Antara Kugy dan Aku (?)

No Comments »


Beberapa detik yang lalu, aku baru saja kelar membaca novel Perahu Kertas karya Dee. Jujur, ini adalah karya Dee yang pertama kali aku baca, hehehe. Ketika pertama kali membuka halaman awal, perasaanku biasa aja, bahkan nyaris bosan dengan cerita yang rada bertele-tele. Tapi begitu mencapai 1/4 buku, aku gak bisa berhenti baca. Bagai orang kesetanan, seharian ini aku nyempet-nyempetin waktu buat baca. Bahkan pas matkul kritik sastra tadi, aku malah ayik baca sambil sesekali merhatiin anak-anak yang lagi presentasi, hehe. Tapi untunglah otakku masih bisa mencerna dengan baik penjelasan Pak Rudi ketika memaparkan pendapat bla bla bla ...
Perahu Kertas. Sebuah novel yang lagi booming dan bikin aku penasaran akhir-akhir ini. Untunglah, si Budi beli tuh novel, jadi aku bisa minjem, hahaha. 
Pas baca tuh novel, gak tahu kenapa aku ngerasa kalo Kugy itu 'gue banget!'. Hahaha, bukan sok nyamain ato gimana, tapi yah ... begitulah adanya. Dan perasaan itu lah yang bikin aku bertahan berjam-jam ngejogrok di kamar buat baca novel. Membaca kisah Kugy kok rasa-rasanya kayak ngaca pada diri sendiri.
Kugy yang doyan makan apa aja, itu gue banget. Sama seperti Kugy, aku bisa menghabiskan beberapa porsi makanan sekaligus kalo lagi kalap. Paling demen kalo ditraktir temen pas dompet kosong, hahaha. Juga selalu cuek bebek kalo ada yang komentar ,"Lo makan apa kesurupan?". Ya, itulah saya.
Kugy yang cuek dan rada gila, juga sama sepertiku. Penampilan kugy yang nyaris kayak gembel juga gak jauh beda (dulu). Sekarang, errr ... agak mendingan lah ya. :D
Kugy yang demen berkhayal. Bedanya, dia seneng nulis dongeng, sedangkan aku seneng nulis 'dongeng' kehidupanku sendiri, yang sampe sekarang tersimpan rapi di dokumen laptop, jadi koleksi pribadi.
Kugy yang memendam perasaannya selama tiga tahun pada Keenan, sahabatnya. Eh, ini sama gak ya? Hahahaha, abaikan saja lah, ga penting bagian ini -_-
Kugy yang perang dingin dengan Noni, sahabatnya sejak kecil. Tidak tanggung-tanggung, peperangan itu berlangsung selama 3 tahun. Berawal dari Kugy yang selalu menghindar dari Noni, Keenan, dan Eko karena dia gak sanggup melihat Keenan dicomblangin sama Wanda. Puncaknya, Kugy memilih tidak datang ke pesta ulang tahun Noni karena gak mau ketemu Keenan dan Wanda.
Pada bagian inilah, mulutku rasanya tercekat. Bukan ... kisah cinta mereka sama sekali gak mirip denganku, tapi pertengkaran Kugy dan Noni yang bikin aku terdiam lama. Lama ... sekali. Ada segumpal awan hitam yang mendadak mampir di mataku.
Persahabatan dua anak manusia yang sangat indah, namun harus berantakan karena sesuatu yang ... ah, aku gak bisa berkata-kata. Rasanya ... melihat perang Noni dan Kugy seakan membawaku pada serpihan masa lalu. Ya, persahabatan yang pecah gara-gara keegoisan masing-masing.
Berapa lamakah hal itu berlangsung? 4 tahun? 5 tahun? Entahlah. Yang ku ingat, aku tak pernah lagi melihatnya sejak 'peristiwa' itu.
Di mana dia sekarang?
Aku tak tahu.
Sehatkah dia?
Aku tak tahu.
Semakin cantik kah dia?
Aku tak tahu.
Apakah dia masih seceria dulu?
Aku tak tahu.
Masihkah dia membenciku?
Aku tak tahu.

"Aku rindu," hatiku berbisik pilu.

Rasanya, aku ingin semua ini berakhir seperti Kugy dan Noni yang dipertemukan dengan cara yang tak disangka-sangka, saling berpelukan, saling memaafkan ...
Yah, mungkin aku memang perlu menghanyutkan perahu kertas ke laut seperti Kugy, siapa tahu Neptunus berbaik hati melayarkan perahu itu ke hadapan dia. Dia, sahabatku ....


*tak sanggup menulis lagi*




Jogja, 19 Oktober 2012
Pukul 03.03 WIB



:P

No Comments »

Keluarga bahagia :D

Posted by Picasa

:)

No Comments »

Kau tahu siapa mereka?
Ya, mereka adalah kakakku. Foto ini diambil ketika mereka baru saja melangsungkan akad pernikahan lho ... :D
Yang pake kerudung merah marun itu namanya Mbak Merry, kalo yg pake kaca mata itu namanya Rokhim.
Ewww ... kapan2 akan kutuliskan kisah kami yang sangat ajaib!

Posted by Picasa

Pertemuan

Baca selengkapnya » | No Comments »




            Aku masih ‘jalan-jalan’ ke Paris ketika suara itu mengagetkanku. Suara yang tak asing lagi. Bel pintu rumahku! Ku tutup mukaku dengan bantal. Sampai mana tadi? Ah, ya, aku tadi sedang menatap menara Eiffel yang memukau. Ku pejamkan mataku rapat-rapat, berharap bisa ‘kembali’ ke tempat menakjubkan itu.
            Tet … Tet … Tet …
            Argh! Suara itu lagi! Siapa pula yang berani-beraninya menggangguku sepagi ini? Semakin ku biarkan, bel pintu rumahku semakin nyaring terdengar. Aku tak tahan lagi. Ku kumpulkan ‘nyawaku’ selama beberapa menit, lalu beranjak dari tempat tidurku yang nyaman ini.  Ku buka pintu kamarku dengan malas, celingukan ketika tidak mendapati satu manusia pun di rumah ini. Ah, ya, aku baru ingat. Mama dan Papa ada acara penting hari ini.
            Tet … Tet … Tet …
            Hei! Bisakah kau bersabar sebentar, wahai manusia yang sedang memencet bel? Aku benar-benar kesal. Terhuyung-huyung aku berjalan ke ruang tamu. Sambil menguap lebar, aku memutar gagang pintu. Cklek!
            “Selamat pagi, Alia-chan …,” sapa seseorang yang kini berdiri di hadapanku.
            Aku yang saat itu tengah menguap lebar tak sanggup menahan keterkejutanku. Mulutku masih menganga saking kagetnya. Tubuhku panas dingin dibuatnya. Jantungku berdetak sangat keras. Ya, Tuhan, benarkah itu dia?
            Ya, dia. Seorang laki-laki bertubuh jangkung dan berwajah asing yang kini berdiri tegap di hadapanku. Tersenyum kepadaku.
            “Kkk … Kazu …?” mulutku kelu mengucapkan nama itu. Nama yang tersemat di hatiku selama dua tahun terakhir ini. Nama yang selalu ku tunggu setiap waktu.
            “Ya, ini aku, Alia-chan! Maukah kau menemaniku sarapan?” ucapnya lagi. Senyumnya semakin lebar.
            Dadaku membuncah. Benar, itu dia, Kazuto-san yang pergi meninggalkanku setahun yang lalu! Mataku mendadak panas. Sedetik kemudian, aku merasakan tangannya menghapus air mataku yang nyaris terjatuh.
            “Hei, jangan menangis! Ayo, temani aku sarapan!” Kazuto menggandeng tanganku dengan wajah tanpa dosa, lalu membawaku pergi ke sebuah tempat makan langganan kami dulu. Ketika kami sudah duduk dan memesan makanan, aku baru teringat sesuatu. Aku belum sempat mandi, ah jangankan mandi, mencuci muka saja belum! Aku masih mengenakan baju tidurku yang kusut. Rambutku yang panjang juga tampak sangat acak-acakan. Tapi tampaknya Kazuto tak begitu mempedulikan penampilanku ini.
            “Alia-chan …,” Kazuto memanggilku.
            Aku mendongak. Ku lihat binar matanya yang menatapku hangat. Aku membeku. Bayangan setahun yang lalu kembali hinggap di kepalaku. Kazuto adalah mahasiswa pertukaran dari Jepang. Dia belajar bahasa Indonesia di kampusku, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Pertemuan pertama kami benar-benar jauh dari kata ‘berkesan’. Dia menabrakku ketika aku berbelok hendak ke Bangjo (bangku ijo). Dan .. yah … sejak itulah, kami berteman. Selama satu tahun aku menemani hari-hari Kazuto, sebelum akhirnya dia kembali ke Jepang. Dan kini, dia ada di depanku.
            “Alia-chan …,” panggil Kazuto lagi. Senyumnya mengembang melihatku yang tampak gugup.
            “Kapan kau pulang? Kenapa tak mengabariku sama sekali?” aku menatapnya dengan terluka. Ya, sejak dia kembali ke negara asalnya, kami kehilangan kontak. Lebih tepatnya, dia yang tidak menghubungiku.
            “Ceritanya panjang, Alia-chan. Nanti akan ku jelaskan. Aku sengaja ke sini untuk mengejutkanmu. Tapi … apakah kau tidak senang dengan kehadiranku?” Kazuto tampak khawatir.
            Aku menggeleng. “Aku senang kau datang …”
            Kazuto kembali tersenyum. Dia merogoh sesuatu dari saku jaketnya, lalu menunjukkannya padaku. Sebuah kertas bertuliskan puisi buatanku. Dulu, dia mendapat tugas membuat puisi. Aku dengan senang hati membantunya, berharap dia bisa membaca perasaanku lewat puisi itu. Ah, ternyata dia masih menyimpannya …

Puisi Alia ...

No Comments »




            Dua jam sudah berlalu, tapi ekspresi wajah itu masih belum berubah. Terkadang tegang, terkadang gelisah, terkadang takut, terkadang juga senyum-senyum sendiri. Sedari tadi tangan kirinya hanya menopang dagu, sedangkan tangan kanannya asyik mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Tak lama kemudian, kertas itu diremas-remas, lalu dibuang begitu saja. Entah sudah berapa banyak kertas yang berceceran di lantai.
            “Argh!” Alia mengumpat. Dia lalu memutar tempat duduknya, membelakangi meja belajar. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai dengan kesal. Sedetik kemudian, dia beranjak dari tempat duduknya. Berdiri di depan kaca, lalu mengamati dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tingginya sekitar 162 cm dengan berat badan 49 kg. Rambutnya hitam mengkilat, menjuntai hingga pinggang. Kulitnya putih bersih seperti susu. Hidungnya mancung ke dalam alias pesek. Matanya yang sipit di dukung oleh lesung pipit yang indah. Sekilas, gadis itu mirip sekali dengan perawakan orang Cina.
            “Apakah aku cantik?” tanyanya dengan penuh rasa tidak percaya diri. Lalu beberapa detik kemudian dia tersenyum-senyum lagi, nyaris seperti orang gila.
            Akhir-akhir ini Alia memang bersikap aneh. Cewek super cuek itu tiba-tiba saja berubah drastis. Dia sangat jauh dari kesan feminin. Tak pernah terbersit walau satu kali pun di otaknya untuk memakai rok atau pun high heels. Ah, bahkan bedak pun dia tak punya. Dia terbiasa memakai kemeja atau pun kaos oblong, lalu dipadu dengan celana jeans belel. Rambutnya juga selalu diikat sembarangan. Selain itu, dia juga terkenal dengan suaranya yang super kencang, mirip toa masjid.
            Tapi, sepertinya semua itu berubah sejak kejadian di kampus dua bulan yang lalu. Saat itu, Alia terburu-buru ingin ke Bangjo (bangku ijo) kampus yang terletak di belakang perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya. Dia ingin meminjam catatan materi ke Ezti, sahabat dekatnya. Satu jam lagi dia akan mengikuti ujian susulan dan parahnya dia belum belajar sama sekali.
            Brug!
            Seseorang menabraknya ketika dia berbelok. Dia pun nyusruk ke tanah. Baru saja dia akan mengumpat panjang-lebar, sebuah tangan terjulur di depan mukanya. Alia menepis tangan itu dengan kasar, lalu buru-buru membersihkan debu yang menempel di bajunya. Dan ketika dia mendongak, dia melihat seorang laki-laki bertubuh jangkung dan berwajah asing tengah menatapnya dengan penuh rasa bersalah.
            “Maafkan aku,” kata laki-laki tu. Dia menjulurkan tangannya.
            Alia terpaku. Dia merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat lebih keras.
            “Maaf, aku tak sengaja,” tambahnya, dengan aksen bahasa Indonesia yang terdengar aneh.
            “Oh, tidak apa-apa,” Alia tersadar dari lamunannya, lalu menjabat tangan laki-laki itu. Entah sejak kapan dia bisa bersikap semanis itu. Jantungnya masih saja berdetak tak karuan. “Errr...sepertinya kamu bukan orang Indonesia,” kata Alia kemudian.
            Laki-laki itu tersenyum. “Iya, saya memang bukan orang Indonesia. Perkenalkan, nama saya Kazuto, mahasiswa pertukaran dari Jepang.”
            “Namaku Alia. Salam kenal, Kazuto-san!” kata Alia dengan senyum yang tak kalah manisnya.
            “Salam kenal, Alia-chan!”
            Dan sejak itulah, dunianya tak lagi sama. Alia yang super cuek itu mendadak jadi lebih kalem. Penampilannya pun perlahan-lahan berubah. Dia memang tidak memakai rok atau pun high heels, tapi kali ini dia tampak lebih rapi. Memakai baju bermotif bunga-bunga dipadu dengan celana jeans. Rambutnya yang terbiasa diikat itu kini lebih sering dibiarkan terurai.
            Sejak perkenalan itu, Alia dan Kazuto berteman baik. Alia selalu merasa senang saat berada di dekat Kazuto. Entahlah, mahasiswa Jepang itu tampak begitu menarik di matanya. Bukan saja karena Alia menyukai bahasa Jepang dan seluk-beluk kebudayaan Jepang, tapi lebih karena kepribadian Kazuto yang begitu menyenangkan.
            Dan malam ini, Alia benar-benar frustasi memikirkan puisinya yang tak kunjung selesai. Puisi? Ah, iya. Tiga hari yang lalu Kazuto meminta bantuannya untuk membuatkan puisi. Dia mendapatkan tugas dari Dosen untuk membuat puisi bertema bebas. Kazuto yang tidak ahli dalam berpusi pun kebingungan. Saat itulah, Alia datang bagaikan malaikat penolong. Dia bersedia membuatkan puisi untuk Kazuto. Tentu saja Kazuto sangat senang. Padahal, Alia memiliki niat terselubung.
            Alia ingin mengungkapkan sesuatu lewat puisi itu. Dia ingin Kazuto membaca puisi itu, berharap laki-laki itu akan memahami perasaannnya. Dia ingin Kazuto tahu, bahwa kuncup-kuncup Sakura itu mulai bermekaran di hatinya ....

           
Jogja, 9 September 2012.
Pukul 00.12 WIB

3 Hari Penuh Esmosi -_-"

2 Comments »

Fiuhh...
Kali ini gue beneran kejebak bosen tingkat tinggi. Pengen balik!
Rasanya pengen nangis cz ga dapet puasa hari pertama, huhu. Sedih. Kosan sepi. Ngiri sama Anggun yang bisa puasa en tarawih duluan. Ya, tahun ini puasa di Indonesia ga bareng lagi. Ga tau kenapa, rasanya gue kok gerah banget baca status FB ato pun twitter yang rempong banget koar-koar soal awal puasa. Hati rasanya sedih baca komen2an yg nantang carok. Saling kritik. Ngerasa paling bener. Saling menjatuhkan. Jujur, gue gak suka. Gue sedih. Oke lah, semua orang punya pandangan masing-masing. Cukup saling menghargai, beres kan? Sebenernya masalah perbedaan ini juga udah ada di zaman Rasulullah SAW. Ada salah satu sahabat nabi (lupa namanya >.< ) yang berbeda awal puasa dengan Nabi, dan Nabi menghargai sahabatnya tersebut. Gue pikir, bercermin dari sikap tersebut udah lebih dari cukup. Gak perlu lah ribut-ribut, biarlah masalah perbedaan ini ditanganin sama orang-orang yang udah ahli dalam ilmu falaq. Cukup ambil keputusan yang paling kita yakini. Selesai kan? Ok cukup, gue lagi ga pengen memperpanjang masalah perbedaan ini.
Hm, sebenernya gue ngerasa agak aneh ama diri gue sendiri akhir-akhir ini. Tepatnya, 3 hari ini gue jadi cewek temperamen. Sensi tingkat tinggi. Ngamuk-ngamuk. Senggol bacok!
Entah karena efek PMS ato apa, tapi yang jelas suasana hati gue bener-bener gak enak. Kalo udah kayak gini, gue jadi pengen pulang. Home sick ceritanya. Tapi, gue gak akan balik cz udah komitmen sama PPSMB a.k.a OSPEK yang gue tanganin. Setidaknya, ngurusin PPSMB en ngerasain suasana puasa di Jogja itu lebih baik daripada nurutin perintah bokap buat belajar bahasa inggris di Pare XD

3 hari terakhir ini kayaknya emosi gue bener-bener diuji. Ga tau deh, rasanya gue udah gak tahan sama AS yang gak berujung. Ditambah ada masalah X, detlen ini-itu, gue stress. Ya, gue stress. Anak yang pertama kali bikin gue ngamuk adalah Iza. Jadi, beberapa hari yang lalu gue ngajak dia ngurusin stiker piala. Udah janjian mo berangkat jam 2. Pas gue udah mo siap-siap, tuh bocah bawel gak ketulungan. Pas gue bilang, "Ayo siap-siap," dia malah bilang ,"Ngantuk". gue diemin aja tuh bocah. Abis itu dia nanya-nanya, dan kayaknya waktu gue bakalan abis buat ngebales sms dia. Iza ruwet sih. Akhirnya, dengan emosi di ubun-ubun gue tanya, "Jadi, ikut apa gak?", en gue tambah jengkel pas baca balesan dia, "Gak lah..."
Gimana gue gak ngamuk coba? Gue emang gak suka sama orang yang banyak nanya, apalagi dalam sikon yang gak tepat (baca: PMS). Sori ya za -_-"
So, gue pun langsung tancap gas ke kosan Fitri. Ngebut. Iya, gue kalo lagi ngamuk emang suka ngebut. Siang itu, Fitri hampir aja gak mau gue ajak ke percetakan, dan dia segera narik ucapannya sebelum gue ngamuk. Hahaha :D

Daaaaaan, semalem adalah puncak kestressan gue. Gue marah sama Fitri, Iza, dan Vika. Sebenernya masalahnya sepele, tapi mungkin karena gue udah pusing tingkat akut, jadinya emosi gue meningkat drastis.
Jadi ceritanya, gue lagi ngurusin sertifikat peserta. Gue tuh udah maluuuuu banget ama para pemenang gara-gara tuh piala ama sertifikat kaga dikirim-kirim. Gue pengen masalah ini cepet kelar. Gue capek jadi CP!
Malem itu, gue nemenin Fitri di kos pas orang-orang pada traweh. Kami nonton film, dan kebetean gue makin nambah pas temen-temennya dateng en berisik! Gue sebenernya ga masalah sih, orang biasanya gue becandaan ama mereka, tapi mungkin karena malem itu gue lagi badmood, gue jadi males mo ikutan nimbrung. Jam 9 tepat, gue menata sertifikat, gue bedain mana yang buat anak jogja en luar jogja. Abis tu, gue titipin sertifikat itu ke Fitri, biar besok diambil ama Hamdan. Eh ternyata si  Fitri kagak mau, alesannya besok mo shoping sama Iza di Malioboro. Trus gue titipin ke Vika, eh dianya juga bilang gak bisa. Yang katanya mo ke kampus lah, apa lah, ngeselin semuanya!
Apa beratnya sih cuma dititipin doang? Ngerasa kerepotan?
"Terserah lah! ya udah kalo ga mau, biar gue yang urus semuanya!" gue ambil kembali tuh sertifikat, trus langsung ambil motor, tancap gas.
dalam kondisi kayak gitu, si Hamdan malah sms en nanyain AS, kena amukan gue juga deh tu anak.
Di sepanjang jalan menuju kos, lo tau gue ngapain? GUE NANGIS!!
Ya, gue nangis kenceng sambil nyetir motor. Pokoknya tuh emosi gue tumplekin semuanya. Gue udah gak kuat. Gue capek. Gue lelah. Gue nangis setengah tereak di jalan. Ini adalah pertama kalinya gue nangis model begini -_-" . Gue dikenal sebagai cewek yang kelewat tangguh gara-gara susah nangis a.k.a terharu, sering dibilang ga punya hati dan ga peka gara-gara ga nangis pas liat film mellow, tapi malem itu ga tau kenapa gue mendadak cengeng. Mungkin gue udah berada di titik jenuh.
Korban selanjutnya adalah Pak Polisi yang mangkal di lampu merah MM UGM. Waktu itu lampu lagi merah dan gue brenti. Gue masih nangis, bodo amat dah kalo ada yang ngeliat. Toh gue gak kenal mereka, en ga bakal ketemu lagi. Jadi, gue ga peduli. Tiba-tiba aja Polisi nyamperin dengan muka sok garang.
"Kenapa, Pak? Mo nilang saya lagi? Saya udah pake helm kan? Mo liat SIM en STNK? Ini ada di jok motor!" gue nyolot. Masalahnya, dia adalah Polisi yang dulu pernah nilang gue pas gue lagi kesrakat. Ngeliat mukanya lagi bikin emosi gue kambuh.
"Nggak, Mbak. Tolong agak minggir biar mobil yang di belakang Mbak itu bisa lewat." Jawab Pak Polisi.
Iya, mobil di belakang gue emang dari tadi jerit-jerit nyuruh gue minggir. Gak sabar amat sih! Rasanya pengen gue kempesin tuh ban mobil!
"Bentar lagi juga lampu ijo!!" gue gak peduli.
Dan, benar. Lima detik kemudian lampu ijonya nyala. Nah, apa gue bilang? Gue langsung tancap gas. Sekilas, gue ngeliat tuh Polisi geleng-geleng. Bodo amat! Gue nyetir motor dengan kecepatan sedang, masih nangis. Gue gak langsung pulang, malah muter-muter gak jelas en brenti di pinggir sawah daerah Pogung. Gue bersemedi di sana beberapa saat. Nyari wangsit ceritanya.
Pas udah nyampe kos, gue langsung masuk kamar, tengkurep di kasur bareng bantal guling. Nangis. Sumpah cengeng banget dah gue malem itu. Kalo aja di kamar mandi ada shower, mungkin gue juga bakalan nangis di kamar mandi #lebay
Anggun yang masuk kamar gue dan ngeliat gue murung pun terheran-heran. Tapi syukurlah, malem itu dia bisa bikin gue ngakak. Mungkin keceriaan gue bakal cepet balik kalo di samping gue ada sekarung donat :D
Jam 12-an, gue udah gak marah lagi, trus minta maap ke Pitri. Begitulah gue. Kalo ngamuk meledak-ledak, tapi abis itu ilang dengan sendirinya.

Nah, hari ini, sikap gue berbalik 180 derajat, haha. Ga tau abis kesambet apaan, tiba-tiba gue jadi kemenyek. Haha, dari kemaren gue emang pengen melakukan X di salon. Tapi ga tau kenapa, setelah melakukan X yang hanya butuh waktu 7 menit, gue tiba-tiba melakukan Y. Gue melakukan Y atas dasar iseng. Mungkin karena gue jenuh kali ya. Daaaaan, gue KAPOK!! Gue kira cuman makan waktu 5 menit, ga taunya sampe sejam. Gue ga betah. Ribet abis. Ngantuk. Anggun yang nungguin gue aja sampe ketiduran. Jika kebanyakan cewek menganggap bahwa Salon adalah surga cewek, maka kalo gue sebaliknya, salon adalah tempat penyiksaan. Riiiiiibbbbbeeeeetttt banget gila! Gue kapok sekapok-kapoknya. Ga lagi-lagi deh. Ini adalah pertama kali seumur hidup gue iseng kayak begini. Ya, kegiatan ribet itu emang gak gue bangeeeeeet. Males. Rempong. Gue emang males kalo berurusan ama dandan yang rempong kayak gitu. Boro-boro mau pake make up macem-macem, molesin bedak ke  muka aja udah syukur banget -_-"
Lagian, dandan cantik itu ditujukan buat siapa coba? Daripada nimbulin napsu lawan jenis yang bukan siapa-siapa kita, mending kecantikan itu disimpen. Dandan cantiknya ntar aja  kalo udah punya suami, hohohoho...
Ok, stop. Pokoknya gue ga mao iseng kayak begini lagi. Mungkin gue tadi pagi emang lagi kesambet. Gue khilaf!




Jogja, Sabtu 21 Juli 2012. Pukul 02.41 WIB.



Rindu...

No Comments »

Rindu. Mungkin itu lah kata yang paling tepat untuk aku ucapkan saat ini. Ya, entah mengapa perasaan itu tiba-tiba muncul setelah sekian lama aku agak 'menjaga jarak' denganmu. Bergelut dengan bermacam aktivitas hingga aku benar-benar melupakanmu cukup lama. Semuanya kujalani begitu saja, hingga pada akhirnya aku sadar, ada sesuatu yang hilang. Di sini, di dalam hatiku...
Ah, kenapa sore ini tiba-tiba aku jadi melankolis begini? Aku kangeeeeen... T.T
Rindu dengan kamu... T.T

Aku  masih ingat bagaimana pertemuan awal kita hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk memilihmu. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Sudah berapa lama hubungan kita terjalin? Ah, ya, hampir satu tahun lamanya...
Aku masih ingat jelas, saat itu aku masih berstatus sebagai maba. Maba yang kebingungan mencari pelabuhan hati. Di mana aku bisa menemukannya?
Saat itu lah, seseorang yang baik hati tidak sengaja memperkenalkanku padamu. Dia memberikan sebuah nomor hape yang kelak akan mempertemukan kita. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya aku diberi kesempatan untuk bertemu denganmu.
"Perkenalkan, namaku Aulia." ucap seseorang saat menjemputku di depan Bakso Pak Ateng.
"Indiana." jawabku.
Lalu, kami pun menyusuri jalan untuk bertemu denganmu.
"Nah, ini dia..." kata Mbak Aul.
Aku mengangguk-angguk. Kupandangi dirimu dengan saksama. Di mataku, kau masih tampak asing. Tapi, kau begitu ramah. Sama sekali tak ada raut muka kesombongan.
Ah, ruangan itu... ruangan kecil yang cukup sesak tapi menimbulkan rasa nyaman. Ada banyak rak buku yang berjajar rapi. Di sisi kiri rak buku, terdapat puluhan koran yang berserakan. Menunggu untuk dibaca. Juga beberapa kardus dan beberapa barang bekas yang menumpuk di ruangan kecil bekas tempat muazin. Ya, ruangan ini memang bekas Mushola. Di samping barang-barang bekas itu, terdapat satu rak penuh berisi arsip-arsip surat. Di sudut ruangan, terdapat satu kipas angin yang berfungsi menyejukkan penghuninya.
Semakin lama, semakin banyak orang yang datang meramaikan ruangan itu.
"Namaku Yuar..."
"Hening..."
"Ulum..."
"Ghiffari..."
"Iin..."
dan seterusnya...
Kurekam nama mereka satu per satu di otakku. Tapi, saat itu aku masih belum tahu namamu. Aku malu  menakannya pada mereka. Jadi, aku diam saja :)
Beberapa minggu kemudian, aku diberi kesempatan untuk mengenalmu lebih dalam. Engkau mengundangku untuk bertemu. Hari minggu jam setengah 8 pagi. Ah, betapa bahagianya :)
Dengan penuh semangat, pagi itu aku mengendarai pit hitamku menuju tempat yang kau janjikan, di PP Muhammadiyah Jogja, Jl. Cik Di Tiro. Saat itu, aku tak mengenal siapa-siapa. Aku hanya 'bondo nekat' menemuimu.
"Silahkan masuk, dik..." ucap seorang Mbak dengan ramah. Aku mengangguk malu-malu, lalu masuk ke Aula.

Satu jam...

Kau belum muncul. Aku mulai kesal. Aku hanya mengenal satu orang di tempat itu. Namanya Kurnia Ilham, teman seangkatanku.

Setengah jam kemudian...

Barulah kau muncul. Aku illfeel!! Di dalam hati aku mengutukmu habis-habisan."Aku nggak  mau ketemu kamu lagi!"
Aku marah-marah, lalu mengirim sms pada Bapak yang isinya aku kecewa. Kata Bapak, "Jangan suudzan, Nduk... Mungkin ada sesuatu yang trobel.."
Aku terdiam menahan kesal.

Sepertinya kau merasa bersalah. Dengan kerendahan hati, kau pun meminta maaf dan mengenalkan diri padaku.
"Namaku Ibnu Khaldun..." katamu.
Mmmm, nama yang bagus. Ah, akhirnya aku bisa mengenalmu... :)

Hari demi hari berganti. Aku rutin mengikuti seluruh kegiatanmu. Hingga pada suatu hari, kau mengharuskanku mengikuti DAD (Darul Arqam Dasar). Katamu, itu sebagai salah satu syarat untuk membuktikan rasa cintaku padamu. Yah, anggap saja masa-masa pendekatan :)

Saat itu, kau membawaku ke Nitikan, tempat yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran K.H. Ahmad Dahlan. Kukira DAD itu biasa-biasa saja, tapi pada kenyataannya dari tempat ini lah badai ideologi mulai menyerangku. Aku masih ingat, di tempat inilah aku ditempa. Berdiskusi banyak hal. Bingung. Ya, saat-saat membingungkan adalah ketika bertemu dengan Mas Anggun. Filsafat Ilmu yang membuatku pusing dan jengkel.
"Apa yang ada di pikiranmu saat mengucapkan kata 'Allah'?"
Satu pertanyaan yang menimbulkan bermacam jawaban dari teman-teman. Lalu, dia membabat habis jawaban itu. Terserah kau lah, Mas. Aku sudah jengkel dan memutuskan untuk bergosip lewat surat-suratan dengan Anggun.

Aku: Mas Anggun kae ngopo seh?
Anggun: Emboh lho. Jarno...jarno...
Aku: Buh, sirahku muuuuuumet!
Anggun: Aku iyo. Ra nutut nuruti pemikirane Mas Anggun...

Aku ngakak kalau ingat surat-suratan itu.
Malam itu, badai pemikiran kembali menyerangku. Mumet. Ngantuk. Tapi, penasaran.
"Bukankah sistem pemerintahan yang benar itu seperti ini?" aku ngotot.
"Mbak harus banyak baca ya..." kata dia. Aku manyun. Tapi kupikir-pikir benar juga sih. Aku memang masih nyuwbi :D

Lalu, saat-saat membingungkan itu pun terjadi. Ya, malam itu aku dibuat kebingungan.
"Jika kalian yakin akan berjuang di sini, tetap di sni. Jika tidak, maka mundurlah..." sebuah kalimat meluncur. Sepertinya itu suara Mas Ulum. Aku tidak bisa melihat karena mataku tertutup slayer.

Dan aku pun melangkah mundur...
Karena aku tak yakin...
Ragu..
Takut...

Ya, aku memang berada di area abu-abu saat itu. Kau tahu? Tidak hanya Ibnu Khaldun yang aku dekati, tapi nama-nama lainnya juga. Tanpa sepengetahuan Ibnu Khaldun, aku bahkan pernah mengikuti beberapa aksi di jalan dengan 'yang lain'. Merasa bersalah? Tidak. Merasa menghianati? Apalagi. Menyesal? Tidak sama sekali. Karena saat itu aku memang dalam masa 'pencarian'.

"Sekarang, silahkan pegang erat-erat tangan yang ada di samping kalian." lanjut Mas Ulum.
Kami lalu berpegangan tangan, kemudian berikrar...
Kupikir, setelah aku memutuskan untuk melangkah mundur, mereka akan memusuhiku. Tapi nyatanya tidak, mereka biasa saja. Tetap ramah seperti biasa. Tidak pernah memaksaku untuk saklek dengan mereka. Mungkin dari sini lah rasa cintaku mulai tumbuh padanya, Ibnu Khaldun...

Satu semester lamanya aku menggalau. Nyaris apatis. Yah, namanya juga bingung. Entah mengapa aku merasa Ibnu Khaldun berseberangan dengan 'yang lain' itu. Wajah mereka sama tapi berbeda. Aku tak kuat memendamnya sendirian. Dan saat libur semester itu lah, aku mencurahkan semuanya pada Bapak. Kukatakan bahwa aku tak hanya mendekati Ibnu Khaldun, tapi juga 'yang lain'. Dengan penuh kesabaran, Bapak lalu perlahan-lahan melepaskan tali-tali yang selama ini menjerat pikiranku.
"Tak ada yang salah, Nduk. Semuanya memiliki cara berjuang masing-masing...." kata Bapak.
Aku mengangguk.


Kembali ke Jogja...
Kuputuskan untuk memilihmu, Ibnu Khaldun. Meski pada awalnya aku sempat goyah, tapi pada akhirnya aku merasa bahwa hanya kau lah yang bisa mengerti diriku *Eaaaa

Hari demi hari berganti, hingga kau memintaku untuk meneruskan estafet perjuangan.
"Fastabiqul Khairat!!! Allahu Akbar!!" teriakmu.
Di PP Muhammadiyah, aku dan teman-teman mengucapkan sumpah...

Semester 2. Ujian berdatangan...
Aku mulai 'melupakanmu' Khaldun. Jadwal padat. Aku sok sibuk dengan bermacam agenda. Sudah jarang menyambangimu lagi. Terkadang jengkel dengan teman-teman. Sms tidak dibalas. Diskusi sepi. Rapat yang datang ya itu-ituuuuuu saja. Ke mana yang lain saat amanah itu diemban? Tidak ingatkah dengan semua komitmen di awal? Ada rasa marah dan jengkel. Mungkin aku juga merasa bosan, hingga beberapa kali aku pun mangkir dari agenda Khaldun.
"Agenda ini lebih penting," kataku dengan sangat egois. Oh, jahatnya...


Aku mulai merasa 'kekeringan'. Aku haus. Tenggorokan ini butuh air...
Aku baru menyadari, kesibukanku yang seabrek tidak mampu menyejukkan hatiku. Tidak mampu menghilangkan virus galau yang akhir-akhir ini menyergapku.
Aku merasa, 'ada sesuatu yang hilang'. Entah apa itu, aku tidak tahu. Yang pasti, aku merasa yang hilang itu ada di sini, di dalam jiwaku yang mulai mengering...
Banyak yang mengatakan bahwa kini aku berbeda. Ya, aku pun merasa demikian. Entah apa yang berbeda itu aku tak begitu tahu. Aku hanya merasa, jiwa ini mulai mengering...
Gelora semangat itu mulai terkikis...
Membuatku ingin menangis...

Apa yang hilang?
Apa?
Ah, sampai detik ini pun aku tak tahu!!


Tidak sengaja aku membuka catatan lama yang mulai usang. Sebuah kado terindah dari para demisioner untuk kami. Kubaca sekali lagi. Dan aku ingin menangis...
Tulisan itu rasa-rasanya seperti apa yang kualami saat ini.

Ah, Khaldun...
Aku merasa berdosa padamu.
Kemana aku saat kau membutuhkanku?
Bahkan saat kau di DAA kemarin pun aku tak bisa datang...
Kemana aku saat teman-teman berjuang di sana?
Mementingkan agenda lain?
Ketiduran LAGI?


Saat ini, hanya satu yang hinggap di kepalaku.
Aku rindu Khaldun...
Aku rindu suasana komsat...
Aku rindu Kampus Tawangsari...



Di kamar seorang diri.
Kamis, 19 Juli 2012 Pukul 17.05 WIB
                                                   Pasca musyawarah komisariat...

                                                       Baksos di Tepus, Gunung Kidul.

                                                              i heart you dah...:*

Skripsi Atau…SkripShit?!

Baca selengkapnya » | No Comments »



            Fyeah…akhirnya gue bisa ngisi blog ini lagi! Kasian juga nih blog udah jarang gue urusin #gara-gara sibuk UAS kemaren -_- . Ok stop, jangan bahas UAS sekarang!
           
******* ******* ********

            Terkadang gue terheran-heran, kenapa sih para angkatan tua (baca: mahasiswa tingkat akhir) sering memplesetkan kata Skripsi menjadi SkripSHIT? Apakah emang segitu sulitnya bikin tugas akhir a.k.a skripsi ampe ngomong kayak gitu? Dan, kenapa juga tampang mereka sering kusut ga karu-karuan? Fyeah…akhirnya pertanyaan itu terjawab juga sodara-sodara!
            Jadi ceritanya, beberapa hari terakhir ini gue disuruh ngedit skripsinya anak sastra jepang. Namanya…mmmm…ya, sebut saja Bunga :D *berasa ngiklan*. Awalnya, gue ragu. Ga tau kenapa, kalo ngomongin soal edit-mengedit, gue agak trauma. Gue pasti kebayang-bayang ama hasil ujian SBI (Struktur Bahasa Indonesia) semester 1 kemaren. Bayangin aja, Pak Dosen tega-teganya ngasih gue vitamin C!! Saaakkkkiiiiiiiittttt….. ditambah lagi nilai UTS morfologi yang bikin gue syok setengah mati. Kok bisa gue dapet *tiiiiiiiit* (sensor)? Dua matkul itu berhubungan erat sama yang namanya ngedit. Dan jujur aja, kepercayaan diriku langsung ilang setelah melihat nilai-nilai itu. Berasa salah jurusan -____-
            “Gapapa, aku percaya sama skill kamu kok,” kata dia saat gue ngasih tau kalo gue ga begitu bisa ngedit tulisan. Gue ga yakin dia bakal ngomong kayak gitu lagi kalo udah ngeliat hasil ujian gue -_-

Akibat Terlalu Panik

No Comments »

"Jam berapa sekarang? Jam berapaaaaa????!" gue tereak-tereak sendiri sambil nyari-nyari hape. Mo liat jam. Beberapa detik kemudian, gue baru keinget kalo di dinding kamar gue ada jam segede bagong. Jam menunjukkan pukul 06.45 WIB. Dan itu artinya, gue KETIDURAN! Yeah, iseng-iseng belajar sambil rebahan di kasur, malah kebablasan --"
Secepat kilat gue langsung menyambar handuk dan ngacir ke kamar mandi. Abis masukin semua buku di dalem tas (gue ga inget buku apa aja yang gue masukin), gue langsung cabut ke potokopian deket kosan gue. Gini nih kalo terlalu sante, ngeprint tugas setengah jam sebelum UAS. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, gue langsung cabut ke kampus. 5 menit lagi UAS dimulai! Mati dah gue!
Nyampe kampus, gue langsung lari-larian ke lante 4. Gue liat kartu ujian gue. Ruang 301. Dan begitu gue dah nyampe, kriiikkk...kriiikk..kriiik... gak ada satu manusia pun di sini! Parahnya lagi, kelas tertutup rapat. Hei, WHAT IS THE MAKSUUUUDDDD??
Gue lihat lagi kartu ujian gue. Gedung Margono 301. Udah bener kok...
Gue garuk-garuk kepala dengan bingung. Dari lante atas, gue ngeliat si pitri sama caecil lagi jalan. Fiuuuh, akhirnya nemu temen! Tapi gue rada heran juga, kok tumben-tumbenan anak kelas gue kompakan telat? Tunggu dan ditunggu, batang idung pitri ama caecil kaga nongol-nongol. Bukannya nyamperin gue, mereka malah jalan ke gedung sebelah. Lah?
Gue mulai curiga. Pasti ada yang ga beres. Sekali lagi, gue ngeliat kartu ujian gue. GEDUNG MARGONO 301. INI UDAH BENER KAAAAAANNN??!!
Gue lalu sms anak-anak. Kaga ada yang bales, sial. Gue jadi mikir-mikir lagi.
Plis deh, ini kan Margono! Iya, beneran ini MARGONO.....eh? Margono? Bentar-bentar. Gue mikir-mikir lagi. Gue liat kartu ujian gue SEKALI LAGI. Gue lalu ngelirik gedung sebelah. Ada tulisan gede yang terpampang di situ: R.M  MARGONO.Dan...gue baru sadar kalo ini adalah gedung G!!! Sambil ngebego-begoin diri sendiri, gue turun ke lante 1, lalu lari-larian ke gedung Margono yang asli.
Hosh...hosssh...napas gue udah senen-kamis gini.
Bego, kok bisa pikun mendadak sih gue!! >.<
Dengan sepenuh tenaga, jiwa dan raga, gue langsung naik ke lante 4 pake lift bareng anak-anak laen. Dan begitu nyampe ruang 301, anak-anak udah asik ngerjain. Bagusssss, gue telat!
Parahnya lagi, ga tau kenapa sebagian memori gue ilang mendadak pas ngeliat soal. Yakin deh, sebelum berangkat gue masih inget 100 % -_____-"
Ya, beginilah akibatnya kalo ngerjain tugas UAS H-1. Eh, gak ding, kamsud gue H- beberapa jam. Mata merah kurang tidur pula! -_-
Dan lo tau? Besok ngumpulin tugas analisis puisi dan sampe tulisan ini dibikin pun gue belon ngerjain sama sekali! :D #bangga banget sih...
Maklum, dapet puisinya aja baru hari ini -_-

Iya, akhir-akhir ini gue emang rada keteteran ama tugas UAS yang amat-amat  menyiksa. Gue benci take home!! TT

MOS (Memori Orang Sarap)

Baca selengkapnya » | 8 Comments »


                 Iseng-iseng gue ngenet, eh nemuin info lomba "Cerita Gokil di Sekolah". Udah baca di postingan sebelumnya kan? Hmm, ini adalah tulisan yang gue bikin pas masih SMA dulu. Hahaha, lumayan lah buat iseng-iseng diikutin lomba. Kali aja menang, hoho...
                Ok, selamat membaca tulisan jadul gue!


                                                             

           MOS (Memori Orang Sarap)
           
            Siapa seeeh yang seumur idupnya gak pernah punya kenangan sama sekali? Cuma orang sarap aja yang ngalamin hal itu. Gue yakin banget, semua orang pasti punya kenangan, entah itu yang menyenangkan ato menyedihkan. Nah, begitu pula dengan gue. Gue punya segudang kenangan yang gak terlupakan, salah satunya adalah MOS (Masa Orientasi Sekolah) yang gue alamin empat tahun silam.
            Waktu itu, hari pertama MOS di SMA Chandradimuka. Seperti halnya di sekolah–sekolah laen, MOS emang identik dengan ajang balas dendam alias perploncoan. Peserta MOS seringkali disuruh ngelakuin hal–hal konyol yang gak masuk akal. Gue masih inget banget gimana dandanan peserta MOS saat itu. Semuanya disuruh pake baju dari kresek merah, rambut dikepang dua dan dihiasi balon warna merah kuning ijo, make tas dari kresek warna putih, dan terakhir make kalung dari kardus berukuran 20 x 30 cm yang udah dikasih tulisan aneh–aneh. Persis banget kayak orgiba (orang gila baru) yang biasa keluyuran di pinggir jalan. Dan yang lebih ngebetein lagi, peserta MOS kudu dateng tepat waktu yaitu jam 5 pagi dan kalo sampe telat bakalan dapet sanksi. Gila gak sih? Yah…berhubung gue termasuk anak yang susah bangun pagi, gak usah heran deh kalo gue selalu dateng telat. Itu pun gue juga kagak sempet mandi. Sebenernya bukannya gak sempet sih, tapi karena guenya aja yang males. Gue kagak mau mati kedinginan gara–gara mandi di pagi buta!
            Next… hari pertama gue berangkat bareng temen gue, namanya Yulia. Belom apa– apa kita udah telat. Di depan gerbang, beberapa anak OSIS udah nunggu dengan tampang sok sangar. Gue dan Yulia langsung lari ke gerbang.
            “HEH! KALIAN TAHU GAK INI JAM BERAPA?!” bentak Defri.
            Gue udah apal banget ama tak–tik kayak gini. Sok galak, sok merintah, sok berkuasa, dan sok–sok laennya. Gue dan Yulia cuma diem ngedengerin ocehan itu. Berkali–kali gue nguap karena masih ngantuk.
            “KAMU MEREMEHKAN SAYA, YAH?! HAH?!” Defri tereak – tereak lagi, dan… CROOT!! Muka gue kebagian ujan lokal gratisan dari mulut Defri.
            “Sompret, bau geblek!!” Gue langsung mengusap muka gue dengan tampang bete. Apes.
            “Hei dek, buruan masuk ke dalam barisan! Upacara pembukaan mo dimulai tuh!” teriak sebuah suara dari kejauhan.
            Refleks gue menoleh. Sedetik kemudian, wajah gue langsung pucat pasi kayak kertas begitu ngeliat cowok yang baru dateng itu. Hah? Gak salah tuh? Makhluk itu… makhluk itu jadi OSIS di sekolah ini? Gue mengucek-ucek mata beberapa kali, seakan gak percaya dengan apa yang gue lihat. Rasanya kayak mimpi! Tubuh gue langsung kaku kayak abis kesengat listrik. Gimana nggak, tuh cowok ternyata orang yang udah bertaon–taon nongkrong di dalem ati gue. Lu tau gak dia itu siapa? Yah…sebut aja Majesta. He is my first love!! Pasti lu bakalan bertanya–tanya,” Kok bisa? Kapan kenalnya? Bukannya lu masih murid baru?”. Oke lah, gue bakal ngasih sedikit penjelasan. So, Majesta itu sebenernya kakak kelas gue sejak jaman SMP dulu. Gue ngerasain love at first sight saat pertama kali ngeliat dia pas MOS jaman SMP. Dan anehnya perasaan itu kagak pernah ilang sampe gue nginjek SMA. Hohoho…
            Sejak saat itu lah, gue semangat banget kalo MOS. Gue selalu nyuri–nyuri waktu buat ngeliat senyum dia yang bikin ati adem itu (Cie…). Oh ya, waktu MOS semua peserta dibagi menjadi enam planet. Yang dimaksud planet di sini adalah kelas yang diibaratkan sebagai sebuah planet. Nah, setiap planet mempunyai nama yang unik dan selama MOS nama peserta akan disesuaikan dengan nama planet yang dihuni. Sungguh sial, gue ditaroh di planet “ Memedi” alias S – E – T – A – N! Parahnya lagi, gue dikasih nama “ Han Rai Tho.” Sekilas tuh nama emang tampak keren, tapi asal lu tahu…artinya tuh ancur banget! Hantu Rai Tongos (bahasa jawa) yang artinya Hantu Berwajah Tongos. Gile, gue dikasih nama kayak gitu! Saat itu juga gue langsung keinget ama mulut Tukul Arwana yang tongos abis! Temen–temen seplanet gue pun gak jauh beda ama gue. Ada yang namanya hantu jembatan ambrol, tuyul botak cling, kolor item, sundel beranak, kuntil bolong, pocong ngesot, dan macem–macem nama aneh lainnya. Udah gitu, semuanya wajib berekspresi di depan kelas sesuai dengan nama julukan masing–masing. Sarap banget!