Janji

No Comments »

Ketika Maret telah berakhir dan janjimu padaku tak jua kau penuhi. Maka, mari lupakan saja. Anggap semuanya tak pernah ada.


Jadi, jangan lagi kau ucapkan maaf. A cattle of fish, right? :)
Percuma. 

Ketika Semangatmu Melemah

2 Comments »

Dan ketika semangat itu melemah, sebuah undangan elektronik nongol di inbox Facebook-ku. Di sana tertulis: Grasindo Goes to Jogja. Aku langsung melompat-lompat di depan laptop. Benar-benar nggak nyangka bakalan dapat undangan eksklusif itu. Acara itu bertempat di Semesta Coffee, sebuah kafe yang terletak di Jl. Abu Bakar Ali. 
Pukul setengah dua belas siang, aku bersiap ke sana. Tidak ada orang yang kukenal selain Mbak Ari, dan aku enjoy saja. Aku termasuk orang yang gampang beradaptasi dengan lingkungan baru, nggak takut sendirian, malah senang karena pasti dapat teman baru :D
Karena motorku rusak dan aku lagi nggak ada duit buat bawa ke Bengkel, aku menyewa seorang tukang ojek yang baik hati. Namanya Pak Minto. Ketika aku sedang jalan kaki menuju jalan besar buat cari taksi atau ojek, beliau memanggilku dari depan rumahnya.
"Ngojek, Mbak?" tanyanya. Aku langsung mengangguk dengan wajah sumringah. Jadi enggak perlu capek-capek nunggu ojek, kan?
Pak Minto ini ramaaah sekali. Beliau sama sekali tidak mengeluh meskipun aku sudah mengomel panjang lebar gegara aksi pawai partai PDI yang heeellll banget! Dan sumpah demi apa pun aku enggak bakal nyoblos itu partai. Kebut-kebutan di jalan, nerabas lampu merah, maki-maki orang seenak jidat, bikin polusi suara, hiiiih! Lu kate itu keren? Kagak!
Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 10 menit jadi molor sejam. Kurang ajaaaar, aku telat! Pak Minto terpaksa mutar arah karena jalanan macet. Gara-gara PDI kampret itu!
Sesampainya di Semesta Coffee, aku berpesan kepada Pak Minto untuk menjemputku pukul 4 sore. Beliau mengangguk sambil tersenyum ramah. Dan aku cukup terkejut karena tarif ojeknya yang terhitung murah. Benar-benar tukang ojek yang tahu kantong mahasiswa! :D

Di acara #GrasindoGoesToJogja itu, aku bertemu dengan banyak penulis yang memiliki semangat "raaawwwrrr" banget. Masing-masing menceritakan pengalamannya masing-masing. Ada yang baru dimuat cerpennya setelah mengalami 120 kali penolakan, ada yang naskahnya baru diterbitkan setelah 2 tahun menunggu keputusan redaksi, ada yang disuruh ngerevisi naskah sampe lima kali, ada yang pernah patah hati banget dan menjadikannya sebuah novel kece, ah pokoknya amazing banget. Bahkan, teman baru yang duduk di sampingku adalah seorang penulis yang baru saja memenangkan lomba novel bergengsi. Namanya Mbak Vita, mahasiswa S2 UIN. Anaknya ramah dan asyik diajak ngobrol sepanjang acara. Setelah acara selesai, kami pun saling bertukar nomor hape. 
"Pokoknya kalau novelnya udah terbit, kasih tahu aku, ya, Mbak. Nanti aku bakal beli!" kataku.
"Ahahaha. Masih lama kok ..." jawabnya sambil tersenyum.
Yeah, salah satu cara untuk mendukung seorang penulis untuk terus berkarya adalah membeli karyanya, bukan memintanya. Karena aku tahu, betapa menulis itu membutuhkan banyak energi dan mental baja. Bikin otak babak belur. Dan aku jelas enggak akan tega minta gratisan setelah melihat perjuangannya. Membeli karya penulis itu bentuk penghargaan, kan? :)

Hampir semua penulis yang menjadi pembicara di acara itu adalah penulis baru. Aku enggak hapal semua namanya sih, maklum aku paling sulit nginget nama orang, hahaha. Penulis yang bikin atiku meleleh adalah Mas Tafrid Huda, penulis novel Dear Gita. Novel itu sesungguhnya adalah kisah cintanya yang menguras hati *eaaa. Ia bilang, "Ini adalah kegalauan yang bermartabat, hahaha. Ketika aku menulis, semua beban menghilang. Dan ketika novel ini diterbitkan, aku udah enggak peduli apakah dia baca novelku atau tidak."
Meeeeen, seketika aku teringat kisahku sendiri yang menggelikan di masa muda, hahahaha. *ngakak, nggak tahan!* 

Selain Mas Tafrid, ada lagi yang menginspirasiku. Aku lupa namanya, yang jelas dia ini anak kedokteran UGM semester 4. Dia pernah dimaki-maki oleh penerbit tertentu gara-gara naskahnya yang dianggap enggak mutu. Ada juga mas-mas ganteng item manis yang aku juga lupa namanya, dia menulis novel yang menurutku amazing. Tadi sempet nyari di toko buku Togamas, dan sialnya udah abis stoknya -____-"

Acara tadi amaaat menyenangkan. Di acara itu, semua undangan yang jumlahnya 50-an itu dapat goodie bag berisi dua buah novel, lima voucher buat beli buku, kaset VCD kepenulisan, dan entah apa lagi. Untuk ukuran mahasiswa kismin macam saya, tentu saja itu bagaikan nemu harta karun, hahahaha. Aku dapat novelnya Mas Tafrid Huda yang judulnya Dear Gita dan novelnya Yudhi Herwibowo yang judulnya Enigma. Aku mendapat banyak pencerahan di acara itu, termasuk mendapat jawaban atas kegalauan seorang penulis untuk menentukan genre tulisan: serius atau populer?

Selesai acara, aku langsung cus ke toko buku Togamas dengan Pak Minto. Dan lagi-lagi telat gegara kampanye PDI, hash. Tapi syukurlah, pas aku nyampe sana acaranya baru dimulai. Ada bedah buku Maya bersama Ayu Utami. Finally, aku melihat Mbak Ayu secara langsung. Cantik. Dia cantik banget. Mungkin kalo aku cowo, aku langsung jatuh cinta sama dia. Hahahaha. Oya, di sana aku juga bertemu dengan beberapa anak sasindo. Ada Muchtar, Galih, Nining, Yosa, sama dua anak 2013 yang lagi-lagi aku lupa namanya. Kami duduk berjajar menghadap Mbak Ayu. Aku merekam acara bedah buku itu di hape bututku. Kapan-kapan kuaplot di soundcloud ah, biar enggak ilang. Selesai acara, aku langsung nyamperin Mbak Ayu dan minta tanda tangan. Siapa tahu kepintarannya nular :3

Oya, acara bedah buku itu di Djendelo Cafe yang letaknya di atas tobuk Togamas. Aku tahu tempat itu tapi baru tadi menginjakkan kaki di sana, hahaha. Aku lebih seneng berlama-lama di toko bukunya sih. Setelah Mbak Ayu cabut, aku lanjutin ngopi di Djendelo sambil ngobrolin hal-hal nggak penting bareng Rengga, teman SMA-ku. Bocah itu terus mencerocos sementara mataku fokus ke lantai bawah. Surga buku. Tahu kalau aku lagi mupeng sama buku, dia pun menyuruhku turun.

"Wes, koni muduno timbang ngiler!"

Hahaha. Niatnya lihat-lihat doang sih, tapi seperti biasa, ujung-ujungnya aku bawa buku ke kasir. Sureprise banget bisa nemuin novel yang udah lama kucari di segala penjuru toko buku. Novel remaja yang isinya tentang peristiwa 65. Yak, Blues Merbabu dan 65 karya Gitanyali. Aku juga nemu novel karya Haruki Murakami yang sekian lama bikin aku penasaran. Maunya aku juga beli novel Maya. Tapi berhubung aku lagi kere berat, aku harus cukup berpuas diri dengan membeli dua novel Gitanyali.


Senang. Senang. Senang.
Hari ini begitu menyenangkan.


Terima kasih, untuk kalian yang mengembalikan semangat menulisku hari ini. Hari ini aku yang menjadi pembaca karya-karya kalian, tapi besok, kalian yang akan menjadi pembaca karyaku. :D



suasana meet and greet 

with Tafrid Huda

with Yudhi Herwibowo

harta karun dari Grasindo :D

<3

Surat Cinta

No Comments »

Sore tadi, aku menerima dua buah surat cinta dari Pak Pos. Ketika menerimanya, ada beragam rasa yang membuncah di dada. Haru, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Melihat dua pucuk surat cinta ini membuatku ingin menangis. Hiks! Seketika itu pula aku teringat perjuangan selama satu bulan kemarin. Di sebuah kampung yang membuatku jatuh cinta sejak menginjakkan kaki di sana, aku melakukan penebusan dosa. Mengapa? Karena pada semester kemarin aku melakukan kesalahan besar: salah jurusan. Ibaratnya, aku ingin pergi ke Surabaya tapi aku malah membeli tiket jurusan Jakarta. Jadi, pada semester ini, aku mengambil jurusan yang sesuai dengan kapasitas otakku. Ah, ya, ini kedua kalinya aku mengunjungi kampung itu. Dan aku sangat berharap bisa kembali ke sana, entah kapan.
Satu bulan telah berlalu. Ah, betapa cepatnya waktu berjalan. Masih tersimpan jelas dalam otakku, tentang segala hal yang kulalui di sana. Perjalanan panjang Jember-Kediri yang disambut dengan meletusnya Gunung Kelud. Aku baru tiga hari di kampung itu, dan bencana terjadi begitu saja. Hingga kini pun bayangan mengerikan itu belum menghilang dari alam pikiran. Hujan batu. Hujan abu. Dentuman dahsyat yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Apa yang kulakukan saat itu? Tetap bertahan. Karena jika aku pulang, aku kalah. Aku tetap bertahan dan berusaha mengabaikan nada khawatir dari orang-orang. 
"Pulang ke Jogja! Sekarang!"
"Segitu cintanya kamu sama Pare. Mo nyari apa di sana? Pulang, Ndi! Pulang!"
"Daripada ngungsi enggak jelas, mending kamu balik!"
"Gimana nanti kalau ada letusan yang lebih dahsyat? Pulang saja!"
Dan seterusnya. Aku membalas ucapan mereka dengan berkata "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja di sini" meskipun sejujurnya aku amat ketakutan waktu itu, hahahaha. Di kepalaku saat itu hanya terbayang wajah Bapak dan Ibu. Orang tua yang selalu mendukungku dalam segala hal itu telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Kalau aku pulang, itu sama saja membuang uang mereka. Meski aku tahu mereka lebih mementingkan keselamatanku daripada uang itu. Dan aku tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan semuanya. Aku tahu diri.
Waktu pun berjalan. Gunung Kelud berangsur-angsur membaik. Justru keadaan ku lah yang kurang baik, puncaknya pada minggu kedua. Aku masih ingat benar, hari di mana aku ingin sekali memaki-maki salah satu teacher dan mengatakan "You are not only chicken, but also not professional!" sambil mencakar-cakar mukanya. Ya, aku tidak akan pernah melupakan kejadian menyebalkan itu selama-lamanya. Pada akhirnya, segala macam makian itu tertelan di mulut setelah beberapa teman berusaha keras meredam emosiku. Meski begitu, aku tetap dengan sengaja memasang muka sengak setiap kali berpapasan dengannya, hahaha. Tahu sendiri lah, wajahku sangat ekspresif dan sama sekali tidak pintar menyembunyikan kekesalan pada orang. Cerita lengkap soal insiden menyedihkan itu akan kuposting kapan-kapan. Intinya sad ending lah. Semua itu terobati di minggu ketiga. Aku bertemu teman-teman dan teacher yang menyenangkan. Satu-satunya hal yang membuatku sedih adalah ketika ujian akhir. Aku benar-benar blank ketika dapat giliran stand up depan kelas. Nggak maksimal. Pengen ujian ulang tapi enggak dibolehin sama Ms Pipi -____-"
Selama dua menit yang menegangkan itu, aku lebih sering mengucapkan "Ngg ...", "I want to ...", dan "Then". Heeeelll banget, seharusnya aku enggak nervous -_-
Dan aku semakin nervous ketika berhadapan langsung dengan Mr. Lex Ross McGuire alias Mr. Alex! Bule Amerika itu sukses bikin aku panas dingin ketika ujian Pronunciation stage II. Yah, begitulah. Ujian akhirnya adalah presentasi sama si Alex, bukan sama Mr. Miftah yang notabene ngajar Pronunciation stage II. Kalau sesama orang Indo kan pasti bisa  mudeng lah ya kalau ngomong, tapi kalau sama native speaker? Hahahaha, berasa denger orang kumur-kumur. Tapi alhamdulillah di menit kedua aku agak rileks karena si Alex ternyata humoris juga. Dan di akhir ujian, si Alex ngasih petuah atas presentasiku. Intinya, "Kembangkan terus potensimu. Saya yakin kamu bisa menjadi penulis besar. Jadi, jangan menyerah!". Selebihnya, aku enggak ngerti dia ngomong apaan karena aku keganjel kosakata yang masih minim. Heuheuheu.


Dan, taraaaa!
Inilah dua surat cinta itu. Surat cinta yang membuatku kembali bersemangat untuk terus belajar agar tidak menjadi bayang-bayang Bapak lagi. Bapak yang jago bahasa Inggris dan anaknya yang alergi bahasa Inggris. Selama 21 tahun aku sering mendengar orang-orang berkata "Bapakmu lho pinter bahasa Inggris. Dicintai murid-muridnya. Tapi kok anaknya malah enggak bisa sama sekali? Kowe dudu anak'e po? Hahaha!". Meskipun aku selalu menanggapinya dengan senyum masa bodoh, tapi sesungguhnya kata-kata itu menusuk banget. Dan diam-diam aku iri campur menyesal. Iri melihat si Bapak yang jago bahasa Inggris dan menyesal karena di masa muda aku selalu kabur setiap kali mau diajarin -____-"


Dua surat cinta ini, aku persembahkan khusus untuk Bapak. 


 





Sejam sebelum final exam bareng Mr. Alex, Bapak mengirimkan sms yang tidak akan kuhapus sampai hapeku rusak.

"Good luck my daughter, as a parents we'll be proud with your spirit. Go on your trying to be best graduation!"


Bulan depan, aku akan membawa surat cinta ini untuknya. :))

Ah, ya, aku pernah menulis resolusi di buku diary milik temanku. Salah satunya adalah "Kembali ke Elfast untuk penebusan dosa. Dan, aku harus lulus apa pun yang terjadi!"

Finally, i made it! :D :D :D


Kemampuan speaking-ku memang belum benar-benar bagus. Sekarang aku masih berada di level bawah. Tapi, suatu saat, aku akan kembali ke Elfast untuk menaklukkan kelas Dynamic Speaking yang berada di level teratas. Kelas itu diampu oleh Ms Tika, seorang teacher yang ingiiiin sekali aku menebus dosa masa lalu padanya. Sebelum pulang, aku berkata padanya, "Miss, suatu saat saya pasti menjadi muridmu lagi. Bukan di kelas Efast One yang pernah mendurhakaimu dulu, tapi di kelas Dynamic. Ya, saya akan kembali ketika sudah bisa memenuhi persyaratan untuk masuk di kelas level teratas. Tunggu saya!"


Mungkin kau mengataiku gila dan terlalu muluk-muluk. Hahaha, tidak apa. Terkadang, kegilaan itu diperlukan untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. :P

Dongeng

No Comments »

Hei. Long time no see! *ngomong sama tembok*


Singkat cerita, udah dua hari ini aku dibikin mumet ama yang namanya dongeng. Iya, itu semacem tugas buat makul Penulisan Karya Sastra. Beda tipis lah ama makul Penulisan Kreatif. Daaan, tugas minggu adalah bikin dongeng buat anak-anak!

Meeeeeen, sumpah ini tugas bikin aku engga mood ngapa-ngapain. Stuck. Serius demi apapun, bikin dongeng itu seratus kali lebih susah dibanding bikin cerpen ato pun novel. Tahu kenapa? Soalnya ini cerita buat dikonsumsi anak-anak, dan bikin tulisan dengan bahasa yang sesuai dengan dunia anak-anak itu kagak semudah bikin mie instan. Berkali-kali aku cuman nulis "Pada suatu hari" tanpa perkembangan apa pun. Kenapa susah banget siiiih??

Beda lah ya kalo nulis cerpen buat remaja atau novel romance, hahahaha. Itu sih dunia yang deket ama aku, jadinya lebih gampang bikinnya. Terbiasa nulis cerita dewasa bikin aku stuck pas disodorin tugas ginian.

Padahal ...


PADAHAL DULU AKU DOYAN BIKIN DONGENG!! *tereak pake toa masjid*


FYI, aku udah demen bikin dongeng atau cerita anak sejak kelas 3 SD. Hampir semua buku pelajaranku berisi coretan dongeng yang ceritanya bener-bener enggak jelas, hahahaha. Dulu aku paling suka bikin cerita dengan latar istana, kepengaruh tontonan  di TV sih. Selain itu, dulu si Bapak amat sangat jago mendongeng. Beliau tidak pernah absen mendongengiku sebelum tidur, so sweet banget kan? :)
Karena itu lah, aku jadi suka bikin dongeng. Setiap hari rutin nulis satu dongeng yang panjangnya sekitar 2-3 paragraf. Maklum, masih kelas tiga SD ._.


Tapi sekarang, kenapa aku enggak bisa bikin? T.T


Tugas ini harus dikumpulkan besok pagi. Ah. Mboh. Aku mumet!

Drama Queen

2 Comments »


      Jam menunjukkan pukul 23.30 WIB ketika ponsel Indi berdering nyaring. Melihat nama yang terpampang di layar, ia mengerutkan kening. Fithri? Tumben sekali belum tidur jam segini.
            “Haiii! Tumben masih melek?” sapa Indi dengan penuh keceriaan.
            “Hiks ... hiks ...”
            Indi menempelkan ponsel lebih dekat ke telinganya. Seperti suara orang menangis. “Fit?”
            “Hiks ... hiks ...” tangisnya makin keras terdengar.
         Indi lantas membiarkannya. Sepertinya Fithri sedang ada masalah. Tiga menit berlalu tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Bingung. Ia memang tidak pandai menghadapi orang yang menangis.
            “Kita ...,” kata Fithri dengan suara terputus-putus, “sebenernya ... kita sahabat bukan, sih?”
            Indi melotot.
            “Kita sahabat bukan, sih? Huhu ...” ulang Fithri di sela-sela isaknya yang kian kencang.
            “Kamu kenapa nanya kayak gitu?” Indi balik bertanya.
           “Selama ini, aku ... aku selalu menyusahkan kalian, ya? Kalian pasti bete kan tiap hari dengerin aku?”
        “Fithri, kamu kenapa sih sebenernya?” Indi jumpalitan di tempat. Ia tidak terbiasa berada dalam suasana melankolis nan menyedihkan seperti ini.
            “Aku tahu, kalian bosan mendengar ocehanku. Rozi bilang, dia nggak mau berteman denganku gara-gara status facebook-ku yang alay setiap hari.”
            “Astaga!” Indi menepuk jidat. “Dia becanda kaliii. Kamu kayak nggak tahu dia aja!”
            “Kemarin ... pas lagi di Bangcok, Budi dan Rozi ngata-ngatain aku. Aku ... sakit hati dengernya.”
         “Mereka ngatain kayak gimana?” darah Indi memuncak sampai ubun-ubun. Oh, ternyata dua begundal itu yang bikin Fithri mewek!
            “Iza ...,” Fithri mengabaikan pertanyaanku, “aku udah jarang ngomong sama Iza. Kayaknya dia marah gara-gara masalah presentasi kemarin. Aku ... aku emang sering nyusahin kalian, kan?”
            Duh! Indi menepuk jidatnya lagi. Ia malah tak tahu apa-apa soal presentasi. Semester ini mereka memang sering bersilangan mata kuliah.
           “Iya, aku memang sering nyusahin kalian. Budi benar, aku itu manja, cengeng, dan kekanak-kanakan. Dia juga bilang ...” Fithri lalu menumpahkan semua isi hatinya.
            Indi mendengarkan dengan cermat. Dan sepanjang curhatan malam itu, ia sangat sering mendengar nama Budi disebut-sebut. Budi begini, Budi begitu.
            “POKOKNYA, AKU NGGAK MAU KETEMU BUDI! DIA JAHAT!”
Indi menghembuskan napas berat. Ia sudah menduganya sejak awal. Satu-satunya orang yang sering bikin Fithri menangis memang hanya dia, begundal Boyolali bernama Budi Wahyono. Hah!
***
            Kuliah Sastra Anak baru saja usai. Budi keluar dari kelas dengan wajah lega. Ini adalah kuliah terakhir dan ia ingin cepat-cepat pulang. Tapi wajahnya langsung berubah ketika menuruni tangga gedung A. Di bawah sana, tampak Indi sedang menunggunya sambil melipat tangan di dada. Wajahnya garang. Perasaannya jadi tak enak.
            “Hei, Ndi! Belum pulang?” sapa Budi sok cool, padahal hatinya kebat-kebit.
            Tanpa mengatakan apa pun, Indi langsung menyeret Budi ke salah satu bangku item yang kosong. Budi duduk sambil meletakkan tasnya di meja. Lihatlah, wajah Indi seperti tukang jagal. Tapi Budi tetap bersikap sok santai.
            “Fithri abis kamu apain?” tanya Indi tanpa basa-basi.
            “Hah?” Budi langsung bengong.
            “Please, Bud, jangan masang muka dongo gitu deh. Itu si Fithri abis kamu apain?” Indi melotot.
            Budi menggaruk kepalanya. “Duh, Ndi ... kamu kenapa sih? Dateng-dateng nanya nggak jelas kayak gitu. Orang si Fithri baik-baik aja kok.”
            “Baik-baik apaan? Dia semalem telepon aku sambil nangis-nangis tahu! Sadar nggak sih apa yang kamu lakuin ke dia selama ini tuh nyakitin hatinya?”
            “Emang dia bilang apaan?”
            Indi pun menceritakan semuanya. Termasuk masalah bullying yang dilakukan oleh Budi dan Rozi di Bangcok.
            “Yaelah, lebay banget,” Budi memasang wajah innocent.
          “Nah kaaaan, ngatain dia lebay lagi!” Indi menjitak kepala Budi dengan kesal. “Sadar nggak sih, Bud? Dia tuh sering bete gegara kamu suka banget ngatain dia seenak udel—walopun kamu niatnya becanda, tapi liat-liat situasi dong. Kamu juga sering kan ngebentak-bentak dia?”
            “Wuahahahaha! Ampun, deh, Ndi. Jadi dia nangis gara-gara itu? Kan aku enggak sengaja. Yaelah, dramatis amat si Pitri. Gimana entar kalo jadi istriku coba? Musti sabaaarrr, Ya Allah ....”
            Plak! Indi memukul kepala Budi dengan gemas. Kenapa dia malah ngakak? Heran! Dan ... apa katanya tadi? Istri? OMG, sempat-sempatnya becanda gituan.
            “Nggak sengaja tapi kenapa keseringan, ha? Lagian, ya ampuuun, Budi! Kamu kan tahu Fithri itu orangnya kayak gimana? Hatinya itu sehalus debu beterbangan. Rapuh dan gampang hancur kalau diterpa badai.”
            “Buahahahaha!” Budi ngakak makin kenceng. “Gembel, sok puitis lu!”
            Indi ikut-ikutan ngakak, tapi cuma beberapa detik saja. Ia kembali memasang wajah serius. “Dan kamu tahu nggak, apa yang sering banget bikin Fithri sakit hati sama kamu?”
            “Apaan emang?”
            “Aduh, Budi! Mukamu lempeng banget sih jadi orang! Serius dikit napa?”
            “Ini aku serius, oncom!” Budi melotot. “Emang mukaku kayak gini sejak lahir, jadi harap maklum.”
            Indi menghembuskan napas sejenak, lalu menatap Budi dengan wajah serius. “Fithri itu nggak suka dibanding-bandingin.”
            “Dibanding-bandingin?” Budi masih nggak ngeh.
            “Iya, kamu sering banget ngebanding-bandingin dia dengan orang lain, dan Fithri nggak suka itu.”
            Budi terdiam.
            “Kamu sering banget kan bilang ‘Pit, lihat tuh si Iza. Udah pinter, kalem, shalihah lagi. Kamu tuh mustinya nyontoh dia, jangan suka cekakak’an nggak jelas’. Meskipun dia sadar, ya, Bud, kalo perkataanmu ada benernya, tapi dia tetep aja nggak suka dibanding-bandingin. Apalagi dibandingin sama orang yang deket sama kita, itu nyakitin banget.”
            Budi masih terdiam. Kali ini ia tidak tertawa. Raut wajahnya tampak sedikit pias. 
        “Besok-besok, kalau ngomong sama Fihtri mbok ya dipikir dulu. Jangan asal nyablak. Dia itu orangnya perasa—yang selalu kamu artikan sebagai lebay—dan sensitif banget. Kamu jadi orang peka dikit dong, Bud. Fithri tuh dari kemarin-kemarin ngerasa kamu jauhin tahu!”
            “Ha? Siapa yang ngejauhin dia? Perasaan kami biasa aja deh,” Budi mengerutkan kening.
            “Nah, kan, nggak peka! Sumpah, ini anak emang pekok banget!” Indi gemas sendiri. “Udah, ah, aku balik dulu, ya! Tolong kata-kataku tadi disimpen di hati, jangan masuk telinga kanan trus keluar telinga kiri. Pikirin baik-baik. Aku cuma pengen persahabatan kita baik-baik aja, nggak ada yang saling menyakiti.”
            Indi pun berlalu. Meninggalkan Budi yang masih tercenung di tempat.
***
            Keesokan harinya. Teras MEC, pukul tiga sore.
            Iza, Rozi, dan Indi tampak duduk lesehan di teras MEC. Hari ini mereka akan mengadakan rapat bulanan KMSI. Sambil menunggu anak-anak lain datang, mereka berembuk mencari jalan keluar atas badai perasaan yang menimpa Fithri. Yeah, apalagi kalau bukan gara-gara Budi pekok itu!
            “Emang sih, Budi kadang suka keterlaluan kalau ngomong. Tapi teh Fithri juga gitu, udah tahu Budi pekoknya kayak gimana, tapi semua omongannya dimasukin ati banget,” kata Iza.
            “She is drama queen, right?” timpal Rozi.
            Indi langsung menimpuk kepala Rozi dengan buku. “Kamu juga! Ngapain pake bilang ogah temenan ama Fithri segala? Sedih kan dia jadinya?”
            “Hellooyeeeeee, aku kan cuma becanda doang. Masa iya aku beneran nggak mau temenan cuman gara-gara status FB, please ...” Rozi memasang tampang nggak berdosa.
            “Oya, emang pas presentasi kemarin ada apaan, sih, Za? Kok Fithri bilang, dia ngerasa bersalah gitu sama kamu?” Indi penasaran.
            Iza mengerutkan kening. “Presentasi apaan?”
            “Itu ... linguistik austronesia kalau nggak salah. Kan aku nggak ikutan makul itu. Emang pas kalian presentasi, ada masalah apa kok sampe-sampe dia ngerasa bersalah banget?” jelas Indi panjang lebar.
            Iza bertambah bingung. “Iya po, dia merasa bersalah? Tapi gara-gara apa? Perasaan nggak ada masalah apa-apa deh ....”
            “Hzzz ... ya udah, nggak usah diterusin, kamunya malah nggak sadar gitu,” Indi geleng-geleng.
            Tak lama kemudian, anak-anak pun datang. Rozi yang bertindak sebagai ketua KMSI langsung memulai rapat. Satu jam berlalu, tapi batang hidung Budi dan Fithri belum tampak juga. Padahal mereka juga pengurus KMSI. Ada apa dengan mereka? Marahan?
            “Ok, mungkin ada saran dari teman-teman terkait persiapan Bulan Bahasa nanti?” Rozi melempar pertanyaan ke forum.
            Beberapa anak tampak mengacungkan tangan. Rozi lalu mempersilakan mereka mengajukan pendapat masing-masing. Setengah jam kemudian, Iza sebagai sekretaris membacakan hasil rapat sore itu. Setelah itu, Rozi menutup rapat sembari mengingatkan agenda minggu depan.
            “Rapatnya udah selesai, ya?” sebuah suara muncul di sela-sela suara berisik anak-anak. Tampak Budi dan Fithri yang berjalan dengan napas ngos-ngosan.
            “Yaelah, udah kelar! Sana balik!” Odeng geleng-geleng melihat mereka berdua, lalu berlari menyusul anak-anak lain ke parkiran.
            Budi dan Fithri cengengesan. Sama sekali tidak tampak seperti habis kena masalah. Indi, Rozi, dan Iza memandang mereka dengan heran.
            “Kalian dari mana aja?” tanya Iza.
            “Ini, abis nganterin si kunyuk satu ini ngisi ulang galon di kosnya. Mana jalanan macet, telat deh!”
            “Kamu, sih, Bud, pake sok-sokan nyari jalan tikus, malah nyasar jadinya!”
            “Berisik, ah! Masih untung aku mau nganter!”
            “Yeee, kan kamu sendiri yang bilang bakalan ngisi galonku kalo abis!”
            Indi, Iza, dan Rozi saling berpandangan, lalu mengangguk bersamaan. Dua anak manusia di hadapan mereka itu memang aneh. Tidak terhitung berapa kali mereka bertengkar, tapi ujung-ujungnya baikan juga. Hari ini menyumpah-nyumpah nggak bakalan menghubungi lah, nggak mau temenan lah, tapi keesokan harinya tertawa-tawa seolah tidak ada masalah apa pun. Ketika berkumpul, mereka sering memperkarakan hal-hal remeh dan berujung pada pertengkaran. Tapi jika salah satu di antara mereka menghilang, maka yang satunya akan bingung mencari-cari. Ya, memang begitulah mereka. Drama Queen.
TAMAT
            Cerpen ini saya persembahkan untuk sahabat saya yang pekok sekali: Budi Wahyono. Selamat ulang tahun yang ke-20, dear. Anggap saja ini kado dariku. Walaupun ceritanya enggak bagus-bagus amat—bahkan cenderung flat, semoga engkau menyukainya :)

*ini pas diposting di blog kok berantakan banget, maap yak .__.

Tentang #BerbagiNasi

No Comments »


Semua ini berangkat dari kekesalan saya melihat sisa nasi yang tercecer setiap harinya. Entah itu di rumah, di warung makan langganan saya, di kantin kampus, di mana pun lah. Coba saja kamu bayangkan, jika semua sisa nasi yang ada di dunia ini dikumpulkan jadi satu, ada berapa banyak orang kelaparan yang terselamatkan? Sering kali kita luput dari masalah yang dianggap remeh tersebut. Pun saya, terkadang dengan sombongnya menyisakan makanan dengan alasan ‘sudah kenyang’ atau ‘lagi nggak napsu makan’. Dan sampai sekarang pun saya masih berusaha untuk tidak menyisakan makanan ketika makan. Wah, kok tulisan ini jadi terkesan bacot banget, ya. Tapi ya sudahlah, saya hanya ingin menyampaikan apa yang ada di kepala saya.
Di suku saya—suku Jawa, ada suatu budaya yang (sejauh pengamatan saya) sampai sekarang masih dipertahankan, yaitu menyisakan sedikit makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah atau pemilik hajatan. Filosofinya, menyisakan sedikit makanan menunjukkan bahwa kita bukan orang yang rakus—selain untuk menjaga imej sepertinya. Kurang lebih sebulan yang lalu, saya dan teman-teman organisasi menerima undangan walimahan. Ada dua alumni yang akan melangsungkan akad pernikahan di Solo. Ketika tuan rumah menghidangkan makanan, saya dan dua orang kakak—sebut saja Mbak Kitty dan Mbak Hening—mulai ngedumel melihat tingkah para tamu. Sebal melihat mereka menyisakan makanan banyak sekali. Hampir separuhnya! Sementara kami menghabiskan makanan kami tanpa sisa. Selain karena memang kelaparan sejak pagi, itu juga merupakan bentuk penghormatan kami kepada tuan rumah. Mereka mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mengolah makanan itu. Kalau tidak dihabiskan, sama saja kami tidak menghargainya. Jadilah sepanjang sesi makan-makan itu kami menggosip tentang makanan yang disisakan. Hah.
Berbicara mengenai makanan sisa, saya ingin bercerita sedikit tentang sebuah komunitas yang saya ikuti (dan saya bersyukur bisa tergabung dalam komunitas tersebut). Kira-kira dua minggu sebelum liburan semester, saya yang sedang asyik twitteran terhenyak melihat sebuah tweet yang di-retweet oleh Kak Erni Aladjai. Tweet tersebut berisi foto #BerbagiNasiJogja. Foto seorang nenek tua yang tertidur di pinggir jalan. Saya pun menelusurinya, juga di FB. Beruntunglah, Mbak Habsari—kakak angkatan saya—saat itu kebetulan memposting informasi tentang komunitas tersebut. Saya langsung bertanya terkait pendaftaran sebagai volunteer dan semacamnya. Dan ternyata dia juga baru akan bergabung dengan komunitas #BerbagiNasiJogja. Yeay, saya ada teman. Saya lalu mengajaknya berangkat bersama, mengingat diri saya yang masih buta jalan. Ya, saya memang memiliki dua sifat buruk yang belum hilang sampai saat ini: susah menghapal jalan dan menghapal nama orang.
Jadi, apa itu komunitas #BerbagiNasi?
Komunitas #BerbagiNasi adalah salah satu komunitas yang bergerak di bidang sosial. Komunitas ini pertama kali didirikan di Bandung, kemudian menyusul kota-kota lainnya, salah satunya Jogja. Kegiatan utama komunitas ini adalah menabung (membagikan nasi bungkus) kepada orang-orang yang tidur beralaskan bumi dan beratapkan langit. Nasi dibagikan setiap hari Jumat malam di tempat yang telah disepakati. Untuk komunitas #BerbagiNasiJogja, markasnya ada di depan Hi-Lab Kridosono, belakang stasiun Lempuyangan. Kami berkeliling Jogja untuk membagikan nasi kepada orang yang berhak menerimanya. Siapakah mereka? Mereka adalah saudara kita yang masih kesulitan untuk mendapatkan makanan bergizi dan teratur, seperti pemulung, pengemis, juga orang-orang yang masih bercapek-capek ria bekerja di malam hari.
Bagaimana cara bergabung dengan komunitas #BerbagiNasi?
Mudah sekali, teman-teman. Cukup berkumpul di markas yang telah disepakati. Kalau kamu tak punya waktu, kamu bisa membantunya dengan menyumbangkan nasi, titip kepada teman yang akan berangkat. Bawalah nasi bungkus sesuai kesanggupan, menu makanan minimal sama dengan yang kamu makan sehari-hari. Kalau tidak mampu membawa nasi, cukup membawa badan dan mari turut membagikan nasi bungkus kepada orang yang berhak. Ya, itulah gambaran sekilas mengenai komunitas #BerbagiNasi. Tertarik untuk ikut? Mari bergabung bersama kami! :D
Saya sungguh senang bisa bergabung dengan komunitas tersebut (dan agak menyesal kenapa tidak bergabung dari dulu saja). Saya baru tahu kalau #BerbagiNasiJogja akan menginjak usia satu tahun. Duh, selama ini saya ke mana saja? Hiks. Sebenarnya sudah sejak dulu saya ingin menjadi volunteer dalam kegiatan-kegiatan sosial, tapi tidak tahu bagaimana caranya.  Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan komunitas ini melalui akun twitter. Alhamdulillah.
Saya masih ingat hari pertama saya bergabung dengan komunitas itu, empat hari sebelum pulang kampung. Hari itu memberikan kesan tersendiri buat saya. Setelah mengatur waktu sedemikian rupa (saat itu saya kebetulan ada acara di organisasi lain), akhirnya saya bisa bergabung dengan #BerbagiNasiJogja. Saya berangkat ke Hi-Lab Kridosono bersama Mbak Habsari. Dia yang menjadi penunjuk jalan. Ternyata tempatnya dekat sekali, hehehe. Malam itu, pejuang nasi yang terkumpul sekitar 30 orang dengan jumlah nasi 202 (kalau tidak salah). Kami terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok ke arah utara dan satu kelompok ke arah selatan. Saya dan Mbak Habsari kebagian kelompok utara, di daerah sekitar Tugu Jogja. Dengan dipandu  Kak X (lupa namanya) yang menjadi kapten kelompok, kami mulai berkeliling membagikan nasi. Ada yang bergemuruh di dada saya ketika melihat pemandangan itu. Orang-orang yang tidur di emperan pertokoan tanpa selimut, senyum tulus mereka ketika menerima nasi, seorang ibu-ibu yang menangis sambil mengucap syukur, juga orang gila yang tertawa-tawa sambil memegang nasi yang kami berikan.
Melihat mereka, saya tiba-tiba teringat dengan para tetangga saya yang istilahnya bernasib kurang beruntung.  Tentang Mbah Y yang gantung diri karena masalah ekonomi. Tentang sepasang suami-istri yang berada di bawah garis kemiskinan tapi semangat untuk bekerja. Tentang si Z yang menjadi gila karena terlilit hutang (dan pada akhirnya dipasung di dalam bilik yang tampak mengenaskan). Juga tentang Mbah T yang hidup sengsara, sementara anak-anaknya menjadi orang sukses dan hidup mewah. Saya masih ingat ketika salah satu dari mereka mendatangi Ibu dan berkata, “Ka, boleh saya meminta sedikit nasi? Sebentar lagi suami saya pulang dari mencari kayu di hutan. Kami belum makan sejak kemarin. Saya nggak papa nggak usah makan, yang penting suami saya bisa makan. Saya nggak tega melihatnya pulang dan tidak menemukan apa pun di dapur”. Tanpa banyak bicara, Ibu langsung mengambil nasi dan lauk di dapur. Bagaimanalah kami sanggup menelan makanan sementara tetangga kelaparan? Ora mentolo!
Dan komunitas #BerbagiNasiJogja sungguh mengajari saya banyak hal. Malam itu, saya melihat dunia dengan lebih dekat. Bahwa saya harus senantiasa bersyukur karena di luar sana masih banyak orang yang lebih tidak mampu dibanding saya.