Ngobrol

2 Comments »

Sambil menunggu sate matang, kami duduk di pinggir jalan. Menatap ratusan mobil dan motor yang berseliweran.

MR: Pacarmu sekarang anak mana, Ndi?
I     : Nggak ada, Mas. Kosongan aja. Aku males karo lanangan je, hahaha.
MR: Mending nggak usah deh, Ndi ...
I     : Kenapa emang, Mas?
MR: Nanti kamu makan hati. Nguras pikiran, nguras segalanya deh.
I     : Kowe curhat, Mas? Hahaha!
MR: Hahahasem!

Lalu mengalirlah cerita itu. Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengembuskan napas. "Sing sabar yo, Mas ..."


Cinta.


Ah, cinta.


Cinta yang kadang-kadang jadi taik sekali. Cinta ... cinta ... cintaaaaaaik. Tuh, kan, akhirannya taik. Hahahahah!


Pacaran?

Setiap kali mendengar kata itu, yang ada di pikiranku adalah: emang kalo pacaran ngapain aja si? Paling keluar bareng, teleponan, makan bareng, jalan-jalan.

Dan aku bisa melakukan semua itu bersama teman-temanku.
Lalu bagaimana dengan someone special?




Someone special?
Hah, sejujurnya aku malas sekali memikirkannya. Ha njuk ngopo dipikir jeru-jeru? -_-


"Kowe ra doyan cowok a, Ndi?"
"Doyan lah. Aku normal."
"Hla kok aku ga pernah lihat kamu deket sama orang? Atau pacaran gitu?"
"Males, hahahaha."
"Mosok kamu ga pernah kepikiran punya pacar gitu, Ndi?"
"Pernah lah, tapi njuk meh ngopo ngono loh?"
"Yo kan lumayan ntar ada yang bisa nganter-nganter kamu ke mana lah ..."
"Aku gak nyari tukang ojek! Hahahahah!"



Menjalin hubungan lebih dengan laki-laki?
Hah.  Isih rak kepikiran.



Memangnya kaupikir menghapus borok di hati itu pekerjaan yang mudah?
Oh, dear, jangan ajak aku bicara tentang cinta yang bisa berakhir dengan taik itu. Aku tak ingin membahasnya.

Dalam Berlembar-lembar Kisah

No Comments »

Berlembar-lembar kisah kutulis sudah
Agar luruh segala amarah
Tetapi wahai, kebencian itu kian parah


Sungguh mati tak ingin melihat wajahmu di belahan dunia mana pun
Sungguh mati tak akan mempercayaimu sampai kapan pun
Sungguh mati tak sudi bekerja sama denganmu dalam hal apa pun


Dalam kisah itu
Kusumpahi dirimu dengan sepenuh hati
Kucaci-maki dirimu dari jancuk sampai anjing
Dari bangsat sampai taik kucing
Juh!
 Dalam kisah itu
Kubangun kembali mimpi yang telah kau robohkan
Kukumpulkan kembali semangat yang tercecer di jalanan
Kupanggil kembali kepercayaan diriku yang terusir bersama angin malam


Dan lara hati tak kunjung usai, wahai
Seperti luka yang bertabur garam
Nyeri tak tertahankan


Yogyakarta, Jumat 13 September 2013
Pukul 23.30 WIB

Kau

No Comments »

Aku melihatmu lagi. Untuk yang kesekian kali. Wajahmu tampak samar-samar, lantas pergi. Begitu berulang kali. Peluh bercucuran setiap kali aku terbangun. Dan ketika kulirik jam di dinding, jarum menunjuk angka tiga. Ya, pukul tiga pagi. Apa yang kau lakukan? Mengapa mendatangiku ..., lagi?

Pasti ada yang salah.


Ya, aku yakin. Pasti ada yang salah dengan alam bawah sadarku.


Kenapa?
Apa maksudmu menemuiku beberapa hari ini?


||
|
||

Bagaikan air dan api yang tak bisa menyatu, kurasa seperti itu. Aku dengan segala kebebasan dan keliaranku, sementara kau dengan segala sikap posesif yang berusaha keras mengukungku. Kau bilang, tak boleh seperti ini tak boleh seperti itu. Selama berada di sisimu, kau tak akan membiarkan siapapun mendekatiku. Tidak dengan dia, dia, atau dia.
"Aku tak suka dengan sikapmu!" bentakku.
"Aku melakukannya karena kau. Aku tak ingin kehilanganmu untuk yang kesekian kali." Kau tetap bersikukuh.
"Aku tak akan pergi ke mana-mana. Jangan kekanak-kanakan!"
"Siapa yang kekanak-kanakan? Aku hanya berusaha melindungimu"
"Ralat! Kau mengekangku!"
"Aku mencintaimu. Sungguh."
Aku terdiam menatapmu.
"Aku mencintaimu. Sungguh ...," ulangmu.
Lalu bibirku membisu.
"Kau percaya padaku, kan?"
Aku bergeming. Kutatap dalam-dalam kedua bola matamu. Benarkah ini?"

||
|
||


"Mengapa kau melakukannya?" tanyaku datar. Air mataku telah kering.
"Aku ..."
"Mengapa kau membohongiku?"
"Aku ..."
"Beginikah caramu mencintaiku? Melakukan kepura-puraan demi mengambil hatiku?"
"Bukan begitu. Aku hanya ..."
"Maaf, aku tak percaya padamu lagi. Mulai saat ini, aku akan melupakan apapun yang telah kita lalui di hari kemarin."

Kemudian kau dan aku saling menjauh.


||
|
||


"Baginya, kau tak tergantikan," kata temanmu.
Aku berdeham. "Apa maksudnya mendatangiku bermalam-malam ini?"
"Dia merindukanmu."
"Hm. Lelaki posesif itu ..."
"Dia akan pergi jauh."
"Ke mana?"
"Berkeliling dunia. Ehm, kurasa ... dia mendatangimu karena ingin berpamitan padamu."
Aku tersenyum. "Ya."
"Kau memaafkannya?"
"Selalu."
"Kau ...."
"Tapi sampai kapanpun, air dan api tak akan pernah bisa bersatu, kan?"


||
|
||


Jadi, kuucapkan selamat jalan. Untukmu yang mendatangiku bermalam-malam lalu ...




Random

No Comments »

Aku selalu suka dengan topik obrolan yang spontan dan random. Seperti siang tadi, aku, Hamdan, Fuad a.k.a Fufu lagi makan di bonbin sambil ngobrol nggak jelas. Oh, ya, ada Pitri juga tadi, tapi dia cuma diem alias lagi badmood, hahaha. Obrolan kami bermula dari peluang di dunia kerja. Dan ternyata kami bertiga memiliki satu kesamaan: ogah kerja kantoran, hahaha. Kami benci dengan seragam, jas, dasi, sepatu, dan hal-hal resmi lainnya. Juga sama bencinya dengan pekerjaan yang amat mengikat.
"Umumnya orang kalo udah lulus kuliah pasti nyari kerjaan. Hla nek kabeh mikir koyo ngono, lak yo susah rek golek kerjoan? Uwong grudukan golek kerjo, dudu nggawe kerjoan. Buyar ndunyo," kataku.
"Hahaha, iyo. Aku se pinginnya nanti buka usaha. Jadi bos-nya tukang sayur, atau bos-nya pengusaha rongsokan. Walau kelihatan sepele, tapi kan iso nguripi wong liyo," tambah Fufu.
"Iyo rek, aku ga bisa bayangin gimana rasanya kerja dari pagi sampai malam, di dalam ruangan dan ngadep laptop. Aku bisa mati muda, hahaha!" kata Hamdan.
10 menit kemudian topik berubah ke film India, hahahaha jan random tenan og. Awalnya aku rada curhat soal diriku yang susah nangis pas nonton film. Sesedih apa pun kata orang, kalo aku yang nonton bakal jadi biasa aja. Satu-satunya film yang bikin aku nangis guling-guling hanyalah BLACK, film India yang diadaptasi dari kisah Hellen Keller. Iyuh, itu nangisnya udah meraung-raung kaya apaan aja. Nah, berawal dari situlah si Fufu ngomongin film India yang selalu bikin atinya meleleh. Hahahaha.
"Tema cinta di film India itu beda sama film Indo. Film India tuh lebih greget, alurnya sulit ditebak, dan endingnya sering ga terduga. Pernah nonton film Rab Ba Nana Jodi?" kata Fufu.
Hamdan menggeleng. Aku lupa-lupa ingat. Dan Fithri bengong entah mikirin apa. Tanpa menunggu jawaban dari kami dia langsung cerita panjang lebar, lalu dilanjutkan dengan cerita film India yang lain. Aku ngakak pas dia bilang kalo dia nangis ato ngenes pas nonton film ini dan itu.
"Tampang preman, tapi atine alus," kata Hamdan.
"Kalian masih ingat Kuch-kuch Hota Hai?" tanyaku tiba-tiba.
"Ho'o. Nyapo?"
"Aku dulu pas SD seneng banget nonton film India. Nah, kemarin-kemarin ini aku iseng nonton Kuch-kuch Hota Hai, lupa ama ceritanya. Dan aku mewek coba, hahahahahaha!"
"He'e?" mereka terheran-heran.
"Iyoooo, critone kuwi hlo, nancep lan nggerus ati reeeek. Percaya nggak kalo cewe sama cowo bisa bersahabat?"
Mereka menggeleng. "Enggak."
"Menurutku, cewe sama cowo ga bakal bisa hanya sekadar sobatan doang kalo udah dekeeettt banget. Pasti ada lah perasaan walo cuma setitik," kataku.
"Setuju! Mo bilang 'dia ini sahabatku' kek, atau 'dia udah aku anggap adikku sendiri' kek, tetep aja ga bisa ngilangin risiko jatuh cinta. Selama ga ada hubungan darah, peluang buat lope-lopean pasti ada," kata Fuad.
Nah, kaaaan! Kubilang juga apa. Fuad yang cowo aja mengamini.
"Jan tenan, rek, film Kuch-kuch Hota Hai itu bikin ati rontok. Bagaimana perasaanmu ketika kamu dekaaaattt sekali dengan seseorang, trus tiba-tiba dia pergi dengan orang lain?"
"....."
"Dan bagaimana perasaanmu ketika orang itu ternyata memiliki perasaan yang sama denganmu? Sialnya, kamu mengetahuinya ketika dia telah bersama 'pilihanya'?"
"Wooooh, kuwi nggerus tenan. Hahahah!" Fuad ngakak.
"Bagaimana perasaanmu ketika tahu bahwa alasan dia nggak bilang hal yang sebenarnya karena ..."
"Takut ditolak?"
"Takut merusak persahabatan?"
Aku mengangguk. "Ho'o."
"Eh, Ndi, matuk'e kowe nggawe cerpen ae tentang kuwi. Apik, Ndi, tenan!"
"Ndasmu sempal!" Aku memonyongkan bibir.
Anak-anak ngakak. Lalu beberapa menit kemudian kami pindah ke bangjo. Baru 5 menit duduk, datanglah Mas Mbes. Obrolan semakin random dan absurd. Mulai dari curhat topik skripsi, ngeluh soal jenis mata kuliah basi yang bikin Pak Aprinus munek, bahas persiapan pementasan, sampai ngrasani status Prof. Faruk di FB yang bikin gempar.

Pengalaman beberapa hari ini di mushola fib menunjukkan, orang cenderung sembarangan memilih imam. emangnya setiap orang, asal sholat duluan, sudah bisa dianggap siap jadi imam? sebegitu mudahkah?

Dari status itu lalu merambat ngobrolin masalah agama, bagaimana proses seorang manusia dalam menemukan tuhannya. Beberapa detik kemudian bahas pernikahan beda agama, surga dan neraka, reinkarnasi, penciptaan Adam dan Hawa, beribadah karena ngarep surga, lalu merembet ke perjalanan hidup WS Rendra, seorang sastrawan yang memeluk Islam setelah berpindah-pindah agama. Dia pernah memeluk agama Hindu, Budha, Katolik, Kristen, bahkan pernah ateis. Sebulan memeluk Islam, Allah memanggilnya. Merinding aku ketika mendengar cerita dari Fuad dan Hamdan. Obrolan lalu berakhir karena mereka harus shalat Jumat.

Malam harinya, tanpa ada rencana sebelumnya, Hamdan ngajakin ke rumah budaya Tembi. Ada pertunjukan puisi, free dan banyak makanan, hahaha. Berhubung aku lagi judeg dan butuh hiburan, aku ngangguk-ngangguk aja. Aku, Fithri, Hamdan, dan Kemal akhirnya blakrak'an ke Tembi jam 8-an setelah ngisi perut di daerah Selokan Mataram. Pas nyampe Tembi, kami langsung disuguhi pertunjukan puisi dari para penyair keren. Alangkah menyenangkannya menikmati puisi sambil minum kopi, di bawah sinar rembulan. Damai. Musik yang mengiringi pembacaan puisi pun diatur sedemikan rupa. Keren. Kereeeennn banget!
Nah, pas mo penutupan, kami dikasi kesempatan buat baca puisi. Hamdan dan Kemal maju, aku yang ngerekam. Sumpah, tanpa latihan dan persiapan apa pun! Spontan Hamdan bikin puisi, dan Kemal metik gitar. Woooiiii, mereka berdua keren! :D
Eh, tapi sepenglihatanku tadi, kayanya kami berempat adalah penonton termuda, hahaha. Kebanyakan udah bapak-bapak atau ibu-ibu gitu. Tak apa lah. Pokoknya hidup Sastra Indonesia!
Jam setengah 11 aku baru nyampe kosan dan langsung nyalain laptop. Lalu entah mengapa aku teringat Prof. Faruk dan WS Rendra. Aku teringat status Prof. Faruk yang dalem banget.

Bila aku sujud
Bukan karena aku takut
Hanya untuk selalu mengingat

Kesendirian tak pernah ada

Dan mengenai WS Rendra, aku merinding dengan salah satu puisinya yang tak lain adalah rangkaian hidupnya ketika mencari tuhan. Judul puisi itu adalah "Suto Mencari Bapa", sebuah puisi yang begitu panjang, sepanjang perjalanannya dalam menemukan jawaban atas persoalan terpenting dalam hidupnya: kemerdekaan individu sepenuhnya. Pokoknya, aku suka dengan hal-hal random yang terjadi hari ini!



Dua Kutub Magnet

Baca selengkapnya » | No Comments »



           Siang itu, kami berlima lagi ngumpul di rumah Zulfa. Aku, Anggun, Zulfa, Dian, dan Novi. Sebenernya kurang satu, si Dilla, tapi waktu itu dia lagi mudik. Di siang bolong, obrolan kami random banget. Absurd, tapi lama-lama jadi penting buat dipikirin. Halah.
            “Percaya nggak kalo cewe ama cowo bisa bersahabat dekat?” tanya Novi.
       “Nggak! Nggak bakalan bisa! Paling mentok-mentoknya juga jadi temen seru-seruan. Tapi kalo hubungan itu terlalu intens, bukan sahabat lagi namanya.” Jawabku.
            “Trus apa?”
            “Yah, pasti salah satu di antara mereka bakal ada yang suka.”
            “Ah, sumpe?”
            “Sumpe dong!”
            “Eh, tapi kan temenmu banyakan cowo, Ndi. Pernah sampe suka gitu nggak?”
            “Sejauh ini belum pernah, sih …”
            “Iyalah, ente kan cowo juga! Hahahahahaha!”
            “Sial!”
          “Hahaha.  Kan dirimu sukanya sama orang yang susah digapai. Ujung-ujungnya patah hati guling-guling. HAHAHAHA!”
            SIAL -_________-
            Oke, back to topic. Ngomongin masalah persahabatan cewe ama cowo emang nggak ada abisnya. Bikin kontroversial. Hahahahaha. Pertanyaannya, ada nggak sih persahabatan antara cewe ama cowo? Dari dulu gue berkeyakinan kalo cewe ama cowo itu sah-sah aja bersahabat. So what gitu loh? Tapi, itu duluuuu. Sekarang gue berpikiran sebaliknya: cewe ama cowo nggak bakal bisa bener-bener pyur jadi sahabat. Kalo pun bisa, perbandingannya mungkin 1 banding sejuta, hahaha. Gue nggak bikin riset resmi sih, cuman sejauh pengamatan gue selama 6 taun terakhir *heleh*, kok nggak ada ya persahabatan cewe cowo yang bener-bener tulus? Dalam artian, nggak ada pihak yang nggak naroh perasaan. Pasti adaaaa aja yang suka, entah itu si cewe ato cowo, ato malah dua-duanya.

Kau

No Comments »


Setengah sadar, aku merasakan sebuah tangan menyentuh keningku dan mengusapnya  pelan. Tubuhku yang menggigil karena demam, entah mengapa terasa dingin seketika. Jantungku berdetak tak beraturan. Tangan siapa itu? Aku mencoba membuka mata, tapi sangat susah. Lengket seperti tertimbun jutaan ton lem.
“Tidur saja, Ai-chan. Jangan memaksakan diri membuka mata. Kau harus banyak beristirahat agar cepat pulih,” sebuah suara merasuki gendang telingaku.
            Keningku mengkerut. Suara ini … aku kenal dengan suara ini! Tak peduli dengan perintahnya, aku memaksakan diri membuka mata. Pandanganku yang awalnya memburam perlahan-lahan menjadi jelas. Kuedarkan pandangan, lalu mataku tertumbuk pada seorang manusia yang duduk di samping ranjang tempatku terkapar.
            “K-kk … kau?” ucapku terpatah-patah. Antara kaget bercampur senang.
      “Sudah kubilang, jangan memaksakan diri membuka mata. Sana, lanjutkan tidurmu. Aku akan membangunkanmu 2 jam lagi,” katamu sembari membetulkan letak selimutku, lalu menutup pintu kamar begitu saja.
            Aku menepuk-nepuk pipiku. Benarkah itu kau? Aku tak dapat berpikir lebih jauh lagi. Karena di detik selanjutnya, mataku kembali tertutup rapat.

###

            Sore ini, kau membawaku berkeliling taman rumah sakit. Dengan ceria kau mendorong kursi rodaku, lantas bercerita panjang lebar tentang segala hal yang kau rasakan di negeri matahari terbit. Aku tak tahan untuk memotong ceritamu.
            “Mengapa kau kembali ke sini?” tanyaku.
            “Eh?”
           “Mengapa kau kembali ke sini?” tanyaku lebih keras, lalu menambahkan “setelah setahun lamanya kau pergi begitu saja”. Tentu saja kalimat terakhir hanya mampu kuucapkan dalam hati.
            “Mm … kenapa? Memangnya tak boleh?” katamu.
            Aku menggeleng. “Tentu saja boleh. Jadi, mengapa kau menemuiku?”
          “Aku butuh bantuanmu, Ai-chan. Kau tahu, tanpa kau, aku tak akan bisa melanjutkan mimpiku di negeri itu,” katamu.
            Aku mendengus. Jadi, kau datang hanya ketika kau membutuhkanku?
            “Kumohon …, bantu aku.” Kau kini berdiri di hadapanku, memohon dengan wajah iba yang sangat lucu.
            Aku tergelak melihatmu. Wajah itu … wajah yang kutendang jauh-jauh selama satu tahun terakhir. Tidak sadarkah kau? Bahkan setelah aku berlari hingga bermil-mil jauhnya, kau tetap saja mendatangiku sesuka hati. Tersenyum seperti biasa, lalu pergi tanpa basa-basi. Tahun lalu, dan juga tahun ini. Lalu, apa lagi? Kau bahkan selalu bisa menemukanku di mana pun aku bersembunyi!
            “Ai-chan,” panggilmu lagi.
            Aku mendongak. Hanya kau yang memanggilku seperti itu. “Ya?”
            “Kau mau membantuku, kan?”
            “Tentu saja. Aku akan selalu membantumu,” aku mengukir senyum pada bibirku yang pucat.
        “Yatta …! Kau memang malaikat penolongku. Kau harus cepat sembuh, Ai-chan,” katamu, lalu kembali mendorong kursi rodaku.
            Malaikat penolongmu kau bilang? Lalu, aku harus menyebutmu apa, ketika menyebut namamu pun aku tak mampu? Jika teman-temanku tahu kau ada di sini, mungkin kau akan diusir sejauh mungkin dariku. Kemudian, mereka akan menyumpahiku habis-habisan. Sumpah yang berlandaskan kasih sayang seorang teman. Mereka akan kembali membodoh-bodohkanku, memaksaku untuk tidak melakukan apapun yang kau minta. Karena baik mereka maupun aku tahu, kau akan pergi setelahnya.
            Tapi, tahukah kau? Kepalaku selalu mengangguk setiap kali kau memohon dengan wajah lucumu itu. Apapun yang kauminta, sebisa mungkin kuberikan. Aku tak pernah keberatan menguras seluruh energi dan pikiranku demi membantumu mewujudkan mimpimu. Mimpi yang sama seperti mimpiku. Mimpi yang telah berhasil kau capai, sementara aku di sini masih berusaha keras untuk meraihnya.
            Terkadang aku berpikir, mengapa kau dan aku dipertemukan dengan cara yang aneh, dan berpisah dengan cara yang menyakitkan. Tahun lalu dan tahun lalunya lagi, kau mendatangiku dengan tiba-tiba. Memperkenalkan diri, lantas mengatakan bahwa kau ingin bekerja sama denganku. Dan kau membuatku stress sejak saat itu. Stress menghadapi mahasiswa bodoh sepertimu. Lalu, di tahun berikutnya, kau lagi-lagi datang di saat aku tak ingat siapa dirimu. Sesuai dengan tebakanku, kau meminta bantuanku untuk memecahkan persoalan akademikmu. Kalau kau tak menyelesaikannya tepat waktu, maka kau akan mati. Dan aku seakan-akan menjadi malaikatmu saat itu. Ya, hanya ‘seakan-akan’, karena pada kenyataannya kau tak pernah benar-benar bisa ‘melihatku’ dengan hatimu.
            Di masa itu, aku sadar ada yang berubah pada diriku. Berbeda dengan tahun sebelumnya, ketika aku membantumu dengan penuh jengkel dan menggerutu setiap saat, kini aku membantumu dengan senang hati. Kau heran? Apalagi aku. Aku, dengan segenap hati, membantumu berjuang melewati segala rintangan. Hingga impian itu berhasil kau raih, kemudian kau pergi begitu saja. P.E.R.G.I. Ya, pergi tanpa kau sadari sama sekali bahwa kau telah mematahkan sepotong hati.
            Dan ketika aku telah mencapai sebuah tempat yang jauhnya ber-mil-mil dari tempat pertemuan kita, tiba-tiba kau datang. Kau datang di saat aku tengah terkapar seorang diri. Di tempat sejauh ini, bagaimana mungkin kau dan aku masih dapat bertemu? Dan yang lebih aneh, di tengah kondisiku yang tak sehat sama sekali, mengapa aku masih menganggukkan kepala atas permintaanmu?
           
###

            Dan sesuai dengan dugaanku, kau pergi begitu saja.
            “Terima kasih, Ai-chan!”
          Hanya itu yang terucap di bibirmu, lantas kau kembali meninggalkanku di sini. Tanpa basa-basi. Tanpa permisi. Tak peduli seberapa panas otakku membantu pekerjaanmu, aku selalu melakukannya dengan senang hati. Meski pada akhirnya aku tahu, kau akan pergi lagi, tanpa bisa ‘melihatku’ dengan hatimu yang buta.
            Ini sudah tahun kedua, bodoh. Dua bulan lagi status mahasiswaku akan menginjak tahun ketiga. Dulu kau pernah bilang, kau akan kembali ketika musim semi. Di bulan di mana aku dilahirkan di dunia ini. Dan saat itu, usiaku telah mencapai 21 tahun. Aku hanya memohon satu hal kepadamu: ketika kau pulang, jangan temui aku lagi. Jangan meminta tolong apapun padaku. Ya, aku akan kembali berlari ber-mil-mil hingga kau tak dapat menemukanku lagi.

Pare, Rabu 17 Juli 2013.

CERITA PARE#PART 5

No Comments »



            Pagi ini aku akan segera pulang. Ah, sedihnya… rasanya kaya nggak mau pulang deh, serius. Kalo inget pas ngobrol ama temen-temen kemarin jadi pengen nangis ih .. :(
            “Malam ini malam terakhir kita di Pare…”
            “Iya. Kok jadi sedih gini, ya?”
            “Nggak pengen pisah …”
            “Ah, kenapa harus ada pertemuan kalo pada akhirnya kita akan berpisah?”
            “Sayang ya, kita baru akrab banget pas di hari-hari terakhir gini. Inget nggak? Dulu pas kita masih awal masuk, itu kelas krik krik banget. Sepi. Kita cuman dateng, duduk, dengerin, nyatet, pulang. Nggak ada saling sapa. Ngobrol cuman sekadarnya doang.”
            “Ih, kok sedih gini, sih …”
            “Tahu nggak? Udah 4 hari terakhir ini aku pengin nangis tahu. Kayak nggak rela kalo pulang besok …”
            “Iya, aku juga. Biarpun aku cowok, bisa mewek juga kalo kayak gini. Nyari pacar itu gampang bro, tapi kalo sahabat? Ini persahabatan kita meeeeen. Sebulan kita di sini, bareng-bareng dari pagi ampe malem. Kita dateng dari berbagai daerah, nggak saling kenal …”
            “Udah … udah … jangan diterusin, ah. Sedih nih …”
            “Kapan kita ketemu lagi?”
            “Iya … kapan ya? Belum tentu tahun depan aku ke Jawa lagi …”
            “Aku juga belum tentu bisa maen ke luar Jawa, ke tempat kalian … Kapan ya bisa kumpul-kumpul lagi?”
            “Kalo kita dateng ke undangan reuniannya Miss Tika, masih 9 tahun lagi…”
            “Ah, lamanyaaaaa…”
            #SKIP#
            Nggak sanggup ngelanjutin. Udah pengen nangis aja nih pagi-pagi. Sumpah, sedih bangeeeeet! :’(  Nggak relaaaaa pulang pagi iniiiii! Masih pengen belajar bareng kalian. Masih pengen becandaan di kelas, masih pengen bersepeda bareng keliling Pare, masih pengen ngerasain perjuangan melewati ujian demi ujian, masih pengen … masih pengeeeeeen, aaaaaaaaaaaaaaaaaakk!
            Aku pengen nulis banyak hal pagi ini. Tapi nggak kuat. Waktunya juga udah mepet. Om-ku bentar lagi jemput. Ah, pulang. Selamat jalan, teman-teman. Selamat pulang. Sampai jumpa di lain kesempatan! I do love you … :’)
Pare, Kamis 1 Agustus 2013. Pukul 07.13 WIB.


created by: Granpa

CERITA PARE #PART 4

Baca selengkapnya » | No Comments »


            Aaaaaaaaaaaaaaaakkkk!! *tereak pake toa masjid* Terlalu banyak yang pengen kuceritakan malam ini, tapi aku ngantuk, hoaaaaahm. Aaaargh, nggak … nggak boleh! Aku kudu tetep melek sampe tulisan ini kelar! Mumpung lagi selo (pura-pura lupa ama ujian), ayo nulis, Ndi!
            So, dari mana aku memulainya? Isi kepalaku udah mo numplek, terlalu banyak yang diendapkan beberapa hari terakhir. Dari mana … dari mana … nggg … baiklah, aku akan mulai dari UJIAN. Yaps, ujian yang bikin aku nangis darah dan pengen balik ke rumah saking lelahnya. Jadi, di E-Fast One ini ada 2 program, basic program I dan basic program II. Di basic program I ada 3 ujian, yaitu multiple choice, writing, sama modal. Kalo di basic program II belum tahu, belum ujian soalnya. Nah, di basic program I ini, aturannya harus lulus multiple choice dulu kalo mau ujian writing dan modal. Kalo multiple choice nggak lulus, jangan harap bisa ikut ujian writing dan modal sampe kiamat. Di ujian multiple choice ini, bisa dibilang aku frustrasi, biarpun malam sebelumnya aku bela-belain nginep di camp Anggun dan minta ajarin dia, dalam keadaan sakit pula. Yak, saat itu aku emang masih sakit dan besoknya udah ujian. Ketinggalan hampir 25 kali pertemuan, dan itu sangat menyedihkan sodara-sodara. Biarpun Anggun udah jelasin panjang kali lebar kali tinggi, rasa-rasanya yang masuk ke otakku nggak lebih dari 30%. Siapa pula yang sanggup meres otak dalam keadaan sakit? Jadi bisa ditebak kan gimana ujianku? Hancur! Hiks … hiks … seriusan, hari pertama ujian langsung down banget pas tahu kalo aku nggak lulus. Pengen nangis di tempat deh rasanya. Dari semua soal, aku mati di bagian fungsi tenses dan modal. 2 materi itu kutinggalin pas aku sakit. Pas bagian direct-indirect speech dll sih masih rada nyambung, tapi kalo yang dua itu … cukup pake feeling dah. Tapi setelah aku tahu kalo anak-anak kelasku banyak yang nggak lulus, aku jadi tenang, HAHAHAHAHA! *puas banget -_- *. Sorenya, aku langsung remidi dan gagal! Pas remidi ketiga, bawaannya udah pengen pulang ke rumah dan tereak ke ayahanda tercinta, “Lihatlah, betapa bodohnya anakmu ini. Engkau seorang guru Bahasa Inggris, tapi kenapa anakmu yang cakep ini tak bisa sewas-wes-wos dirimuuuu??”. Dan saat itu aku sadar bahwa peribahasa “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” adalah peribahasa  yang menyesatkan!! Tapi … syukurlah, Elfast berbaik hati meluluskanku di remidi ke-4. Hzzz…

CERITA PARE#PART 3

No Comments »



            Hari ini aku memaksakan diri untuk berangkat les. Dijemput ama Mbak Yuyun karena aku masih nggak kuat jalan kaki. Aku selalu berpikir kalau aku sudah sehat, sudah sembuh dan siap menerima pelajaran. Tapi, yah … tampaknya fisikku tak bisa dipaksa, meski otakku selalu berpikir positif. Sepanjang pelajaran, aku tak bisa konsentrasi. Otakku mendadak lola. Sangat susah mencerna materi dari Miss Ratna, apalagi kemarin aku nggak masuk. Dan begitu soal dibagikan, aku mengerjakannya dengan terpatah-patah. Megang pulpen tuh rasanya kok ya berat banget. Entah seperti apa tulisanku tadi, yang jelas pikiranku berhenti di nomor 2. Nggak bisa diajak mikir lagi. Kepala nyut-nyutan, flu, dan demam. Padahal, pagi tadi panasnya udah turun. Ya sudah, aku lalu diantar pulang ama Mbak Yuyun. Nggak jadi ikut kelas speaking-nya Miss Kartika dan kelas grammar-nya Miss Ratna sore nanti. Aku harus istirahat total di kost.
            Sedih rasanya. Tepar sendirian sementara yang lain lagi belajar. Mbak Aya juga belum pulang dari tempat les-nya. Mau baca novel tapi kok kepalaku pusing banget. Yasyudaaah, akhirnya aku cuman tiduran pake selimut tebel, dan membatalkan puasa saat itu juga. Sayang, sih, udah setengah hari puasa padahal. Tapi mau gimana lagi? Batukku makin menjadi-jadi dan kalo nggak diminumin ntar aku-nya yang tewas. Untunglah, abis les Mbak Yuyun dateng ke kosku dan nganter aku nyari makanan. Udah nggak kuaaaat rasanya! Nyampe kost langsung makan, minum obat, dan nulis ini.
            Kata ibu kost, sekarang emang lagi musim sakit. Wajar, sih, cuaca Pare saat ini lagi galo. Hari ini panas, besoknya tau-tau ujan deres. Mungkin karena cuaca itu lah banyak orang sakit, termasuk aku. Aduh, aku baru inget kalo hari Jumat ini ada try out, dan besoknya langsung ujian. Aaaaa, aku pengen berangkat les …! :(
            Semoga besok aku udah sembuh. Aaaamin.


Pare, Rabu 17 Juli 2013.
            

CERITA PARE#PART 2

Baca selengkapnya » | No Comments »



            Ini adalah minggu kedua aku di sini. Dan aku tepar. Yeah, aku kehilangan 6 kali pertemuan hari ini. Aku absen les sejak kemarin sore. Benar-benar nggak nyangka ya, perasaan kemarin baik-baik aja. Aku bahkan masih sempet-sempetnya jalan kaki keliling kampung setelah materinya Miss Ratna. Pas nyampe kost, aku tidur dan tahu-tahu nggak bisa bangun. Ini kepala rasanya kek digetok-getok ama palu. Sakit, coy! Malemnya langsung demam campur pilek dan batuk. Udah gitu cuacanya dingiiiiin banget! Udah gitu aku gak bawa selimut. Ada sih selimut tipiiiss banget, hasil jalan-jalan iseng ama Anggun pas pertama kali nyampe pare. Tapi rasanya kaya nggak pake selimut. Dingin nusuk tulang. Akhirnya, paginya pas aku bangun, errr … kepalaku nyut-nyutan banget. Les dimulai jam setengah 6 pagi. Mau maksain diri berangkat? Siap-siap aja pingsan di tengah sawah.
            Aku sempet ngomel-ngomel dalem ati, sebelum akhirnya berstighfar. Kenapa musti sakit di tengah-tengah semangatku yang lagi horror ini? Padahal aku lagi seneng-senengnya belajar. Padahal aku lagi mudeng-mudengnya nangkep pelajaran, lagi lancar banget kayak sinyal speedy kosanku. Dan yang jelas, lagi banyak PR dan materi baru yang kian hari kian sulit. Aku masih inget di hari pertama les. Mr. Fuddin bilang kayak gini, “Usahakan untuk hadir di setiap pertemuan. Kalau kalian kehilangan satu kali pertemuan saja, maka itu akan sangat berpengaruh untuk proses pembelajaran selanjutnya. Kalian akan ketinggalan banyak pelajaran. Sekarang musim hujan dan sebentar lagi puasa. Jaga kesehatan kalian baik-baik, ya.”