Sesuatu Bernama ‘Waktu’…

No Comments »


Sesuatu Bernama ‘Waktu’…

          Kubolak-balik bukuku dengan kesal. Berusaha keras untuk memahami, namun nyatanya otakku tak mampu diajak berkompromi.  Satu halaman berlalu. Satu butiran bening terjatuh dari kelopak mata. Membasahi pipi. Lama-kelamaan menganak sungai.
          “Mengapa terasa menyakitkan?” erangku pilu.
          Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak bersedih? Ah, nyatanya sekarang malah sebaliknya…
          Kupaksakan diri untuk menulis kalimat demi kalimat. Teringat akan tugas yang harus kukumpulkan besok. Masih ada tiga buku yang menanti. Menunggu untuk dibaca. Tapi lagi-lagi, otakku tak mau bekerjasama.
          Sekelebat bayangan kembali mengusik. Ya sudahlah, kalau otak tak mau bekerjasama, apa mau dikata? Percuma saja kupaksakan. Sejenak aku terdiam. Kubiarkan bayangan itu menguasai labirin kepalaku…

          Lyla…
          Semalam aku bermimpi bertemu Lyla, disitu Lyla menangis.
          Kenapa ya? Perasaanku jadi tak enak…
          Seolah Lyla merasa kehilangan, entah kehilangan apa. Sebagai pelampiasan,
          Lyla menyibukkan diri dengan bermacam kegiatan…
          Benarkah itu, Lyla?

          Sebentuk pesan dari Kak Rere. Kakakku yang shalihah dan baik hati…

          Lyla tidak apa-apa...
          Mimpi hanyalah bunga tidur, kakakku sayang…

          Detik selanjutnya, mataku terasa panas. Ada cairan yang terbendung, memaksa untuk keluar. Ada segumpal duka. Ada segumpal bahagia. Entah apa namanya, aku tak tahu…
          Waktu. Ya, waktu yang dulu selalu kutakutkan sudah tiba. Waktu yang tak bisa dimajukan atau dimundurkan. Waktu yang tak bisa membawaku ke masa lalu atau meloncat ke masa depan. Waktu yang tak bisa menghapus sesuatu yang telah berlalu, kecuali dengan cara amnesia atau Alzheimer. Waktu yang penuh misteri. Penuh teka-teki.
          Tiba-tiba saja film itu kembali diputar dalam memori otakku. Film dengan latar hitam putih.
          Dua tahun yang lalu…
          Seragam putih abu-abu itu masih menempel di tubuhku. Seorang gadis yang tengah seru-serunya menikmati masa 17 tahun-nya. Menggeluti Palang Merah Remaja. Berpetualang ke hutan rimba bersama anak-anak PA. Menekuni dunia Jurnalistik. Bermain ombak di pantai kala sore hari. Balapan motor meski sering nyungsep di trotoar. Dan juga memancing bersama Ayahanda tercinta.
          Hingga badai itu pun datang. Merenggut semua kesenangan. Yang ada hanyalah duka berkepanjangan. Dan dua anak manusia itu memang bagai pinang tak berbelah. Yang satu membuatku nyaris gila, yang satunya lagi selalu membawakan air kendi saat mulutku kering, tak sanggup lagi mengumpat yang berbuah sumpah serapah.
          “Kau harus bersabar. Marah tak akan menyelesaikan persoalan!” ucapmu waktu itu.
          “Tapi aku benar-benar ingin membunuh kawanmu itu!” teriakku tak kalah nyaring.
          “Dia adalah sahabatku.”
          “Dia adalah musuhku.”
          “Kau ini keras kepala!”
          “Kepalaku memang terbuat dari batu, lalu kau mau apa?”
          “Maafkanlah dia, Lyla…”
          “Bah! Enak sekali kau ngomong. Aku tak akan memaafkan dia sebelum melihatnya mati di tanganku sendiri!”
          Dan kau terdiam. Mengajakku berdebat memang hanya akan menguras energi. Terserah kau mau bilang apa! Aku sudah mengasah celurit jauh-jauh hari, bersiap membabat habis manusia tak berperasaan itu.
          “Seharusnya kau bersyukur, Lyla…”
          “Bersyukur karena musibah ini? Kau ini gila apa!”
          “Cobalah berpikir. Dengan masalah ini, kau jadi tahu kebobrokan dia. Sehingga kau tidak terjerumus untuk…”
          “Apa? Maksudmu lope-lopean?”
          “Mungkin.”
          “Dia itu aktor yang ulung!”
          “Dia melakukannya karena perasaannya yang mendalam padamu. Dia tak ingin kehilangan kamu…hanya...hanya caranya saja yang salah…”
          “Hentikan. Jangan bahas dia lagi. Sudah cukup. Toh kau tahu, aku tak punya rasa apa-apa..”
          “Jadi, kau memaafkannya?” kau tampak berbinar.
          “Iya, tapi setelah aku berhasil memenggal kepalanya.”
          “Sadis sekali kau ini!”
          “Aku memang terlahir sadis.”
          Kau menghentikan semua ceracauanku sebelum bertambah parah. Kau biarkan aku. Mungkin memang butuh waktu untuk berpikir jernih. Tanpa kusuruh, kau seenaknya saja mendongengiku dengan bermacam cerita dari negeri antah berantah. Seolah mengalihkan perhatianku. Dan memang benar, aku tak jadi membunuh kawanmu itu. Pikiranku sudah jernih. Aku maafkan dia asal tak menghubungiku lagi.
          Waktu demi waktu berlalu. Masih berseragam putih abu-abu. Tapi sudah di penghujung waktu. Kini sedang giat-giatnya belajar untuk melawan ujian nasional yang menakutkan. Dan yang tak kalah penting, melawan SNMPTN agar bisa mewujudkan cita-citaku. Menjadi mahasiswa ilmu komunikasi. Impian sejak masih berseragam putih biru. Di sela-sela itu, kita berdiskusi.
          Tentang kejujuran.
          Tentang kesabaran.
          Tentang semangat.
          Tentang cinta sejati.
          Tentang kesetiaan.
          Tentang cita-cita.
          Tentang arti bersyukur.
          Tentang dunia dan seisinya.
          Tentang hidup dan mati.
          Tentang…segalanya…

          Kau hibur diriku saat kepalaku tak sanggup lagi memecahkan soal-soal. Kau bilang, sabar. Sabar, sabar, sabar, hingga aku bosan denga kata-katamu itu. 18 juni, tanggal keramat yang membuat nafsu makanku lenyap. Tanggal yang melumpuhkan semangatku.
          “SEMANGAT! PASTI ADA JALAN!” teriakmu.
          “Aku patah hati. UI menolakku mentah-mentah…”
          “Hei…masih ada SNMPTN tulis kan?”
          “Percuma.”
          “Lho?”
          “Tak dapat restu. Pokoknya jadi Guru, apa pun yang terjadi.”
          “Orang galak sepertimu tak pantas jadi Guru, hahaha…”
          “Terserah apa katamu lah!”
          “Lalu, sekarang kau mau bagaimana?”
          “Tau ah. Gelap!”
          Bayangan jaket kuning ku buang jauh-jauh. Harus mencari pengganti. Tapi apa? Di TV, aku melihat sebuah berita tentang Gudeg. Agaknya menarik.
          “Menurutmu, Jogja bagaimana?”
          “Hei, kau mau ke Jogja?”
          “Mungkin.”
          Dan memang benar, takdirku jatuh di Kota Gudeg ini. Aku lolos SNMPTN. Semua orang mengucapkan selamat, meski aku sendiri masih terbayang akan impian yang ku kubur hidup-hidup.
          Waktu berlalu…
     Kujalani kehidupan yang terasa amat baru ini. Baru, karena ini adalah masa ‘perbaikan diri’. Sangat sulit memang, tapi aku akan bertahan.
          “Hidup adalah pilihan.” Katamu setahun yang lalu.
   Iya. Dan ini adalah pilihanku…
         
Hingga waktu itu pun datang. Kau berteriak:

 Hei…
 Kulihat burung kecil itu sudah terbang!
Alhamdulillah, saat-saat seperti ini memang pasti akan datang.
Selamat tinggal burung kecil…
Aku yakin, kau akan bisa   menghadapi        semua tantangan yang ada di  depanmu!
          Burung kecil, semangat terus ya!
          Burung kecil terus mengepakkan sayapnya hingga ia di telan cakrawala.
          Sedih, haru, memenuhi pelupuk mataku.
          Kubalikkan badan, dan aku pun juga harus terus melangkah……

          Iya. Waktu itu memang telah datang…
          Membuatku sedih tak karuan…
          Juga membuatku bahagia tak alang kepalang…
         
        Film itu telah selesai diputar. Sedih. Senang. Haru. Entahlah, tak dapat kujelaskan semua ini…

      Ku tatap buku “Sakinah Bersamamu” dan “Nagabhumi 2” yang kau impi-impikan sejak dulu itu. Mendadak dadaku sesak.
          Hei, kawan…
          Sebentar lagi buku ini akan berpindah ke tanganmu…
          Hanya tinggal menunggu waktu saja…

          Selamat….
          Doaku kan menyertaimu…
          Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah…

       Ku hembuskan nafas perlahan. Ya, inilah akhir seperti yang kita harapkan dulu. Walau terasa menyedihkan, tapi inilah jalan yang terbaik…selamat tinggal…

Jogja, 28 Maret 2012
Pukul 23.42 WIB

_Zakia Salsabila_ 




Rindu Kampung Halaman…

No Comments »



            Malam ini, otakku benar-benar terasa buntu. Aku lelah menulis kalimat demi kalimat. Agak kesal karena sudah dua kali cerpen yang kusimpan di netbook menghilang karena keteledoranku sendiri. Dan sekarang aku terserang virus malas. Gak mood. Ya sudahlah.
            Malas ngapa-ngapain, aku hanya duduk diam sambil memandangi FB. Malas update status. Malas chatting. Malas lihat status orang-orang alay. Iseng-iseng aku menyebarkan info lomba Apresiasi Sastra ke beberapa grup. Tiba-tiba saja, seorang manusia mengajakku chatting. Oalah, Mas Iwan tibakne.
            Mas Iwan        : Nduuuk, piye kabare? Lek enek waktu luang sms mase..
            Aku                 : Wes tak sms, nomere samean ra aktip nhu.. -_- Ganti a?
            Mas Iwan        : Hehe, iyo. Iki nomerku:085XXX

            Dengan malas aku mencatat nomer itu, lalu meng-sms masku.
            Wooey mas! Ki Lia.

            Mas Iwan        : Smsmu wes masuk nduk. Tapi mas iwan lagi ga nduwe pulsa..
            Aku                 : *Halah yo wes*

            Aku diam tak menanggapi. Tiba-tiba saja Mas Iwan datang lagi, tapi sambil ‘membawa’ Mbak Fifin, sepupuku yang lain.

            Mas Iwan        : Hallooooo adek-adekku…… :D
            Aku                 : *mengernyitkan dahi* Lho? Kok Mas Iwan ada dua?

            Aku bingung. Kok FBnya bisa buat chattingan 3 orang sekaligus?

            Mbak Fifin      : Emboh. Aku yo bingung..
            Mas Iwan        : Ah, kalian ini. Ga pernah diajarin dosen ya?
            Aku                 : Mana ada dosen ngajarin pesbukan?-___-
            Mas Iwan        : Eh, Mas Yus mau menikah lhooooooooo…. *sambil memasukkan Mas Yus ke daftar chat kami*
            Aku                 : *heboh* Aaaaaah, tenane? Kapan? Kapaaaaaaannnn?

            Wedew, tahu-tahu ni orang mau nikah aja. Oya, Mas Yus Ini kakak kandungnya Mas Iwan. Mbak Fifin itu anaknya Budeku. Alah ribet banget sih, pokoknya mereka itu sepupuku. Dan aku di sini yang paling kecil. Mas Yus udah kerja, Mas Iwan lagi S2, Mbak Fifin baru aja lulus dan sekarang lagi ngajar anak SMP.
           
            Mas Iwan        : Hahaha, yo takono nang arek’e dewe…
            Mas Yus          : *mengheningkan cipta*
            Mbak Fifin      : Mas Yus kok ra enek abane tho?
            Aku                 : Weleeeeh, isin kuwi paleeeeeeng. Rupane mesti abang wi, hahahaha… :D
            Mas Iwan        : Iyo, macak turu wi…hahaha. Ayo dijaluk’i duiiiiit….
            Aku                 : Aku mas! Sakdurunge rabi, aku njalok sangu sek!
            Mas Yus          : *Pura-pura mati*
            Mbak Fifin      : Aku njalok nang Mas Iwan ae seng luweh cedek (Posisinya Mas Yus di Malang, sedangkan Mas Iwan di Jember)
            Mas Iwan        : Cedek’an Lek Man (Lek Man adalah babenya Mbak Fifin)
            Mbak Fifin      : Bapak ra nduwe duit Mas, bar operasi…
            Mas Iwan        : Hhohohoho, aku tak operasi plastik lah. Liaaaa, wes maem nduuuk?
            Aku                 : Halah-halah, karepe ape tiru-tiru wong korea a? Hahaha. Durung mas, engkok2an ae lha..
            Mas Iwan        : Kowe ki rung mangan polae ngirit opo ra nduwe duit?
            Aku                 : *kurang asem tenan* Ngenyek w!
            Mbak Fifin      : Lek ra nduwe duit, kono lho nang Alun2 kono karo nggowo omplong. Hahaha
            Aku                 : *merasa terhina* Maksudmu aku mbok kongkon ngamen?
            Mas Iwan        : Ora, kowe ra iro iso ngamen. Cukup menengadahkan tangan saja…
            Aku                 : NGEMIS??! *benar-benar dianiaya*
            Mbak Fifin en Mas Iwan        : Hahahahahahahahahaha!
            Mas Yus          : *udah mati beneran kali ya*
            Aku                 : Alah yo wis, tak off disik aku. Ape sinau sek…
            Mas Iwan        : Yo, sinauuuu…sinauuuu seng pateng nduk! Fifin pisan sinauo kono…
            Mbak Fifin      : Lah, lopo aku melok2…
            Mas Yus          : Yow is aku off pisan. Disambung kapan2 eneh. Oyo, dungakne Mbah Putri ben ndang cepet waras…

            OFF!!

            Aku terkesiap. Ya Allah, Mbah Putri masih sakit? Hmmph….kupikir sudah sembuh, tapi ternyata masih sakit. Ah, Mbah Putri….semoga engkau lekas sembuh dan bisa menimang cucu cicitmu yang lucu-lucu…
            Lama aku terdiam. Kangen. Tiba-tiba saja aku terbayang-bayang kampung halaman. Banyak kabar yang baru saja kuketahui. Mas Yus mau menikah. Mas Iwan hampir kelar S2. Mbah Putri masih sakit. Aiiiih, chattingan tadi benar-benar membuatku rindu kampung halaman. Timbul keinginan untuk berkumpul bersama keluarga besar seperti saat lebaran kemarin. Ramai. Bayangkan saja, cucunya Mbah Putri 40an lebih, belum lagi kalau ditambah anak dan menantu. Weleeeeh, keluarga besar tenan!!
            Rindu. Rindu. Rindu. Ingin berkumpul bersama keluarga besar. Bermain bersama keponakan-keponakanku yang lucu-lucu. Muhammad, Fatih, Ali, Rahmat, Putri, Wardah, Lupi, Dian, Tiwi, Ifa, Firman, Lukman, juga Danial yang baru saja terlahir di dunia ini. Rindu bercanda ria dengan sepupu-sepupuku yang gokil abis! Mbak Arum, Mbak Ari, Mbak Fifin, Mas Iwan, Mas Yus, Mas Faruq, dan laskar keluarga besar “Siddiq” lainnya…
            Rindu memancing dan mendaki gunung bersama Bapak. Berpetualangan ke hutan  bersama murid-muridnya yang ikut ekskul PA. Mengibarkan bendera merah putih di puncak. Darul Arqam di sekolah Bapak waktu bulan puasa. Pokoknya selalu membuntutinya… :)
            Rindu menggoda adik-adikku. Dinda yang masih berumur 6 tahun dan sedang giat-giatnya belajar shalat dan ngaji di TPA. Anak kecil yang lincah, selalu ingin tahu, nyaris hiperaktif. Melihat dinda seperti melihatku di waktu kecil, hmmm. Rima, adikku yang lain dari yang lain. Tidak seperti Dinda dan aku, dia amat pendiam. Sangat pemalu. Patuh dengan orang tua. Pintar. Tutur katanya lembut. Pokoknya dia anak rumahan banget lah. Dia mewarisi sifat Ibu. Sedangkan aku dan Dinda mewarisi sifat Bapak. Suka berpetualang, berwatak keras seperti batu, tidak bisa berbicara lemah lembut seperti Rima.
            Aku rindu Ibu. Rindu mendengar nasehat-nasehatnya. Rindu belajar memasak bersamanya. Rindu bercanda sembari membersihkan rumah….
           
            Ahhhh….
            Tiba-tiba saja aku ingin pulang…..

Jogja, 26 Maret 2012
Pukul 23.42 WIB

_Zakia Salsabila_

Kok Masih Gelap? -___-

2 Comments »



            Semua ini bermula saat Puri dan Dilla menyatroni kosan gue tiga hari yang lalu. Kami mo ngerjain poster plus bikin analisis puisi. Gue seneng banget, secara temen-temen gue jarang maen ke kosan. Alasannya sih, kosan gue jauh dari kampus. Sebenernya gak jauh-jauh amat kok, hanya bikin kaki gempor kalo perjalanannya ditempuh pake kaki. Hahaha…
            “Kamar lo polos banget, Ndy?” komentar Puri.
         “Ya emang kayak gini kosan gue…” jawab gue. Yeah, gue emang gak kayak cewek kebanyakan yang suka memoles-moles kamar biar tampak sedep kalo dipandang. Selain gak telaten, gue juga males. Ribet.
            “Temboknya ditempelin apa kek, biar gak surem nih kamar…” tambah Dilla.
            “Lha itu kan udah?” gue menunjuk mading setengah terisi yang tertempel di tembok.
            “Garing banget, Ndy. Kamar luas begini lo sia-siain gini….dikasih tempelan pasti keren!”
            “Tempelan apaan?”
         “Apa ya? Gue lupa namanya. Pokoknya tempelan lah. Ntar kalo lampu kamar lo dimatiin, tempelan itu bisa nyala. Bagus deh, bikin  nyaman kalo tidur…” Dilla mengompori. Kayaknya nih anak bakat banget jadi tukang sales.
            “Alah dil, gue mah kalo mo tidur ya tinggal tidur aja. Kagak pake ritual mantengin tembok kaleeee…”
            “Hari rabu ke Mirota yok? Gue pengen nyari nih…” kata Puri.
            Dan pada akhirnya gue pun tertarik. Gue penasaran, kayak apa sih tempelan yang bisa nyala itu. Gue ngebayangin dinding kamar gue yang menyala di malam hari. Kayaknya asik juga tuh…
           Seperti yang udah disepakati, kami mangkat hari rabu siang. Gue, Puri, Dilla, dan ketambahan satu lagi, Vika, meluncur ke Soping. Sebelum ke Mirota, kami mo nyari buku dulu ke Soping. Kebetulan, gue emang mo nyari buku Fonologi dan kumpulan puisi. Begitu nyampe Soping, kami langsung mengubek-ubek isi Soping. Gue mati-matian menahan diri buat gak ngelirik ke arah buku-buku yang menggoda nafsu gue. Buku-buku itu seolah-olah berteriak-teriak girang ke arah gue, “Belilah aku….belilah aku….aku sangat menarik loooooooh…..”
          Dan…yeah…hati gue pun luluh. Stress gara-gara gak dapet antologi puisi, gue pun menyandra beberapa buku. Lumayan, buat bacaan akhir pekan. Hahaha, gue emang demen ngoleksi buku. Suatu saat, gue mo bikin taman bacaan “ZAKIA” di rumah gue dan perpustakaan keliling. Gue pengen bikin anak-anak di daerah gue demen baca, ceilaaaaah…gaya bener deh gue!
           Setelah acara belanja buku kelar, kami langsung meluncur ke Mirota. Kami naik ke lantai tiga, tempat jualan pernak-pernik en mainan anak-anak. Dilla langsung menunjukkan tempelan yang dimaksud.
            “Kayak gini bisa nyala?” Gue sangsi. Ternyata tempelan yang dimaksud Dilla adalah sebuah mainan plastik dengan berbagai bentuk. Masa sih bisa nyala?
            “Bisa lah….” Dilla meyakinkan.
            Gue mengangguk-angguk. Gue  mencomot tempelan itu, lalu membawanya ke kasir. Setelah itu, kami balik ke kampus buat pertemuan Dian Budaya.
            “Abis ini makan yuk! Gue laper!” kata gue.
            Dilla mengangguk. Puri dan Vika gak ikut, udah masak di kosan katanya. Sehabis acara Dian Budaya, kami pun cabut ke lembah. Nyari makan. Saat itu waktu udah menunjukkan pukul 7 malam. Berhubung kami emang lagi berhalangan shalat, jadinya ya kami santai-santai aja.
            Pas lagi enak-enaknya makan, HP gue bunyi. Anggun sms.
            Lo balik apa kagak?
            Gue lalu mengetik sms balasan.
            Balik lah. Ini lagi makan. Ada apa?
            5 menit kemudian, Anggun membalas.
            Pogung lagi pemadaman! Take care!
            “Hah??” gue panik.
            “Kenapa, Ndy?” Tanya Dilla.
     “Pogung lagi pemadaman, Dil! Haduh, gue harus cepet-cepet balik nih. Berabe kalo kemaleman…”
            Setelah makan, gue pun langsung cabut. Dan emang bener, malam itu lagi pemadaman. Gak hanya di Pogung aja, tapi daerah sekitar Fakultas Teknik juga gelap. Warung-warung di pinggir jalan hanya diterangi lilin seadanya. Memasuki daerah pogung, gue rada merinding. Sepi. Gelap. Apa lagi pas lewat depan kuburan, gue gak berani noleh kemana-mana.
            “Assalamualaikum!” salamku begitu nyampe kost dengan selamat.
            Gak ada jawaban.
            Krik… Krik…
          Ternyata orang-orang pada keluar. Gue langsung ke kamar Anggun, nyari temen. Tapi apa daya, dia udah gak sadarkan diri. Gue lalu masuk ke kamar gue, nyalain lilin.
         “Ah! Tempelan!” gue tiba-tiba keinget sama tempelan yang gue beli tadi. Mumpung lagi pemadaman nih….
          Dengan semangat ’45 gue langsung menempelkan tempelan bermotif bintang dan planet-planet itu ke dinding. Setelah semuanya selesai, gue langsung matiin lilin.
            Gue membuka mata. Gelap…. Lho, kok gelap?
            Gue melotot sambil meraba-raba tembok, mencari tempelan yang katanya bisa nyala itu.
       “KOK TETEP GELAAAAAP?” gue syok. Dan saat itu lah, gue pengen memakan Dilla idup-idup…. -____-



Jogja, 22 Maret 2012
Pukul 22.46 WIB

_Zakia Salsabila_
           

Euforia Kesro 16 Mei 2011

No Comments »


    Senin, 16 Mei 2011 adalah hari yang sakral bagi anak – anak kelas 3 SMA di seluruh Indonesia. Karena pada hari itu lah semua siswa akan menerima sebuah amplop berisi sebuah pemberitahuan: LULUS atau TIDAK LULUS. Hampir semua anak kelimpungan mikirin hari sakral ini. Masa depan udah nongol di depan mata! Kalo Lulus, itu artinya kita bisa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, kerja, ato menikah, hehehe. Dan kalo kagak lulus, maka bersiaplah untuk mengulang tahun depan karena tahun ini emang kagak ada ujian ulang. Owh, menyeramkan!
    Hari yang dinanti – nantikan itu pun tiba. Kita, anak – anak Kesro (Kelas I Pe Es Loro) meluncur ke rumah wali kelas tercinta, Miss Ulwiyah. Ah ya, model kelulusan di SMA Negeri Ambulu emang kagak diadain serentak di sekolah, tapi terpisah – pisah, tergantung kesepakatan masing – masing kelas. Dan anak – anak Kesro memilih ke rumah Miss Ulwiyah. Rencananya sih pengumumannya bakal diumumkan jam 10 pagi, tapi acara itu molor gara – gara ada yang telat. Tersangka itu adalah gue, zulfa, anggun, ricky, dan rengga, hahahaha…
    Gue ngeliat tampang temen – temen yang sumringah sejak pagi. Gak ada satu pun tampang yang murung ato depresi. Yup, kita semua udah yakin kalo SMANA lulus 100 %. Dan semua itu emang bener. Saat amplop dibagikan, semuanya tereak, “ YES! GUE LULUS!!”
    Semuanya bereuforia. Jingkrak – jingkrak, saling berpelukan, pokoknya seneng banget lah. Aksi corat – coret yang udah jadi adat bocah – bocah SMA pun kita lakukan. Eits, jangan salah… biarpun nama kita Kesro, tapi kita kagak ugal – ugalan kok. Gak kayak sekolah – sekolah laen yang ngerayain kelulusan dengan cara konvoi di jalan sembari trek – trekan, kita malah coret – coretan di rumah sang wali kelas, hahahaha….gak jelas banget! Sambil ngobrol ngalor – ngidul, kita saling menandatangani seragam putih or kaos olahraga. Gue memilih bawa kaos olahraga aja coz gue kagak mau dibantai bokap kalo sampe ketahuan corat – coret seragam abu – abu putih, hehehe…
    “ Woi, seragam gue belom lu tandatangani neh!”
    “ Elo juga belom!”
    “ Eh, pinjem spidolnya donk!”
    “ Pinjem pulpen!”
    “ Dasar gak modal!”
    “ Hahahaha….biarin, yang penting asoy!”
    “ Eh gila, nilai gue tinggi banget, padahal gue kagak doyan pelajaran itung – itungan!”
    “ Yah…nilai sosiologi gue kurang..”
    “ Bu Ulwiyah…minta tanda tangannya donk, buat kenang – kenangan!”
    Hahahaha, itu adalah gambaran keributan yang ada di rumah Miss Ulwiyah. Beliau menatap kami sambil geleng – geleng kepala dan tersenyum.
    “ Ya sudah, coret – coretnya di sini saja. Pokoknya setelah ini jangan kebablasan ke selatan ya!” pesan  Miss Ulwiyah.
    Hahahay, kita tahu apa yang dimaksud beliau. Ke selatan itu maksudnya ke pantai Watu Ulo yang biasa dijadiin tempat pesta anak – anak yang ngerayain kelulusan.
    “ Santai saja Bu, kita gak bakalan ke sana kok!” Jefta, ketua kelas kita, berusaha meyakinkan.
    Yah, kita emang kagak ada rencana buat ke sana. Sebagian besar beralasan takut dijadiin sambel goreng ama bonyok kalo nekat konvoi, hehehe. Bagi kita, ngerayain kelulusan kagak harus berheboh – heboh ria bin lebay. Yang penting dapet tanda tangan temen – temen, ketawa – ketiwi bareng, itu aja udah cukup kok. Dan mengenai aksi corat – coret seragam, ini emang jadi kontroversi berbagai pihak. Tapi sebagian besar pasti ngedukung aksi ini, termasuk gue, hehehe. Yang penting kagak bikin kerusuhan di jalan!
    Hai temen – temen Kesro…
    Tulisan ini adalah hadiah buat kalian. Jadikan sebuah kenangan terindah yang akan selalu kita ingat sambil tersenyum bahagia… :)
Masa depan udah di depan mata, persiapkan dirimu! Walaupun kita udah pisah dan gak  bisa bareng – bareng kayak dulu lagi, but kita tetep satu keluarga…
Selamat menempuh masa depan, semoga semua cita – cita kita bisa terwujud!
Gue akan selalu merindukan kalian, hiks…hiks….
I Love Kesro FOREVER!!

Ambulu, 16 Mei 2011
Pukul 22.07 WIB

Indiana Malia






*tulisan jaman SMA...

Mabit Tak Terlupakan…

3 Comments »


    Ya Rabb….
    Akhirnya, Kau buka juga cakrawala berpikirku….
    Ya Rabb…..
    Ku tahu, ujianku tak akan berakhir sampai di sini…
    Walau terasa berat, kan tetap kujalani…
    Ya Rabb, biarkan ukhuwah ini tetap terjalin di jalan-Mu…
    Aku menyayangimu, saudari-saudariku….

   
    Entah sudah berapa lama mulut ini berbicara tanpa kendali. Mengeluarkan segala hal yang sekian lama menyesakkan hati. Karakterku yang suka ngocol mendadak hilang. Sesak…sesak…sesak…hanya itu yang ku rasa. Aku butuh jawaban! Jawaban atas segala kebingungan yang kurasakan. Kebingungan yang terkadang memunculkan perasaan takut. Ya Rabb, bukankah islam adalah rahmat seluruh alam? Bukankah Engkau tak pernah mempersulit hamba-Mu dalam menegakkan agama-Mu?
    “Aku bingung...tidak tahu harus berbuat apa. Kepalaku hampir pecah memikirkannya!” ucapku. Nyaris air mata ini keluar, tapi ku tahan sekuat mungkin.
    Semuanya terdiam.
    “Apa yang kau rasakan itu wajar, hampir setiap mahasiswa baru pasti merasakannya. Bingung dengan realita yang tak pernah ditemui semasa sekolah. Tapi yakinlah, Allah sayang padamu….Kau pasti bisa melewati ujian ini, asal kau mau terus belajar. Perbedaan adalah suatu keniscayaan. Tak ada yang paling benar, juga tak ada yang paling salah…” ucap Kak Rista.
    Aku mengangguk. Sedikit lega. Setidaknya, saat ini aku punya teman untuk berbagi. Mereka, para immawati (sebutan untuk akhwat IMM) perlahan-lahan mengeluarkanku dari kebekuan berpikir.
    “Perbedaan ideologi terkadang memang membuat kita merasa kurang sreg, tapi jangan pernah berhenti mengkaji hanya karena hal itu. Ilmu Allah sangat luas…kau bisa menggalinya dimana pun kau berada. Jika ada sesuatu yang berbeda dengan pemikiranmu, keuarkan saja. Ungkapkan semua argumentasimu. Jangan pernah merasa takut….”
    “Allah tidak akan pernah menyesatkan hamba-Nya yang ingin mendekat pada-Nya….”
    “Benturan-benturan pemikiran yang kau rasakan itu, suatu saat nanti akan membawa manfaat yang besar bagimu. Akan ada hikmah yang bisa kau petik…”
    Aku tersenyum. Perlahan-lahan, kabut hitam itu pun menghilang. Ya, aku memang baru belajar….walaupun terkadang aku menemui jalanan terjal yang membuatku nyaris terjatuh, aku tak akan pernah berhenti….
Ya Rabbi, tunjukkan padaku jalan yang lurus…
Jalan yang Engkau ridhoi…...



Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) Immawati IMM Ibnu Khaldun
Padepokan K.H Ahmad Dahlan Yogyakarta

Pukul 01.22 WIB

_Zakia Salsabila_

Berikan Aku Petunjuk-Mu, Ya Rabb....

No Comments »

Ibarat buih di lautan
Ku terombang-ambing tak tentu arah
Tak tahu harus kemana kah kaki ini melangkah
Kanan kah? Kiri kah? Lurus kah?

Kala cahaya-Mu menyibak kelamnya duniaku
Kau sadarkanku akan lembah dosa di masa lalu
Dan diri ini pun berjuang tuk bangkit
Meninggalkan masa kejahiliyahan
Berlari menyusul mereka: para mujahid dan mujahidah

Sebagai ungkapan cinta-Mu kepadaku
Kau sodorkanku terhadap pilihan-pilihan
Ya, pilihan hidup
Pilihan yang kelak kan kugunakan
Tuk memperjuangkan agama-Mu

"Belajarlah," ungkap-Mu penuh cinta
Kau biarkan diriku tertatih-tatih menyusuri jalan ini
Jalan panjang yang tak ku tahu ujungnya

Saat ini, biarlah ku berada di titik abu-abu
Walau yang ku tahu
Hanya ada dua pilihan warna di dunia ini
Hitam atau putih

Ya Rabbi..
Tunjukilah jalan yang lurus
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya
Bukan jalan mereka yang dimurkai
Dan bukan pula jalan mereka yang sesat

Ya Rabbi..
Jangan biarkan aku salah dalam melangkah
Ku tak ingin jauh dari-Mu...
Ku tak ingin jauh dari-Mu...