Teater

2 Comments »

Aku jatuh cinta diam-diam pada seni teater sejak mengenalnya beberapa tahun silam. Aku masih ingat benar, dulu pas SMP selalu kebagian bikin naskah dan bermain peran setiap hari Jumat. Memang bukan pagelaran teater besar-besaran--dan naskah yang kubikin juga amat konyol--tapi aku merasa senang. Sepulang sekolah kami rutin latihan di rumah teman, bergiliran. Meski hiburan itu hanya dapat kami pertontonkan di depan kelas, rasanya bahagia luar biasa.
Memasuki SMA, kecintaanku pada dunia ini semakin menggila. Aku tidak pernah absen menonton pagelaran ekskul teater yang diselenggarakan oleh sekolahku atau sekolah-sekolah lain :)
Pertengahan kelas 1 SMA, aku dan teman-teman sekelas sepakat bikin pertunjukan kecil-kecilan untuk acara ulang tahun sekolah. Aku dan Anggun berkolaborasi bikin naskah, lupa judulnya apaan. Aku ikutan main, jadi emak-emak pake daster dan rempong. Jangan tanya seperti apa karakternya. Seperti sebuah kutukan, aku selalu kebagian peran antagonis. Pertunjukan semi komedi itu sukses menghibur penonton. Meskipun kami nggak menang, tapi kami senang :)
Naik kelas 2, aku tertarik untuk bergabung dengan teater Bulu--ekskul teater di sekolahku. Tetapi pada akhirnya keinginan itu hanya bisa kupendam dalam-dalam. Aku hanya sempat bergabung dengan teater Bulu selama dua minggu, setelah itu keluar. Teman-teman mengamanahiku memaksaku untuk menjadi ketua ekskul Arjuna (Arek Jurnalistik SMANA), ekskul yang hampir mati dan menyimpan kasus di dalamnya. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk menghidupkan kembali ekskul itu. Perjuanganya gila-gilaan, sampai aku pernah dibawa ke BP karena kasus X. Dulu aku memang menjadi salah satu siswa bermasalah di sekolah. Kapan-kapan lah kuceritakan :v
Meskipun tidak tergabung di ekskul teater, aku cukup senang dengan peraturan sekolah yang memasukkan teater sebagai mata pelajaran kesenian, selain wayangan dan bikin barang kerajinan. Ketika UTS dan UAS, setiap kelas wajib menampilkan pementasan teater. Aku kebagian bikin naskah dan ngatur yeal-yeal. Kami mementaskan teater "Bawang Merah dan Bawang Putih" untuk UTS. Jangan bayangkan cerita Bawang Merah dan Bawang Putih kayak di dongeng-dongeng, karena ceritanya udah kami obrak-abrik biar nggak mainstream, heuheu. Dan teater itu sukses beraaattt! (y) Sampai sekarang, video dokumentasi teater itu masih kusimpan. Rasanya nyesek sekali tiap kali nonton. Karena di dalam video itu ada salah satu pemain yang dipanggil Tuhan beberapa waktu lalu. Utomo Harumi Joyo, teman kami yang begitu polos dan baik sekali :'( Ah, Tomooooo! *ngusap air mata*
Pas UAS, lagi-lagi aku membikin naskah sekaligus menjadi pemeran utama. Bukannya kemaruk lho ya, ini lebih karena temen-temen enggak ada yang mau memerankannya -____-  Yak, pemeran utamanya adalah orang gila, huahahaha. Judul pementasan itu "Menunggu Pagi". Aku bermain bersama Jefta, Zulfa, dan Augusta. Ceritanya tentang seorang ibu yang mateni suami dan anak-anaknya karena himpitan ekonomi. Hal yang tidak pernah kami sangka adalah respons Pak Hadi, salah satu juri pementasan. Selepas pentas, beliau mendatangi kami.
"Kalian hebat! Kalian juara! Saya sampai menangis, hlo! Indi, kamu cocok menjadi orang gila, hahahah!" kata beliau.
Kami mengamini ucapannya, kecuali kalimat terakhir -___-
Teman-teman mengapresiasi pementasan "Menunggu Pagi" bikinan anak-anak IPS 2. Kami terharu banget :')
Teater itu semacam kado terindah sebelum kami menginjak kelas 3 dan disukkan dengan makhluk busuk bernama UAN.

Tadi siang, aku dan Nanda nonton video teater itu. Dia ngakak, semacam tidak menyangka kalau orang gila di video itu adalah aku -___-
"Kenapa kamu nggak gabung sama teater kampus, Ndi?"
Jlag. Pertanyaannya itu cukup bikin aku speechless. Sesungguhnya aku kepingin, tapi karena suatu hal aku nggak jadi gabung. Dulu sempat ditawarin Nining main di Vrhatnala, tapi kesempatan itu kubuang sia-sia gegara isi otakku yang waktu itu lagi 'kedoktrin' dan konslet.
Hingga satu setengah tahun kemudian, aku kembali ditawarin dipaksa Nining buat main di teater Kami Bercerita. Didukung oleh rasa kangen teateran, aku mengiyakan tawaran itu. Kami mengadaptasi cerpen "Pelajaran Mengarang" untuk dipentaskan. Ah, jangan ditanya bahagianya kayak apa. Rasanya seperti menemukan dunia yang sekian lama hilang :')
Semester 6, aku mengambil mata kuliah Dramaturgi. Bertemu teater lagi. Senang, senang, senang. Kami mementaskan "Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan" dengan proses berdarah-darah. Mulai konflik internal sampai mendengar komentar Pak Agus Leyloor yang bikin drop di H-3. Akhirnya kami sepakat mengubah beberapa bagian pada H-2. Bayangkan! Kata Pak Leyloor, apa yang dilihatnya pas gladi kotor berbeda 180 derajat dengan apa yang dilihat pas pementasan, hahaha. Auditorium FIB ramainya minta ampun, nggak ada yang nyangka bakal sepenuh itu. Kami bahagia :')



Bagi sebagian orang, main teater adalah pekerjaan yang sangat melelahkan dan 'nggak berguna'. Tapi tidak bagiku. Teater adalah kegiatan yang menyenangkan. Dengan teater, kita bisa menjadi manusia yang lebih waras.

Potongan Novel

No Comments »



           “But everything has changed since i met you. Don’t ask me ‘why’, i didn't know. i just feel that you are the answer all of my anxiety. You make me feel the feelings that have been long lost. I think that you are the one that I’ve been looking for. If I say that I falling in love with you, can you believe it?”
             Hening.
            “Can you believe it?” Sakti meraih wajah Risma, menatapnya lekat-lekat.
            Risma merasakan dadanya berdenyut kencang. Sampai-sampai ia takut Sakti bisa mendengarnya. Ia menghembuskan napas pelan, kemudian berkata, “Sak, kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti.”
            “Oh?” Sakti refleks melepaskan tangannya. “My God …”
           Risma garuk-garuk kepala. “Kamu ngomongnya cepet banget, aku mana ngerti. Itu tadi artinya apa?”
           God! Kill me now! Sakti berteriak-teriak frustrasi di dalam hati. Ia meremas-remas rambutnya saking kesalnya. Ia baru sadar, gadis yang berdiri di depannya adalah murid paling bodoh yang ia miliki.

Bunuh Aku Sekarang!

1 Comment »


Aku memperjuangkan naskah ini sejak Agustus 2013 sampai sekarang. Naskah novel yang kubuat sepenuh hati, dibarengi riset dua kali ke Kampung Inggris. Jangan tanya berapa banyak biaya yang kukeluarkan. Menulis novel itu tidak mudah. Sungguh tidak mudah. Kamu harus melawan setan jahanam bernama mood. Belum lagi kalau kamu tengah didera tumpukan tugas kuliah yang membuatmu ingin muntah.
Kamu tahu? Berbulan-bulan aku merevisinya. Ini revisi kelima. Ada perjanjian dengan penerbit bahwa novel itu harus selesai bulan ini. Kover novel masih dalam proses. Aku stress. Jujur saja. Apalagi ketika laptopku satu-satunya rusak. Aku tak mungkin serta merta minta dibelikan laptop kepada orang tua. Keluargaku bukan konglomerat!
Aku meminjam laptop dari teman satu ke teman lain. Kumanfaatkan laptop pinjaman itu dikala mereka senggang. Satu minggu terakhir, laptopku agak waras sehingga aku bisa mempergunakannya dengan baik. Kukejar deadline itu seperti orang kesetanan. Tak kuhiraukan jadwal tidurku yang carut-marut. Mata berkantung hitam, bodo amat. Kuselesaikan novel itu di tengah-tengah latihan teater dramaturgi yang kian padat, ujian bahasa Inggris, tugas, dan KKN.
File novel itu kusimpan baik-baik di flashdisk. Dan malam ini, flashdisk itu tak bisa dibuka. Rusak tanpa sebab. Fak.

TOLONG, BUNUH AKU SEKARANG JUGA!!!!

Lembayung Bali

No Comments »

Sepagi ini, lebih dari 50 kali telingaku mendengar lantunan "Lembayung Bali". Tidak ada yang kulakukan selain duduk diam sembari mendengar lagu itu. Dan tetiba saja, pikiranku melayang. Jauh ... jauh ... ke masa kanak dulu. Meski sudah usang, otakku mampu mengingatnya dengan baik.
Apakah kau masih ingat?
Dinding sekolah yang kusam itu. Guru A yang sangat berwibawa, guru B yang berotak mesum, atau guru C yang galaknya minta ampun.  Kantin kecil yang selalu sesak ketika bel istirahat. Suasana kelas yang membosankan. Dan, pertemuan aneh nan absurd itu. Iya, kau dan aku. Hahaha. Bolehkah aku menertawakan kepolosan itu?

--- ---- --- ---

Pada suatu siang yang panas. Di antara ratusan anak-anak itu, kau melihatku, seorang bocah kecil berambut panjang tengah berdiri di depan kelas. Aku mengenakan celana pendek sedengkul dan kaus lengan panjang yang digulung sampai siku. Rambut panjangku diikat kuda. Kau memerhatikanku sampai seorang teman menyenggol bahumu.
"Ayo masuk kelas," ajaknya.
Kau mengangguk, lantas menatapku sekali lagi. Kau pun tahu, hari-harimu akan berubah sejak saat itu.

---- ---- ----

Lima belas hari kemudian, kau terpental di pinggir jalan. Mukamu babak belur akibat pukulanku. Sembari berkacak pinggang, mulutku mengeluarkan pisuhan-pisuhan khas orang ngamuk.
"Cuks! Pergilah kau ke neraka!" umpatku dengan kekesalan tingkat tinggi, lantas meninggalkanmu begitu saja.
Kau mulai berpikir bahwa aku adalah monster. Perilakuku sama sekali tidak mencerminkan seorang bocah perempuan pada umumnya. Dan aku tidak peduli.

--- --- ----

Kau tetap saja mengusikku. Semakin aku beringas menghajarmu, kau semakin beringas pula mengusikku. Kupikir tindakanmu terlalu dewasa untuk usia 12 tahun. Bagaimana tidak? Kau mengeluarkan kata-kata yang membuat perutku mual. Dan kau tersenyum tanpa dosa!
Segala macam cara kulakukan. Menghajarmu sepulang sekolah? Sudah. Mencoreti bukumu? Sudah. Mengempesi ban sepedamu? Sudah. Membuang tasmu ke selokan? Sudah. Mempermalukanmu di depan umum? Setiap hari kulakukan.

Tapi kau tetap mengusikku. Aku kehabisan akal.


--- ---- ----

Bertahun-tahun kemudian. Pertemuan tak terduga.
"Apakah kau masih memusuhiku?" tanyamu dengan raut cemas.
"Tentu saja tidak. Memangnya kau pikir aku masih anak-anak?" aku tertawa. Tepatnya, menertawakan kelakuanku di masa lalu. Itu sangat konyol.
Senyummu mengembang. Sejak saat itu, kita berteman.


.... tapi kita tak pernah bisa benar-benar menjadi teman. Kau kembali membahas hal-hal yang kau ucapkan dahulu. Tentang sesuatu yang kau rasakan ketika melihat bocah kecil berambut panjang di depan kelas....



--- --- ---

Butuh waktu enam tahun untuk membuat mulutku berkata "Mungkin aku harus mengenalmu dahulu".
Kau bersorak. Merasa bahwa hal yang kau tunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya itu tidak sia-sia.

       .... tapi memang sia-sia, kan? Sejak kalimat itu meluncur dari mulutku, semuanya tak lagi sama. Bunga yang mekar itu layu seiring dengan tindakan bodohmu. Nyatanya, kebencianku terhadapmu lebih parah ketimbang kebencian di masa kanak-kanak.


Kau menghancurkan rasa percaya yang kuberikan.


--- --- ----

Aku tak lagi bisa mempercayai makhluk sejenismu. Salahkah?


Toh hidupku terlalu sia-sia jika hanya dihabiskan untuk mengurusi hal-hal remeh semacam perasaan. Kau tentu masih ingat dengan cita-cita yang pernah kuutarakan padamu. Dahulu.


--- --- ----


Pagi ini. Tetiba saja kau menyeruak dalam ingatanku. Apakah aku rindu? Mungkin. Lalu kubiarkan telingaku mendengarkan "Lembayung Bali". Lagu itu lah yang menemani perjalananku ke kotamu, bertahun-tahun lalu.




[Sejujurnya] Saya Rindu

No Comments »

Terakhir kali berbincang hangat denganmu, mungkin setahun lalu. Sebelum pada akhirnya kamu bersikap agak dingin padaku (atau mungkin hanya perasaanku saja?). Kita tak lagi saling sapa, kalau pun bertemu hanya berbincang seperlunya. Iya, seperlunya.
Ini memang agak melankolis, tapi saya merasa kehilangan. Pernah suatu kali, saya dan teman-teman membincangmu diam-diam. Menanyakan dirimu yang tiba-tiba menarik diri, seolah-olah tak saling kenal. Ada apa? Kenapa? Bermacam cara kami lakukan, hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk "diam". Kami takut kamu merasa tak nyaman dengan "teror" kami.


Hai. Saya merindukanmu, hlo. 
Saya rindu kamu menginap di kosanku. Saya rindu smsan nggak jelas. Saya rindu berteriak-teriak heboh "Mbaaak!" dari kejauhan. Saya rindu makan bareng malam-malam. Saya rindu berbagi cerita denganmu. Saya rindu menceritakan hal-hal nggak penting (yang mungkin membuatmu bosan padaku).

Dan hari ini, kamu menyandang gelar Sarjana. Saya turut bahagia. Teman-teman heboh ingin hadir ke acara wisudamu, tapi sialnya saya tak bisa hadir. Tapi, apa pun itu, doaku menyertaimu...



.Indiana.

Jalan di Tempat

No Comments »

Kau sadar tidak?
Semua orang sudah berlari jauh. Jauh ... sekali, hingga kau dapat menemukan jejak mereka di mana pun kau berpijak. Dan kau masih jalan di tempat.

Hallo, Mblo.

2 Comments »

Ketika orang-orang bertanya:
1. Mana pacarmu?
2. Kapan menikah?
3. Lu kagak bosen idup ngejombloooo mulu?
4. Are you normal?

Ketika keluarga mulai rieweh:
1. Apakah kau sudah punya gandengan?
2. Kalau cari suami jangan jauh-jauh, ya.
3. Masa kau tak dekat dengan satu lelaki pun di dunia ini?
4. Are you normal?


Yang ada dalam otak saya adalah:
1. Kapaaaaaan revisian novelku kelaaarrr?
2. Kapaaaaaan dapet kabar dari penerbit incaran itu?
3. Bisakah tahun ini menerbitkan novel? T.T
4. Lebih rajin belajarnya doooong! Katanya mau S2 di TUFS!
5. Segera tingkatkan skor TOEFL kamu, nak.
6. Beasiswa. Beasiswa. Beasiswa.
7. Menuntaskan hasrat mbolang ke mana-mana!


Jadi, jangan lagi kau lemparkan pertanyaan-pertanyaan membosankan itu. Saya malas menjawabnya. Hoahm...

Janji

No Comments »

Ketika Maret telah berakhir dan janjimu padaku tak jua kau penuhi. Maka, mari lupakan saja. Anggap semuanya tak pernah ada.


Jadi, jangan lagi kau ucapkan maaf. A cattle of fish, right? :)
Percuma. 

Ketika Semangatmu Melemah

2 Comments »

Dan ketika semangat itu melemah, sebuah undangan elektronik nongol di inbox Facebook-ku. Di sana tertulis: Grasindo Goes to Jogja. Aku langsung melompat-lompat di depan laptop. Benar-benar nggak nyangka bakalan dapat undangan eksklusif itu. Acara itu bertempat di Semesta Coffee, sebuah kafe yang terletak di Jl. Abu Bakar Ali. 
Pukul setengah dua belas siang, aku bersiap ke sana. Tidak ada orang yang kukenal selain Mbak Ari, dan aku enjoy saja. Aku termasuk orang yang gampang beradaptasi dengan lingkungan baru, nggak takut sendirian, malah senang karena pasti dapat teman baru :D
Karena motorku rusak dan aku lagi nggak ada duit buat bawa ke Bengkel, aku menyewa seorang tukang ojek yang baik hati. Namanya Pak Minto. Ketika aku sedang jalan kaki menuju jalan besar buat cari taksi atau ojek, beliau memanggilku dari depan rumahnya.
"Ngojek, Mbak?" tanyanya. Aku langsung mengangguk dengan wajah sumringah. Jadi enggak perlu capek-capek nunggu ojek, kan?
Pak Minto ini ramaaah sekali. Beliau sama sekali tidak mengeluh meskipun aku sudah mengomel panjang lebar gegara aksi pawai partai PDI yang heeellll banget! Dan sumpah demi apa pun aku enggak bakal nyoblos itu partai. Kebut-kebutan di jalan, nerabas lampu merah, maki-maki orang seenak jidat, bikin polusi suara, hiiiih! Lu kate itu keren? Kagak!
Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 10 menit jadi molor sejam. Kurang ajaaaar, aku telat! Pak Minto terpaksa mutar arah karena jalanan macet. Gara-gara PDI kampret itu!
Sesampainya di Semesta Coffee, aku berpesan kepada Pak Minto untuk menjemputku pukul 4 sore. Beliau mengangguk sambil tersenyum ramah. Dan aku cukup terkejut karena tarif ojeknya yang terhitung murah. Benar-benar tukang ojek yang tahu kantong mahasiswa! :D

Di acara #GrasindoGoesToJogja itu, aku bertemu dengan banyak penulis yang memiliki semangat "raaawwwrrr" banget. Masing-masing menceritakan pengalamannya masing-masing. Ada yang baru dimuat cerpennya setelah mengalami 120 kali penolakan, ada yang naskahnya baru diterbitkan setelah 2 tahun menunggu keputusan redaksi, ada yang disuruh ngerevisi naskah sampe lima kali, ada yang pernah patah hati banget dan menjadikannya sebuah novel kece, ah pokoknya amazing banget. Bahkan, teman baru yang duduk di sampingku adalah seorang penulis yang baru saja memenangkan lomba novel bergengsi. Namanya Mbak Vita, mahasiswa S2 UIN. Anaknya ramah dan asyik diajak ngobrol sepanjang acara. Setelah acara selesai, kami pun saling bertukar nomor hape. 
"Pokoknya kalau novelnya udah terbit, kasih tahu aku, ya, Mbak. Nanti aku bakal beli!" kataku.
"Ahahaha. Masih lama kok ..." jawabnya sambil tersenyum.
Yeah, salah satu cara untuk mendukung seorang penulis untuk terus berkarya adalah membeli karyanya, bukan memintanya. Karena aku tahu, betapa menulis itu membutuhkan banyak energi dan mental baja. Bikin otak babak belur. Dan aku jelas enggak akan tega minta gratisan setelah melihat perjuangannya. Membeli karya penulis itu bentuk penghargaan, kan? :)

Hampir semua penulis yang menjadi pembicara di acara itu adalah penulis baru. Aku enggak hapal semua namanya sih, maklum aku paling sulit nginget nama orang, hahaha. Penulis yang bikin atiku meleleh adalah Mas Tafrid Huda, penulis novel Dear Gita. Novel itu sesungguhnya adalah kisah cintanya yang menguras hati *eaaa. Ia bilang, "Ini adalah kegalauan yang bermartabat, hahaha. Ketika aku menulis, semua beban menghilang. Dan ketika novel ini diterbitkan, aku udah enggak peduli apakah dia baca novelku atau tidak."
Meeeeen, seketika aku teringat kisahku sendiri yang menggelikan di masa muda, hahahaha. *ngakak, nggak tahan!* 

Selain Mas Tafrid, ada lagi yang menginspirasiku. Aku lupa namanya, yang jelas dia ini anak kedokteran UGM semester 4. Dia pernah dimaki-maki oleh penerbit tertentu gara-gara naskahnya yang dianggap enggak mutu. Ada juga mas-mas ganteng item manis yang aku juga lupa namanya, dia menulis novel yang menurutku amazing. Tadi sempet nyari di toko buku Togamas, dan sialnya udah abis stoknya -____-"

Acara tadi amaaat menyenangkan. Di acara itu, semua undangan yang jumlahnya 50-an itu dapat goodie bag berisi dua buah novel, lima voucher buat beli buku, kaset VCD kepenulisan, dan entah apa lagi. Untuk ukuran mahasiswa kismin macam saya, tentu saja itu bagaikan nemu harta karun, hahahaha. Aku dapat novelnya Mas Tafrid Huda yang judulnya Dear Gita dan novelnya Yudhi Herwibowo yang judulnya Enigma. Aku mendapat banyak pencerahan di acara itu, termasuk mendapat jawaban atas kegalauan seorang penulis untuk menentukan genre tulisan: serius atau populer?

Selesai acara, aku langsung cus ke toko buku Togamas dengan Pak Minto. Dan lagi-lagi telat gegara kampanye PDI, hash. Tapi syukurlah, pas aku nyampe sana acaranya baru dimulai. Ada bedah buku Maya bersama Ayu Utami. Finally, aku melihat Mbak Ayu secara langsung. Cantik. Dia cantik banget. Mungkin kalo aku cowo, aku langsung jatuh cinta sama dia. Hahahaha. Oya, di sana aku juga bertemu dengan beberapa anak sasindo. Ada Muchtar, Galih, Nining, Yosa, sama dua anak 2013 yang lagi-lagi aku lupa namanya. Kami duduk berjajar menghadap Mbak Ayu. Aku merekam acara bedah buku itu di hape bututku. Kapan-kapan kuaplot di soundcloud ah, biar enggak ilang. Selesai acara, aku langsung nyamperin Mbak Ayu dan minta tanda tangan. Siapa tahu kepintarannya nular :3

Oya, acara bedah buku itu di Djendelo Cafe yang letaknya di atas tobuk Togamas. Aku tahu tempat itu tapi baru tadi menginjakkan kaki di sana, hahaha. Aku lebih seneng berlama-lama di toko bukunya sih. Setelah Mbak Ayu cabut, aku lanjutin ngopi di Djendelo sambil ngobrolin hal-hal nggak penting bareng Rengga, teman SMA-ku. Bocah itu terus mencerocos sementara mataku fokus ke lantai bawah. Surga buku. Tahu kalau aku lagi mupeng sama buku, dia pun menyuruhku turun.

"Wes, koni muduno timbang ngiler!"

Hahaha. Niatnya lihat-lihat doang sih, tapi seperti biasa, ujung-ujungnya aku bawa buku ke kasir. Sureprise banget bisa nemuin novel yang udah lama kucari di segala penjuru toko buku. Novel remaja yang isinya tentang peristiwa 65. Yak, Blues Merbabu dan 65 karya Gitanyali. Aku juga nemu novel karya Haruki Murakami yang sekian lama bikin aku penasaran. Maunya aku juga beli novel Maya. Tapi berhubung aku lagi kere berat, aku harus cukup berpuas diri dengan membeli dua novel Gitanyali.


Senang. Senang. Senang.
Hari ini begitu menyenangkan.


Terima kasih, untuk kalian yang mengembalikan semangat menulisku hari ini. Hari ini aku yang menjadi pembaca karya-karya kalian, tapi besok, kalian yang akan menjadi pembaca karyaku. :D



suasana meet and greet 

with Tafrid Huda

with Yudhi Herwibowo

harta karun dari Grasindo :D

<3

Surat Cinta

No Comments »

Sore tadi, aku menerima dua buah surat cinta dari Pak Pos. Ketika menerimanya, ada beragam rasa yang membuncah di dada. Haru, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Melihat dua pucuk surat cinta ini membuatku ingin menangis. Hiks! Seketika itu pula aku teringat perjuangan selama satu bulan kemarin. Di sebuah kampung yang membuatku jatuh cinta sejak menginjakkan kaki di sana, aku melakukan penebusan dosa. Mengapa? Karena pada semester kemarin aku melakukan kesalahan besar: salah jurusan. Ibaratnya, aku ingin pergi ke Surabaya tapi aku malah membeli tiket jurusan Jakarta. Jadi, pada semester ini, aku mengambil jurusan yang sesuai dengan kapasitas otakku. Ah, ya, ini kedua kalinya aku mengunjungi kampung itu. Dan aku sangat berharap bisa kembali ke sana, entah kapan.
Satu bulan telah berlalu. Ah, betapa cepatnya waktu berjalan. Masih tersimpan jelas dalam otakku, tentang segala hal yang kulalui di sana. Perjalanan panjang Jember-Kediri yang disambut dengan meletusnya Gunung Kelud. Aku baru tiga hari di kampung itu, dan bencana terjadi begitu saja. Hingga kini pun bayangan mengerikan itu belum menghilang dari alam pikiran. Hujan batu. Hujan abu. Dentuman dahsyat yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Apa yang kulakukan saat itu? Tetap bertahan. Karena jika aku pulang, aku kalah. Aku tetap bertahan dan berusaha mengabaikan nada khawatir dari orang-orang. 
"Pulang ke Jogja! Sekarang!"
"Segitu cintanya kamu sama Pare. Mo nyari apa di sana? Pulang, Ndi! Pulang!"
"Daripada ngungsi enggak jelas, mending kamu balik!"
"Gimana nanti kalau ada letusan yang lebih dahsyat? Pulang saja!"
Dan seterusnya. Aku membalas ucapan mereka dengan berkata "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja di sini" meskipun sejujurnya aku amat ketakutan waktu itu, hahahaha. Di kepalaku saat itu hanya terbayang wajah Bapak dan Ibu. Orang tua yang selalu mendukungku dalam segala hal itu telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Kalau aku pulang, itu sama saja membuang uang mereka. Meski aku tahu mereka lebih mementingkan keselamatanku daripada uang itu. Dan aku tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan semuanya. Aku tahu diri.
Waktu pun berjalan. Gunung Kelud berangsur-angsur membaik. Justru keadaan ku lah yang kurang baik, puncaknya pada minggu kedua. Aku masih ingat benar, hari di mana aku ingin sekali memaki-maki salah satu teacher dan mengatakan "You are not only chicken, but also not professional!" sambil mencakar-cakar mukanya. Ya, aku tidak akan pernah melupakan kejadian menyebalkan itu selama-lamanya. Pada akhirnya, segala macam makian itu tertelan di mulut setelah beberapa teman berusaha keras meredam emosiku. Meski begitu, aku tetap dengan sengaja memasang muka sengak setiap kali berpapasan dengannya, hahaha. Tahu sendiri lah, wajahku sangat ekspresif dan sama sekali tidak pintar menyembunyikan kekesalan pada orang. Cerita lengkap soal insiden menyedihkan itu akan kuposting kapan-kapan. Intinya sad ending lah. Semua itu terobati di minggu ketiga. Aku bertemu teman-teman dan teacher yang menyenangkan. Satu-satunya hal yang membuatku sedih adalah ketika ujian akhir. Aku benar-benar blank ketika dapat giliran stand up depan kelas. Nggak maksimal. Pengen ujian ulang tapi enggak dibolehin sama Ms Pipi -____-"
Selama dua menit yang menegangkan itu, aku lebih sering mengucapkan "Ngg ...", "I want to ...", dan "Then". Heeeelll banget, seharusnya aku enggak nervous -_-
Dan aku semakin nervous ketika berhadapan langsung dengan Mr. Lex Ross McGuire alias Mr. Alex! Bule Amerika itu sukses bikin aku panas dingin ketika ujian Pronunciation stage II. Yah, begitulah. Ujian akhirnya adalah presentasi sama si Alex, bukan sama Mr. Miftah yang notabene ngajar Pronunciation stage II. Kalau sesama orang Indo kan pasti bisa  mudeng lah ya kalau ngomong, tapi kalau sama native speaker? Hahahaha, berasa denger orang kumur-kumur. Tapi alhamdulillah di menit kedua aku agak rileks karena si Alex ternyata humoris juga. Dan di akhir ujian, si Alex ngasih petuah atas presentasiku. Intinya, "Kembangkan terus potensimu. Saya yakin kamu bisa menjadi penulis besar. Jadi, jangan menyerah!". Selebihnya, aku enggak ngerti dia ngomong apaan karena aku keganjel kosakata yang masih minim. Heuheuheu.


Dan, taraaaa!
Inilah dua surat cinta itu. Surat cinta yang membuatku kembali bersemangat untuk terus belajar agar tidak menjadi bayang-bayang Bapak lagi. Bapak yang jago bahasa Inggris dan anaknya yang alergi bahasa Inggris. Selama 21 tahun aku sering mendengar orang-orang berkata "Bapakmu lho pinter bahasa Inggris. Dicintai murid-muridnya. Tapi kok anaknya malah enggak bisa sama sekali? Kowe dudu anak'e po? Hahaha!". Meskipun aku selalu menanggapinya dengan senyum masa bodoh, tapi sesungguhnya kata-kata itu menusuk banget. Dan diam-diam aku iri campur menyesal. Iri melihat si Bapak yang jago bahasa Inggris dan menyesal karena di masa muda aku selalu kabur setiap kali mau diajarin -____-"


Dua surat cinta ini, aku persembahkan khusus untuk Bapak. 


 





Sejam sebelum final exam bareng Mr. Alex, Bapak mengirimkan sms yang tidak akan kuhapus sampai hapeku rusak.

"Good luck my daughter, as a parents we'll be proud with your spirit. Go on your trying to be best graduation!"


Bulan depan, aku akan membawa surat cinta ini untuknya. :))

Ah, ya, aku pernah menulis resolusi di buku diary milik temanku. Salah satunya adalah "Kembali ke Elfast untuk penebusan dosa. Dan, aku harus lulus apa pun yang terjadi!"

Finally, i made it! :D :D :D


Kemampuan speaking-ku memang belum benar-benar bagus. Sekarang aku masih berada di level bawah. Tapi, suatu saat, aku akan kembali ke Elfast untuk menaklukkan kelas Dynamic Speaking yang berada di level teratas. Kelas itu diampu oleh Ms Tika, seorang teacher yang ingiiiin sekali aku menebus dosa masa lalu padanya. Sebelum pulang, aku berkata padanya, "Miss, suatu saat saya pasti menjadi muridmu lagi. Bukan di kelas Efast One yang pernah mendurhakaimu dulu, tapi di kelas Dynamic. Ya, saya akan kembali ketika sudah bisa memenuhi persyaratan untuk masuk di kelas level teratas. Tunggu saya!"


Mungkin kau mengataiku gila dan terlalu muluk-muluk. Hahaha, tidak apa. Terkadang, kegilaan itu diperlukan untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. :P