CERITA PARE #PART 7

Baca selengkapnya » | No Comments »


Haiii!
How’s life?
Udah tiga minggu lebih aku idup di Pare daaaan nggak nulis apa pun! T.T
So, malem ini aku akan memaksakan diri buat nulis hal-hal nggak penting yang kulalui di sini. Sebenernya sekarang aku harus apalan materi pronunciation buat maju besok, tapi sabodo amat dah. Kalo belajar mulu ntar malah kagak jadi nulis *eaaa.
Ada banyaaaaaak banget yang mo kutumplekin di tulisan, tapi karena aku cuman punya waktu dua jam buat nulis (besok masuk pukul tujuh, coy!), aku bakal nyeritain yang masih anget di otak, hahaha.

CERITA PARE # PART 6

No Comments »


Sejujurnya ketika menulis ini aku amat sangat lelaaaaah, tapi kupaksakan diriku untuk menulis. Dan entah kata apa yang pantas kuucapkan untuk mensyukuri semua ini *etsaaah*, yang jelas sampai saat ini aku berasa ngimpi bisa berada di tempat ini lagi: Kampung Inggris Pare, tempat sejuta kenangan. Sebenarnya sudah sejak kemarin aku pengen nulis, tapi yeah, program di Elfast sangat menguras energi dan bikin aku pengen langsung tewas pas nyampe camp.
Ah, ya, ini kedua kalinya aku ke Pare. Dulu aku mengambil program Grammar Effective Class alias E-Fast One yang bikin aku muntah darah setiap harinya *oke, ini lebay*. Mabuk grammar. Kalau mau tahu yang lebih jelas, cari aja tulisan-tulisanku sebelumnya yang tsurhat soal hari-hari di Pare semester lalu.
Ketika kembali ke Pare, kau tahu apa yang kurasakan? Ah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku melihat begitu banyak kenangan di sini. Dan itu membuatku kangen dengan teman-teman seperjuangan E-Fast One. Melewati Jalan Brawijaya, aku seperti melihat teman-teman sedang ngontel sambil tertawa-tawa. Pareholic, Warung Ayam Tulang Lunak, Oxford English Course, Mahessa, Najwa House (mantan kosanku), Waroeng Batok, semuanya mengingatkanku pada mereka.
Kedatanganku ke Pare ini bisa dibilang nggak sengaja. Terjadi begitu saja. Iseng-iseng aku mengirim email ke Elfast, klak-klik program, iseng-iseng telepon Bapak dan secara mengejutkan beliau bilang, “Ya, besok uangnya kutransfer”. Bahkan ketika bukti transfer ada di tangan, aku masih belum percaya. Hei, beneran nih aku balik ke Pare? Ah, seperti mimpi. Tentu saja aku sangat senang :D
Aku mengambil program E-Fast 3 (Vocabulary, pronunciation stage I, speaking elementary) untuk dua minggu awal, program pronunciation stage II dan Talk More untuk dua minggu terakhir. Yap, aku hidup sebulan di sini. Kalau dulunya aku kost, sekarang aku milih camp di Griya Kemuning. Sudah tahu kan apa bedanya camp dan kost? Intinya, kalau kost lebih bebas, sedangkan camp wajib 24 jam pake bahasa inggris dan ikut program camp tiap habis subuh dan selepas maghrib. Tapi faktanya nggak gitu-gitu banget, hahaha. Camp-ku lebih bebas, dan programnya juga tiap abis maghrib doang. Otomatis aku nggak bisa ikut program gegara ada program di tempat kursus -_-
Sampai saat ini, banyak yang bertanya kenapa aku mengambil program speaking di Elfast, padahal kan ada lembaga speaking yang lebih bagus dari Elfast. Maklum, Elfast buka program speaking belum lama, paling dua tahunan. Selama ini, Elfast lebih terkenal dengan program Grammar. Yah, alasanku ngambil di sini sih sebenernya buat sekalian balikin feel buat ngerevisi novel. Tema novelku tentang Kampung Inggris, dan lembaganya adalah Elfast. So, aku ngambil di sini. Dan yaaah, Elfast memang penuh kenangan. Rasanya nyesek aja pas registrasi di Office, teringat teman-teman E-Fast One. Apa lagi pas lihat kelas-kelas yang kami tempati dulu. Errh …
Oke, cukup nostalgilanya. Sekarang aku akan menceritakan tentang hari-hariku di sini. Ini adalah hari kedua aku menjalani program dan aku benar-benar menikmatinya. Mungkin karena program yang kuambil ini sesuai dengan apa yang kuinginkan. Dulu bisa dibilang aku salah program. Pengen aktif ngomong malah ambil Grammar, yang paket ekpress lagi, dodol banget -___-
Meskipun sejujurnya ilmu grammar yang kudapatkan berasa menguap (sumpah, minggu terakhir udah nggak nyambung ama materi saking capek diforsir) setelah keluar dari Elfast, tapi aku nggak menyesal. Yah, yang jelas masih ada lah yang nyantol walopun dikit-dikit.



Betewe, aku udah ngantuk banget. Nggak kuat ngelanjutin cerita. Mo tidur dulu. Lanjut besok ya. See you!


Pare, 11 Februari 2014.

Bahagia!

1 Comment »

Sepanjang sore tadi, aku dan Mbak Mira menghabiskan waktu di TBY. Kami menonton Operet Anak 'Cindelarasa' dan 'Pinokio'. Masya Allah, bahagianyaaaaa! Mungkin ini bahagia yang paling membahagiakan dalam minggu ini. Melihat anak-anak kecil itu menari dan menyanyi bikin hatiku krenyes-krenyes. Wajah mereka sungguh bahagia. Apalagi mendengar suara penyanyi cilik tadi, dadaku meledak-ledak saking harunya. Sekuat tenaga aku menahan air mata pada beberapa adegan. Bukan karena ceritanya, tapi karena melihat kreativitas bocah-bocah lucu itu. Tawa mereka begitu lepas.


Sesungguhnya aku sedang sedih melihat anak-anak masa kini. Pendidikan di Indonesia yang makin carut-marut bikin mereka stress. Coba bayangkan, anak kelas 6 SD sudah dikasih tugas meresensi buku! Gila nggak tuh? Adikku yang masih menginjak kelas 3 SD sudah diajarin materi yang nggak seharusnya dia dapatkan di usia sedini itu. Anak usia 2 tahun sudah diajari calistung--dan ketika dewasa mereka akan menjadi pribadi yang apatis dan egois. Belum lagi kalau melihat tontonan TV. Tayangannya makin nggak mendidik dan aneh-aneh. Mulai dari Ganteng-Ganteng Serigala sampai Manusia Harimau. Ada juga sebuah sinetron--lupa judulnya--yang menyuguhkan kehidupan anak SD. Isinya? Ya rebutan pacar, geng-gengan, dan bullying. Belum lagi pakaian mereka yang sungguh menyedihkan sekali. Rok mini dengan dandanan menor. Tongkrongannya kafe. Ke mana-mana bermobil. Kerjaannya menindas orang lain.



Indonesia, boleh aku menangis?
Aku mencintaimu dan membencimu sekaligus.


Ketika menonton Operet tadi, entah kenapa otakku malah mengaitkannya dengan kondisi politik Indonesia yang menjijikkan. Aku teringat kelakukan orang-orang DPR yang rebutan kursi ketika melihat adegan pengusiran Ratu. Alkisah, selir Raja meracuni Ratu karena ingin meraih posisi Ratu. Ia ingin anaknya yang kelak menjadi Raja, bukan anak Ratu. Juga, ketika ada adegan pertarungan ayam kurus dan ayam gemuk, seketika aku teringat Jokowi yang kurus dan Prabowo yang tambun. Entah apa yang terjadi dengan otakku tadi sore.


Tapi ketika melihat anak-anak itu menari bersama, oh Tuhan ... jangan tanya bagaimana perasaanku. Bahagia.


Diam-diam aku membuat perjanjian dalam hati. Kelak, jika aku memiliki anak, tak akan kubiarkan mereka mengenal TV di usia balita. Tak akan kubiarkan mereka memegang gadget sesuka hati. Tak akan kubiarkan mereka tersiksa karena harus belajar calistung di saat mereka harus mengembangkan diri. Tak akan kubiarkan mereka menjalani sekolah formal yang menganut kurikulum 'edan'.


Karena ibu adalah pendidik utama anak-anaknya. Aku akan merawat mereka dengan tanganku sendiri, tanpa bantuan baby sitter. Akan kudidik mereka sebaik-baiknya. Ah, ya,tadi aku menemukan postingan menarik mengenai cara mendidik anak.


Diana Baumrind menjelaskan ada 3 macam gaya pengasuhan anak : (1) permissive, mengasuh anak dengan sangat longgar, miskin disiplin dan aturan, tidak ada tuntutan dari orang tua, orang tua cenderung mengabulkan segala permintaan anak(kemudian dijabarkan menjadi permissive indeferent dan indulgence) (2) Authoritarian atau enaknya disebut otoriter. Orang tua membuat batasan yg tegas, tanpa kompromi, anak dalam kontrol orang tua sepenuhnya dan (3) Autoritatif atau demokratis, orang tua selalu memberikan alasan logis tentang suatu aturan dan anak diberi kebebasan menentukan sendiri namun tetap dlm kontrol yg lebih fleksibel.
Semua ada baik buruknya bg anak. Tipe pertama anak akan punya self esteem tinggi, percaya diri, tdk takut dgn hal baru tp juga tak tau aturan, tdk bisa toleran, semaunya sendiri. Tipe kedua anak akan punya nilai juang, disiplin, tapi minderan, pendendam, gangguan emosi. Tipe ketiga banyak dirasa yg paling baik karena mengambil keuntungan dari kedua tipe sebelumnya dan mengurangi efek negatif dari keduanya. Namun gaya pengasuhan ini yg paling sulit diterapkan.
Jauuh sebelum Diana Baumrind merumuskan gaya pengasuhan anak, Ali bin Abu thalib telah memberi petuah yg hampir mirip dgn teori itu. Bedanya, orang tua tidak hanya menerepkan salah satu gaya pengasuhan, tapi ketiganya.
Pada usia 0-7 tahun, perlakukan anak seperti raja -mendekati permissive-. Pada usia 7-14 tahun (ada yg mengatakan 18 tahun) perlakukan anak seperti tawanan -mendekati otoriter- dan ketika anak diatas 14/18 tahun, perlakukan ia seperti sahabat, demokratis.
Begitulah, demokrasi membutuhkan kedewasaan, kematangan dan usaha yg keras.
Untuk menjadi dewasa juga tidak mudah, banyak hal-hal berat yg harus dilalui, keputusan-keputusan dilematis yg harus diambil.



Nah, bagaimana? Mendidik anak bukan pekerjaan yang remeh, kan?
Itulah mengapa aku bertekad mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Ya, anak yang cerdas terlahir dari ibu yang cerdas, kan? :)



Rabu, 8 Oktober 2014.
Pukul 00:43 WIB.

Surat.

No Comments »

Kepada: Rei-san.

Apa kabar? Ini sudah tahun kedua sejak terakhir kali aku melihatmu. Bagaimana bunga sakura di sana? Sudah mekar kah? Pasti menyenangkan hidup di negara empat musim. Hal yang sangat kuinginkan sejak dulu. Ah, ya, kali ini suratku tak akan sepanjang sebelumnya. Aku tahu kau di sana begitu sibuk--tapi semoga kau tak lupa makan agar kesehatanmu senantiasa terjaga.

Rei, domo arigatou gozaimasu. Sadar tidak sadar, kau telah memberiku energi positif. Kau berhasil menularkan semangatmu kepadaku. Melihat perjuanganmu yang begitu mati-matian membuatku bangga sekaligus malu pada diri sendiri. Aku masih sangat sering didera moody yang berujung pada rasa malas. Entah berapa kali aku ingin menyerah dengan impianku yang tampak muluk-muluk ini, tapi kau selalu berhasil mengajakku bangkit.

Aku terus berlari. Tak terhitung berapa kali aku terjatuh di tengah jalan. Tubuhku penuh luka. Napasku nyaris habis. Pandanganku telah mengabur. Dan dalam kondisi seperti itu, sosokmu selalu muncul sembari melambaikan tangan.
"Ayo, terus berlari! Kau hampir meraih garis finish!" teriakmu penuh semangat. Dan aku kembali berlari...


Biar kukatakan sesuatu kepadamu.
Sejak bertemu denganm tiga tahun lalu, aku tahu kau memiliki pengaruh untuk memporak-porandakan tatanan hidupku yang kususun dengan rapi. Impian itu telah lama membangkai, tapi kau dengan kurang ajar menghidupkannya lagi. Ya, kau. Semangatmu yang berapi-api itu menjalari seluruh tubuhku. Aku tak mungkin lupa pada pertemuan itu. Di ruang kelas seni, seorang laki-laki asing tiba-tiba masuk kelas dengan tampang bingung. Di punggungmu tersampir sebilah katana. Rambut acakmu seketika mengingatkanku pada tokoh anime. Kau bertanya perihal tugas sementara otakku masih mencerna siapakah dirimu.
"Eto ... anata wa donata desu ka?" tanyaku.
"Ah, sumimasen. Watashi wa Rei Kimura desu," jawabmu.
Aku mengangguk. Rupanya kau bukan mahasiswa jurusanku. Dan Bu Kay seenaknya memasukkanmu dalam kelompokku. Kita pun bekerja sama. Di situ lah aku mulai mengagumimu dalam diam, Rei. Kau begitu ulet. Kau mengejar cita-cita dengan perjuangan yang tak semua orang bisa melakukannya. Kau berhasil mengalahkan ribuan manusia dalam seleksi ketat M*nbu. Kau bekerja keras. Sangat keras. Dan seketika itu juga kau mengingatkanku akan impian terpendam.


Menjejak negeri sakura dan belajar di sana.


 Impian itu kubunuh pelan-pelan ketika kenyataan berbicara lain. Orang tuaku lebih suka jika anaknya menjadi seorang guru. Tak ada jalan untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan negeri sakura. Dan pada akhirnya aku terdampar di dunia sastra--tapi aku tak menyesal karena aku juga menyukainya.


Pada awal semester lalu, aku sengaja benar mengambil kursus bahasa Jepang. Tapi aku gagal, Rei. Untuk menembus JLPT N2, setidaknya aku harus melewati N5, N4, dan N3. Dan aku terkapar di tahap N5. Sedih dan kecewa. Aku bahkan tak bisa mengalahkan diriku sendiri.

Kini, aku berusaha berdiri kembali. Di saat teman-teman lain sibuk dengan tugas akhir, aku dengan santainya mengambil banyak SKS bahasa asing. Setua ini, seharusnya aku fokus pada skripsi dan apalah itu namanya. Tapi aku memilih jalan lain. Aku tahu apa yang sangat kuinginkan saat ini, jadi aku akan mengejarnya.

Oh, Rei, maaf. Suratku terlalu panjang, ya? Sumimasen... aku terbawa perasaan.


Arigatou gozaimasu, Rei. Tiga tahun berlalu sudah.
Kau telah mengajariku banyak hal. Banyaaaak sekali. Tuhan membuka pintu melaluimu, hingga aku dapat memasukinya. Melaluimu, aku belajar bagaimana menjadi manusia tangguh. Meski, di sela-sela itu dadaku juga nyeri karenamu. Tak apa. Bukankah rasa sakit juga dapat menjadi penyembuh lara?


Aku sudah berlari hingga sejauh ini.
Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih.






Tertanda,


-Alia-

Menjadi Wanita

1 Comment »

Seharian kemarin, emosiku berubah-ubah. Pagi hari bahagiaaaa sekali. Dan anehnya, bahagia itu tanpa sebab. Macam orang kasmaran, aku senyum-senyum sendiri. Padahal enggak lagi jatuh cinta. Enggak lagi kenapa-napa. Seneng tanpa tahu apa penyebabnya. Beberapa jam kemudian, mendadak nggak mood. Badan rasanya lemas dan capek, padahal nggak ngapa-ngapain. Selesai makan siang dengan Vika, aku langsung pulang. Pengennya maraaaah terus. Mendadak jadi makhluk sensitif sekali. Gara-gara sms-ku dicuekin sama Budi, langsung bete. Padahal biasanya enggak gitu. Lihat kamar berantakan, pengen marah. Bahkan kucing tak bersalah yang lewat depan kamar pun jadi sasaran. Aku kenapa? Enggak tahu. Ingat kalau ada tugas sosiologi sastra, aku langsung baca buku Prof. Faruk. Baru baca dua paragraf, tiba-tiba keringat dingin bercucuran. Badan semakin lemas. Sempoyongan buka pintu, tahu-tahu ambruk. Untung kepalaku jatoh ke kasur, bukan ke lantai. Perut melilit. Sakit. Lihat jam udah pukul tiga sore. Nggak sanggup jalan. Ujung-ujungnya bolos kuliah. Ben.
Dua jam gelimpungan di kasur sembari menahan perih di perut. Nyeri. Sakit. Rasanya seperti ditusuk jarum pentul. Pukul lima sore, kondisi lumayan membaik. Aku berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Dan .... voila! I get periode!
Oh, wanita. Sebegini menderitanya ketika tamu bulanan datang. Tamu yang selalu bikin aku cemas. Kalau nggak datang ditunggu-tunggu, kalau datang dicaci-maki. Ah, namanya juga siklus. Aku pernah membaca artikel di internet, tamu bulanan memang mempengaruhi emosi seseorang. Umumnya wanita akan terlihat letih di hari-hari pertama, kemudian jadi sensi abis. Cara mencegah agar orang lain nggak jadi sasaran adalah istirahat. Tidur.
"Baru PMS aja udah ngeluh. Sakitnya tuh nggak ada apa-apanya sama ngelahirin!" kata Ibu pas kutelepon kemarin.
Iya, ya. Benar juga. Ah, menjadi wanita itu memang tak mudah.




Iki aku nulis opo? Mbuh. Luweh.

Pilihan

No Comments »

Menjadi mahasiswa tingkat akhir memang cenderung santai kelihatannya. Kuliah udah jarang, praktis selo banget. Masing-masing orang pun berusaha menyembunyikan kegelisahan mengenai tugas akhir a.k.a skripsi. Ya, termasuk aku. Pasca KKN, aku belum satu kali pun menyentuh novel yang kelak akan kujadikan objek kajian skripsi. Rencananya aku akan memakai novel Kak Erni Aladjai sebagai objek. Tapi kenyataannya, sampai saat ini aku belum melakukan apa pun.
Berbeda dengan teman-teman lain yang tinggal skripsi atau mengambil satu-dua mata kuliah, semester ini aku masih mengambil banyak SKS. Aku mengambil tiga mata kuliah lintas jurusan sekaligus. Bahasa Jepang, Bahasa Korea, dan Bahasa Thailand. Tiga mata kuliah itu yang benar-benar kutekuni dibanding mata kuliah lain. Tahu kenapa?
Impian. Ya, aku memiliki impian yang diragukan banyak orang. Impian yang kedengarannya absurd alias nggak jelas. Tapi aku benar-benar berusaha keras untuk itu.
Kegiatan yang rutin kulakukan saat ini adalah berlatih menulis, menghafal kosakata, membaca komik, mengajar, dan menggarap proposal novel. Kemarin pagi, tahu-tahu aku mendapat sebuah pemberitahuan seperti ini.

Novel debut yang kutulis dengan berdarah-darah pada akhirnya harus direvisi lagi. Nggak papa. Kali ini aku nggak ngeluh-ngeluh lagi. Aku terima saja apa yang ada. Ini adalah proses. Proses yang sangat panjang dan kelak akan berbuah manis. Semoga.
Kemudian aku disadarkan oleh sesuatu. S-K-R-I-P-S-I.
Padahal, sepanjang bulan Oktober sudah kujadwalkan untuk melakukan riset dan menggarap draft novel kupresentasikan di Bentang. November baru lah menggarap skripsi.
Tapi tampaknya sekarang aku benar-benar harus memilih. Aku tidak mungkin menunda revisi novel karena tinggal selangkah lagi akan edar. Aku juga tidak mungkin menunda penggarapan draft novel. Jika aku menundanya, draft itu akan membangkai seperti draft-draft terdahulu.



Lalu ....





Tiba-tiba saja nuraniku berteriak-teriak.


Apa sebenarnya yang kau inginkan?
Apa yang kau butuhkan?
Mana yang kau prioritaskan?
Kau menggarap skripsi karena niatanmu sendiri atau karena panik melihat teman-temanmu?




Dan pada akhirnya aku memang harus memilih. Aku tak bisa melakukannya dalam waktu bersamaan. Maka, kuputuskan untuk meninggalkan skripsi tuk sementara. Biarkan aku menggapai apa yang benar-benar kuinginkan saat ini....

Sabda

No Comments »

"Tunggulah hingga ia datang, kemudian cobalah untuk menyelaminya sedalam lautan. Agar kau tak lagi merasakan sakit berkepanjangan. Karena jika kau yang mendatangi, kau akan kembali jatuh entah untuk yang ke berapa kali." -Ibu-

Janji

No Comments »

"Aku sudah kenyang makan janji lelaki dengan segala ke-prek-annya. Aku nggak akan percaya selama kau belum membuktikannya. Jadi, jangan coba-coba mengikatku dengan janji yang kaubilang serius itu. Sebelum kau melaksanakan apa yang kau ucapkan, tidak ada apa-apa di antara kita."

                                                                            *******



"Aku tidak menyangka kalau rasanya bakal sesakit ini," katanya sembari menatap senja dari Candi terbesar di Prambanan.
"Tapi itu bisa dijadikan pembelajaran untuk dirimu sendiri, bahwa kau tidak boleh mudah percaya dengan janji lelaki mana pun. Seserius apa pun janjinya, kalau nggak dilaksanain ya sama aja omong kosong," timpalku. "Siapa yang bisa menjamin kalau dia bakal tetap mencintaimu?"
"Kok kamu gitu sih?"
"Yah, bukankah hati manusia gampang terbolak-balik? Temanku yang tujuh tahun pacaran, tahu-tahu putus gegara diselingkuhin. Bisa kau bayangkan sakitnya kayak apa?"
"....."
"Berapa banyak waktu yang terbuang? Hm? Dari pengalaman hidupnya itu, aku belajar banyak. Salah satunya, ya, itu. Jangan mudah percaya dengan janji. Walaupun janji yang diucapkan orang yang kau cintai itu kedengarannya serius, tapi kau juga musti hati-hati. Perasaan yang berkembang tanpa ada kejelasan itu bisa kadaluarsa kapan pun."
"Kesimpulannya, aku harus meminta kejelasan?"
"Ya.Yang pacaran bertahun-tahun aja bisa kandas, apalagi kalian yang nggak jelas arah tujuannya. Ibuku selalu bilang, cintailah lelaki dengan sewajarnya. Jangan berlebihan. Nanti kalau jatuh, sakitnya nggak ketulungan."
"Mmm ..."
"Sejak 'kejadian' itu menimpaku, aku nggak lagi-lagi deh main perasaan secara berlebihan. Suka, ya, suka aja. Seperlunya. Kalau toh orang yang aku sukai ternyata memiliki perasaan yang sama, tetap saja aku nggak mau percaya gitu aja dengan janji yang dia bikin. Sebelum dia membuktikan perkataannya, jangan harap bisa mengikatku."
"Pembuktian? Contohnya?"
"Menikahiku."



Prambanan, 8 September 2014.

Bab Kesekian--Dalam Suasana yang Emboh Sekali

No Comments »



Risma mengepaki barang-barangnya dengan perasaan campur aduk. Jadi begini rasanya hidup di Kampung Inggris. Pada hari-hari pertama tinggal di tempat ini, ia selalu menanti akhir bulan agar bisa cepat pulang. Ia membenci bahasa Inggris sampai ke ubun-ubun. Tapi kebenciannya perlahan-lahan luntur seiring dengan kebersamaan yang ia rasakan bersama teman-teman. Kampung Inggris menyimpan berjuta cerita yang tidak terlupakan. Setiap sudut Kampung Inggris memiliki kesan tersendiri baginya. Elfast, camp Griya Kemuning, teman-teman E-Fast One, Sakti, Mei, Mr. Kalend, Air Terjun Madakaripura, Candi Surowono, Toko Buku “Berkah”, ratusan sepeda ontel yang memenuhi jalanan setiap harinya, dan semua hal yang ada di Kampung Inggris kelak akan selalu ia rindukan.


“Risma, beneran nih mau pulang sekarang? Keep contact, ya!” Army memeluk Risma erat-erat. Sudut matanya berair.
  “Of course yes, my beloved roommate,” jawab Risma sambil tersenyum.
   “Jaga diri kamu baik-baik. Semoga cepat meraih gelar sarjana!” kata Usta setengah bercanda.
   “Iya, Miss. Makasih banyak atas semua ilmu yang Miss Usta berikan,” Risma memeluk Usta.
    “Kalau jadian dengan Mr. Sakti, kabar-kabar, ya,” celetuk Elsa.
  Anak-anak tertawa. Satu per satu memeluknya, memberikan salam perpisahan. Ah, betapa menyedihkannya. Sembari menahan air matanya agar tidak tumpah, ia berjalan menuju taksi yang sedari tadi menunggunya. Risma melambaikan tangannya dari dalam. Begitu taksi berjalan dan menjauh dari camp Griya Kemuning, tangis Risma pecah.
      Tetiba saja ia teringat Sakti. Entah di mana anak itu sekarang. Setelah berjanji akan menemuinya sebelum ia pulang ke Jogja, Sakti menghilang begitu saja. Tak ada kabar apa pun sejak pagi. Mungkin Sakti sudah melupakannya. Mungkin Sakti sedari awal memang hanya mempermainkannya. Kampung Inggris memang identik dengan cinta periode, kan? Dan ia menjadi salah satu orang yang terjebak di dalamnya

Pada Akhirnya

No Comments »

Pada akhirnya saya golput, meski saya tak ingin. Sudah menentukan pilihan, tapi apa boleh buat. Saya terlalu ceroboh, sih. Nyesek memang. Ah, sudahlah. Entah Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta yang menang, semoga Indonesia-ku jauh lebih baik. Aamiin.