu gue. Makan ati mulu,"
"Kan dia nggak ada perasaan juga ama temen-temennya itu. Lagian, lu kayak nggak tahu dia aja. Dia kan emang cewek rasa cowok, hahahaha!"
Seketika aku menghentikan makanku dan menoleh sekilas ke arah dua cowok tadi. Entah kenapa, kok rasa-rasanya aku seperti terpanggil ketika kalimat cewek rasa cowok masuk ke gendang telingaku. Sebenarnya aku nggak mau nguping. Tapi, ya, gimana, di tempat itu cuma ada kami bertiga. Hahaha!
"Gue nggak suka aja punya pacar yang temen cowoknya banyak. Was-was mulu bawaannya," si cowok satu menyahut lagi.
Kalo nggak suka ya kenapa juga lu pacarin. Bego. Aku membatin.
"Tapi kok lu mau temenan sama si Mita? Dia, kan, temen cowoknya banyak juga kayak cewek lu," tanya cowok dua.
"Kalo temenan doang, sih, nggak masalah. Gue suka sih kalo berteman sama cewek kayak Mita, tapi kalo untuk pacaran, kayaknya enggak lagi deh."
Aku tanpa sadar meremas-remas sedotan gegara sebal. Mereka nggak tahu kalau cewek yang duduk nggak jauh dari mereka ini punya temen cowok seabrek. Oh, jadi begini isi otak cowok. Jadi gemes pengen ngelempar sendal.
"Hahaha! Ya udah, sih, diomongin dulu aja sana sama cewek lu. Ntar nyesel tahu rasa lu," saran cowok dua.
Iya. Elunya aja noh yang terlalu cemburuan. Dih. Aku sewot sendiri. 
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pergi setelah menghabiskan makanan. Aku? Masih mengaduk-aduk makanan gegara kepikiran omongan mereka. Hahaha!
Apa yang salah dengan punya banyak teman cowok? Aku berpikir keras, tapi nggak nemu jawaban. Sejauh ini, teman bergaulku emang kebanyakan cowok, sih. Entah karena pengaruh didikan masa kecil atau lingkungan rumah yang mayoritas juga cowok, aku nggak tahu. Yang jelas, sejak kecil aku memang lebih nyaman berteman dengan makhluk berlainan jenis. Dulu, aku lebih suka diajakin nyolong jagung di sawah sama temen-temen cowok daripada main rumah-rumahan sama temen-temen cewek yang tampaknya males berteman denganku gegara aku dipandang galak. Aku juga lebih suka diajakin mancing sama bapak, mainan layangan di sawah, daripada belajar merajut sama ibu. Kebiasaan itu terbawa sampai aku gede. Aku mulai punya temen cewek agak banyak, ya, pas SMA. Dan perlahan-lahan aku mulai mempelajari kodratku sebagai cewek pas masuk kuliah. Mulai membiasakan diri pake rok meski awalnya canggung dan ngerasa aneh banget. Menurutku itu sudah kemajuan, walaupun perilakuku kadang masih suka slengek'an. -_-
Oh, ya, balik ke masalah awal. Kenapa cowok nggak suka kalo pacarnya punya banyak temen cowok, sementara dia sendiri suka berteman dengan cewek seperti itu? Tiba-tiba aja aku keinget omongannya si Danar waktu kami lagi makan es krim di Zara-Zara beberapa waktu lalu. 
"Mungkin si cowok cemburu, Ndi. Makanya dia nggak suka kalau lihat ceweknya deket sama banyak cowok. Takut bakalan nyantol di salah satunya kali."
"Iya gitu? Aku pernah sih hampir dilabrak pacar temenku gegara tahu kalau temenku lagi nganterin aku nyari hape. Kan lebay parah!"
"Cewek emang lebay."
"Hahaha, asem! Padahal temenku itu udah nganggep aku kayak cowok. Dia bahkan bilang, demi apa pacarku cemburu sama kamu, Ndi. Lu cewek aja bukan."
"Huahahaha! Pantes jomblo mulu!"
Aku memanyunkan bibir. Memang, sih, di zaman sekarang tampaknya nggak normal banget ada orang yang nggak pernah pacaran sama sekali. Kayak aku gini, jomblo sejak orok. Bhahaha. Bukannya apa-apa, sih, tapi terkadang ada sesuatu yang perlu dipikir beribu kali sebelum memutuskan menjalin hubungan dengan orang. 
"Aku masih normal kali, Nar. Masih doyan cowok."
"Cowoknya yang nggak doyan sama kamu."
"Sampah dah!"
"Hahahahaha!"
Pernah suatu kali, temen cowokku mengatakan sesuatu yang membuatku agak mikir.
"Lu terlalu mandiri, kali. Makanya cowok jadi segan buat deket. Atau, barangkali jadi ngerasa nggak dibutuhin."
"He?"
"Iya. Lu kan apa-apa bisa ngelakuin sendiri. Belanja, sendirian. Ngebengkel, sendirian. Benerin lampu, sendirian. Benerin motor, sendirian. Pendek kata, lu kayak nggak butuh orang lain."
"Masa iya? Gue kemaren pas naik gunung nyaris pingsan, trus gue ditolongin sama temen. Itu kan berarti gue butuh bantuan."
"Ya nggak dalam konteks itu, dodol!"
Aku ngakak.
"Menurutmu, penampilan itu penting nggak? Gue suka ngerasa heran sama temen-temen cewek gue. Tiap jalan suka banget bilang 'Ndi, gue sama cewek itu gendutan mana?'. Baju udah berkarung-karung, masih aja ngerasa kurang. Jadi bingung sendiri gue."
"Mmm, penting nggak penting, sih, kalo kata gue. Lu sekali-kali belajar dandan kek, biar tahu rasanya jadi wanita sesungguhnya."
"Oh, men, gue sekarang udah belajar pake bedak kali. Apa perlu gue bikin alis model jembatan gantung atau lipstik semerah darah?"
"Hahaha, ya nggak gitu juga!"
Aku jadi keinget kejadian konyol di Mirota Kampus beberapa bulan lalu. Sore hari sehabis jogging di GSP, aku nganterin temen ke Mirota buat belanja kebutuhan sehari-hari. Aku yang saat itu masih pake kaos dan sepatu olahraga sukses dilihatin orang-orang. Bodo amat. Pas lagi mantengin deretan sabun cair, tahu-tahu aku didatengin mbak-mbak SPG. Dia dengan penuh semangat nawarin kosmetik di tangannya. Aku nggak minat beli, tapi demi menghargai dia, aku berbasa-basi sebelum melakukan penolakan.
"Wah, lipstiknya bagus!"
Sontak wajah si mbak-mbak SPG berubah seperti melihat alien dari planet Mars. "Maaf, Mbak. Ini namanya maskara, bukan lipstik."
Saat itu juga aku meminta pada Tuhan untuk membuatku amnesia! Begoooo, nggak lagi-lagi deh belagak sok tau! Pasca kejadian itu aku jadi agak trauma dengan mbak-mbak SPG kosmetik.
"Cewek tuh ya biasanya nyalon, jalan ke mall, atau ngapain gitu. Lah elu? Klayapan di gunung, masuk hutan, baju juga itu-itu mulu. Pantes nggak punya pacar!" komentar salah satu teman.
"Apa hubungannya sama kejombloan gue? Ngasal lu, ah," aku nggak terima. Pasalnya, aku memang nggak betahan kalau diajak pergi ke tempat yang aku sendiri bakal bingung mau ngapain di sana. Mati gaya. 
"Nih, Ndi! Baca!" dia menunjukkan sebuah meme dari IG Dagelan. Di sana tergambar cewek berpenampilan macho dan sebuah tulisan: Cewek yang punya banyak temen cowok biasanya jomblo. Biasanya...





Sebentar....





Sebenarnya aku ini lagi nulis apa?





Bukankah sore ini aku berjanji untuk memulai bab 3 skripsi? Kenapa malah membacot hal-hal ra cetho seperti ini?



Embuh. Mungkin aku lelah. Mungkin aku ingin wisuda ...



Dear, Skripsi.

4 Comments »

Tiga tahun silam, aku nggak sengaja beli novel Skripshit-nya Alit Susanto buat teman perjalanan. Seperti judulnya, novel itu nyeritain tentang perjuangan si Alit ketika menghadapi skripsi. Pendek kata, skripsi yang sudah ditulis mati-matian ilang gegara komputernya njeblug. Jadilah ia terperangkap dalam lingkaran setan. Kerja mati-matian buat bayar kuliah, sementara skripsinya tak juga kelar gegara sibuk kerja. Aku membatin, apa iya nulis skripsi sesulit itu? Apalagi aku juga sering melihat kakak-kakak tingkat yang keluar-masuk perpus dengan muka stress. Alah, palingan nulis skripsi kek nulis makalah UAS. Sebulan kelar lah, ya. Anggep aja nulis novel. Dan ternyata, oh, ternyata ... nggak segampang itu, sodara-sodara.

Perubahan itu mulai kurasakan ketika menginjak semester 7. Pasca KKN, aku jadi jarang melihat teman-teman seangkatan. Sebagian besar sudah menuntaskan tanggungan SKS dan tinggal skripsian, sementara aku masih aja  ngulang kuliah bareng adek-adek dan sialnya nilaiku nggak berubah. Ketika teman-teman lain sudah mulai mengajukan proposal skripsi, aku masih aja bersantai ria sambil ngelarin revisian novel yang ujung-ujungnya disuruh revisi lagi. Nyesel? Kayaknya, sih, gitu. Semester 7 udah ngambil skripsi tapi baru ngajuin proposal pas semester 8. Sebenernya proposal itu sudah kugarap dari semester 5 dan tinggal diajuin aja pasca KKN, tapi gegara kebanyakan mikir malah ditunda-tunda mulu. Geblek emang.

Memasuki semester 8, teman-temanku grudukan seminar dan pendadaran. Tiap minggu adaaa saja yang lulus. Sejauh ini yang kulakukan adalah nungguin mereka di depan pintu ruang sidang sambil bawa bunga, memberi semangat agar pendadarannya lancar sembari masang muka pengen. Aku kapan didadar?Aku kan juga pengen lulus...

Minggu lalu, selepas bimbingan skripsi, aku bertemu teman-teman di bangtem samping jurusan. Merasa senasib dan seperjuangan, masing-masing berebutan mengeluhkan kendala nyekripsi.
"Bisa bayangin nggak, aku udah mo bab 3 trus tau-tau disuruh ngulang dari awal?"
"Aku juga. Udah capek-capek nyari data ke sana ke mari, udah mau bab 2, tahu-tahu disuruh ganti judul!"
"Lha aku, udah masuk analisis data, taunya objek kajianku sama kayak punya kakak tingkat! Aku stress berat, gagal seminar, kudu ngulang semuanta dari awal."
"Aku tho, kemarin udah mau ngumpulin revisi, eh disuruh ganti objek..Lalalaaaaaa..."
Dan seterusnya. Dan seterusnya. Dan seterusnya sampe emboh. Kami pun saling menyemangati. Percayalah, semua akan lulus pada waktunya, hahaha.
Sesampainya di kost, aku membuka folder skripsi dan mulai tercenung seorang diri. Mendengar curhatan teman-teman tadi membuatku rada keder juga. Gimana kalau nanti aku juga disuruh rombak abis-abisan? Apalagi topik skripsiku dulu nyaris ditolak gegara aku mengambil teori psikologi sastra, sebuah teori yang hingga kini masih dijadikan pertentangan di dunia sastra. Selama kuliah pun aku nggak pernah diajarin teori itu. Jadi sejauh ini, aku mati-matian belajar sendiri tentang psikologi sastra. Susah emang, belajar dari nol. Tapi, ya, gimana lagi, semua teori sastra yang pernah diajarkan di bangku kuliah nggak ada yang sreg di hati, dan nggak tahu kenapa psikologi tampak begitu menarik. 

Ketika ketua jurusan menyodorkan tiga nama dosen untuk dijadikan DPS, aku malah memilih dosen perempuan yang terkenal killer dan menyeramkan ketimbang dua dosen lain yang selaaaw sekali. Entahlah. Saat itu aku hanya berpikir skripsiku akan bernasib baik jika dibimbing olehnya. Jika teman-teman lain ngeluh gegara DPS-nya kayak hantu yang ilang-ilangan, DPS-ku justru sebaliknya. Beliau bisa ditemui setiap hari dan bakal ngomel abis-abisan kalau anak bimbingannya menghilang. Dua minggu lalu beliau mengomeliku gegara aku kabur sepanjang bulan Maret, dan sengaja nggak masuk kuliahnya beliau karena takut ditanyain perkembangan bab 2 ku yang masih tertulis dalam angan-angan. Hahaha. Aku masih bersikukuh nggak mau ngumpulin bab 2 kalau tulisanku belum layak baca. Karena, oh, karena, beliau itu amat sangat teliti. Salah penulisan titik koma saja bisa-bisa aku diuni-uni sampai kuping panas.

Dalam proses menulis skripsi, ada banyaaak sekali godaan yang mampir. Godaan ngetrip yang bikin ngiler setengah mati, godaan baca novel ketimbang baca buku teori, godaan buat males-malesan, godaan buat kabur bimbingan, godaan socmed, sampai godaan perasaan. Dan kalau mentok, biasanya skripsi itu akan kutinggalkan begitu saja. Tak tinggal dolan entah ke mana, dan akan kusentuh kalau mood-ku udah balik lagi. Biasanya sih lama baliknya, hahaha. 

Beberapa pekan lalu, kelakuanku seperti orang gila. Duduk diam di depan laptop tapi nggak nulis apa-apa. Terkadang menertawakan hal-hal yang sama sekali nggak lucu. Omongannya mulai nggak nyambung, dan jadi sangat sulit berkonsentrasi. Rambut pun mendadak rontok banyaaaak sekali. Sesekali aku juga berteriak-teriak di depan laptop, dan kalau nggak tahan biasanya suka nangis. Alam bawah sadarku bahkan pernah dengan kurang ajarnya menghadirkan setting GSP dan menunjukkan diriku yang memakai toga. Brengsky bet. Kemudian aku nggak sengaja membuka buku psikologiku entah di halaman berapa. Aku membaca ciri-ciri orang stress yang sama persis dengan kondisiku saat itu. Oh, ternyata aku sedang stress. 
"Please, Ndi. Kamu boleh nganalisis tokohmu yang sakit jiwa, tapi koe ojo melu-melu edan tala!" komentar Anggun yang nggak tega melihat kondisiku. Eh, pas aku sudah mendingan, beberapa hari kemudian aku malah melihatnya menari-nari nggak jelas di depan pintu kamarku. Alah, sama aja!

Di suatu sore yang mendung, datanglah sebuah pesan whatsapp dari orang tua asuhku.
Assalamualaikum, Indi. Bagaimana kabarnya? Kapan wisuda?
Aku sontak terbangun dari tidur ayamku. Mataku ketap-ketip membacanya. Belum hilang keterkejutanku, ponselku berbunyi lagi. Bapak menelepon dan menanyakan hal yang sama. Saat itu rasanya aku cuma pengen menenggelamkan diri di laut. Ada segumpal rasa bersalah yang terbersit di dada.

Dasar nggak tahu diri! Kuliahmu itu dibiayai negara dan orang tua asuhmu, ojo sante-sante koe!

Batinku menjerit. Merasa tidak bertanggung jawab karena banyak membuang-buang waktu untuk hal yang tak perlu. Belum lagi setelah membaca tulisan Pak Edi yang menohok sekali, jadi semakin merasa berdosa. Apa yang kulakukan sementara orang tua di rumah bekerja keras untukku? Apa yang kulakukan sementara di luar sana banyak orang yang tak bisa mengenyam pendidikan sepertiku? Apa yang kulakukan sementara waktu terus berjalan dan tak akan bisa terulang lagi? Kurang baik apa DPS-ku yang selalu menyemangatiku, menasehatiku jika aku ngilang tanpa kabar, sementara banyak teman yang mengeluh karena diabaikan DPS-nya? Memikirkan semua itu membuatku ingin memaki-maki diri sendiri. 

Siang tadi, aku iseng membuka kalender dan terkejut ketika melihat deretan tanggal merah. Baru ingat kalau pertengahan Juni nanti sudah memasuki bulan ramadhan. Artinya, tak lama kemudian kegiatan akademik akan diliburkan. Batas yudisium pas lebaran, nggak yakin kampus mau buka. Aku pun kalang kabut. 
"Gimana dong, Mbaaaak!" aku menjerit-jerit di kamar. 
Mbak Sabila yang saat itu sedang main di kosku cuma tertawa. "Hahaha! Semangat, Ndi. Pasti selesai kok. Aku dulu garap skripsi cuma 2 minggu, sehari tiga kali bimbingan."
"Kok bisa? Itu otak apa dewa? Orang gila!"
"Hahaha. Pacarku ngasih pancingan berupa tiket jalan-jalan, mana orang tuaku juga udah beli tiket buat wisudaanku, jadi mau nggak mau aku kudu ngerjain. Kalau enggak, tiketku hangus dan gagal jalan-jalan!"
"Ih, aku juga mau kali dapat tiket jalan-jalan. Tapi siapa juga yang mau ngasih..."
"Hahahaha!"
Aku manyun. Setelah Mbak Sabila pergi, aku merenung sendirian di kamar. Tetiba keinget cerita si Ihzan yang skripsinya sudah kelar, tinggal nunggu sidang. Bocah Makassar itu garap skripsi kek orang gila, 2 bab dikerjain semalaman. Besoknya ngadep dosen, dicoret-coret, kemudian langsung direvisi hari itu juga. Ngadep dosen lagi, dicoret-coret lagi, direvisi lagi, gituuuuu terus sampai skripsinya kelar. Nggak nyangka, begundal macam dia bisa segila itu garapnya.

"Waktuku tinggal dua bulan, atau tidak sama sekali," bisikku sambil membuka buku Kesehatan  Mental yang tebelnya kayak bantal. Aku pun mulai membaca sembari mendengarkan musik. Tetiba mataku menangkap timeline skripsian yang tertempel di tembok. Harusnya bulan ini bab 3 ku kelar semua. Harusnya sih. Tapi, ah sudahlah ... 

Aku menatap kalender bulan April yang hampir habis. Kemudian teringat percakapan di suatu pagi bersama seonggok manusia yang entah sekarang ada di belahan dunia mana.
"Aku pengen naik gunung lagi e."
"Yuk kutemani!"
"Ah, koe mesti omdo."
"April, deh, April. Gimana?"
"Awas koe nek ngapusi!"

Dia tak tahu kalau ini adalah pendakian terakhirku. Ya, pendakian terakhir sebelum aku berkejaran dengan batas yudisium. :')
Dengan atau tanpanya, aku akan tetap pergi. Berpamitan pada indahnya matahari terbit, lautan awan, dan taburan bintang. Persetan dengan janji yang tak tertepati. :') ah koe iki ngopoooo e malah bahas kenek'an. Jiambret tenan!


Ya sudah. Lekas selesaikan skripsimu. Tahan dulu rindumu pada rumah. Jangan pulang sebelum pendadaran. Waktumu tak banyak. Ada Bali yang menunggu untuk dikunjungi, ada Lombok yang menunggu untuk diseberangi, atau mungkin Toraja yang sedari dulu ingin kau datangi. 


Dan yang paling penting, ada orang tua kandung dan orang tua asuh yang tak sabar ingin melihatmu lulus, memakai toga, dan melihatmu mengarungi luasnya dunia...




Jogja, 27 April 2015
Pukul 01.16 WIB


_Indiana Malia_

PINTU

No Comments »


            Aku menyedot lemon tea setelah puas membiarkan ribuan caci maki keluar dari mulutku—terkadang disertai isakan kecil. Lelaki di hadapanku tidak mengatakan apa pun. Dia tahu, yang kuinginkan saat ini hanyalah didengarkan. Sepuluh menit berlalu dalam hening.
            “Aku ingin menyerah,” ucapku lirih.
            “Kamu sudah berkali-kali mengatakan hal itu,” balasnya sembari tersenyum kecil.
        Aku memberengut. “Tapi ini sudah keterlaluan, Ken! Memangnya dia pikir aku ini apa? Terminal bus yang cuma dijadikan tempat persinggahan sementara?”
              Ken ngakak. “Terminal bus. Hahaha!”
       “Nggak lucu!” aku melempar sedotan ke arahnya. Ken berkelit sembari tertawa. Huh, dia memang selalu seperti itu. Menertawakan hal-hal yang sama sekali tidak patut ditertawakan!
            “Aku sudah lelah, Ken. Aku benar-benar ingin menutup pintu!”
           Ken menghentikan tawanya. Karibku itu sontak menatapku tak setuju. “Jangan terburu-buru menutup pintu. Kalau tiba-tiba ada yang mengetuk dan serius ingin tinggal, apakah akan kamu abaikan begitu saja?”
            “Hahaha! Memangnya siapa yang mau tinggal? Kamu?” aku mencibir.
            “Iya.”
            Mataku melotot seakan mau jatuh ke lantai. Terkejut.
      “Sedari dulu aku ingin mengetuk pintumu, tapi aku tahu kamu sedang menerima tamu. Brengseknya, dia pergi tanpa pamit dan kamu nggak tahu kapan dia kembali.”
            “….”
            “Jika dia hanya sekadar singgah, aku ingin tinggal—jika kamu mengizinkan.”
         Aku menatapnya dalam-dalam, mencari keseriusan. Tak kulihat sedikit pun raut keraguan di wajahnya. Bertahun-tahun berkarib dengannya, belum pernah kulihat dia seperti itu. Dia melemparkan tatapan setajam pedang ke mataku. Mendadak aku merasakan getaran aneh di dadaku.
          “Mmm,” aku bergumam sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. “Aku serasa mendengar halilintar di siang bolong.”
         “Ya, anggap saja begitu. Siapa tahu halilintar itu bisa menyambar pintumu biar bisa kumasuki.”
         “Tapi pintuku sudah rusak.”
          “Aku bisa memperbaikinya, asalkan kamu mengizinkan.”
           Aku kembali menatapnya. “Ucapanmu membuatku takut.”
    “Tak usah dipikirkan terlalu dalam. Aku tahu kamu masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Santai saja, aku akan menunggumu.”
         Kali ini, mulutku benar-benar terkunci rapat. Tiba-tiba saja aku dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan. Menunggu dia yang tak tentu, atau menyambut yang baru? Entah. Hatiku belum mampu mencernanya.


Jogja, 20 April 2015.


Kampus Fiksi#12

Baca selengkapnya » | 1 Comment »


"Jumat besok nganggur nggak? Mendaki Merapi, yuk!"ajak seorang teman di suatu sore.
"Nganggur kayaknya. Ayo budal!" aku berteriak kegirangan. Sedetik kemudian, aku teringat sesuatu. "Sektala, Jumat itu tanggal berapa?"
"Tanggal 27. Nanti kita nginep dua malem bla ... bla ..."
"Aku kayaknya nggak bisa ikut. Ada Kampus Fiksi, hiks!"
"Apaan Kampus Fiksi?"
"Macem pelatihan nulis gitu. Acaranya sampe Minggu. Yaaaaah, gimana doooong?"
"Alah, kayak kamu yang rajin nulis aja!"
Jleb. Jleb. Jleb. Kesindir!
"Terserah sih kalo nggak mau ikut. Nanti kami bakal mengejar sunrise, sunset, bla ... bla ..." dia makin manas-manasin.
"Apa aku nggak usah ikut aja, ya? Paling acaranya gitu-gitu aja," aku mulai teracuni.
Dan sejujurnya emang lagi bosen banget dengan acara pelatihan nulis. Intinya, ya, sama aja. Nggak bakal ngaruh acara begituan kalo diri sendiri nggak disiplin nulis. Paling ntar teori yang dikasih gitu-gitu aja, nggak ada bedanya sama yang diomongin dosen di kelas. Entahlah, sepertinya aku sedang memasuki fase gumoh dengan sastra dan teman-temannya.
"Jadi gimana? Ikut enggak?" dia memastikan.
Ah, galau. Sejujurnya, aku nyaris lupa dengan acara #KampusFiksi. Aku ikut seleksi itu dari zaman semester 5--masa seneng-senengnya nongkrong di kampus--dan baru akan diberangkatkan di semester bangkotan ini! Nunggu acara #KampusFiksi itu udah macem nunggu mantan gebetan yang nggak nembak-nembak. Lama, bikin lelah dan pengen nyerah *tsah. Tapi kalau inget ada berapa banyak naskah yang masuk di #KampusFiksi dan naskahku beruntung terseleksi, aku jadi merasa berdosa. Masa iya aku menyia-nyiakan kesempatan yang belum tentu dimiliki orang lain? Dan pada akhirnya ...

FIRASAT

No Comments »

Tahu-tahu, aku berada di suatu ruangan bersama teman-teman #KampusFiksi12. Semuanya heboh dengan wisuda. Begitu pula denganku. Semuanya berjalan dengan cepat. Ibu dan Bapak datang ke Jogja untuk mendampingi wisudaku. Ibu bahkan menyiapkan sebuah dress cantik berwarna krem. Pagi-pagi sekali aku berdandan--hal yang jarang kulakukan. Toga dan jubah wisuda membalut tubuhku. Pagi itu, aku seperti tuan puteri. 
Keluar dari ruangan, aku melihat orang-orang berpakaian serupa. Banyak di antara mereka yang melakukan foto selfie. Aku cuek saja dan lanjut berjalan menuju gedung GSP. Bapak menggandeng tanganku erat-erat, tapi tak ada ibu di situ. 
"Ibu ke mana?"
Tak ada jawaban. 
"Pak, ibu ke mana?"
Tetap tak ada jawaban. Aku pun diam. Masih dalam keadaan bingung, seseorang tahu-tahu berdiri di sampingku. Tangan kananku digandeng Bapak, sementara tangan kiriku digandeng olehnya, laki-laki yang paling kuhindari selama ini. Kuperhatikan ia lamat-lamat. Ia memakai setelan jas hitam dan kemeja putih. Di lehernya tergantung sebuah kamera. Mulutku ingin sekali mengumpat, tetapi tanganku justru menggenggamnya erat-erat. Akhirnya, kami bertiga berjalan bersama menuju gedung GSP.
"Ibu ke mana?"
Pertanyaan sia-sia. Tahu-tahu, aku merasakan ada keringat dingin yang menetes di leher, membasahi dress cantik pemberian ibu. Ada perasaan sedih yang tidak terdeskripsikan. Aku ingin berteriak, tapi mulutku tercekat. 
ZLAP!! Setengah sadar, aku membuka mata dan menemukan diriku berada di dalam kamar. Suasana hatiku mendadak kacau. Di kepalaku ada banyak sekali pertanyaan. Ke mana ibu? Kenapa laki-laki itu muncul di alam bawah sadarku? 
"Ndi, ada telpon dari bapakmu. Hapemu di kamarku tuh!" Anggun tahu-tahu berdiri di ambang pintu.
Aku tergeragap. Panik. Setengah berlari aku menuju kamar Anggun yang berada tepat di sebelahku. Ada tiga panggilan tidak terjawab. Perasaanku mendadak tak enak. Pada panggilan keempat, aku mengangkatnya, kemudian menuju kamarku.
"Gimana skripsimu? Sudah sampai Bab berapa?" tanya Bapak di seberang sana.
"Lancar, Pak. Insya Allah minggu ini kelar Bab 2."
"Alhamdulillah. Rajin berdoa agar semua dilancarkan."
"Iya..."
Kemudian obrolan kami beralih ke hal lain. Dan mimpi tadi, ah ... aku tidak terlalu pandai menafsirkan mimpi. Yang kutahu, ada tanggung jawab besar yang harus segera kuselesaikan. 



Aku harus segera lulus. Harus bekerja sesegera mungkin.
Jangan berleha-leha.




Dan aku ingin pulang. Melihat rumah. Memeluk ibu...

Pelukan Perpisahan

3 Comments »

Senja turun perlahan-lahan, menyapa kami yang duduk diam menatap kejauhan. Lampu-lampu taman menyala satu per satu. Dan kami masih saja terdiam. Sibuk bertengkar dengan suara-suara dalam pikiran. 
"Lia ...," dia membuka suara.
Aku menoleh.  Menatap matanya yang masih saja seteduh dulu, kemudian tersenyum tipis. Lia? Hahahaha. Panggilan masa kecilku. Entah kapan terakhir kali dipanggil dengan nama itu.
"Kamu apa kabar?" tanyanya kemudian.
"Baik. Kamu?" aku balik bertanya.
"Sama. Aku juga baik. Kuliahmu bagaimana? Lancar?"
"Begitulah. Sedang menyusun Tugas Akhir."
"Semangat, ya. Kamu masih sendiri aja? Mmm, maksudku, masih memutuskan untuk sendiri?"
"Hahaha. Iya. Kenapa? Jangan bilang kamu mau mengejarku lagi!"
"Hahaha, sayangnya kamu tidak terkejar."
Aku terdiam. Dia pun terdiam.
"Kamu tahu mengapa aku ingin bertemu denganmu hari ini--setelah dua tahun lamanya kita nyaris lost contact?"
"Ya?"
"Aku ingin berterima kasih."
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Untuk segala pelajaran yang bisa kupetik darimu. Untuk segala perasaan yang 9 tahun kuperjuangkan namun tetap tidak bisa meluluhkanmu."
"Re, jangan ..."
"Aku belum selesai bicara," potongnya. Diraihnya kedua tanganku, lalu ia kembali melanjutkan, "Kamu tahu? 9 tahun lebih aku mengenalmu. 9 tahun lebih aku berjuang mendapatkan hatimu. 9 tahun lebih aku berharap kau lah yang kelak akan mendampingiku. 9 tahun lebih aku berkeyakinan bahwa kau akan membalas perasaan ini. Tetapi pada akhirnya aku sadar, kau memang bukan untukku."
Aku membeku.
"Dan aku memang tidak akan bisa mengimbangi ritme hidupmu yang begitu bebas. Kita begitu berbeda, aku tahu itu. Aku memiliki cinta yang menggebu-gebu padamu, sementara bagimu cinta pada lawan jenis adalah hal terakhir yang ada di pikiranmu. Itulah mengapa kau masih saja bertahan dengan kesendirian."
"Re ..."
"Sedari dulu aku mendamba pernikahan, sementara bagimu pernikahan adalah hal kesekian yang kau pikirkan. Kucoba meyakinkan, tapi kau masih saja takut dengan apa yang disebut komitmen. Jiwa dan ragamu terlalu bebas, dan aku tak mampu meraihnya. Di kemudian hari aku sadar, dunia kita memang berbeda. Berdampingan denganku hanya akan membuat hidupmu tertekan, kan? Aku tahu, hatimu hanya bisa dimenangkan oleh orang yang bisa membawamu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melihat luasnya dunia, bukan dengan orang sepertiku."
"Re, hentikan! Tolong!" air mataku mulai runtuh. 
Dihapusnya air mataku dengan sebelah tangannya. "Jangan menangis. Wanita tomboy macam kamu haram menangis, hahaha!"
"Aku ... aku ... aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu. Aku ..."
"Iya, aku tahu. Aku tahu kamu memang tidak akan bisa membuatku lebih dari sekadar teman. Maafkan aku yang selama ini selalu memaksamu untuk membuka hati untukku."
Air mataku kian menderas.
"Ini untukmu," ia mengangsurkan sepucuk amplop merah.
"Apa ini?" aku membuka amplop itu perlahan. Dan jantungku seakan berhenti berdetak. Di sana, tertulis sebuah nama yang bersanding dengan namanya.
"Kamu akan menikah?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Ya. Dalam waktu dekat."
"Selamat ...," aku tak mampu membendung rasa haru.
"Terima kasih," ia tersenyum kecil. "Itulah mengapa aku ingin bertemu denganmu saat ini, agar tuntas segala perasaanku. Terlalu banyak rasa terima kasih yang harus kuberikan padamu. Darimu, aku mengerti bagaimana rasanya mencintai dengan tulus. Darimu, aku mengerti bagaimana rasanya berjuang."
"Re ..."
"Ternyata beginilah takdir berbicara. Tuhan mempertemukanku dengan dia, wanita yang mencintaiku tanpa kuminta. Wanita yang bersedia mengarungi kehidupan bersamaku, dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Ternyata, dia lah yang Tuhan berikan padaku."
"Kamu bahagia?"
"Tentu saja," ia tersenyum lebar. Tampak sekali kalau ia tidak berbohong.
"Syukurlah, kau sudah menemukan pendamping hidupmu."
"Terima kasih, Li..."
"Sudahlah, jangan berterima kasih terus-menerus. Aku pun harus berterima kasih padamu."
"Untuk?"
"Untuk segalanya. Terima kasih pernah mencintaiku sedemikian rupa. Wanita yang akan mendampingimu itu pastilah beruntung bisa mendapatkanmu."
"Ya. Begitu pula denganmu. Beruntung sekali laki-laki yang bisa mendapatkan wanita keras kepala dan selalu menolak jatuh cinta sepertimu. Wanita yang pernah kukejar 9 tahun lamanya tapi memilih menyendiri."
"Hahaha, sial!" aku tertawa kecil.
"Benar, kan? Aku mengenalmu sejak kanak-kanak. Aku tahu benar, jika kau benar-benar menjatuhkan hati pada seseorang, hatimu tak bisa pindah ke mana-mana. Tentunya kau masih ingat dengan si X yang kau cintai diam-diam bertahun-tahun lamanya--dan selalu membuatku cemburu--tapi tak bisa membalas perasaanmu."
"Hei, jangan membahas si X lagi! Hahaha, sial, kau mengingatkanku pada laki-laki brengsek itu!" 
"Hahaha. Tak apa. Sesekali menengok masa lalu untuk ditertawakan."
Jam menunjukkan pukul 6 sore. Langit telah sepenuhnya gelap.
"Aku harus pulang," Re beranjak dari duduknya.
Aku pun berdiri.
"Terima kasih sudah bersedia menemuiku," ucapnya.
"Sama-sama."
Kami saling menatap dalam diam. 
"Aku pamit ... jaga dirimu baik-baik, ya," dia menyalamiku.
Aku mengangguk. Dia membalikkan badan, kemudian berjalan menjauh.
"Re, tunggu!" panggilku. Setengah berlari aku menghampirinya lagi.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kemari sebentar," aku memeluknya. Dua puluh detik berlalu dalam diam. "Aku lah yang harus berterima kasih padamu, Re."
Dia mengacak-acak kepalaku pelan. Kami tahu, ini adalah pelukan perpisahan. 
"Maaf jika selama ini aku terlalu sering menyakiti hatimu."
"Sudah, jangan katakan itu," Dilepaskannya pelukan perpisahan itu. "Dengar, gadis kecil. Kamu sudah menempati bagian tersendiri di hatiku. Darimu, aku belajar menjadi kuat. Tanpa perjalanan sepanjang ini, aku tak mungkin bertemu dengan sosok yang kucintai sekarang, kan?"
Aku mengangguk pelan. Dia memelukku sekali lagi, lantas pergi tanpa menoleh sedikit pun....






Untukmu,
seseorang yang pernah mengisi masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasaku.
Selamat menempuh hidup baru. Berbahagialah selalu...



Jogja, 23 Maret 2015.
Pukul 01.27 WIB.

Mendaki Lawu: Sebuah Keajaiban

No Comments »



           “Dikado barang itu udah biasa e. Sekali-kali kek ada yang ngasih tiket nggembel ke mana gitu, atau mendaki ke gunung mana gitu,” ceplosku di suatu malam. Kebetulan waktu itu Mas Riyan dateng buat nganter dagangan. Ceritanya lusa aku bakal ulang tahun dan lagi ngode orang-orang buat diajak jalan, hahahaha!
            “Ke Merbabu gimana?” Mas Riyan menanggapi dengan serius.
            “Weee, sumpah? Budal aku!”
            “Iya. Nanti tak ajak anak-anak. Gimana?”
            “Seriusan ki? Weladalah, aku belum latihan fisik loh, kan ujan mulu, hahaha.”
            “Nggak papa. Kemarin habis nggembel jalan kaki juga toh?”
            “Ya, sih…”
          Setelah lobi sana-sini, ternyata anak-anak pada nggak bisa diajak mendaki. Wajar, sih, dadakan soalnya. Aku toh nggak ngarep banyak. Jadilah pas ulang tahun aku nyaris semedi di kamar doang gegara ujan deres sepanjang hari. Tapi beberapa hari kemudian, Mas Riyan datang membawa kabar gembira.
            “Kadonya diundur minggu depan mau? Ke Lawu. Gimana?”
            “Mau! Mau! Siapa aja yang ikut?”
            “Si A, B, C, kowe, aku. Cari temen cewek sana, biar ada temen.”
            “Oke!”
            Tiga hari kulalui dengan putus asa. Temen-temen cewek yang biasa mendaki nggak ada yang bisa diajakin. Rata-rata pada mo ke Merbabu. Mau ngajak cewek yang nggak pernah naik gunung tapi ragu, takut ntar kenapa-napa di sana.
       “Udah deh, aku cewe sendiri nggak papa. Dulu aku juga pernah mendaki ber-14 cewek sendirian.”
            “Oke, deh. Siap-siap, ya!”
          Aku pun dengan penuh semangat menyiapkan logistik dan semacamnya. Syukurlah ada si Bogel yang bisa dirampok peralatan gunungnya, hahaha. Dan beberapa jam sebelum keberangkatan…
            “Ndi, anak-anak nggak bisa ikut. Tahu-tahu ngebatalin.”
            “YANG BENER AJA?!”
            “Iya. Gimana? Aku sih manut koe.”
            “Alah, budali wae! Persetan cuman berdua, ntar di sana bisa kenalan sama pendaki lain,” aku jadi agak emosi. Bayangkan, semuanyaaaa udah kusiapin dan terancam gagal itu rasanya pengen garuk-garuk tanah!
            “Baiklah.”
            Jumat, 13 Maret 2015, kami berangkat menuju Karanganyar. Berdua saja? Iya, berdua saja, kayak anak ilang. Seumur-umur, aku belum pernah mendaki berdua doang, begitu pula dengan Mas Riyan. Kami nekat. Entah seperti apa nanti di sana, yang penting bismillah berangkat. Sebenarnya kami agak ketar-ketir. Beberapa hari ini Jogja dilanda hujan campur badai. Kami tahu, di bulan-bulan ini banyak gunung yang ditutup karena cuaca buruk. Intinya bukan waktu yang tepat buat mendaki lah. Tetapi entah kenapa, kami selalu percaya dengan kekuatan doa. Ketika niat sudah ada, dan semuanya sudah disiapkan dengan matang, kami tinggal menyerahkan semuanya pada-Nya. Bismillah, selama kami tidak punya niatan buruk, Insya Allah semesta akan mendukung.
          Siang itu, langit mendung. Membuat kami was-was sepanjang jalan. Sesampainya di Solo, kami beristirahat sebentar di Pom Bensin. Masih separuh perjalanan lagi. Kami masih khusyuk berharap agar hujan tidak menyapa kami. Satu setengah jam kemudian, kami melewati jalanan Karanganyar. Masya Allah, langit ceraaaah sekali! Jauh di sana, tampak Gunung Lawu berdiri kokoh diliputi awan.
            “Hei, lihat! Gunungnya sudah kelihatan. Ayo semangat! Kita pasti bisa melewati semuanya!” teriak Mas Riyan sambil menyetir motor.
            “Yok, tancaaaap!” sahutku dengan riang gembira.
          Sesampainya di jalur Cemoro Sewu, hatiku tiba-tiba bergetar. Pada satu suro kemarin, aku pernah ke tempat ini bersama teman-teman IMM. Bertujuh kami mendaki dan menemui beberapa kendala. Jangankan sampai puncak, sampai Pos 2 saja kami tak bisa. Entah kenapa saat itu aku berpikir, aku pasti akan kembali ke sini. Menyapa Lawu lagi. Dan begitu keinginan itu terwujud, rasa-rasanya masih setengah percaya. Kali ini, aku tidak menargetkan puncak seperti sebelumnya. Aku hanya ingin berjalan semampuku, sekuatku. Dan yang terpenting adalah pulang dengan selamat. Itu saja.
            Setelah mendaftarkan diri di pos, aku dan Mas Riyan beristirahat sejenak di salah satu warung. Saat itu, tampak segorombolan mas-mas dengan carrier di punggung. Kami pun berkenalan dan sepakat untuk mendaki bersama. Mereka adalah 11 anak-anak UNNES jurusan Olahraga.
            “Berdua doang, Mas?”
            “Iya, nih, sama adik.”
            “Adik ketemu gede? Hahaha!”
            “Hahaha, nggak, ya!”
           Aku hanya tersenyum kecut. Wajar saja kalau mereka menganggap kami sepasang kekasih, cewek dan cowok gitu loh. Setelah sholat Isya’, kami berkumpul untuk berdoa bersama. Semoga pendakian kali ini diberikan kelancaran dan keselamatan. Ketika melewati gerbang, dadaku rasanya bergemuruh. Lawu, I’m baaaaaack!
            Beberapa meter pertama, jalanan tidak begitu menanjak. Kami berjalan pelan melewati jalan setapak dengan senter masing-masing. Pas jalan udah nanjak, napasku mulai tidak beraturan. Emang selalu gitu sih di awal-awal. Dan benar saja, baru beberapa menit aku sudah ngos-ngosan.
            “Sini, Mbak, tasnya tak bawain!” tawar salah satu teman.
            “Eh, nggak usah …”
            “Nggak papa. Kami kan anak Olahraga, wes biasa bawa barang berat. Sini!”
            Aku cuma nyengir sambil mengangsurkan carrier ke salah satu anak. Hahaha, nggak papa lah.
            “Mau break dulu, Mbak?”
            “Apaan, nggak usah. Aku emang selalu gini di awal-awal. Yuk, lanjut!”
         Kami kembali berjalan. Suasana saat itu sunyi sekali. Berbeda dengan pas satu suro dulu, rameeee banget! Jadi enggak begitu takut karena ketemu banyak orang. Sekarang rasanya beda. Sepi. Aku jadi agak merinding. Makin lama jalanan makin nanjak. Aku sengaja jalan paling depan biar anak-anak nggak kecepetan jalannya, hahahaha. Begitu sampai Pos 1, aku melongo.
            “Serius ini Pos 1?”
            “Lha itu tulisannya begitu, Mbak.”
            “Cepat amaaat? Berapa menit kita jalan?”
            “40 menitan lah.”
           “Njir, cepat, ya! Dulu aku jalan ke sini rasanya kek berhari-hari. Suwe bianget,” aku geleng-geleng.
            “Mungkin sekarang rasanya beda.”
          Aku membenarkan. Entah kenapa, rasanya perjalanan kali ini begitu berbeda. Semangatku seakan bertambah berates kali lipat. Mungkin karena aku satu-satunya cewe juga di situ, sebisa mungkin jangan sampe lah nyusahin. Aku berjanji pada diriku sendiri, pokoknya enggak boleh ngeluh! Jangan sampai kehadiranku bikin mereka nggak nyaman. Tapi emang bener sih, saat itu aku terlampau bahagia dan semangat sehingga nggak ada rasa capek sama sekali. Hahaha.
            “Adikku ini jomblo, loh! Belum pernah pacaran. Barangkali ada yang berminat?” kata Mas Riyan di sela-sela perjalanan.
            Aku melotot. “Jangan jual aku di sini, Mas!”
            “Wahahahaaaa! Dijual katanya!” anak-anak pada ketawa.
            “Aku tidak menjual, hanya menawarkan,” sahutnya cuek.
            “Sampah,” gumamku sambil memonyongkan bibir. Dan u know lah apa yang terjadi, aku pun menjadi objek pem-bully-an dan dicing-cengin sepanjang jalan.
            “Adikku ini nggak pacar-pacaran. Dia maunya dilamar di puncak gunung loh, hahaha!”
            “Mas Riyaaaan! Westalaaah!”
            “Hahahaha! Tuh, lamar sana nanti di puncak gunung!”
            Mas Riyan masih saja mempromosikan diriku, udah kayak orang MLM aja dia. Nawarin ke sana-sini. Sialan. Tetapi justru karena itu, sih, kami jadi mudah akrab, hahaha. Perjalanan jadi enggak kerasa capek. Alhamdulillah banget bisa jalan bareng mereka. Aku nggak bisa bayangin kalau jalan berdua doang. Pasti garing.
            “Hei, Pos 2 udah kelihatan! Ayo ke sana!”
            Di Pos 2, aku lagi-lagi takjub. Dari 5 pos yang ada di Lawu, perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 lah yang paling jauh. Sudah begitu treknya mayan nanjak. Tapi lagi-lagi, aku merasa perjalanan ke sana tidak sejauh yang ada di pikiran.
            “Mas, nyampe Pos 2! Huhu, dulu enggak sampek sini,” aku terharu.
            “Yo, Alhamdulillah. Kamu nggak capek po?”
            “Enggak.”
            Di Pos 2, kami bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat. Setelah basa-basi dan istirahat beberapa menit, kami kembali berjalan. Oh, ya, saat itu salah itu teman kami ada yang habis kecelakaan pas pagi sebelum ke Lawu. Lupa namanya siapa. Hahaha, maklum, aku memang rada susah nginget nama orang, apalagi ini ada 11 orang zzzz. Yang jelas, anak ini selalu dibully anak-anak lain. Hahaha.
            “Mbah, isih kuat mlaku?”
            “Kakimu nggak papa?”
            “Ayo semangat, jalan lagi!”
            Jalanan dari Pos 2 ke Pos 3 menanjak, bonusnya (jalanan datar) mulai jarang-jarang. Tetapi hal itu dibayar dengan pemandangan yang saaangat indah. Dari atas, kami melihat pemandangan layaknya Bukit Bintang! Aku menganga saking takjubnya melihat lukisan alam seindah itu. Sayangnya, camdig-ku enggak bisa menangkap keindahan itu (lebih tepatnya, aku masih belum bisa make kamera dengan baik dan benar alias gaptek, hahahaha!). Hal yang sangat kami syukuri saat itu adalah langit cerah! Tidak ada hujan sama sekali. Aku menyebutnya sebagai keajaiban. Ini sama persis seperti pas aku mendaki Ijen beberapa bulan lalu. Saat itu musim hujan, tetapi ajaibnya langit tiba-tiba cerah dan bertabur bintang. :’)
            Semakin ke atas, udara semakin dingin. Aku berkali-kali merapatkan jaket dan menggosok-gosokkan tangan saking dinginnya. Agak bodoh memang, aku cuma memakai baju dan jaket lapis 2 yang nggak terlalu tebal. Padahal dulu pas pertama kali ke sini aku make baju lapis 5 dan jaket lapis 3 -___-
            “Break!” teriak salah satu anak.
            Kami lantas berhenti dan duduk-duduk di bebatuan. Aku duduk paling atas bersama seorang mas-mas yang lagi-lagi aku lupa siapa namanya. Mukanya pun lupa. Habis gelap sih, hahaha. Sembari menghisap madu pemberian seorang teman, aku geletakan sambil menatap langit. Tak jauh dariku, barisan semak-semak tampak ribut diterpa angin. Telingaku tak sengaja mendengar sesuatu. Bulu kudukku langsung berdiri tegak. Aku refleks duduk dan mendekat ke mas-mas tadi.
            “Kenapa, Mbak?”
            “Kamu denger sesuatu nggak?”
            “Ha?”
            “Eh, enggak. Enggak papa kok. Jalan yuk, duduk lama-lama makin dingin.”
            “Oke.”
            Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan menuju Pos 3, mulutku bungkam. Aku hanya mengikuti jalan di depan tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Jalanku pun cenderung kupercepat, pokoknya kudu sampe Pos 3 secepatnya!
            Di Pos 3, aku bernapas lega karena menemukan banyak pendaki. Mereka rata-rata juga akan melanjutkan perjalanan ke Pos 4. Dan lagi-lagi Mas Riyan melontarkan kalimat-kalimat berisi promosi atas kejombloanku. Meski aku ketawa, tapi diam-diam perasaanku kerasa nggak enak.

            Jangan ganggu aku. Aku nggak ada niatan jahat di sini.

         "Ayo lanjut aja, dingin banget nih duduk lama-lama,” aku beralasan, padahal kami baru beberapa menit duduk. Untungnya mereka nggak curiga atau apa, jadi kami langsung lanjut menuju Pos 4.
            Perjalanan menuju Pos 4 bisa dibilang sangat menguras energi. Jalannya nanjak tinggi banget, tanpa bonus. Kami melewati tangga-tangga batu tak beratutan. Kalau nggak hati-hati bisa terpeleset. Sekitar 1,5 jam kemudian, sampailah kami di Pos 4. Saat itu tepat pukul 12 malam. Aku sudah mau nangis aja. Lebay sih kedengerannya, tapi aku benar-benar nggak nyangka bisa sampai di Pos 4 dalam waktu sesingkat ini. Cuma 5 jam! Mungkin bagi pendaki lain itu normal, tapi bagiku yang masih newbie, ngelewatin 4 pos selama 5 jam itu luar binasa cepetnya, apalagi trek di Lawu terbilang sulit. Dulu aja pas ke sini, dari basecamp ke Pos 1 makan waktu berjam-jam.
            “Mau camp di sini apa lanjut Pos 5, Mbak?”
            “Manut. Mau ngecamp ayo, lanjut ayo.”
            “Woh, strong tenan mbak’e!”
            “Hahaha! Ora!”
          Tapi memang iya, saat itu aku anehnya enggak ngerasa capek. Biasa aja. Entah capeknya sudah dimakan semangat atau gimana. Akhirnya, kami mencari tempat buat mendirikan tenda di dekat Pos 4. Padahal perjalanan dari Pos 4 ke Pos 5 cuma 15 menit doang (tapi waktu itu kami nggak tahu jalannya bakal sesingkat itu, haha). FYI, kami ber-13 belum ada sama sekali yang pernah mendaki Lawu sampai puncak, bahkan beberapa ada yang belum pernah naik gunung sama sekali. Jadi bisa nyampe Pos 4 bagiku adalah pencapaian yang luar binasa.
            “Saatnya tidur. Besok bangun setengah lima, ya, lanjut perjalan lihat sunrise!”
            “Oke!”
            Aku masuk sleeping bag dan mencoba memejamkan mata, tapi enggak bisa. Dinginnya Lawu membuatku susah tidur. Entah pada pukul berapa, aku sangat menggigil dan berada di antara sadar dan tidak sadar. Mulutku menceracau entah apa. Rasanya tubuhku sedingin es. Bernapas pun susah. Aku tahu-tahu dibangunin Mas Riyan dan disodorin teh panas. Mungkin kalau saat itu di antara kami nggak ada yang bangun, aku sudah mati kedinginan. Mana saat itu ada badai pula. Karena nggak bisa tidur dan suasana hati juga nggak tenang, kami menunggu Subuh. Setelah sholat, baru lah aku bisa tidur dengan tenang. Aku nggak bangun sama sekali sampai pukul 7. Sementara itu, cowok-cowok pada sibuk masak. Sekalinya bangun aku langsung makan, hahahahaha. Mereka masak sup, mie instan, tempe goreng, dan sarden. Berasa prasmanan di gunung. Oh, ya, pagi itu kami nggak dapet sunrise. Kabutnya tebeeeeel banget. Jadinya kami baru naik agak siangan. Semua barang ditinggal di tenda.
            Perjalanan dari Pos 4 menuju Pos 5 emang cepet banget, 15 menit doang tapi nanjak. Di sana, kami menemukan warung Mbok Yem yang legendaris itu. Kami juga menemukan sumber mata air. Dulu Septian pernah cerita kalau di sini ada sumber mata air, dan akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung, hiks. Dari Pos 5, kami lanjut ke puncak. Kami motong kompas biar waktunya lebih singkat. Dan Masya Allah, pemandangannyaaaaaa sangat indah! Fix aku bahagia!
            “Ayo, Mbak, sedikit lagi nyampe puncak!” teriak si Vandi dari atas.
        “Mana puncaknya? Kagak keliatan dari tadi!” aku udah lelah gegara jalannya nanjak dan berlumpur.
            “Ituuu di sana. Ayo, dikiiit lagi! Semangat!”
            Dengan sisa-sisa tenaga, aku merambat ke atas. Dan begitu mataku menangkap Tugu Lawu, aku refleks menjatuhkan diri. Sujud syukur. Nangis. Seneng. Benar-benar kayak mimpi. Ya Allah, ini kado terindah! Sungguh! Bisa berjalan sampai puncak adalah bonus yang luar biasa indahnya. Rasanya, semua rasa lelah terbayarkan sudah. *ngelap air mata*
            Memandang lukisan alam maha indah dari puncak, mulutku sontak tercekat. Rasa syukur, haru, bahagia, bercampur aduk jadi satu. Semakin merasa bukan apa-apa di tengah alam ciptaan-Nya. *ngelap air mata lagi*
            Kami berada di atas cukup lama. Ngapain lagi kalau bukan ngambil gambar. Ada-ada aja tingkah konyol anak-anak. Yang bikin ngakak adalah ada salah seorang teman yang dengan pedenya nulis “I Love Your Mom and Ded” dan “You Will Marry Me”. Asli lah aku ngakak kenceng.
            “Maksudmu ‘Will You Marry Me’ mungkin? Hahahaha!”
            Kocak lah mereka semua. Dan seperti biasa, Mas Riyan akan selalu menyempatkan dirinya ngukir tulisan dari batu buat kekasih tercinta. Alay bet, tapi ujung-ujungnya aku ikut-ikutan juga, HAHAHAHA! Tak lama kemudian, kabut tebal pun datang dan kami bersiap turun.
            Setelah membereskan tenda, kami turun. Kami berdoa agar dalam perjalanan pulang tidak menemui kesulitan apapun. Rintik hujan turun pelan-pelan.
            “Gila, jadi semalam kita ngelewatin jalanan curam begini. Untung kita naiknya pas malem ya, coba kalo siang, udah drop duluan kali.”
           Haha, memang. Jalanannya menyeramkan. Tapi hal itu setimpal dengan pemandangannya yang bagus. Coba enggak kabut, pasti lebih keren lagi. Dari Pos 4 ke Pos 3 kami jalan setengah jam doang tanpa istirahat. Di Pos 3, kami istirahat sekitar 10 menit, lalu jalan lagi. Instingku mengatakan untuk terus berjalan dan nggak noleh-noleh. Kejadian semalam terulang lagi. Di beberapa titik, aku merasakan sesuatu. Aku pun berjalan cepat. Gila, baru kali ini aku turun tanpa banyak istirahat. Awalnya sih iya-iya aja, tapi pas nyampe Pos 1, tenagaku sudah mau habis. Aku pengen berhenti, tapi keburu ditereakin Mas Riyan.
            “Bablas aja! Kalau berhenti makin sakit kakinya. Ayo, jalan pelan!”
         "SEKTALA, AKU SEK KESEL!” aku tereak agak esmosi sodara-sodara. Dengan memberengut, aku lanjut jalan cepet banget. Rodo nesu ceritane. Hahahahahaaaaa! Aku jalaaaan terus tanpa berhenti, paling lama mandek ya 10 detik. Tapi memang bener sih, duduk malah bikin kaki sakit. Sesampainya di basecamp, aku bernapas lega. Alhamdulillah, kami semua kembali dengan selamat. Kami sampai bawah sekitar pukul 5 sore, 3 jam perjalanan lah ya dari atas. Malam itu juga kami pulang.
            “Terima kasih, yaaa, sudah menemani kami dari berangkat sampe pulang! Senang mengenal kalian semua!”
            “Iya, sama-sama. Sampai jumpa di pendakian selanjutnya!”
            “Next time Gunung Andong, yuk!”
            “Insya Allah kalo skripsiku kelar cepet, hahahaha!”
            Kami pun berpisah. Aku dan Mas Riyan balik Jogja. Malam itu dinginnya menusuk tulang. Jalanan gelap. Di sebuah turunan, tiba-tiba rem motor blong dan nyaris nabrak mobil!
          “Mas, ati-ati! Pelan-pelan aja!” aku was-was. Perasaanku kembali nggak enak. Untuk mengusir kegalauan, Mas Riyan mulai mendongengiku tentang kisah cintanya dengan Reni. FYI, dia mendongeng dari Lawu sampe Jogja -______-. Kisah romantismenya dibeber dari A sampai Z.
“Kalau ditantang nikah sekarang mah aku berani. Aku pinginnya tuh nanti bla … bla … bla …duh, Dek Reni itu sangat lembut, keibuan bla … bla … dia juga bla … bla …”
Dia amat semangat cerita tanpa sadar kalau dia menghadapi seorang jomblo -______-
            “Mas, tau nggak kenapa aku semalam banyak diem?” tanyaku pas dia brenti ngocehin Reni.
            “Kenapa?”
            “Aku denger suara aneh.”
            “Aneh gimana?”
            “Ada suara cewek …” aku memelankan suara.
            “Hah? Apaan?”
            “Itu … ada suara cewek. Kadang nangis, kadang ketawa, kadang njerit …”
            “SUMPAH?”
            “Sumpah!”
            “Kamu dengernya di mana?”
            “Sepanjang Pos 2 sampe Pos 3.”
            Kami diam. Jeda beberapa saat.
            “Koe ngerti ora?”
            “Apa?”
            “Aku juga mendengar hal yang sama.”
            “Yang bener aja?”
        “Iya. Lihat, deh, tanganku merinding!” Mas Riyan menunjukkan tangan kirinya yang merinding. Tangan dan bulu kudukku juga berdiri. Sontak aku menoleh ke belakang, padahal saat itu jalanan rame, tapi entah kenapa suasana berasa sunyi dan senyap.
            “Mas, aku wedhi …”
            “Nggak papa. Yang penting kita nggak ada niatan buruk kan selama di sana? Kamu nggak ada pikiran jelek, kan?”
            “Enggak. Aku nggak aneh-aneh kok.”
            Kami kembali diam. Sesampainya di daerah Karanganyar, Mas Riyan kembali bicara.
            “Ndi …”
            “Opo?”
            “Tiba-tiba rem-nya nggak blong lagi. Udah normal kayak nggak kenapa-napa.”
            Aku kembali bergidik.
            “Apa mungkin tadi kita diikutin, ya?”
            “Wes, wes, jangan dilanjut. Ayo pulang!”
            Kami pun kembali ke Jogja dengan selamat. Alhamdulillah. Perjalanan kali ini sangat luar bisa. Bisa dibilang, ada banyak keajaiban selama perjalanan. Mulai cuaca yang tiba-tiba cerah dan nggak hujan, bertemu teman-teman hebat, juga pendakian yang terbilang lancar. Alhamdulillah. Ini adalah kado yang tak terlupakan. Sungguh!
            Sesampainya di kos, aku tidak langsung tidur. Nungguin si Anggun. Begitu bocah itu datang, aku lega.
            “Aku tidur kamarmu, ya.”
            “Kenapa?”
            “Aku masih kepikiran sesuatu e.”
            “Kepikiran apa?”
            “Besok aja lah kuceritain!”
           Aku pun tidur di kamarnya, tapi tak langsung memejamkan mata. Di kepalaku masih terngiang jeritan-jeritan di sepanjang jalan Pos 2 ke Pos 3….


Jogja, 17 Maret 2015.
Pukul 04.07 WIB




Ini tenda kami! :D
Demi cinta. *alaaah -___-

Pagi yang berkabut

Makaaaaan! :D
Perjalanan menuju puncak. Banyak yang heran kenapa muka saya tetap cerah. Mau tahu rahasianya? Sempatkan pakai bedak dan lipgloss 5 menit saja! HAHAHA!



Yeay! Kita berhasil mencapai puncak! {}



:')





Banyak yang jomblo, sist. Minat PM saya, ya! HAHAHAHAHAHA!


Lav you, all!