Surat Akari-chan

Baca selengkapnya » | No Comments »



Hai, Kazuto-san!
Apa kabarmu hari ini? Semoga kau baik-baik saja. Ehm, ini adalah surat pertamaku yang entah bisa tersampaikan apa tidak. Yah, anggap saja saat ini kita sedang berbincang bagaikan teman akrab.
Apakah kau masih mengingatku, Kazuto-san? Kurasa kau mulai melupakanku perlahan-lahan. Yah, ini memang bukan salahmu. Aku tahu cepat atau lambat aku akan menghilang dari pikiranmu (atau malah aku tak pernah ada di pikiranmu?). Kau pasti sekarang sedang bersenang-senang entah di mana :)
Ah, ya. Malam ini aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu. Lebih tepatnya, ini adalah sebuah cerita konyol. Hahahaha. Aku terheran-heran mengapa aku bisa melakukan hal ini.
Sejak siang tadi, aku dan 3 sahabatku berencana untuk menghabiskan waktu bersama. Kami sudah lama tidak berkumpul dan bersenang-senang. Akhirnya, sore tadi kami berkumpul di tempat makan langganan kami. Aih, betapa senangnya hatiku. Berkumpul bersama mereka membuat bebanku menghilang seketika. Anggap saja ini adalah perayaan setelah dua minggu lamanya kami berkutat dengan ujian.
Ada banyak hal yang kami ceritakan, Kazuto-san. Ketiga sahabatku sampai berebutan bercerita, dan aku hanya bisa tertawa. Yah, aku memang tak banyak bicara malam ini. Aku lebih banyak menjadi pendengar. Sampai di sini, aku masih bersikap stay cool, menjadi manusia yang paling menjaga imej sedunia. Hahaha.

Darul Arqam Dasar

No Comments »


 
            Jumat, 28 Desember 2012, IMM komisariat Ibnu Khaldun UGM mengadakan Darul Arqam Dasar (DAD) yang ditujukan untuk para calon kader baru IMM. Inilah tahapan pengkaderan dasar yang wajib diikuti oleh seluruh anggota baru Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan lebih jauh ideologi gerakan IMM.
Pembukaan DAD dilaksanakan di gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pada pukul 17.00 WIB. Acara ini diikuti oleh 11 peserta yang berasal dari komisarat Ibnu Khaldun UGM, Al-Khawarizmi UGM, dan komisariat UAD (Universitas Ahmad Dahlan). 
Darul Arqam Dasar diawali dengan diadakannya studium general yang diisi oleh Saudara Bachtiar Dwi Kurniawan (aktivis pemberdayaan masyarakat). Beliau memaparkan berbagai macam gerakan islam yang ada di kampus, model perjuangannya dalam mencapai visi dan misi masing-masing,  dan hal-hal mendasar yang membedakan antara IMM dengan gerakan islam lainnya. Dengan demikian, diharapkan para calon kader dapat memahami dengan baik posisi IMM di lingkungan kampus.
Seperti biasa, acara dilanjutkan dengan screening peserta yang dilaksanakan di SMP 1 Muhammadiyah Sleman tepat pada pukul 22.00 WIB. Dalam screening tersebut, setiap peserta dihadapkan pada satu orang instrukur. Screening diawali dengan tes baca Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai latar belakang peserta, tujuan mengikuti DAD, alasan memilih IMM, dan tes kemampuan pengetahuan seputar kemuhammadiyahan. Hal itu bertujuan untuk mengetahui karakter peserta dan sejauh mana kemampuannya dalam menangkap materi. Screening tersebut berakhir pada pukul 01.30 WIB.
Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan pembekalan berbagai macam materi, antara lain filsafat ilmu, ketauhidan, kemuhammadiyahan, ke-IMM-an, sharing dengan alumni, dan simulasi persidangan. Di antara sekian banyak materi tersebut, sesi yang paling menguras tenaga dan pikiran adalah simulasi persidangan. Menurut Kukuh, salah satu peserta DAD, simulasi sidang merupakan acara yang paling membuatnya kesal setengah mati. Kukuh yang berperan sebagai peresidium sidang mengaku kalang kabut menghadapi suasana persidangan yang mendadak tidak kondusif karena keterlibatan panitia dan alumni.
“Paling kesal ya sama Mas Anggun, soalnya sepanjang sidang bikin rusuh terus, hehehe. Mana anak-anak sudah pada ngantuk semua,” ungkap Kukuh.
Namun, kekesalannya menguap begitu tahu bahwa kerusuhan tersebut tidak seserius yang dia bayangkan. Para peserta memang sengaja ‘diserang’ habis-habisan untuk menguji sejauh mana kemampuan mereka dalam menangani persidangan. Menurutnya, simulasi tersebut adalah pelatihan yang sangat bermanfaat.
“Konklusinya, saya jadi tahu bahwa dalam persidangan dibutuhkan kesabaran, intelektualitas, pengendalian diri, dan ketegasan,” ungkapnya lagi.
Acara simulasi selesai pukul 00.15 WIB. Selanjutnya, peserta dipersilakan untuk beristirahat. Pada pukul 02.30 WIB, peserta dibangunkan kembali. Setiap peserta lalu dibawa satu per satu oleh para instruktur, kemudian di-tes ulang tentang semua materi DAD yang telah diberikan. Hal yang paling utama untuk ditanyakan adalah mengenai komitmennya terhadap IMM.
Selanjutnya, immawan Yusro selaku MOT (Master Of Training) mengomando seluruh peserta untuk mengikuti ikrar yang beliau bacakan. Ikrar diucapkan di hadapan bendera IMM. Begitu ikrar selesai diucapkan, para panitia dan instruktur pun saling mengucapkan selamat atas pelantikan tersebut. Kini, mereka telah resmi menjadi anggota IMM.
Pagi harinya, acara dilanjutkan dengan pembekalan materi terakhir DAD, yaitu analisis sosial. Pukul 11.30 WIB, rangkaian acara DAD pun ditutup. Usai sudah DAD yang dilaksanakan mulai tanggal 28-30 Desember 2012 tersebut.
“Acara DAD ini sangat bermanfaat bagi kader baru. Selain memperoleh pengetahuan baru yang belum kami dapatkan sebelumnya, kami juga bisa mengenal lebih dekat IMM,” ucap Khoiril Maqin, peserta DAD dari komisariat Ibnu Khaldun.
Hal yang senada juga diucapkan oleh Kukuh. “Acaranya mantap! Saya merasa kalau ghirah untuk berjuang melalui muhammadiyah kembali bangkit. Apalagi saya juga sudah lumayan mengenal IMM sebelumnya.”
Diharapkan dengan adanya DAD ini, para kader baru IMM dapat menjadi generasi penerus bangsa yang senantiasa bersemangat memperjuangkan islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna amanah. Semangat fastabiqul khairat! (Indiana).

Sudah Lima Tahun (Edisi Pra-MOS)

Baca selengkapnya » | 2 Comments »



            2008.
            -Perdebatan Sengit-

            “Pokoknya nggak mau!!” aku berteriak kencang sambil membanting pintu kamar.
         “Lha memangnya kenapa? Kamu kan SMP-nya sudah di SMP Islam, jadi SMA-nya ya yang basisnya islam sekalian. Biar ilmunya nggak hanya ilmu umum,” Ayah terheran-heran.
            “Nggak! Pokoknya aku mau sekolah di SMA Chandradimuka!” teriakku lagi.
            “Ya wis tho ya, nggak usah marah-marah. Ayah dan Ibu kan cuma menyarankan saja. Nduk, SMA Chandradimuka itu bukan SMA ecek-ecek lho. Susah masuk sana, banyak saingannya …bla … bla …,” Ayah masih mencerocos panjang lebar.
            Aku tahu maksud pembicaraan itu. Mereka meragukan kemampuan otakku -_-
            “Ayah nggak percaya?”
           “Gimana mau percaya kalo nilai UAN kamu jeblok? Sudah, pokoknya mulai besok HP kamu disita!”
            Aku manyun. Nah kan, malah dihukum! -_-
            “Ayo taruhan, Yah!” Aku keluar dari kamar sambil meleletkan lidah ke Ayahku.
            “Ha?”
            “Aku mau sekolah di SMA-nya Ayah kalo aku nggak lolos tes masuk SMA Chandradimuka. Tapi kalo aku lolos …,” aku memicingkan mata, “Aku harus disekolahin di situ! Nggak bisa nggak!”
            “Oke, buktikan saja kalau bisa!” kata Ayah.
            Aku lalu masuk ke dalam kamar sambil manyun. Umumnya orang tua akan mendukung anaknya, tapi tidak dengan orang tuaku. Mereka meragukan kemampuanku untuk menaklukkan SMA Chandradimuka, dan menyuruhku untuk sekolah di SMA tempat Ayah mengajar yang basisnya sama dengan SMP-ku dulu, SMP Muhammadiyah 06.
            SMA Chandradimuka adalah salah satu sekolah yang paling bergengsi di kotaku. Isinya anak-anak pinter semua. Tidak mudah untuk menembus sekolah elit itu. Dan Ayah benar-benar meragukan kemampuanku. Apakah aku terlalu bodoh? -_-
            Sebagian besar teman-temanku terobsesi dengan SMA itu karena gengsinya yang tinggi, tapi tidak denganku. Aku terobsesi masuk sekolah itu karena … yah, karena wajah itu. Wajah yang tiga tahun terakhir ini tidak bisa pergi dari hidupku. Jesta Darmawan. Anak pintar itu berhasil masuk SMA Chandradimuka karena kemampuan otaknya yang diatas rata-rata.
            Aku rindu dengan wajah teduh itu. Aku ingin melihatnya lagi. Melihat aktivitasnya sehari-hari. Melihatnya lebih lama ….
            “Aku harus bisa!!!” teriakku sembari membuka buku-buku pelajaran. Apa pun yang terjadi, aku harus lolos!

Sudah Lima Tahun (Edisi SMP)

Baca selengkapnya » | No Comments »




            2006.

            MOS sudah lama berlalu. Tapi kejadian Mabit itu masih belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Hatinya seringkali terasa nyeri ketika mengingat raut wajah penuh duka itu. Aih, ada apa dengannya? Dia sudah berusaha mengenyahkan pikiran konyol itu, tapi nyatanya semakin melekat di kepala. Sial!
            “Ya, ayo masuk! Pak Yuda sudah di dalam tuh!” Rara mencolek bahu Alya sambil tersenyum.
            “Iya, kamu duluan aja,” kata Alya.
            Alya melepas pandangannya ke arah kelas 2 B sekali lagi. Dia memang suka menatap kelas itu akhir-akhir ini. Lima detik kemudian, wajah Jesta keluar dari kelas 2 B. Oh, astaga! Alya buru-buru masuk kelas dengan pipi memerah.

5 Tahun Per Second

Baca selengkapnya » | No Comments »



            Judul ini terinspirasi dari anime ‘5 cm per second’ dan berdasarkan usulan teman. Rada nggak nyambung sih, hahaha :D

           
            Juni 2006.

            Ini adalah hari pertamanya melepas seragam merah putih, lalu menggantinya dengan seragam biru putih. Ya, dia sudah resmi menjadi anak SMP.
            “Ayo masuk! Kau sudah terlambat!” ajak Kak Ayumi setelah kami turun dari motor.
            Alya mengangguk. Kak Ayumi adalah sepupunya. Dia sekarang duduk di kelas 2 SMP. Sambil berjalan pelan, Alya mengamati bangunan SMP Muhammadiyah 06 yang tampak sederhana namun terawat. Sesekali tangannya menggaruk-garuk kerudung, kegerahan karena dia tidak terbiasa berkerudung. Dia tak pernah bermimpi untuk masuk sekolah berbabis agama, tapi karena keluarga besarnya yang religius ‘memaksa’ semua keturunannya untuk mengenyam sekolah berbasis agama, dia tak bisa mengelak. Impiannya untuk masuk ke SMP Negeri pun pupus di tengah jalan.
            “Kak, apakah nanti aku bisa betah bersekolah di sini? Katanya aturannya ketat banget!” tanya Alya.
            “Lama-lama nanti juga terbiasa,” kata Kak Ayumi sambil tersenyum.
            Dia lalu menggandeng tangan Alya ke ruang sekretariat. Di ruangan itu, ada banyak anak-anak OSIS yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Alya menangkap sesosok laki-laki tengah menghadap komputer dengan wajah serius. Dia terus mengamatinya sampai Kak Ayumi berteriak kencang.

Stuck!

No Comments »

YEAH, I'M STUCK!!!!!

Pergilah ...!

No Comments »


Dan ketika aku merasa bahwa semua ini akan berujung sia-sia, aku membiarkan sakuraku tumbuh begitu saja. Otakku sepenuhnya sadar bahwa sakura itu tak akan pernah bisa kusentuh dengan cara apapun meski bunga itu terus saja bermekaran. Ketika semuanya telah mencapai puncak dari segalanya, sakura itu luruh satu per satu. Kemudian layu, mengering, lalu berserakan tanpa guna. Dan seketika itu pula aku sadar, bahwa dunia kita sangat berbeda. Di matamu, selamanya aku hanyalah anak-anak, tak lebih. Jadi, sebelum lubang di hati itu melebar karena kau gerogoti setiap saat, maka pergilah!
Ya, pergilah sampai aku benar-benar tak bisa melihatmu sesuka hati.
Pergilah sampai aku tak mengingat dirimu lagi.
Pergilah sampai aku bisa melupakanmu.
Pergilah sampai aku bisa melupakan sakura yang pernah kutanam dengan sepenuh hati ...

Aku tahu, cepat atau lambat kau tak lagi ada di sini. Aku tahu, cepat atau lambat kau akan menyingkir perlahan-lahan dari hidupku. Aku tahu, sakura itu tidak akan pernah tumbuh di hatimu, sekuat apa pun aku mencoba menanamkannya. Aku tahu, lambat laun kuncup-kuncup yang telah mekar di jiwaku ini akan semakin layu karena tak kau sirami. Dan aku pun tahu, semua ini akan berakhir sia-sia …

Jadi, bisakah kau pergi?
Benar. Aku ingin kau pergi jauh-jauh dariku, meski aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku selanjutnya. Iya, aku merasakan ada yang patah di sini ketika menyadari sebuah kenyataan yang sama. Kenyataan seperti yang telah kuhadapi di hari-hari yang telah lalu. Hatiku, Kazu. Hatiku patah dan mungkin akan semakin berserakan jika kau masih tetap hinggap di kepalaku.

                                                                                                         ****

"Kau serius?" Raisa menatap mataku lekat-lekat.
AKu mengangguk pasti. "Untuk apa aku berbohong padamu?"
"Ya, Tuhan! Jangan bilang dia tidak menyadarinya sampai saat ini!"
"Menyadari apa?"
"Jangan pura-pura bodoh, Alia. Aku tahu kau diam-diam telah menyirami bunga sakura itu setiap hari. Dan apa kabarnya sekarang?"
"Bunga itu telah layu. Aku tak akan pernah menyiraminya lagi."
"Alia! Jangan bertindak bodoh!"
"Ku rasa, ini adalah hal paling benar yang harus kulakukan kalau tak ingin remuk redam."
Raisa terdiam.
"Sudahlah, Raisa. Duniaku dan dunianya begitu berbeda. Dia adalah langit biru, sedangkan aku hanyalah debu yang beterbangan."
"Astaga! Kau terlalu merendah!"
Aku menggeleng cepat. "Tidak, Raisa. Itu memang benar. Memangnya apa yang bisa dia lihat dariku? Sampai kapan pun, aku hanya akan terlihat sebagai anak kecil di matanya, tak lebih."
"Kau tidak percaya diri hanya karena dia 'terlalu dewasa' di matamu?" Raisa tampak gemas.
Aku menunduk.
"Alia, apakah kau akan menyerah begitu saja?"
aku mengangguk. "Mau tak mau, ini harus kuakhiri. Aku tahu, ini adalah hal yang sia-sia."
"Mengapa?"
"Karena dia akan pergi, dan memang lebih baik kalau dia pergi. Dengan begitu, aku bisa cepat melupakannya."
"Bukankah impianmu nyaris sama dengan dirinya?"
"Apa?"
"Negeri Sakura."
Aku terdiam. Ya, Raisa benar ...
"Sudahlah, Raisa ... jangan ingatkan hal itu kepadaku."
"Kau tak ingin dia tahu?" tanya Raisa dengan wajah serius.
"Tahu apa?"
"Ya ... tahu bahwa kau telah menyirami sakura itu setiap hari."
Aku menggeleng. "Tidak. Aku tak ingin mengulangi kebodohan itu untuk yang kesekian kalinya. Apa gunanya kalau dia tahu? Mungkin itu akan melegakanku, tapi sama sekali tidak bisa mengubah kenyataan."
"Alia ..."
"Aku akan melepasnya, Raisa. Mulai detik ini, aku akan menghapus namanya dari otakku!"


                                                                                              ****

Kazu ... apakah kau tahu apa arti keikhlasan?
Yah, mungkin seperti yang aku rasakan saat ini. Aku akan meng-install kembali otakku agar semuanya kembali normal. Agar aku tak ingat bahwa aku pernah menanam sakura di dalam hatiku.
Ikhlas. Satu kata yang akan menguatkanku selama beberapa waktu ke depan. Pergilah, Kazu! Aku tak akan memberatkan langkahmu dengan tindakan bodoh yang pernah kulakukan di masa lalu. Tidak, kurasa ini cukup. Dan setelah kau pergi, kuharap sakura itu bisa ikut menghilang dalam sekejap mata ...

                                                                                                       ****

"Dia sudah pergi," kataku sembari memeluk Raisa. Beberapa detik yang lalu, pesawat itu terbang jauh ... jauh ke negeri Sakura.
"Bukankah kau sudah tahu arti sebuah keikhlasan?"
AKu mengangguk.
"Biarkan dia pergi. Lepas sejauh mungkin. Kita tak pernah tahu bagaimana rencana Tuhan terhadap manusia. Bisa jadi dia kembali dan memang ditakdirkan untukmu. Tapi kalau pun tidak, aku yakin kau akan bertemu dengan Kazuto yang lain." Raisa berusaha menghibur.
"Kazuto yang lain?"
"Iya, kau akan menemukan bunga sakura yang jauh lebih indah ..."
Aku mengangguk kecil. "Semoga saja."




Jogja, Selasa 30 Oktober 2012
Dalam heningnya pagi
Pukul 02.23 WIB

Email kaget :D

No Comments »

Gue masih sibuk ngitung duit yang berceceran di lantai kamar ketika laptop gue tiba-tiba bunyi 'cling ... cling!' tanda ada email masuk. Awalnya gue cuekin soalnya gue lagi pusing setengah mampus ngitungin duit. Iya, gue jadi bendahara Studi Karya dan sekarang lagi ribet-ribetnya bikin LPJ -______________-"
'cling ... cling ...!'
Yaelah, ini siapa sih yang gangguin gue? Dengan gondok gue lalu ngelirik FB. Temen gue bawel nanyain ini-itu. Setelah gue jawab seperlunya, mata gue gak sengaja nangkep email. Gue lalu ngebuka perlahan-lahan. Gue langsung nangis pas baca isinya.


Salam,

Saudari Indiana yang baik.

Kami telah menerima naskah dari Anda dan kami nilai layak diterbitkan. Namun perlu kami jelaskan bahwa FAM Publishing adalah penerbit Self Publishing, artinya biaya penerbitan ditanggung sepenuhnya oleh penulis. Silakan pelajari paket penerbitan kami (terlampir), bila cocok jangan sungkan menghubungi kami.

Salam,
FAM Publishing


Woaaaaaaaaah, naskah pemenang AS diterimaaaaaaaaaaaaa! *sujud syukur*
Alhamdulillah ... alhamdulillah ...
Semoga segera diterbitkan. Paling enggak, beban gue berkurang satu. Tinggal nyiapin LPJ Studi Karya doank. Yeaay ...!




Jangan Percaya

1 Comment »

Manusia itu menulis untuk dirinya sendiri


Jangan percaya pada media
Jangan percaya pada sejarah
Jangan percaya pada ustadz yang mengatasnamakan agama
Jangan percaya ...
Jangan percaya ...


Kata-kata yang saya dapatkan saat seminar kemarin. Dosen saya 'membantai' salah satu peserta seminar yang bersikeras mengatakan ," Saya tidak setuju kalau orang menulis untuk dirinya sendiri! Bla bla bla bleh!"
Lalu, beliau pun menjawabnya dengan panjang lebar (saya malas mempostingnya di sini), dan diakhiri dengan kata-kata di atas.

Jangan percaya!


Kata-katanya yang filosofis membuat puluhan jidat berkerut, termasuk saya. Untunglah, kakak tingkat yang duduk di sebelahku berkenan menjelaskan tanpa kuminta.
Ah, benar. Pahami dulu maksud kalimat itu, baru protes. Jangan biarkan budaya instan menggerogoti otakmu.

Aku pun mengangguk-angguk mengerti.

Yah ..
Jangan percaya!!!

Siapa Zakia Salsabila?

No Comments »

"Siapa sih Zakia Salsabila?"

Satu pertanyaan yang kerap dilontarkan teman-temanku. Baiklah, akan kujelaskan :)


____Dua tahun yang lalu_____

"Zakia Salsabila. Bagaimana?" tanya dia setelah sekian lama kami terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Hm?" keningku berkerut.
"Zakia Salsabila. Nama yang cantik, bukan?"
"Memang apa artinya?"
"Perempuan cerdas seindah dan seanggun telaga Salsabila." jawab dia mantap.
Aku tersenyum cerah. "Nama yang indah."
"Ya, dan aku harap kau bisa seperti nama itu."
"Semoga saja. Ah, aku suka nama itu. Nama yang indah ..." aku berdecak kagum.
Dia hanya tersenyum.
"Terima kasih, ya. Kalau kau ingin memakai nama apa?" aku balik bertanya.
"Rahasia," jawabnya.
Aku melengos. Sebal.
"Nanti akan kubawakan majalahnya. Bukalah rubrik cerpen, maka kau akan menemukan namaku di sana."
"Benarkah?" mataku membulat besar.
Dia mengangguk mantap.

Dan sejak saat itu lah, aku selalu memakai nama itu sebagai nama penaku di setiap tulisan yang kubuat. Aku senang memakainya. Kedengarannya sangat indah. Ya, aku sangat menyukai nama itu.
Aku bertekad untuk menggunakannya sebagai nama pena jika suatu saat nanti karyaku telah terbit.


Namun, semua itu tak bertahan lama.
Aku menanggalkan nama itu begitu saja. Aku memutuskan untuk menggunakan nama "Indiana" dalam tulisanku. Cukup Indiana saja, tak perlu kupanjangkan menjadi Indiana Malia.

"Kau tidak suka menggunakan nama Zakia Salsabila?" seorang teman bertanya.
Aku menggeleng. Aku masih sangat menyukainya. Nama itu masih indah seperti dulu.
"Lalu mengapa kau tidak menggunakannya lagi?"
Ah, siapa bilang? Aku masih menggunakannya kok. Nama itu telah kuabadikan di dalam blogku. Ya, sebagai nama blog. Mungkin aku tak akan mengubahnya. Yah, ku rasa nama itu sudah menjadi sebuah kenangan yang paling indah ...


Sekarang, kau sudah paham kan? Jadi, jangan tanyakan perihal nama itu lagi padaku.