TV

No Comments »

"Pokoknya, kalau aku berkeluarga nanti, aku nggak mau masang TV di rumah. Tayangan sampah! Nggak sinetron, FTV, YKS atau apalah itu yang suka nayangin goyang nggilani, berita yang makin lama makin lebay, gosip, aaaah mbuh." Ujarku bersungut-sungut.
"Iya ... iya, nggak usah mencak-mencak gitu lah. Nanti kita nggak bakal masang TV di rumah kok, tapi ribuan buku yang akan dipajang di tiap sudut rumah."
Aku mengangguk, tapi sedetik kemudian melotot. "Apa katamu tadi? Kita?"
"Mengapa topik tayangan sampah itu tidak kau jadikan bahan untuk mengerjakan tugas UAS Sastra Sinema? Dosenmu pasti memberimu nilai A kalau membaca argumen-argumenmu," katanya santai, mengabaikan pertanyaanku.
Aku mendengus. Lalu kembali menatap laptop. "Percuma bertanya, kau tak akan menjawabnya."
"Karena memang tidak perlu dijawab. Tanpa kujelaskan pun, kau sudah pasti tahu."

Saklek!

No Comments »

"Kalau kau tidak bisa menerima perbedaan, ya nggak usah berkumpul sama makhluk bernama manusia. Daripada kau ngotot dan saklek dengan isi otakmu sendiri, pergilah ke hutan dan hidup sendirian. Sana!" (status facebook, 16 jam yang lalu).


Sebagian orang mengartikan status itu sebagai perbedaan pendapat antaragama, sebagian lagi mengira saya sedang sensitif dengan perdebatan perayaan Natal dan semacamnya. Saya baru ingat kalau sekarang tanggal 25 Desember. Hari Natal bagi umat Katolik dan Kristiani. Pantas saja banyak yang mengira saya sensi dengan hal itu. Hadooooh, otak cethek! Kau pikir masalah perbedaan pendapat itu hanya sekadar 'boleh enggak sih ngucapin hari Natal?'. Doh, rempong amat lah, ngepas-ngepasin momen banget. Nggak ... masalah perayaan itu adalah urusan pribadi umat Katolik dan Kristiani. Saya nggak akan turut campur dengan memperkeruh keadaan, semacam memposting seputar kontroversi hari Natal di socmed. Nggak, saya bukan orang kurang kerjaan. Dan rasa-rasanya semua teman saya yang tidak seagama dengan saya akan sangat sakit hati membaca postingan yang terkadang disertai bahasa yang keterlaluan, semacam umpatan mungkin. Ah, tiba-tiba kok saya teringat dengan status facebook Mbak Habsari beberapa hari lalu.

"Persoalannya bukan Bangsa Yahudi yang terlalu cerdas, melainkan penganut Islam yang terlalu selo. Mereka sudah mengembangkan banyak hal, kita masiiiih saja meributkan ucapan Natal. Ngakak lah mereka."

Saya nggak akan menjelaskan, karena saya tahu kamu punya otak untuk berpikir. Coba, baca baik-baik dan pahami kalimat itu. Jika diibaratkan makanan, jangan langsung ditelan. Kunyah dulu.


Sama seperti hal nya status saya 16 jam yang lalu itu. Nek kowe ora gelem ono perbedaan neng ndunyo, yo kono budalo neng alas bareng munyuk lan kanca-kancane. Uripo dewean. Ning agamamu kan wis dipelajari kepiye hubungan menungso siji karo menungso liyane, hla kok ora mbok enggo?


Status yang entah mengapa menimbulkan banyak komentar, mulai dari bercandaan sampai serius. Haha, itu artinya masih ada yang mau berpikir. Baguslah. Beberapa teman malah sempat mengirim inbox, merasa tersindir.


Ndi, kowe nesu karo aku a?


Statusmu ... apa aku punya salah sama kamu? Maaf...


Kamu kenapa?



Dan semacamnya. Hahaha, entahlah kok banyak yang merasa tersindir. Postingan itu memang bukan seperti saya yang biasanya. Ben. Sak-sake lah mau mahamin kek mana. Saya marah? Mungkin. Dan karena itulah, malam ini saya sengaja memposting deretan kalimat ini.


"Jadi, banyak-banyaklah membaca buku. Temui banyak manusia. Agar kau bisa 'melihat' dunia yang tidak sekadar hitam dan putih. Kasihan otakmu kalau kau biarkan terkungkung, seperti katak dalam tempurung. Sekian. Selamat malam!"


Baca dan pahamilah. Dunia ini tidak sekadar hitam dan putih, Bung!

Dibawa Sante Aja!

2 Comments »

Menjelang akhir tahun. Tugas UAS menumpuk di tengah-tengah suasana minggu tenang yang sama sekali nggak tenang. Ada empat tugas UAS take home yang belum kujamah sama sekali. Seminar Sastra, Sastra Sinema, Sastra Peranakan, dan Sosiologi Sastra. Belum lagi UAS tulis dan deadline novel. Kau bisa bayangkan, semua ini harus sudah selesai di akhir tahun. Ya, SEMUANYA. Dan bukannya belajar, beberapa hari ini aku malah main-main, hahaha. Tiga hari berturut-turut. Senin kemarin main ke Sekaten bareng Fithri, Hamdan, dan Nia. Hari Selasa ke Sekaten lagi nemenin Jeng Andi. Kebetulan dia lagi berkunjung ke Jogja. Dia singgah di kosan Kak Fiza. Dan malam ini aku ama Jeng Andi dan Anggun blakrak'an ke Taman Lampion. Gagal masuk Istana Hantu (karena si Anggun mati-matian menolak, kamfretzzz), kami duduk di pinggir danau sembari ngobrol apa saja. Main, main, main. Seolah lupa tugas, padahal enggak sama sekali, hahaha.

in the name of dolan



anak alay





Dan ketika kembali ke kos, semua tugas dan deadline itu kembali melambai-lambai. Aku masih malas menyentuhnya. Bahkan kartu ujian juga belum kuambil sampai sekarang, hahaha. Sudahlah, semuanya dibawa santai saja!
Di tengah-tengah deadline menulis yang menggila ini, bisa saja aku sok-sokan mantengin laptop seharian dan mengabaikan teman-temanku yang asyik bersenang-senang. Tapi aku tahu, aku nggak bakal tenang. Seperti acara Inagurasi FIB kemarin. Semua temanku ngajakin. "Ayoooo, Ndi! Nonton adik-adik Sasindo tampil!". Dan karena aku sudah (sok) serius mau menyelesaikan deadline novel malam itu, aku menolaknya. Ujung-ujungnya, selama menulis aku kepikiran teman-teman. Penasaran setengah mati dengan penampilan adik-adik angkatan 2013. Dan pada akhirnya aku nggak nulis apapun -_____- aku tidak menonton juga tidak menulis. Dua-duanya merugikan.
Aku baru sadar kalau aku adalah orang yang paling tidak tahan membiarkan teman-temanku seneng-seneng sementara aku ribet sama tugas. Seperti acara kondangan anak IMM minggu lalu. Kami tour Jawa Tengah. Awalnya aku memutuskan untuk tidak ikut, tapi melihat anak-anak yang begitu antusias, ditambah rayuan Anggun yang kamfret syekale, aku pun ikut. Masa bodoh dengan deadline nulis. Akhirnya? Aku bersenang-senang! :D
Ya, sama seperti minggu ini. UAS semakin dekat dan aku memutuskan untuk bersantai. Bukan berarti aku tidak memikirkannya sama sekali. Setelah jalan-jalan ke mana lah, aku akan menyalakan laptop dan mulai mengerjakan deadline novel. Hasilnya? Aku berhasil menghasilkan 2000 kata dengan perasaan senang. Kalau aku bosan, aku akan membaca novel. Begitulah. Jalani saja semuanya dengan santai. Aku percaya, semua tugas ini akan selesai. Daripada aku stress mikirin dan ujung-ujungnya nggak ngapa-ngapain, mending aku main dan pulang dalam keadaan fresh, bisa mulai nulis.
Dan apa kabar UAS? Hoho... sudah kujadwal, tenang saja. Tanggal 27-29 aku akan menyelesaikannya. Sudahlah, dibawa sante aja! Semua pasti selesai :)))

KITA #Part 1

Baca selengkapnya » | 2 Comments »


          Sore hari. Lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) tampak ramai. Puluhan manusia tengah asyik jogging sembari bercakap-cakap. Beberapa lebih memilih duduk di tangga GSP sambil memandang kegiatan di bawah sana. Seperti yang dilakukan mereka berempat sore ini. Indi, Fithri, Rozi, dan Budi. Empat sekawan yang entah sejak kapan memutuskan untuk menghabiskan waktu selo mereka di tempat ini. Menikmati senja di GSP. Senja yang indah. Seindah persahabatan mereka. Sudah 30 menit mereka lalui dalam diam. Tangis yang meledak itu perlahan mulai surut menjadi isakan-isakan kecil.
          “Udahlah, Fit. Nggak usah sedih gitu. Nanti kalo jodoh pasti kalian bakal bersatu, kok,” Indi memecah keheningan. Tidak tega melihat Fithri yang tak bisa berhenti menangis.
          “Iya, jangan nangis mulu dong. Malu kali diliatin orang-orang,” Budi yang ceplas-ceplos langsung menimpali, tapi langsung dipelototi oleh Indi. Dia bercanda pada saat yang tidak tepat!
       “Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku, Bud. Sakit.” Ucap Fithri dengan pandangan kosong.
            “Ya, bukan gitu maksudku, Fit … Aku tuh cuman …”
        “Udah, deh, daripada nambah galau mending abis ini kita jagungan aja! Gimana?” Rozi yang sedari tadi diam menawarkan solusi.
        “Ayok! Kebetulan aku juga laper. Ntar ceritanya dilanjut di sana, sambil jagungan. Biar pikiranmu juga rada tenang, Fit.” Kata Indi.
        Fithri mengangguk tanda setuju. Selepas shalat maghrib di mushola Fakultas Ilmu Budaya, mereka langsung berjalan kaki menuju tenda jagung bakar langganan mereka. Tenda jagung bakar itu terletak di depan MM UGM, bersebelahan dengan tenda yang menjual berbagai macam gorengan.
          Malam itu mereka menjadi pengunjung pertama di tenda jagung bakar tersebut. Sambil menunggu pesanan datang, Fithri melanjutkan kegalauannya yang tadi terputus di GSP.
          “Jadi, aku harus gimana, dong? Nggak bisa lupain dia, aaaaaaa!” Fithri bersiap-siap menumpahkan air matanya lagi.
       “Ngapain sih kamu mikirin orang yang nggak serius mikirin kamu? Seenaknya aja main putus trus ngajak balik lagi, kayak main layangan. Udah berapa kali kamu diginiin? Kalo aku jadi kamu, udah kubuang ke laut kali!” Budi mulai jengkel. Ya, jengkel dengan sikap Fithri yang tidak berubah sejak dulu. Tidak bisa bersikap tegas menghadapi kekasihnya.
           Entah sudah yang keberapa kalinya gadis itu diputus secara sepihak hanya gara-gara masalah yang terkadang menurut mereka sepele. Long distance relationship memang sering kali menimbulkan pertengkaran-pertengkaran maupun kesalahpahaman. Entah sudah berapa kali Fithri dan kekasihnya putus-nyambung. Sampai semua sahabatnya jengah. Jengah melihat perlakukan kekasihnya yang dinilai terlalu protektif. Padahal mereka tahu, Fithri sangat mencintai kekasihnya.
            “Kok kamu sewot sih, Bud? Aku ke sini mau curhat, bukan buat dibentak-bentak!” Fithri mendadak sakit hati mendengar suara Budi yang melengking saking emosinya.
         Rozi segera melerai. “Maksud Budi bukan gitu, Fit. Dia cuman pengen kamu buka mata lebar-lebar …”
              “Jadi maksudmu mataku buta? Gitu?” Fithri bertambah emosi.
          “Eh … eh, kok jadi begini, sih? Kita kan ke sini buat ngademin kepala, bukan buat gontok-gontokan. Jangan emosi gitu dong, Fit. Kita semua di sini berusaha ngasih solusi terbaik …”
           “Solusi apa? Aku tahu kalian emang nggak suka sama dia, makanya kalian selalu nyinyir kalo aku cerita tentang dia. Kalian bosen kan aku ocehin tentang dia mulu tiap hari? Oke fine, mulai sekarang aku nggak akan pernah ngeluh ke kalian lagi!” Fithri menarik tasnya yang tergeletak di meja, lantas meninggalkan tempat itu dengan air mata berlinang. Dia benar-benar kecewa.
           “Tuh, kan … Fithri jadi ngambek, kan? Kamu sih, Bud, ngomongnya nggak bisa alus gitu,” Rozi ngedumel.
        “Kok jadi nyalahin aku, sih? Kan aku cuman pengin ngingetin dia biar nggak terlalu cinta sama cowok!” Budi naik darah.
          “Iya aku tahu maksudmu emang baek, Bud. Tapi kamu tadi emang rada sengak ngomongnya. Situasi hati-nya Fithri kan lagi sensitif begitu.” Rozi berusaha tetap kalem.
            “Heh, kenapa malah kalian yang berantem, sih? Malu tahu diliatin banyak orang!” Indi lama-lama kesal melihat kedua sahabatnya adu mulut.
         “Terserah! Aku mau pulang!” Budi mengambil tas selempangnya, lalu berlalu dengan wajah merah padam.
          “Tadi Fithri yang ngambek, sekarang gantian Budi. Dasar kayak anak kecil semuanya!” kata Rozi.
          “Emang kamu nggak kayak anak kecil juga? Udah tahu sifat Budi kayak gitu, malah disalah-salahin pas lagi emosi!”
             “Aku cuman pengen ngingetin dia aja, Ndi!”
          “Tapi kamu nggak tahu tempat dan waktu yang tepat buat nasehatin orang!” teriak Indi penuh kekesalan. Dia pun meninggalkan Rozi yang masih mematung.

Jalan yang Tidak Kutempuh (The Road not Taken) by Robert Frost

No Comments »

Dua jalan bercabang dalam kabut hitam kehidupan
Dan sayang, aku tak sanggup menempuh keduanya
Sebagai petualang, aku mematung
Ke mana arahnya menghilang di balik semak belukar

Kemudian aku memandang yang satunya, sama indahnya
Dan mungkin jauh lebih indah
Karena jalan itu segar dan menawan
Meskipun jejak-jejak kaki yang melewati
Tak melumpuhkan rerumputannya

Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang
Di bawah hamparan daun-daun gugur yang belum terjamah
Oh, kusimpan jalan pertama untuk lain hari!
Kendati kutahu semua jalan berkaitan
Aku tak yakin akan pernah kembali

Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad-abad di masa depan-
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku-
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui orang
Dan itu membuatku berbeda...


(The Road not Taken)

The roads diverged in a yellow wood
And sorry i could not travel both
And be one traveler, long i stood
And looked down one as far as i could
To where it bent in the undergrowth

Then took the other, as just as fair
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear
Tought as for that the passing there
Hard worn them really about the same

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black
Oh, i marked the first for another day!
Yet knowing how was leads on to way
I doubted if i should ever come back

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence
Two roads diverged in a wood, and i
I took the one less traveled by
And that has made all the difference




Puisi itu kau sodorkan begitu saja, tatkala kita membincang pilihan yang sering kali kita sesali di kemudian hari. Tentang kau yang grasa-grusu  memilih menulis sebuah roman dalam hitungan hari--dengan deadline yang teramat dekat--ketimbang cerpen. Akibatnya, tulisanmu tak maksimal dan kesempatan menang beralih ke orang lain. Pun aku yang salah memasukkan tema--tidak sesuai dengan syarat lomba--membuat naskahku terbuang sebelum juri tertarik membacanya. Seseorang berkata padaku, "Kau kalah bukan karena karyamu yang tak bagus, tapi karena kau terlalu memaksakan tema di dalam ceritamu. Kau harus mengurangi porsi A atau B. Tidak boleh menonjolkan kedua-duanya, agar pembaca tidak bosan."

Ah, iya. Roman picisan itu--setelah kubaca kembali--memang terkesan memaksa. Dan setelah melalui diskusi panjang, aku memilih untuk 'menulis dengan hati'. Aku sadar sepenuhnya, kemarin aku hanya menulis berdasarkan 'pesanan'. Kini, aku akan merevisinya lagi. Dengan konflik yang semakin rumit dan semoga saja tidak membosankan (aku selalu cemas dan takut kalau pembacaku bosan dengan kalimat awal tulisanku).

Dan pagi ini, aku kembali membaca puisi yang kau sodorkan kemarin malam. Ya, kau benar. Hidup adalah pilihan--ini agak klise memang--dan kita harus cermat dalam menentukan pilihan-pilihan yang ada di depan mata, apa pun itu. Secara kebetulan kau menyodorkan puisi itu di saat aku tengah gamang dengan jalan bercabang (yang membuatku tidak produktif sebulan ini). Dan, aku pun terkesima dengan bait terakhir yang ditulis oleh Robert Frost...


Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berabad-abad di masa depan-
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku-
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui orang
Dan itu membuatku berbeda...





Sedih

6 Comments »

Air mataku merebak. Tak tertahankan. Dadaku naik turun, menahan sesak.
"Ini sangat menyakitkan..."
Kau lantas memelukku. Membiarkan dadamu banjir air mata. "Menangislah, sayang. Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega ..."
Tangisku semakin kencang. Tiga puluh menit berlalu dalam diam. Biarlah, aku ingin tenggelam dalam kesedihan. Malam ini saja.

 

Jane Lek Kowe Serius, Kowe Iso!

No Comments »

Aku menatap dua angka yang tercetak manis di sampul proposal seminar sastraku. Senang bercampur sedih. Senang karena aku mendapatkan nilai yang cukup memuaskan, sedih karena aku tidak berusaha dengan maksimal.
"Gila kamu, Ndi. Anak-anak yang ngerjain jauh-jauh hari saja banyak yang dapat tiga, empat, lima, dan coretannya Bu Tuti dengan Pak Rudi edan tenan. Lha kamu, baru ngerjain 3 jam sebelum deadline, tapi dapat nilai bagus begitu." komentar Ronal, ketua angkatanku, sembari menyerahkan proposal seminar sastra ke tanganku.
Aku hanya nyengir. "Aku kemarin emang kayak orang nggak niat, Nal. Nggak mood ditambah kesel gara-gara nggak nemu referensi yang kuinginkan."
Selesai berkata begitu, aku lantas memerhatikan dengan cermat di mana letak kesalahan pada proposalku. Dan, ini yang paling membuatku menyesal sedalam-dalamnya. Bu Tuti hanya mencoret-coret bagian tertentu yang menurutku remeh tapi luput dari perhatianku. Daftar pustaka yang berantakan alias lupa tidak dibenahi tata letaknya, lupa memberi sumber kutipan sehingga dianggap plagiasi, tidak mengecek ulang tata bahasa yang sesuai dengan teknik penulisan ilmiah, dan hal-hal sepele lainnya. Alhasil, aku hanya memperoleh nilai 75 saja. Nilai yang bagi teman-teman bagus, tapi sangat menyesakkan buatku.
Ini bukan masalah nilai, dear. Aku menyesali sikapku kemarin yang setengah hati, padahal sejujurnya aku bisa mengerjakan dengan maksimal. Apa susahnya sih mencari referensi di perpustakaan barang sehari dua hari? Saking santainya, aku baru mengerjakan semua itu tiga jam sebelum batas pengumpulan tugas UTS. Yeah, teman-teman selalu menyebutku Miss Deadliner. Tukang kebut semalam.
Coba aku mengerjakannya jauh-jauh hari, melakukan riset mendalam, mencermati tata bahasa sampai Bu Tuti tidak bisa menemukan kesalahan dalam proposalku, dan menghadirkan teori yang tidak asal tempel. Aku benar-benar berminat dengan novel Semusim, dan Semusim Lagi. Akhir-akhir ini aku tertarik dengan psikologi sastra. Dan novel itu bisa kuteliti dengan pendekatan teori tersebut. Ditambah lagi, kajian psikologi sastra sangat minim (untuk bilang tidak ada) di jurusanku. Dari sekian banyak skripsi, aku hanya menemukan tiga skripsi yang menggunakan teori psikologi sastra.
Dan semuanya semakin terasa menyesakkan ketika Andina Dwifatma, penulis novel Semusim, dan Semusim Lagi, dengan santainya meminta tulisan itu.
"Aku mau baca dong!"
Mati lah. Mana mungkin aku memberikan tulisan acakadul itu kepada penulis yang novelnya tengah kuteliti? T.T
Malu. Malu. Malu. Apalagi aku anak sastra Indonesia. Masa iya tulisannya acak-acakan nggak jelas begitu? Pokoknya, sebelum tulisan itu sampai di tangan Andina, aku harus memperbaikinya habis-habisan. Harus maksimal. Peduli setan jadwal presentasiku masih lama, yang penting aku harus merevisi proposal ini secepatnya, lantas menyerahkannya pada Bu Tuti. Aku selalu cocok berkonsultasi masalah akademik dengan beliau. Meskipun kritikan beliau sepedas maicih level 10, tapi semua itu sangat berguna untuk perkembangan tulisanku.
Duh, rasanya masih nyesek melihat proposal tadi. Hah, yo wis lah. Mau gimana lagi?

Menyingkir

5 Comments »

"Aku harus pergi," kataku.
"Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanyamu dengan penuh selidik.
"Kau menakutkan." Aku menunduk.
"Menakutkan bagaimana?"
"Pokoknya kau menakutkan!" kataku sembari beranjak dari hadapanmu. Tapi tanganmu mencengkeram tanganku erat. Tidak terima kutinggalkan begitu saja.
"Aku salah apa?" kau setengah membentak setengah bingung setengah merasa bersalah dengan nada suaramu.
"Ini mulai tidak benar. Semuanya tak lagi sama. Aku merasa ... ada yang berbeda. Aku harus sesegera mungkin mengenyahkan hal yang terasa ganjil ini."
Kau menatapku sambil memicingkan mata. "Apanya yang ganjil?"
Aku menghela napas berat, lalu jari telunjukku menunjuk dada. "Ini. Ada yang ganjil di sini."
"Kau sakit?" wajahmu mendadak khawatir.
Aku menggeleng, mengangguk, kemudian menggeleng. "Mungkin saja aku sakit. Sakit jiwa tepatnya."
Kau terdiam. Lebih tepatnya, kau tampak bingung dan kesulitan mencerna kata-kataku.
"Sudahlah. Sebelum keganjilan itu semakin bertambah dan berubah menjadi sesuatu seperti yang sudah-sudah, lebih baik aku pergi. Menyingkir sejenak dari hidupmu."
"Sampai kapan?" tanyamu kelu, penuh rasa ingin tahu.
"Sampai semuanya kembali normal. Dan tidak ada keganjilan-keganjilan lagi di sini," telunjukku kembali menunjuk dada.
Detik berikutnya, aku melangkah pergi. Membiarkanmu berdiri mematung. Biar. Biar sudah. Aku akan pergi. Menghilang. Entah sampai kapan.


Jogja, Rabu 27 November 2013.
Pukul 01.10 WIB
-Ketika keganjilan-keganjilan itu terasa semakin nyata-

Rambu Solo

No Comments »

Seharian ini aku mager di kosan. Hidupku hanya berkisar antara nyuci baju seabrek-abrek, memasak, membersihkan kamar yang penuh dengan buku berserakan di lantai, gulung-gulung di kasur akibat nyeri PMS (sumpah, menderitaaa!), dan tentu saja online. Hahaha. Dan di siang bolong, selepas mencuci baju, aku online di facebook sambil nge-youtube. Sebuah pesan masuk ke inbox, yang intinya begini, "Emangnya Indiana udah baca?". Aku menepuk jidat. Hampir lupa, novelnya Kak Fiza! Yep, ceritanya dia baru saja bikin novel dan seminggu yang lalu ngirim soft file novel ke inbox FB buat kubaca. Judulnya Rambu Solo. Men, dia nulis novel itu dalam 7 hari! 101 halaman satu spasi, itu gila! Kalau aku jadi dia, mungkin aku udah kayak zombie, hahaha. Novel itu dia tulis buat diikutin lomba nulis nusantara. Dan baru hari ini aku sempet baca, setelah beberapa kali dia nanya, "Udah kelar dibaca?". Hahaha, gomen. Seminggu kemarin lagi rempong nyiapin ujian bahasa Jepang dan kena remidi.
Seharian ini aku mantengin Rambu Solo, di sela-sela kegiatan lain. Dan yeah, novel itu baru saja kuselesaikan beberapa menit yang lalu. Entah apa yang harus kukatakan. Yang jelas, novel ini benar-benar keren. Dan tentu saja, membuatku semakin kaya akan pengetahuan tentang budaya Indonesia.

Apa sih Rambu Solo itu?
Rambu Solo adalah upacara adat Tana Toraja untuk pemakaman jenazah. Ada beberapa persyaratan sebelum melakukan Rambu Solo, salah satunya adalah memberikan persembahan berupa kerbau dan babi. Jumlah hewan disesuaikan dengan kasta. Jika keluarga yang ditinggalkan berasal dari golongan bangsawan, hewan yang dikurbankan harus lebih banyak dan tentu saja meriah.
Membaca novel ini membuatku seakan-akan berpindah tempat dari kamar kost ke Tana Toraja. Aku bisa 'melihat' bagaimana upacara adat tersebut dilaksanakan, kerajinan tangan Tana Toraja yang begitu memukau, tari-tarian, yah ... semua suasana dalam novel itu. Aku seolah dibawa ke lorong waktu.
Ada tiga hal yang membuatku terpukau dengan novel ini. Pertama, bagian pembuka novel yang menyajikan Q.S Al-Maidah: 32.



Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.


Ayat tersebut lah yang menjadi jawaban ketika To Minaa (pendeta Aluk) bertanya kepada Chen, seorang muslim yang menyukai dunia pengobatan herbal, "Mengapa So' Chen bisa memberi pertolongan tanpa imbalan? Sudah langka sekali zaman sekarang. Di mana-mana pengobatan selalu minta bayaran."
“Itu yang diajakan agama saya, Pak!” jawab Chen tegas dan lembut.
“Bukankah kita berbeda agama?” tanya To Minaa kembali di hadapan keluarga warga yang mengalami patah tulang tersebut. “Dan, saya dengar, orang-orang yang tidak beragama Islam disebut kafir dan halal untuk dibunuh.”
Chen lantas membacakan ayat tersebut. “Maksud sederhananya,” jelas Chen, “Bila kita membantu atau berbuat baik pada seseorang, kita berarti membantu atau berbuat kebaikan pada semesta alam. Dan bila sebaliknya dan tanpa alasan yang adil, kita berarti merusak semesta alam. Saya sendiri ingin mencari nafkah sebagai pedagang, bukan sebagai tabib. Mengobati bagi saya hanya untuk amal semata. Dan, alhamdulillah, di Makale saya sudah punya perusahaan sendiri—meski baru kecil-kecilan. Usaha kedua paman saya pun lancar, berkembang pesat, dan penuh berkat. Tahun depan kedua paman saya akan naik haji bersama keluarga mereka. Kita lihat pula di tondok ini. Oh, tampaknya saya tidak perlu menjelaskan lebih banyak. Dalam dua tahun, banyak berkat yang kita nikmati bersama. Inilah anugerah Tuhan yang saya yakini—Tuhan Semesta Alam.”

Ya, betapa agama bukanlah alasan untuk tidak menolong orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Agamamu, ya, agamamu. Agamaku, ya, agamaku. Mari berbuat kebaikan. Sesederhana itu :)))


Kedua, aku suka dengan pemikiran tokoh Chen, Bua', Duma', dan Rante mengenai pendidikan. Mereka mendirikan Sekolah Rakyat dan mengajari penduduk tondok(kampung) mengenai banyak hal. Duma' menjadi guru tari. Chen mengajar tentang pengobatan herbal. Rante mengajar matematika. Dan Bua' mengajar tenun. Ya, ilmu memang bisa didapatkan di mana saja. Tak harus di sekolah formal yang kebanyakan menjadikan siswanya sebagai robot. Siswa hanya dijejali beragam mata pelajaran sama rata, tanpa melihat bakat atau kemampuan khusus yang ada pada diri siswa. 

Ketiga, aku menyukai kalimat Mahatma Ghandi yang diselipkan di novel ini: hanya orang kuat yang mampu memaafkan. God, menangislah aku membaca ini. Fix, endingnya sukses bikin aku mewek. Walaupun ritme ending dalam novel ini terlalu cepat menurutku, tapi aku tetap saja terkejut ketika mengetahui siapa Rante sebenarnya. 


Sumpah, sampai sekarang aku heran. Itu Kak Sulfiza bikin novel sekeren ini, dalam waktu seminggu, gimana caranyaaaa? Novelnya dalam, karakternya kuat, penjelasan setting-nya pun bagus. Heran. Untuk ukuran novel serius, ini amazing! Aku yakin, novel ini bakal tambah keren kalau dia sunting lagi. Karena aku beberapa kali nemu tanda baca salah dan nama tokoh yang ketuker-tuker, hehehe. Maklum sih, dikejar deadline -____-''

Duh, sebenernya pengen ngasih bocoran tentang isi novel ini. Tapi, enggak dulu, deh. Ini kan lagi diikutin lomba, takut ntar dia kena diskualifikasi gegara aku, hahahaha. Bagi kamu yang penasaran, cabal ea. :P

Oke, Kak Fiza. Kutunggu karyamu terbit (dan ini memang layak terbit)!

Terpesona

2 Comments »

Oh dear, tampaknya aku jatuh cinta dengan tulisan-tulisanmu. Selalu berhasil membuatku tersentuh, hingga hatiku gaduh. Haaaa kowe tak rabi ae piye! #PLAK :P