PINTU

No Comments »


            Aku menyedot lemon tea setelah puas membiarkan ribuan caci maki keluar dari mulutku—terkadang disertai isakan kecil. Lelaki di hadapanku tidak mengatakan apa pun. Dia tahu, yang kuinginkan saat ini hanyalah didengarkan. Sepuluh menit berlalu dalam hening.
            “Aku ingin menyerah,” ucapku lirih.
            “Kamu sudah berkali-kali mengatakan hal itu,” balasnya sembari tersenyum kecil.
        Aku memberengut. “Tapi ini sudah keterlaluan, Ken! Memangnya dia pikir aku ini apa? Terminal bus yang cuma dijadikan tempat persinggahan sementara?”
              Ken ngakak. “Terminal bus. Hahaha!”
       “Nggak lucu!” aku melempar sedotan ke arahnya. Ken berkelit sembari tertawa. Huh, dia memang selalu seperti itu. Menertawakan hal-hal yang sama sekali tidak patut ditertawakan!
            “Aku sudah lelah, Ken. Aku benar-benar ingin menutup pintu!”
           Ken menghentikan tawanya. Karibku itu sontak menatapku tak setuju. “Jangan terburu-buru menutup pintu. Kalau tiba-tiba ada yang mengetuk dan serius ingin tinggal, apakah akan kamu abaikan begitu saja?”
            “Hahaha! Memangnya siapa yang mau tinggal? Kamu?” aku mencibir.
            “Iya.”
            Mataku melotot seakan mau jatuh ke lantai. Terkejut.
      “Sedari dulu aku ingin mengetuk pintumu, tapi aku tahu kamu sedang menerima tamu. Brengseknya, dia pergi tanpa pamit dan kamu nggak tahu kapan dia kembali.”
            “….”
            “Jika dia hanya sekadar singgah, aku ingin tinggal—jika kamu mengizinkan.”
         Aku menatapnya dalam-dalam, mencari keseriusan. Tak kulihat sedikit pun raut keraguan di wajahnya. Bertahun-tahun berkarib dengannya, belum pernah kulihat dia seperti itu. Dia melemparkan tatapan setajam pedang ke mataku. Mendadak aku merasakan getaran aneh di dadaku.
          “Mmm,” aku bergumam sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. “Aku serasa mendengar halilintar di siang bolong.”
         “Ya, anggap saja begitu. Siapa tahu halilintar itu bisa menyambar pintumu biar bisa kumasuki.”
         “Tapi pintuku sudah rusak.”
          “Aku bisa memperbaikinya, asalkan kamu mengizinkan.”
           Aku kembali menatapnya. “Ucapanmu membuatku takut.”
    “Tak usah dipikirkan terlalu dalam. Aku tahu kamu masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Santai saja, aku akan menunggumu.”
         Kali ini, mulutku benar-benar terkunci rapat. Tiba-tiba saja aku dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan. Menunggu dia yang tak tentu, atau menyambut yang baru? Entah. Hatiku belum mampu mencernanya.


Jogja, 20 April 2015.


Kampus Fiksi#12

Baca selengkapnya » | 1 Comment »


"Jumat besok nganggur nggak? Mendaki Merapi, yuk!"ajak seorang teman di suatu sore.
"Nganggur kayaknya. Ayo budal!" aku berteriak kegirangan. Sedetik kemudian, aku teringat sesuatu. "Sektala, Jumat itu tanggal berapa?"
"Tanggal 27. Nanti kita nginep dua malem bla ... bla ..."
"Aku kayaknya nggak bisa ikut. Ada Kampus Fiksi, hiks!"
"Apaan Kampus Fiksi?"
"Macem pelatihan nulis gitu. Acaranya sampe Minggu. Yaaaaah, gimana doooong?"
"Alah, kayak kamu yang rajin nulis aja!"
Jleb. Jleb. Jleb. Kesindir!
"Terserah sih kalo nggak mau ikut. Nanti kami bakal mengejar sunrise, sunset, bla ... bla ..." dia makin manas-manasin.
"Apa aku nggak usah ikut aja, ya? Paling acaranya gitu-gitu aja," aku mulai teracuni.
Dan sejujurnya emang lagi bosen banget dengan acara pelatihan nulis. Intinya, ya, sama aja. Nggak bakal ngaruh acara begituan kalo diri sendiri nggak disiplin nulis. Paling ntar teori yang dikasih gitu-gitu aja, nggak ada bedanya sama yang diomongin dosen di kelas. Entahlah, sepertinya aku sedang memasuki fase gumoh dengan sastra dan teman-temannya.
"Jadi gimana? Ikut enggak?" dia memastikan.
Ah, galau. Sejujurnya, aku nyaris lupa dengan acara #KampusFiksi. Aku ikut seleksi itu dari zaman semester 5--masa seneng-senengnya nongkrong di kampus--dan baru akan diberangkatkan di semester bangkotan ini! Nunggu acara #KampusFiksi itu udah macem nunggu mantan gebetan yang nggak nembak-nembak. Lama, bikin lelah dan pengen nyerah *tsah. Tapi kalau inget ada berapa banyak naskah yang masuk di #KampusFiksi dan naskahku beruntung terseleksi, aku jadi merasa berdosa. Masa iya aku menyia-nyiakan kesempatan yang belum tentu dimiliki orang lain? Dan pada akhirnya ...

FIRASAT

No Comments »

Tahu-tahu, aku berada di suatu ruangan bersama teman-teman #KampusFiksi12. Semuanya heboh dengan wisuda. Begitu pula denganku. Semuanya berjalan dengan cepat. Ibu dan Bapak datang ke Jogja untuk mendampingi wisudaku. Ibu bahkan menyiapkan sebuah dress cantik berwarna krem. Pagi-pagi sekali aku berdandan--hal yang jarang kulakukan. Toga dan jubah wisuda membalut tubuhku. Pagi itu, aku seperti tuan puteri. 
Keluar dari ruangan, aku melihat orang-orang berpakaian serupa. Banyak di antara mereka yang melakukan foto selfie. Aku cuek saja dan lanjut berjalan menuju gedung GSP. Bapak menggandeng tanganku erat-erat, tapi tak ada ibu di situ. 
"Ibu ke mana?"
Tak ada jawaban. 
"Pak, ibu ke mana?"
Tetap tak ada jawaban. Aku pun diam. Masih dalam keadaan bingung, seseorang tahu-tahu berdiri di sampingku. Tangan kananku digandeng Bapak, sementara tangan kiriku digandeng olehnya, laki-laki yang paling kuhindari selama ini. Kuperhatikan ia lamat-lamat. Ia memakai setelan jas hitam dan kemeja putih. Di lehernya tergantung sebuah kamera. Mulutku ingin sekali mengumpat, tetapi tanganku justru menggenggamnya erat-erat. Akhirnya, kami bertiga berjalan bersama menuju gedung GSP.
"Ibu ke mana?"
Pertanyaan sia-sia. Tahu-tahu, aku merasakan ada keringat dingin yang menetes di leher, membasahi dress cantik pemberian ibu. Ada perasaan sedih yang tidak terdeskripsikan. Aku ingin berteriak, tapi mulutku tercekat. 
ZLAP!! Setengah sadar, aku membuka mata dan menemukan diriku berada di dalam kamar. Suasana hatiku mendadak kacau. Di kepalaku ada banyak sekali pertanyaan. Ke mana ibu? Kenapa laki-laki itu muncul di alam bawah sadarku? 
"Ndi, ada telpon dari bapakmu. Hapemu di kamarku tuh!" Anggun tahu-tahu berdiri di ambang pintu.
Aku tergeragap. Panik. Setengah berlari aku menuju kamar Anggun yang berada tepat di sebelahku. Ada tiga panggilan tidak terjawab. Perasaanku mendadak tak enak. Pada panggilan keempat, aku mengangkatnya, kemudian menuju kamarku.
"Gimana skripsimu? Sudah sampai Bab berapa?" tanya Bapak di seberang sana.
"Lancar, Pak. Insya Allah minggu ini kelar Bab 2."
"Alhamdulillah. Rajin berdoa agar semua dilancarkan."
"Iya..."
Kemudian obrolan kami beralih ke hal lain. Dan mimpi tadi, ah ... aku tidak terlalu pandai menafsirkan mimpi. Yang kutahu, ada tanggung jawab besar yang harus segera kuselesaikan. 



Aku harus segera lulus. Harus bekerja sesegera mungkin.
Jangan berleha-leha.




Dan aku ingin pulang. Melihat rumah. Memeluk ibu...

Pelukan Perpisahan

3 Comments »

Senja turun perlahan-lahan, menyapa kami yang duduk diam menatap kejauhan. Lampu-lampu taman menyala satu per satu. Dan kami masih saja terdiam. Sibuk bertengkar dengan suara-suara dalam pikiran. 
"Lia ...," dia membuka suara.
Aku menoleh.  Menatap matanya yang masih saja seteduh dulu, kemudian tersenyum tipis. Lia? Hahahaha. Panggilan masa kecilku. Entah kapan terakhir kali dipanggil dengan nama itu.
"Kamu apa kabar?" tanyanya kemudian.
"Baik. Kamu?" aku balik bertanya.
"Sama. Aku juga baik. Kuliahmu bagaimana? Lancar?"
"Begitulah. Sedang menyusun Tugas Akhir."
"Semangat, ya. Kamu masih sendiri aja? Mmm, maksudku, masih memutuskan untuk sendiri?"
"Hahaha. Iya. Kenapa? Jangan bilang kamu mau mengejarku lagi!"
"Hahaha, sayangnya kamu tidak terkejar."
Aku terdiam. Dia pun terdiam.
"Kamu tahu mengapa aku ingin bertemu denganmu hari ini--setelah dua tahun lamanya kita nyaris lost contact?"
"Ya?"
"Aku ingin berterima kasih."
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Untuk segala pelajaran yang bisa kupetik darimu. Untuk segala perasaan yang 9 tahun kuperjuangkan namun tetap tidak bisa meluluhkanmu."
"Re, jangan ..."
"Aku belum selesai bicara," potongnya. Diraihnya kedua tanganku, lalu ia kembali melanjutkan, "Kamu tahu? 9 tahun lebih aku mengenalmu. 9 tahun lebih aku berjuang mendapatkan hatimu. 9 tahun lebih aku berharap kau lah yang kelak akan mendampingiku. 9 tahun lebih aku berkeyakinan bahwa kau akan membalas perasaan ini. Tetapi pada akhirnya aku sadar, kau memang bukan untukku."
Aku membeku.
"Dan aku memang tidak akan bisa mengimbangi ritme hidupmu yang begitu bebas. Kita begitu berbeda, aku tahu itu. Aku memiliki cinta yang menggebu-gebu padamu, sementara bagimu cinta pada lawan jenis adalah hal terakhir yang ada di pikiranmu. Itulah mengapa kau masih saja bertahan dengan kesendirian."
"Re ..."
"Sedari dulu aku mendamba pernikahan, sementara bagimu pernikahan adalah hal kesekian yang kau pikirkan. Kucoba meyakinkan, tapi kau masih saja takut dengan apa yang disebut komitmen. Jiwa dan ragamu terlalu bebas, dan aku tak mampu meraihnya. Di kemudian hari aku sadar, dunia kita memang berbeda. Berdampingan denganku hanya akan membuat hidupmu tertekan, kan? Aku tahu, hatimu hanya bisa dimenangkan oleh orang yang bisa membawamu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melihat luasnya dunia, bukan dengan orang sepertiku."
"Re, hentikan! Tolong!" air mataku mulai runtuh. 
Dihapusnya air mataku dengan sebelah tangannya. "Jangan menangis. Wanita tomboy macam kamu haram menangis, hahaha!"
"Aku ... aku ... aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu. Aku ..."
"Iya, aku tahu. Aku tahu kamu memang tidak akan bisa membuatku lebih dari sekadar teman. Maafkan aku yang selama ini selalu memaksamu untuk membuka hati untukku."
Air mataku kian menderas.
"Ini untukmu," ia mengangsurkan sepucuk amplop merah.
"Apa ini?" aku membuka amplop itu perlahan. Dan jantungku seakan berhenti berdetak. Di sana, tertulis sebuah nama yang bersanding dengan namanya.
"Kamu akan menikah?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Ya. Dalam waktu dekat."
"Selamat ...," aku tak mampu membendung rasa haru.
"Terima kasih," ia tersenyum kecil. "Itulah mengapa aku ingin bertemu denganmu saat ini, agar tuntas segala perasaanku. Terlalu banyak rasa terima kasih yang harus kuberikan padamu. Darimu, aku mengerti bagaimana rasanya mencintai dengan tulus. Darimu, aku mengerti bagaimana rasanya berjuang."
"Re ..."
"Ternyata beginilah takdir berbicara. Tuhan mempertemukanku dengan dia, wanita yang mencintaiku tanpa kuminta. Wanita yang bersedia mengarungi kehidupan bersamaku, dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Ternyata, dia lah yang Tuhan berikan padaku."
"Kamu bahagia?"
"Tentu saja," ia tersenyum lebar. Tampak sekali kalau ia tidak berbohong.
"Syukurlah, kau sudah menemukan pendamping hidupmu."
"Terima kasih, Li..."
"Sudahlah, jangan berterima kasih terus-menerus. Aku pun harus berterima kasih padamu."
"Untuk?"
"Untuk segalanya. Terima kasih pernah mencintaiku sedemikian rupa. Wanita yang akan mendampingimu itu pastilah beruntung bisa mendapatkanmu."
"Ya. Begitu pula denganmu. Beruntung sekali laki-laki yang bisa mendapatkan wanita keras kepala dan selalu menolak jatuh cinta sepertimu. Wanita yang pernah kukejar 9 tahun lamanya tapi memilih menyendiri."
"Hahaha, sial!" aku tertawa kecil.
"Benar, kan? Aku mengenalmu sejak kanak-kanak. Aku tahu benar, jika kau benar-benar menjatuhkan hati pada seseorang, hatimu tak bisa pindah ke mana-mana. Tentunya kau masih ingat dengan si X yang kau cintai diam-diam bertahun-tahun lamanya--dan selalu membuatku cemburu--tapi tak bisa membalas perasaanmu."
"Hei, jangan membahas si X lagi! Hahaha, sial, kau mengingatkanku pada laki-laki brengsek itu!" 
"Hahaha. Tak apa. Sesekali menengok masa lalu untuk ditertawakan."
Jam menunjukkan pukul 6 sore. Langit telah sepenuhnya gelap.
"Aku harus pulang," Re beranjak dari duduknya.
Aku pun berdiri.
"Terima kasih sudah bersedia menemuiku," ucapnya.
"Sama-sama."
Kami saling menatap dalam diam. 
"Aku pamit ... jaga dirimu baik-baik, ya," dia menyalamiku.
Aku mengangguk. Dia membalikkan badan, kemudian berjalan menjauh.
"Re, tunggu!" panggilku. Setengah berlari aku menghampirinya lagi.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kemari sebentar," aku memeluknya. Dua puluh detik berlalu dalam diam. "Aku lah yang harus berterima kasih padamu, Re."
Dia mengacak-acak kepalaku pelan. Kami tahu, ini adalah pelukan perpisahan. 
"Maaf jika selama ini aku terlalu sering menyakiti hatimu."
"Sudah, jangan katakan itu," Dilepaskannya pelukan perpisahan itu. "Dengar, gadis kecil. Kamu sudah menempati bagian tersendiri di hatiku. Darimu, aku belajar menjadi kuat. Tanpa perjalanan sepanjang ini, aku tak mungkin bertemu dengan sosok yang kucintai sekarang, kan?"
Aku mengangguk pelan. Dia memelukku sekali lagi, lantas pergi tanpa menoleh sedikit pun....






Untukmu,
seseorang yang pernah mengisi masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasaku.
Selamat menempuh hidup baru. Berbahagialah selalu...



Jogja, 23 Maret 2015.
Pukul 01.27 WIB.

Mendaki Lawu: Sebuah Keajaiban

No Comments »



           “Dikado barang itu udah biasa e. Sekali-kali kek ada yang ngasih tiket nggembel ke mana gitu, atau mendaki ke gunung mana gitu,” ceplosku di suatu malam. Kebetulan waktu itu Mas Riyan dateng buat nganter dagangan. Ceritanya lusa aku bakal ulang tahun dan lagi ngode orang-orang buat diajak jalan, hahahaha!
            “Ke Merbabu gimana?” Mas Riyan menanggapi dengan serius.
            “Weee, sumpah? Budal aku!”
            “Iya. Nanti tak ajak anak-anak. Gimana?”
            “Seriusan ki? Weladalah, aku belum latihan fisik loh, kan ujan mulu, hahaha.”
            “Nggak papa. Kemarin habis nggembel jalan kaki juga toh?”
            “Ya, sih…”
          Setelah lobi sana-sini, ternyata anak-anak pada nggak bisa diajak mendaki. Wajar, sih, dadakan soalnya. Aku toh nggak ngarep banyak. Jadilah pas ulang tahun aku nyaris semedi di kamar doang gegara ujan deres sepanjang hari. Tapi beberapa hari kemudian, Mas Riyan datang membawa kabar gembira.
            “Kadonya diundur minggu depan mau? Ke Lawu. Gimana?”
            “Mau! Mau! Siapa aja yang ikut?”
            “Si A, B, C, kowe, aku. Cari temen cewek sana, biar ada temen.”
            “Oke!”
            Tiga hari kulalui dengan putus asa. Temen-temen cewek yang biasa mendaki nggak ada yang bisa diajakin. Rata-rata pada mo ke Merbabu. Mau ngajak cewek yang nggak pernah naik gunung tapi ragu, takut ntar kenapa-napa di sana.
       “Udah deh, aku cewe sendiri nggak papa. Dulu aku juga pernah mendaki ber-14 cewek sendirian.”
            “Oke, deh. Siap-siap, ya!”
          Aku pun dengan penuh semangat menyiapkan logistik dan semacamnya. Syukurlah ada si Bogel yang bisa dirampok peralatan gunungnya, hahaha. Dan beberapa jam sebelum keberangkatan…
            “Ndi, anak-anak nggak bisa ikut. Tahu-tahu ngebatalin.”
            “YANG BENER AJA?!”
            “Iya. Gimana? Aku sih manut koe.”
            “Alah, budali wae! Persetan cuman berdua, ntar di sana bisa kenalan sama pendaki lain,” aku jadi agak emosi. Bayangkan, semuanyaaaa udah kusiapin dan terancam gagal itu rasanya pengen garuk-garuk tanah!
            “Baiklah.”
            Jumat, 13 Maret 2015, kami berangkat menuju Karanganyar. Berdua saja? Iya, berdua saja, kayak anak ilang. Seumur-umur, aku belum pernah mendaki berdua doang, begitu pula dengan Mas Riyan. Kami nekat. Entah seperti apa nanti di sana, yang penting bismillah berangkat. Sebenarnya kami agak ketar-ketir. Beberapa hari ini Jogja dilanda hujan campur badai. Kami tahu, di bulan-bulan ini banyak gunung yang ditutup karena cuaca buruk. Intinya bukan waktu yang tepat buat mendaki lah. Tetapi entah kenapa, kami selalu percaya dengan kekuatan doa. Ketika niat sudah ada, dan semuanya sudah disiapkan dengan matang, kami tinggal menyerahkan semuanya pada-Nya. Bismillah, selama kami tidak punya niatan buruk, Insya Allah semesta akan mendukung.
          Siang itu, langit mendung. Membuat kami was-was sepanjang jalan. Sesampainya di Solo, kami beristirahat sebentar di Pom Bensin. Masih separuh perjalanan lagi. Kami masih khusyuk berharap agar hujan tidak menyapa kami. Satu setengah jam kemudian, kami melewati jalanan Karanganyar. Masya Allah, langit ceraaaah sekali! Jauh di sana, tampak Gunung Lawu berdiri kokoh diliputi awan.
            “Hei, lihat! Gunungnya sudah kelihatan. Ayo semangat! Kita pasti bisa melewati semuanya!” teriak Mas Riyan sambil menyetir motor.
            “Yok, tancaaaap!” sahutku dengan riang gembira.
          Sesampainya di jalur Cemoro Sewu, hatiku tiba-tiba bergetar. Pada satu suro kemarin, aku pernah ke tempat ini bersama teman-teman IMM. Bertujuh kami mendaki dan menemui beberapa kendala. Jangankan sampai puncak, sampai Pos 2 saja kami tak bisa. Entah kenapa saat itu aku berpikir, aku pasti akan kembali ke sini. Menyapa Lawu lagi. Dan begitu keinginan itu terwujud, rasa-rasanya masih setengah percaya. Kali ini, aku tidak menargetkan puncak seperti sebelumnya. Aku hanya ingin berjalan semampuku, sekuatku. Dan yang terpenting adalah pulang dengan selamat. Itu saja.
            Setelah mendaftarkan diri di pos, aku dan Mas Riyan beristirahat sejenak di salah satu warung. Saat itu, tampak segorombolan mas-mas dengan carrier di punggung. Kami pun berkenalan dan sepakat untuk mendaki bersama. Mereka adalah 11 anak-anak UNNES jurusan Olahraga.
            “Berdua doang, Mas?”
            “Iya, nih, sama adik.”
            “Adik ketemu gede? Hahaha!”
            “Hahaha, nggak, ya!”
           Aku hanya tersenyum kecut. Wajar saja kalau mereka menganggap kami sepasang kekasih, cewek dan cowok gitu loh. Setelah sholat Isya’, kami berkumpul untuk berdoa bersama. Semoga pendakian kali ini diberikan kelancaran dan keselamatan. Ketika melewati gerbang, dadaku rasanya bergemuruh. Lawu, I’m baaaaaack!
            Beberapa meter pertama, jalanan tidak begitu menanjak. Kami berjalan pelan melewati jalan setapak dengan senter masing-masing. Pas jalan udah nanjak, napasku mulai tidak beraturan. Emang selalu gitu sih di awal-awal. Dan benar saja, baru beberapa menit aku sudah ngos-ngosan.
            “Sini, Mbak, tasnya tak bawain!” tawar salah satu teman.
            “Eh, nggak usah …”
            “Nggak papa. Kami kan anak Olahraga, wes biasa bawa barang berat. Sini!”
            Aku cuma nyengir sambil mengangsurkan carrier ke salah satu anak. Hahaha, nggak papa lah.
            “Mau break dulu, Mbak?”
            “Apaan, nggak usah. Aku emang selalu gini di awal-awal. Yuk, lanjut!”
         Kami kembali berjalan. Suasana saat itu sunyi sekali. Berbeda dengan pas satu suro dulu, rameeee banget! Jadi enggak begitu takut karena ketemu banyak orang. Sekarang rasanya beda. Sepi. Aku jadi agak merinding. Makin lama jalanan makin nanjak. Aku sengaja jalan paling depan biar anak-anak nggak kecepetan jalannya, hahahaha. Begitu sampai Pos 1, aku melongo.
            “Serius ini Pos 1?”
            “Lha itu tulisannya begitu, Mbak.”
            “Cepat amaaat? Berapa menit kita jalan?”
            “40 menitan lah.”
           “Njir, cepat, ya! Dulu aku jalan ke sini rasanya kek berhari-hari. Suwe bianget,” aku geleng-geleng.
            “Mungkin sekarang rasanya beda.”
          Aku membenarkan. Entah kenapa, rasanya perjalanan kali ini begitu berbeda. Semangatku seakan bertambah berates kali lipat. Mungkin karena aku satu-satunya cewe juga di situ, sebisa mungkin jangan sampe lah nyusahin. Aku berjanji pada diriku sendiri, pokoknya enggak boleh ngeluh! Jangan sampai kehadiranku bikin mereka nggak nyaman. Tapi emang bener sih, saat itu aku terlampau bahagia dan semangat sehingga nggak ada rasa capek sama sekali. Hahaha.
            “Adikku ini jomblo, loh! Belum pernah pacaran. Barangkali ada yang berminat?” kata Mas Riyan di sela-sela perjalanan.
            Aku melotot. “Jangan jual aku di sini, Mas!”
            “Wahahahaaaa! Dijual katanya!” anak-anak pada ketawa.
            “Aku tidak menjual, hanya menawarkan,” sahutnya cuek.
            “Sampah,” gumamku sambil memonyongkan bibir. Dan u know lah apa yang terjadi, aku pun menjadi objek pem-bully-an dan dicing-cengin sepanjang jalan.
            “Adikku ini nggak pacar-pacaran. Dia maunya dilamar di puncak gunung loh, hahaha!”
            “Mas Riyaaaan! Westalaaah!”
            “Hahahaha! Tuh, lamar sana nanti di puncak gunung!”
            Mas Riyan masih saja mempromosikan diriku, udah kayak orang MLM aja dia. Nawarin ke sana-sini. Sialan. Tetapi justru karena itu, sih, kami jadi mudah akrab, hahaha. Perjalanan jadi enggak kerasa capek. Alhamdulillah banget bisa jalan bareng mereka. Aku nggak bisa bayangin kalau jalan berdua doang. Pasti garing.
            “Hei, Pos 2 udah kelihatan! Ayo ke sana!”
            Di Pos 2, aku lagi-lagi takjub. Dari 5 pos yang ada di Lawu, perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 lah yang paling jauh. Sudah begitu treknya mayan nanjak. Tapi lagi-lagi, aku merasa perjalanan ke sana tidak sejauh yang ada di pikiran.
            “Mas, nyampe Pos 2! Huhu, dulu enggak sampek sini,” aku terharu.
            “Yo, Alhamdulillah. Kamu nggak capek po?”
            “Enggak.”
            Di Pos 2, kami bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat. Setelah basa-basi dan istirahat beberapa menit, kami kembali berjalan. Oh, ya, saat itu salah itu teman kami ada yang habis kecelakaan pas pagi sebelum ke Lawu. Lupa namanya siapa. Hahaha, maklum, aku memang rada susah nginget nama orang, apalagi ini ada 11 orang zzzz. Yang jelas, anak ini selalu dibully anak-anak lain. Hahaha.
            “Mbah, isih kuat mlaku?”
            “Kakimu nggak papa?”
            “Ayo semangat, jalan lagi!”
            Jalanan dari Pos 2 ke Pos 3 menanjak, bonusnya (jalanan datar) mulai jarang-jarang. Tetapi hal itu dibayar dengan pemandangan yang saaangat indah. Dari atas, kami melihat pemandangan layaknya Bukit Bintang! Aku menganga saking takjubnya melihat lukisan alam seindah itu. Sayangnya, camdig-ku enggak bisa menangkap keindahan itu (lebih tepatnya, aku masih belum bisa make kamera dengan baik dan benar alias gaptek, hahahaha!). Hal yang sangat kami syukuri saat itu adalah langit cerah! Tidak ada hujan sama sekali. Aku menyebutnya sebagai keajaiban. Ini sama persis seperti pas aku mendaki Ijen beberapa bulan lalu. Saat itu musim hujan, tetapi ajaibnya langit tiba-tiba cerah dan bertabur bintang. :’)
            Semakin ke atas, udara semakin dingin. Aku berkali-kali merapatkan jaket dan menggosok-gosokkan tangan saking dinginnya. Agak bodoh memang, aku cuma memakai baju dan jaket lapis 2 yang nggak terlalu tebal. Padahal dulu pas pertama kali ke sini aku make baju lapis 5 dan jaket lapis 3 -___-
            “Break!” teriak salah satu anak.
            Kami lantas berhenti dan duduk-duduk di bebatuan. Aku duduk paling atas bersama seorang mas-mas yang lagi-lagi aku lupa siapa namanya. Mukanya pun lupa. Habis gelap sih, hahaha. Sembari menghisap madu pemberian seorang teman, aku geletakan sambil menatap langit. Tak jauh dariku, barisan semak-semak tampak ribut diterpa angin. Telingaku tak sengaja mendengar sesuatu. Bulu kudukku langsung berdiri tegak. Aku refleks duduk dan mendekat ke mas-mas tadi.
            “Kenapa, Mbak?”
            “Kamu denger sesuatu nggak?”
            “Ha?”
            “Eh, enggak. Enggak papa kok. Jalan yuk, duduk lama-lama makin dingin.”
            “Oke.”
            Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan menuju Pos 3, mulutku bungkam. Aku hanya mengikuti jalan di depan tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Jalanku pun cenderung kupercepat, pokoknya kudu sampe Pos 3 secepatnya!
            Di Pos 3, aku bernapas lega karena menemukan banyak pendaki. Mereka rata-rata juga akan melanjutkan perjalanan ke Pos 4. Dan lagi-lagi Mas Riyan melontarkan kalimat-kalimat berisi promosi atas kejombloanku. Meski aku ketawa, tapi diam-diam perasaanku kerasa nggak enak.

            Jangan ganggu aku. Aku nggak ada niatan jahat di sini.

         "Ayo lanjut aja, dingin banget nih duduk lama-lama,” aku beralasan, padahal kami baru beberapa menit duduk. Untungnya mereka nggak curiga atau apa, jadi kami langsung lanjut menuju Pos 4.
            Perjalanan menuju Pos 4 bisa dibilang sangat menguras energi. Jalannya nanjak tinggi banget, tanpa bonus. Kami melewati tangga-tangga batu tak beratutan. Kalau nggak hati-hati bisa terpeleset. Sekitar 1,5 jam kemudian, sampailah kami di Pos 4. Saat itu tepat pukul 12 malam. Aku sudah mau nangis aja. Lebay sih kedengerannya, tapi aku benar-benar nggak nyangka bisa sampai di Pos 4 dalam waktu sesingkat ini. Cuma 5 jam! Mungkin bagi pendaki lain itu normal, tapi bagiku yang masih newbie, ngelewatin 4 pos selama 5 jam itu luar binasa cepetnya, apalagi trek di Lawu terbilang sulit. Dulu aja pas ke sini, dari basecamp ke Pos 1 makan waktu berjam-jam.
            “Mau camp di sini apa lanjut Pos 5, Mbak?”
            “Manut. Mau ngecamp ayo, lanjut ayo.”
            “Woh, strong tenan mbak’e!”
            “Hahaha! Ora!”
          Tapi memang iya, saat itu aku anehnya enggak ngerasa capek. Biasa aja. Entah capeknya sudah dimakan semangat atau gimana. Akhirnya, kami mencari tempat buat mendirikan tenda di dekat Pos 4. Padahal perjalanan dari Pos 4 ke Pos 5 cuma 15 menit doang (tapi waktu itu kami nggak tahu jalannya bakal sesingkat itu, haha). FYI, kami ber-13 belum ada sama sekali yang pernah mendaki Lawu sampai puncak, bahkan beberapa ada yang belum pernah naik gunung sama sekali. Jadi bisa nyampe Pos 4 bagiku adalah pencapaian yang luar binasa.
            “Saatnya tidur. Besok bangun setengah lima, ya, lanjut perjalan lihat sunrise!”
            “Oke!”
            Aku masuk sleeping bag dan mencoba memejamkan mata, tapi enggak bisa. Dinginnya Lawu membuatku susah tidur. Entah pada pukul berapa, aku sangat menggigil dan berada di antara sadar dan tidak sadar. Mulutku menceracau entah apa. Rasanya tubuhku sedingin es. Bernapas pun susah. Aku tahu-tahu dibangunin Mas Riyan dan disodorin teh panas. Mungkin kalau saat itu di antara kami nggak ada yang bangun, aku sudah mati kedinginan. Mana saat itu ada badai pula. Karena nggak bisa tidur dan suasana hati juga nggak tenang, kami menunggu Subuh. Setelah sholat, baru lah aku bisa tidur dengan tenang. Aku nggak bangun sama sekali sampai pukul 7. Sementara itu, cowok-cowok pada sibuk masak. Sekalinya bangun aku langsung makan, hahahahaha. Mereka masak sup, mie instan, tempe goreng, dan sarden. Berasa prasmanan di gunung. Oh, ya, pagi itu kami nggak dapet sunrise. Kabutnya tebeeeeel banget. Jadinya kami baru naik agak siangan. Semua barang ditinggal di tenda.
            Perjalanan dari Pos 4 menuju Pos 5 emang cepet banget, 15 menit doang tapi nanjak. Di sana, kami menemukan warung Mbok Yem yang legendaris itu. Kami juga menemukan sumber mata air. Dulu Septian pernah cerita kalau di sini ada sumber mata air, dan akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung, hiks. Dari Pos 5, kami lanjut ke puncak. Kami motong kompas biar waktunya lebih singkat. Dan Masya Allah, pemandangannyaaaaaa sangat indah! Fix aku bahagia!
            “Ayo, Mbak, sedikit lagi nyampe puncak!” teriak si Vandi dari atas.
        “Mana puncaknya? Kagak keliatan dari tadi!” aku udah lelah gegara jalannya nanjak dan berlumpur.
            “Ituuu di sana. Ayo, dikiiit lagi! Semangat!”
            Dengan sisa-sisa tenaga, aku merambat ke atas. Dan begitu mataku menangkap Tugu Lawu, aku refleks menjatuhkan diri. Sujud syukur. Nangis. Seneng. Benar-benar kayak mimpi. Ya Allah, ini kado terindah! Sungguh! Bisa berjalan sampai puncak adalah bonus yang luar biasa indahnya. Rasanya, semua rasa lelah terbayarkan sudah. *ngelap air mata*
            Memandang lukisan alam maha indah dari puncak, mulutku sontak tercekat. Rasa syukur, haru, bahagia, bercampur aduk jadi satu. Semakin merasa bukan apa-apa di tengah alam ciptaan-Nya. *ngelap air mata lagi*
            Kami berada di atas cukup lama. Ngapain lagi kalau bukan ngambil gambar. Ada-ada aja tingkah konyol anak-anak. Yang bikin ngakak adalah ada salah seorang teman yang dengan pedenya nulis “I Love Your Mom and Ded” dan “You Will Marry Me”. Asli lah aku ngakak kenceng.
            “Maksudmu ‘Will You Marry Me’ mungkin? Hahahaha!”
            Kocak lah mereka semua. Dan seperti biasa, Mas Riyan akan selalu menyempatkan dirinya ngukir tulisan dari batu buat kekasih tercinta. Alay bet, tapi ujung-ujungnya aku ikut-ikutan juga, HAHAHAHA! Tak lama kemudian, kabut tebal pun datang dan kami bersiap turun.
            Setelah membereskan tenda, kami turun. Kami berdoa agar dalam perjalanan pulang tidak menemui kesulitan apapun. Rintik hujan turun pelan-pelan.
            “Gila, jadi semalam kita ngelewatin jalanan curam begini. Untung kita naiknya pas malem ya, coba kalo siang, udah drop duluan kali.”
           Haha, memang. Jalanannya menyeramkan. Tapi hal itu setimpal dengan pemandangannya yang bagus. Coba enggak kabut, pasti lebih keren lagi. Dari Pos 4 ke Pos 3 kami jalan setengah jam doang tanpa istirahat. Di Pos 3, kami istirahat sekitar 10 menit, lalu jalan lagi. Instingku mengatakan untuk terus berjalan dan nggak noleh-noleh. Kejadian semalam terulang lagi. Di beberapa titik, aku merasakan sesuatu. Aku pun berjalan cepat. Gila, baru kali ini aku turun tanpa banyak istirahat. Awalnya sih iya-iya aja, tapi pas nyampe Pos 1, tenagaku sudah mau habis. Aku pengen berhenti, tapi keburu ditereakin Mas Riyan.
            “Bablas aja! Kalau berhenti makin sakit kakinya. Ayo, jalan pelan!”
         "SEKTALA, AKU SEK KESEL!” aku tereak agak esmosi sodara-sodara. Dengan memberengut, aku lanjut jalan cepet banget. Rodo nesu ceritane. Hahahahahaaaaa! Aku jalaaaan terus tanpa berhenti, paling lama mandek ya 10 detik. Tapi memang bener sih, duduk malah bikin kaki sakit. Sesampainya di basecamp, aku bernapas lega. Alhamdulillah, kami semua kembali dengan selamat. Kami sampai bawah sekitar pukul 5 sore, 3 jam perjalanan lah ya dari atas. Malam itu juga kami pulang.
            “Terima kasih, yaaa, sudah menemani kami dari berangkat sampe pulang! Senang mengenal kalian semua!”
            “Iya, sama-sama. Sampai jumpa di pendakian selanjutnya!”
            “Next time Gunung Andong, yuk!”
            “Insya Allah kalo skripsiku kelar cepet, hahahaha!”
            Kami pun berpisah. Aku dan Mas Riyan balik Jogja. Malam itu dinginnya menusuk tulang. Jalanan gelap. Di sebuah turunan, tiba-tiba rem motor blong dan nyaris nabrak mobil!
          “Mas, ati-ati! Pelan-pelan aja!” aku was-was. Perasaanku kembali nggak enak. Untuk mengusir kegalauan, Mas Riyan mulai mendongengiku tentang kisah cintanya dengan Reni. FYI, dia mendongeng dari Lawu sampe Jogja -______-. Kisah romantismenya dibeber dari A sampai Z.
“Kalau ditantang nikah sekarang mah aku berani. Aku pinginnya tuh nanti bla … bla … bla …duh, Dek Reni itu sangat lembut, keibuan bla … bla … dia juga bla … bla …”
Dia amat semangat cerita tanpa sadar kalau dia menghadapi seorang jomblo -______-
            “Mas, tau nggak kenapa aku semalam banyak diem?” tanyaku pas dia brenti ngocehin Reni.
            “Kenapa?”
            “Aku denger suara aneh.”
            “Aneh gimana?”
            “Ada suara cewek …” aku memelankan suara.
            “Hah? Apaan?”
            “Itu … ada suara cewek. Kadang nangis, kadang ketawa, kadang njerit …”
            “SUMPAH?”
            “Sumpah!”
            “Kamu dengernya di mana?”
            “Sepanjang Pos 2 sampe Pos 3.”
            Kami diam. Jeda beberapa saat.
            “Koe ngerti ora?”
            “Apa?”
            “Aku juga mendengar hal yang sama.”
            “Yang bener aja?”
        “Iya. Lihat, deh, tanganku merinding!” Mas Riyan menunjukkan tangan kirinya yang merinding. Tangan dan bulu kudukku juga berdiri. Sontak aku menoleh ke belakang, padahal saat itu jalanan rame, tapi entah kenapa suasana berasa sunyi dan senyap.
            “Mas, aku wedhi …”
            “Nggak papa. Yang penting kita nggak ada niatan buruk kan selama di sana? Kamu nggak ada pikiran jelek, kan?”
            “Enggak. Aku nggak aneh-aneh kok.”
            Kami kembali diam. Sesampainya di daerah Karanganyar, Mas Riyan kembali bicara.
            “Ndi …”
            “Opo?”
            “Tiba-tiba rem-nya nggak blong lagi. Udah normal kayak nggak kenapa-napa.”
            Aku kembali bergidik.
            “Apa mungkin tadi kita diikutin, ya?”
            “Wes, wes, jangan dilanjut. Ayo pulang!”
            Kami pun kembali ke Jogja dengan selamat. Alhamdulillah. Perjalanan kali ini sangat luar bisa. Bisa dibilang, ada banyak keajaiban selama perjalanan. Mulai cuaca yang tiba-tiba cerah dan nggak hujan, bertemu teman-teman hebat, juga pendakian yang terbilang lancar. Alhamdulillah. Ini adalah kado yang tak terlupakan. Sungguh!
            Sesampainya di kos, aku tidak langsung tidur. Nungguin si Anggun. Begitu bocah itu datang, aku lega.
            “Aku tidur kamarmu, ya.”
            “Kenapa?”
            “Aku masih kepikiran sesuatu e.”
            “Kepikiran apa?”
            “Besok aja lah kuceritain!”
           Aku pun tidur di kamarnya, tapi tak langsung memejamkan mata. Di kepalaku masih terngiang jeritan-jeritan di sepanjang jalan Pos 2 ke Pos 3….


Jogja, 17 Maret 2015.
Pukul 04.07 WIB




Ini tenda kami! :D
Demi cinta. *alaaah -___-

Pagi yang berkabut

Makaaaaan! :D
Perjalanan menuju puncak. Banyak yang heran kenapa muka saya tetap cerah. Mau tahu rahasianya? Sempatkan pakai bedak dan lipgloss 5 menit saja! HAHAHA!



Yeay! Kita berhasil mencapai puncak! {}



:')





Banyak yang jomblo, sist. Minat PM saya, ya! HAHAHAHAHAHA!


Lav you, all! 

____

No Comments »

Pada akhirnya, kuputuskan untuk berhenti. Meski hal itu terasa sulit, lambat-laun pasti akan tertelan pusaran waktu. Setidaknya, di dalam sini sudah tidak ada lagi kupu-kupu terbang yang bikin sakit perut. Mereka sudah kuusir jauh-jauh. Aku mulai membiasakan diri untuk terbiasa bersikap biasa-biasa saja. Semoga semua yang kulakukan saat ini dapat mengurangi luka. Ya, luka yang kubuat-buat sendiri.
Aku memang sempat bertanya-tanya. Tentang absurditas antara kau dan aku. Aku meraba-raba dalam gelap. Berusaha memecahkan semua sandi seorang diri. Tetapi apa boleh buat, radarku tidak bisa menangkap apa pun.
Dan ketika jarak itu kurasakan kian jauh, seperti ada yang sekejap hilang dari pandangan. Pada mulanya aku berusaha mencari(mu), tetapi di suatu titik aku merasa lelah sendiri.
Jangan lagi bertanya apa salahmu padaku. Tidak. Kau sama sekali tidak memiliki kesalahan apa pun. Aku lah yang terlalu ceroboh dan tidak berhati-hati mengendalikan hati.
Pesanku untukmu hanya satu: hati-hati lah. Kelak, di suatu masa entah kapan, kau akan tahu. 


NGGEMBEL #2

No Comments »



JELAJAH ALAS PURWO

           
            Sebenarnya pagi itu kami berencana menjelajah dua tempat, yaitu Baluran dan Alas Purwo. Tetapi setelah dipikir-pikir, kayaknya enggak mungkin bisa mencapai keduanya dalam waktu sehari. Baluran letaknya di ujung utara, sementara Alas Purwo di ujung selatan. Untuk mencapai satu tempat, setidaknya kami membutuhkan waktu tiga jam. Daripada tewas di jalan, kami lantas memutuskan ke satu tempat saja. Alas Purwo menjadi pilihan karena letaknya yang lumayan dekat dengan rumah Mas Ilham. Pukul 9 pagi, kami turun dari kawasan Kawah Ijen. Separuh perjalanan kulalui dengan setengah sadar. Kepala meleng ke kanan, kemudian ke kiri. Ngantuk berat, meeen! Berulang kali Mas Ilham tereak-tereak gegara aku hampir jatoh, hahaha. Sebelum masuk ke kawasan Alas Purwo, kami harus melewati jalanan tanpa aspal yang dipenuhi bebatuan besar. Rasanya perutku kocak merasakan jalanan yang nggronjal-nggronjal, mana jauh pula. Kata Mas Ilham, jalanan ini masih terbilang mending kalau dibandingkan dengan Bande Alit. Woah, padahal aku pengen ke sana bareng bapakku -___-‘
            Pukul 12 siang, sampai lah kami di gerbang Alas Purwo. Kami turun sebentar buat foto-foto sambil mengistirahatkan pantat yang terasa tepos. Iya, tepos banget gila. Beberapa menit kemudian, kami menuju pos buat beli tiket. Waktu itu kira-kira tiketnya 25 ribu buat 3 orang. Lumayan murah lah kalau dibandingin Papuma yang 12,5 ribu per orang *ehm. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke arah Pantai Pancur. Oya, di Alas Purwo ini ada banyak banget tempat yang bisa dikunjungi—dan waktu seharian nggak bakal cukup buat mengunjungi semuanya. G-Land adalah tempat yang paling terkenal dan sering dikunjungi turis. Kami pengen sih ke sana, tapi karena keterbatasan waktu, kami jalan ke tempat yang dekat-dekat saja. Sepanjang jalan, kami nengok kanan-kiri. Kali aja beruntung ketemu merak atau monyet. Kami masih punya banyak snack dan kayaknya monyet-monyet itu bakal suka. Tapi ternyata kami tidak menemui hewan apapun, hiks. Sesampainya di Pantai Pancur, kami memarkir motor dan laporan ke petugas. Di tempat ini ada wisata goa juga ternyata, dan untuk mencapai tempat itu kami harus jalan kaki lagi.
            “Nggak usah ke goa, deh. Mending mantai aja!” bujukku. Badanku sudah lumayan mreteli gegara jalanan nggronjal-nggronjal tadi -_-
            Siang itu Pantai Pancur terbilang sepi. Teriknya matahari membuat kami urung ke pantai dan leyeh-leyeh sejenak di sungai kecil dekat situ (sungai atau cekungan air, sih? hahaha). Aku langsung mencelupkan kakiku di sana dan ceessss … segarnyaaaa! Rasanya pengen nyebur, tapi kayaknya itu sungai cukup dalam. Airnya jernih ditambah dengan pemandangan ikan-ikan kecil di dalam sana. Sementara aku bernyanyi-nyanyi kecil, Aka dan Mas Ilham naik ke atas pohon, merasakan angin semilir dan tewas di tempat, ahahaha. Bosan dengan sungai, aku lantas menuju pantai. Sebenarnya pantainya bagus, sayang kotor banget. Pasir putih itu jadi tampak jelek gegara sampah di mana-mana. Aku berlari mengejar ombak, mencium bau laut sepuasnya sambil ketawa-ketawa nggak jelas, hahahaha. Yes, I love beach so much. Nggak ada bosen-bosennya kalau sudah ada di pantai. Aku bisa betah mainan ombak berjam-jam atau berjemur sembari menatap laut lepas. Aku bahkan pernah duduk diam di atas pasir tanpa melakukan apapun entah berapa jam lamanya. Entahlah, ketika aku di pantai semuanya terasa lepas. Menyenangkan. Tetapi siang itu Pantai Pancur sedang galak dan nggak bisa diajak berteman. Ombaknya ganas, jadi aku mengurungkan diri buat nyebur. Setelah puas berlarian nggak jelas ke sana ke mari, aku kembali ke tempat Aka dan Mas Ilham. Rupanya mereka juga agak bosan.
            “Ke Padang Savana, yuk! Lumayan dekat kok dari sini, sekitar 1 km doang,” kata Aka.
            “Yuk! Habis shalat kita ke sana,” sahut Mas Ilham sambil beranjak.
            Kami lantas menuju mushola terdekat, shalat duhur, lalu melanjutkan perjalanan. Tak sampai tiga puluh menit, sampailah kami di kawasan Padang Savana Alas Purwo. Setelah memarkir motor, kami naik ke sebuah gardu pandang dan melihat pemandangan dari atas. Sebenarnya aku agak kecewa sih gegara savana-nya dikelilingi pagar. Maksud hati kan pengen lari-larian di padang savana atau tidur-tiduran di sana gitu, ahaha. Tapi kayaknya ngeri juga kalau tahu-tahu ada banteng atau macam. Siang itu kami belum cukup beruntung. Tidak banyak hewan yang terlihat. Tetapi setidaknya kami cukup puas dengan pemandangan hijaunya savana. Beberapa menit kemudian, aku turun dari gardu pandang dan menewaskan diri di atas meja. Ngantuk berat. Aku sudah berpesan ke Mas Ilham untuk membangunkanku 30 menit kemudian. Dan benar saja, begitu tubuhku nempel di atas meja, aku langsung ilang. Tidur di alam terbuka dengan udara semilir merupakan suatu kenikmatan tak terkira. Baru juga aku bermimpi dimasakin emak, tahu-tahu aku dibangunin. Argh -____-
            “Ayo pulang! Langit gelap banget, kayaknya mau turun hujan!”
            Aku bangun, mengucek mata sembari mengembalikan nyawa, lalu berjalan ogah-ogahan ke parkiran. Masih ngantuk banget. Nyawaku belum penuh benar ketika Mas Ilham menstarter motor. Benar saja, sekeluarnya dari kawasan Alas Purwo kami disambut dengan hujan rintik-rintik yang makin lama makin deras. Awalnya aku bersikeras untuk tidak memakai mantel—toh sepuluh menit lagi sudah sampai rumah Mas Ilham—tapi karena hujannya makin ugal-ugalan akhirnya kami berhenti sejenak buat make mantel. Pukul setengah enam sore, sampailah kami di rumah Mas Ilham dalam keadaan lumayan basah kuyup. Begitu tubuhku menempel kursi, tahu-tahu aku ngilang gitu aja. Ketiduran, hahahaha. Sore itu hujan sangat deras. Diam-diam aku galau. Rencananya sore itu aku mau langsung pulang ke Jember, tapi karena cuaca tidak mendukung jadi Mas Ilham memutuskan untuk mengantarku besok pukul tiga pagi. Hiks … hiks … terharu campur nggak enak. Sebenarnya aku bisa saja pulang sendirian, walaupun aku susah mengingat jalan tapi biasanya aku selalu bisa pulang dengan selamat. Ya, modal mulut lah, tanya-tanya ke orang. Hahahaha.
            Keesokan harinya, kami bangun telat gegara kelelahan, hahaha. Ujung-ujungnya kami pergi pukul setengah lima pagi. Dua lelaki itu mengantarku sampai kos Dila. Setelah mindahin foto ke laptop, kami kemudian sarapan di warung dekat situ. Selesai makan, Mas Ilham nganterin Aka ke Stasiun Jember, lalu pulang ke rumahnya di Banyuwangi. Domo arigatou gozaimasu, dua lelaki superbaik! Terima kasih atas perjalanannya. See you next time …:))


Annyeong!

Ini mah jalanannya masih bagus

Holla, Alas Purwo!

Pantai Pancur

Sungai entah apa namanya 
Padang Savana Alas Purwo




Jember, Selasa 23 Desember 2014
Pukul 15.40 WIB